100 Hari Pertama Menjadi Janda

100 Hari Pertama Menjadi Janda
Jiwa-jiwa yang terluka


__ADS_3

Pina terduduk disebuah kursi diruang tamu. Tertunduk lesu. Wajahnya menyiratkan penyesalan yang mendalam. Fika tak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh ibunya.


"Aku yang membuat ayahmu cacat seperti ini, Fika!"


Perasaan marah bercampur kecewa membalut pikiran Fika.


"Aku memberikan obat-obatan pada ayahmu dalam keadaan sehat. Aku memberikan obat melebihi dosis seharusnya. Mengelabui resep anjuran dokter. Hingga berakibat tekanan darahnya naik secara drastis!"


Sambung Pina datar.


"ibu melakukannya demi harta?" gumam Fika. Perlahan kesadaran Pina mulai hilang. Raut wajahnya berubah ceria. Bahkan dia tertawa terbahak-bahak. Layaknya seorang yang tengah bahagia.


Pina kebingungan.


"Bu...ibu....ibu....!!!!".


Fika mencoba menyadarkan ibunya. Tapi, Pina justru berontak..


"Kamu tak tau diuntung Fika!. Aku melakukannya demi masa depan kamu!"


Sorot mata tajam menghujam, Fika mencoba menjauh dan ketakutan.


"Kamu harus ya menjadi pewaris satu-satunya harta Dani Mahendra!. Lihat...lihat rumah ini, cukup megah untukmu!"


Pina menunjuk rumah yang ia tempati saat ini. Rumah megah namun tak terawat. Sejak Dani sakit, Pina tak mampu merawat rumah yang ditempati. Ia hanya fokus pada ketakutan-ketakutannya tentang identitas Dani yang terbongkar, keberadaan mereka yang diketahui keluarga Dani, dan sisa-sisa harta Dani, ia hanya ingin menguasai.


"Bu, sadar...Bu...ibu salah!!!"


Pekik Fika.


plakkk....sebuah tamparan dari Pina mendarat di pipi Fika. Pina merasa Fika sebagai sebuah ancaman. Pina mulai menjambak Fika, menendang, hingga melempar tubuh Fika ke sudut ruang. Ruang yang selama bertahun-tahun tak terawat.


Pina sakit jiwa. Mentalnya terguncang semenjak kelahiran Fika. Apapun ia lakukan tanpa melibatkan akal sehat. Ia melarang Dani bekerja. Ia takut hartanya direbut oleh orang lain. Hingga keluarga ini harus bertahan hidup dari sisa tabungan dan investasi yang ada. Selama bertahun-tahun lamanya. Hingga akhirnya Fika putus sekolah, setelah siswa tabungan yang ada tak cukup lagi untuk pendidikan.

__ADS_1


Dalam keadaan lemah. Fika mencoba bangkit. Ia lihat ibunya duduk membungkuk dengan kepala tertunduk. Setelah memastikan aman, Fika berjalan perlahan menuju luar rumah dan segera mencari pertolongan pada tetangga sekitar.


Beberapa warga yang melihat kondisi Fika segera membawanya ke rumah sakit. Luka lebam memenuhi tubuhnya. Sakit, namun jiwanya lebih sakit.


###


Sebuah sirine ambulance tiba di rumah Fika. Mencoba mengevakuasi Pina dari dalam rumah.


"Keluar....keluar kalian!!!!" pekik Pina dari dalam rumah. Ia telah mengunci seluruh pintu rumah. Ketika petugas dari Rumah Sakit Jiwa tiba, Pina melemparkan tabung gas elpiji 5 kg ke arah petugas. Menyebabkan sebuah kebakaran kecil.


" Jangan ambil rumah ini....rumah ini bukan lagi milik Daniiiiii". Terus Pina dari dalam rumah.


Pina mulai mengalami waham. Ia merasa bahwa orang-orang yang datang ke rumahnya berniat mengambil hartanya.


Waham dari pengalaman masa lalunya. Dimana ia harus disingkirkan oleh Dani, tanpa mendapatkan harta apapun. Waham ketika Pina gadis ditiduri oleh lelaki yang telah memiliki keluarga, waham ketika ia sadar bahwa dirinya hamil, melahirkan dan membesarkan putrinya tanpa ditemani seorang suami. Waham saat ia datang kembali pada Dani, namun Dani tak menerima kehadirannya dan juga anaknya. Waham ketika Dani bangkrut dan Pina kehabisan harta. Segala waham itu muncul. Membuatnya tak bisa mengendalikan emosi.


