
Hari masih sangat gelap, ketika Rania baru saja tiba di Semarang. Hari ini ada pembukaan cabang baru untuk LSM Sehati di Banyumanik, Semarang. Rania hadir disini. Tempat yang dulu pernah menyimpan sejuta tanya tentang seseorang. ya, seseorang yang pernah merenggut kebahagiaan rumah tangganya. Seseorang yang telah mengubah kehidupannya.
Rania tidak memilih hotel sebagai tempat untuk beristirahat. Dia hanya meminta sebuah kamar kosong di kantor untuknya istirahat. Ini kantor baru, sehingga masih banyak ruangan kosong yang belum terpakai.
Rania baru saja akan menutup matanya, ketika seseorang mengetuk pintunya. Sayup-sayup namanya dipanggil.
"Rania ..."
Rania mencoba membuka matanya, kemudian membuka pintu kamarnya. Ada perempuan berusia tiga puluh tahunan berdiri didepan pintu kamarnya. Rambutnya pendek dan agak membungkuk.
Rania masih mencoba melihat jelas wajah perempuan itu yang samar karena pencahayaan yang kurang.
"Siapa?"
Tanya Rania.
"Apakah kamu lupa siapa aku?!"
Rania mencoba mengingat namun tetap tidak bisa.
"Aku Delita. Istri mas Dani!"
Ucap perempuan itu yang membuat Rania terhenyak..
"Ada apa kamu disini?!"
Tanya Rania yang merasa waktu kembali ke masa empat tahun lalu. Kantuknya hilang seketika mendengar kata istri mas Dani, entah mengapa ia masih merasa sakit.
"Aku pasien kamu saat ini!"
Ucap Delita, wajahnya nyaris tanpa ekspresi.
"Aku datang bukan untuk mengobati. Bagaimana kami tau aku akan kesini?!"
Tanya Rania dengan menahan emosi.
"Disebelah adalah rumahku, Rania!"
Deg...jantung Rania hampir saja copot.
"Bukankah rumahmu di Ungaran?"
Sindir Rania..
"Itu rumah ibuku. Lama kami pindah kesini. Karena tidak tahan dengan cemoohan masyarakat!"
Ucap Delita, masih dengan ekspresi dingin.
"Oh...orang seperti kamu masih mau mendengarkan omongan orang?!" Sindir Rania.
"Aku hanya ingin tau, apakah kamu sudah kembali dengan Dani. Kalau iya, berarti aku madumu!"
__ADS_1
Ucap Delita tanpa rasa bersalah.
"Delita tolong. Itu sudah berlalu dalam hidupku. Sekali aku diceraikan oleh Dani. Maka aku tidak akan pernah kembali!!!!"
Ucap Rania sambil membanting pintu. Ia segera menghubungi pimpinan cabang dan melakukan protes, bagaimana orang luar bisa masuk saat pagi buta.
Cahaya matahari meninggi. Rania bergegas keluar, melihat kearah kanan dan kiri gedung LSM.
"Rumah Sakit Jiwa?!!!"
gumam Rania. Ia kemudian berlari masuk kembali ke kantor LSM. Menanyakan tentang siapa yang masuk ke ruangannya tadi pagi.
"Oh, itu mba Lita. Dia pasien yang setengah gila. Dibilang gila, dianya masih nyambung komunikasi. Dibilang sehat, dia masih suka mengamuk terutama kalau lihat bayi. Dia sering masuk ke sini. Ikut orang-orang terapi mental. Sudah seperti rumah sendiri!"
Ucap Mega, salah satu staf disini.
"Dia adalah orang yang berbahaya untukku, Ga!"
Ucap Rania pada Mega.
"Maksud ibu?"
"Dia mengenali saya. Dia adalah istri dari mantan suami saya!"
Ucap Rania dengan gemetar.
"Bu Rania. Jadi ibu yang selalu dia katakan sebagai ancaman?"
Tanya Mega.
Semenjak pertemuan terakhir saat momen melahirkan dan mengalami baby blues sindrom, Delita menghilang begitu saja meninggalkan bayinya di rumah sakit. Kini, pertemuannya dengan Delita, dalam keadaan Delita nyaris gila!
***
Rania nyaris tak bisa konsentrasi saat mengisi pelatihan bagi volunteer LSM Sehati. Ia terus memikirkan Delita, dan keberadaan orang tuanya.
Pukul 15.00. Pelatihan hari pertama usai. Rania memilih untuk tidak langsung pulang. Ia berniat menemui keluarga Delita di alamat lamanya.
Ia berangkat menggunakan kendaraan kantor. Mencoba mengingat-ingat saat terakhir kalinya ia menemui ibu Delita bersama Jean.
Rumah itu masih sama, hanya cat nya yang terlihat telah lapuk. Pagar itu masih sama, hanya patah dibeberapa bagian. Bunga-bunga yang dulu segar, kini terlihat tidak terawat dengan baik.
Rania turun dari mobil, menghampiri rumah itu. Membuka pagar yang tak terkunci dan mengetuk pintu rumahnya.
"Assalamualaikum Bu Yayu. Masih ingat saya?"
Sesosok perempuan yang sudah terlihat lansia berdiri di depan Rania. Warna rambutnya telah sama semua, putih. Perempuan itu tidak terlihat bingung saat melihat Rania.
"Silahkan masuk Rania"
Ia mempersilahkan Rania masuk. Rania pun masuk dan duduk di sebuah kursi sofa yang warnanya mulai memudar. Tercium bau yang tidak sedap, seperti air seni seorang anak.
__ADS_1
Tak berselang lama, Bu Yayu muncul dengan mendorong sebuah kursi roda.
"Ini abil, putra Dani yang mengalami kelainan semenjak bayi. Aku merawatnya sendiri. Dani hanya 2 kali berkirim kabar semenjak ia keluar dari penjara. Selebihnya tidak".
Bu Yayu tertunduk lesu.
"Sebelumnya aku merawat Abil dan juga ibunya, Delita. Ia mengalami depresi usai menjadi korban travicking dan diperjual belikan oleh kekasihnya. Ia berharap mendapatkan kasih sayang ketika sudah berpisah dengan Dani. Namun malah ia mendapatkan kekerasan yang lebih parah".
Hening sesaat.
" Delita berhasil Kabir dengan cara melintasi kawat duri yang membatasi tempat ia disekap untuk diperjualbelikan. Ia berhasil, andai tidak, mungkin ia akan mati disana. Ia pernah mencoba untuk kembali pada Dani. Sayangnya, Delita telah mengalami depresi sebelumnya. Ia sering menangis sendirian, merasa malu pada suaminya karena tidak bisa menjaga diri, merasa bekas pakai, mengigau, dan sempat menegak racun untuk bunuh diri. Untungnya gagal".
Ibu Yayu menangis sesenggukan.
"Dia sangat rapuh. Sedangkan Dani tipe yang sangat cuek. Delita meminta figura foto di rumahmu dicopot, digantikan dengan wajahnya, namun sayang, hingga Delita keluar dari rumah itu, tetap saja foto pernikahan Dani dan Rania masih terpajang. Sepertinya, Dani tidak mencintai Delita!"
Ucap Bu Yayu.
"Jika Dani tidak mencintai Delita, maka untuk apa Dani menceraikan saya?!"
Bu Yayu diam .
"Apa yang Bu Yayu harapkan dari keberadaan di LSM Sehati".
Tanya Rania menyingkat waktu
"Saya ingin Delita normal kembali, bahagia dengan suaminya"
Ucap Ibu Yayu.
Rania tersenyum kecut..
"Delita tengah menikmati karmanya. Jika dulu Rania hampir gila. Kini Delita benar-benar gila".
Bu Yayu menghabiskan sisa waktunya dengan mengurus anak dari Delita yang cacat fisik. Sedangkan sang suami telah meninggal lebih dahulu.
Rania sangat mengerti Dani. Ia sangat cuek. Jangankan untuk memberi anak hadiah, memberi nafkah saja ia sangat perhitungan.
***
Rania kembali ke LSM Sehati. Kali ini, semua orang telah tau siapa Lita sebenarnya. Sehingga, mereka melarang Delita untuk masuk area tamu.
Namun, ketika Rania baru turun dari mobil yang mengantarnya hingga depan pintu asrama LSM, Delita datang menghampirinya dengan membawa sebilah pisau dapur.
"Delita, mau apa kamu?!"
"Telah lama aku menantikan hal ini. Pergi kau ke neraka !!!!!!"
Delita menghampiri Rania, dan sebilah pisau tertancap di bahu Rania.
...ahhhh..... Rania memekik kesakitan.
__ADS_1
Bersambung ...
Tunggu part berikutnya ya😍