Petugas Dari RSJ bekerja sama dengan security kompleks perumahan..Mereka naik melalui jendela yang tidak terkunci di bagian dapur.


"ibu.....!!!"


Fika berteriak memanggil ibunya. Hatinya sakit menyaksikan ibunya digeret paksa menaiki mobil ambulance. Beberapa orang menyebut ibunya "gila". Sebuah kata yang menyakitkan seorang anak, meskipun itu adalah sebuah kenyataan.


"Ibu...aku tetap menyayangimu" Gumam Fika dalam tangis.


###


Diruang gelap dan pengap. Sebuah lilin tunggal menyala. Menerangi sudut ruangan yang ditempati sesosok manusia yang kehilangan kewarasan.


"Happy birthday ibu...happy birthday ibu... happy birthday... happy birthday...happy birthday...i...ibu...." .


Hari ini, tepat Pina berulang tahun. Ulang tahun yang biasa ia rayakan bersama Fika dengan kue blakforest favoritnya. Fika paham betul kue kesukaan ibunya itu. Untuk itu, ia sengaja datang untuk menjenguk ibunya, sekaligus memberikan surprise ulang tahun.


Fika masuk ke ruangan itu sambil membawa sekotak cake untuk Pina yang tengah berulang tahun . Fika menyanyikan lagu dengan suara berat dan air mata. Ia tidak bisa masuk ke ruangan itu. Hanya bisa dibalik jeruji besi. Petugas belum mengijinkan Pina untuk dijenguk. Kondisi mentalnya belum 100% pulih. Ia masih suka mengamuk dan melukai orang disekitarnya.

__ADS_1


Pina terduduk menghadap tembok bangsal jiwa. Ia hanya sempat melirik sebentar kearah Fika yang menangis sesenggukan dengan kue dan lilin yang masih menyala ditangannya.


"ibu, Fika datang Bu..." Ucap Fika mengapa ibunya yang acuh dengan kedatangannya.


"Bu...selamat ulang tahun Bu..."


Pina diam tanpa suara.


"Ibu, Fika kecil ingin tiup lilin bersama ibu...".


Kalimat Fika ini, memutar memori Pina pada masa kecil Fika. Ia kemudian membalikkan tubuhnya dan berjalan menghampiri Fika. Kemudian kembali duduk membungkuk menghadap lilin.


Pina memperhatikan lilin yang masih menyala itu. Sejenak menatap Fika dengan ekspresi wajah dingin. Lalu meniup lilin tersebut.


Fika terharu melihat respon ibunya. Ia sadar bahwa ibunya sangat mencintai Fika. Merindukan masa-masa Fika kecil.


"Selamat ulang tahun ibu..." Fika menangis tersedu-sedu. Segera ia memotong kue dan mengambil sebuah sendok. Kemudian ia menyuapi ibunya. Meski awalnya ragu, akhirnya Pina mau membuka mulutnya.


Fika semakin merana, melihat tubuh ibunya yang jauh lebih kurus. Rambutnya terlihat memutih semua. Kulitnya kusam dan mulai terlihat keriput. Padahal Pina saat sehat, sangat memperhatikan penampilannya.


Pina makan dengan lahap. Selama di bangsal jiwa, napsu makannya menurun. Mungkin karena menu makan di bangsal jiwa tidak sesuai dengan selera makannya.


"Ibu, mulai besok, Fika akan sering-sering menjenguk ibu. Terutama dihari Sabtu dan Minggu. Kalau hari lain, Fika harus mencari pekerjaan. Do'akan Fika cepat mendapat pekerjaan baru ya Bu..." Ucap Fika sambil menyuapi ibunya. Ia sadar bahwa ibunya tak akan merespon. Namun, Fika yakin, ibunya memahami apa yang ia ceritakan.


Jam jenguk telah usai. Fika berjalan mundur ketika harus keluar dari bangsal. Ia melihat dengan jelas, ada air mata disudut mata ibunya. Ia tau ibunya mampu merasakan kerinduan padanya. Hanya saja, ia tengah berjuang melawan egonya, agar nanti bisa memulihkan jiwanya.


###


Fika berjalan sendirian menyusuri jalanan kota. Ia memutuskan untuk hidup di rumah kos bersama Nadia. Baginya, rumah peninggalan orang tuanya terlalu memberikan pengalaman suram. Ia butuh tempat yang tenang untuk bisa memulihkan mentalnya. Fika merasa butuh ketenangan untuk bisa melanjutkan hidup dan menatanya.


Besok pagi, Fika akan mulai mencari pekerjaan.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2