
Rania terus berdzikir disamping ranjang. Ditatapnya mata Azka lekat-lekat. Mata yang masih terus tertutup dengan nafas yang terengah-engah. Lantuan ayat suci Al-Qur'an, perlahan membuat kesadaran Azka kembali. Meski matanya belum terbuka, namun Azka telah menunjukkan respon berupa gerak jari.
Dokter terus melakukan pengobatan-pengobatan. Setiap dua jam sekali detak jantung Azka diperiksa, begitu juga nafasnya.
"Anak anda terus memberikan perkembangan yang cukup baik. Detak jantungnya sudah mulai normal. Kita berdo'a saja agar sebentar lagi anak anda bisa siuman".
Ucap dokter Hadi, dokter yang menangani Azka.
***
Sementara Jean mengikuti polisi, mengawal Dani hingga masuk jeruji besi. Tatapan Dani teramat dingin. Ia tak bereaksi apapun ketika dilakukan penangkapan terhadapnya. Jean meminta ijin kepada polisi untuk bertemu dengan Dani.
Dani terduduk di sebuah kursi kayu. Tangannya menyila kaku. Matanya menatap kosong. Jean berjalan mendekati Dani. Kemudia duduk berhadapan. Jarak mereka begitu dekat. Hanya dibatasi dengan sebuah meja kayu. Dani tak bergeming. Matanya tetap kosong.
"Dani. Maafkan atas kelancangan saya untuk menemui mu".
Jean menghela nafas sejenak.
"Saya tidak mengenal kamu sebelumnya. Hanya tau bahwa kamu adalah ayah dari Azka dan Zidan, serta mantan suami dari istri saya, Rania".
Jean terhenyak. Dani tiba-tiba memberi respon ketika nama Rania disebut. Matanya menatap nanar pada Jean.
Jean menghentikan ucapannya. Melihat situasi.
"Dani. Saya tak bermaksud menghakimi kamu, Saya datang untuk menjelaskan sesuatu".
Jean kembali menghela nafas. Berada disituasi seperti ini tidak mudah baginya. Namun sebagai laki-laki yang bertanggung jawab terhadap keluarganya, ia harus bisa mengambil sikap.
"Sebagai seorang kepala keluarga. Saya dituntut untuk melindungi keluarga saya. Saya tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi kepada ank dan istri saya. Apapun akan saya lakukan demi keselamatan mereka!".
Ucap Jean dengan tegas. Jean kemudian menatap mata Dani.
"Saya datang untuk menyampaikan, bahwa apa yang kamu lakukan hanya akan membuat dirimu hancur, Dani. Anak-anak akan trauma jika melihatmu"
Jean kembali mengatur nafas.
"Mereka adalah anak laki-laki. Bagaimana mereka bersikap jika besar nanti, akan ditentukan oleh sikap kita sebagai ayah. Tidakkah kamu mau anak-anak menjadi pemimpin yang baik di masa yang akan datang?. Tidakkah kamu berharap bahwa mereka memiliki kenangan yang indah tentang sosok seorang ayah, lalu kita di idolakan, sehingga mereka menjadi seperti kita?".
Jean mencoba mengatur emosinya.
"Cukup Dani. Cukup jangan lakukan lagi hal bodoh seperti ini. Ku dengar istrimu tengah hamil. Apakah kamu tak memikirkan nasibnya jika melahirkan tanpa dampingan suami?!".
Jean terdiam. Ia melihat ekspresi Dani yang sepertinya ingin berbicara padanya.
"Kamu mengambil kebahagiaan yang ingin aku ciptakan bersama anak-anak!"
__ADS_1
Bentak Dani.
"Kebahagian yang mana yang saya ambil. Sedangkan saya mengisi ruang waktu saat kamu tak juga hadir untuk mereka. apa kamu lupa, Dani?!"
Jean mulai ingin memperdebatkan persepsi Dani.
"Rania tidak boleh menikah lagi. Ia cukup hidup sendiri dan akan selamanya sendiri!".
Dani kemudian bangkit dari duduknya. Dengan dingin ia meninggalkan tatapan mata yang penuh kebencian pada Jean,
Seolah-olah Jean adalah penyebab perpisahannya dengan Rania.
"Satu hal yang harus kau ingat, Dani. Rania adalah perempuan istimewa. Ia berhak akan kebahagiaannya. Ia berhak mendapatkan orang yang mampu memberinya cinta tanpa terbagi. Kamu adalah orang yang sia-sia!"
Ucap Jean dengan penuh emosi. Dani menatap dengan tantangan dari balik jeruji besi. Tatapan kebencian, tatapan akan dendam.
***
"Rania makanlah dulu. Kamu belum makan seharian".
Ucap Jean yang tiba di Rumah Sakit. Ia membawa sebungkus nasi Padang dan minuman untuk Rania. Ia tau dalam kondisi seperti ini, Rania harus tetap memperhatikan kesehatannya.
"Aku tidak selera makan..."
Jean kemudian menghampiri tubuh istrinya yang mulai ringkih. Masalah yang datang silih berganti membuatnya kurang memperhatikan kesehatannya sendiri.
"Rania, jangan sampai ketika Azka terbangun, malah kamu yang terbaring. Azka tidak sedang butuh ditangisi. Azka sedang membutuhkan cinta dan semangat dari ibunya. Jika kamu meratapi keadaan Azka, maka ia akan meratapi dirinya, bagaimana ia mau sembuh. Kamu dan Azka punya ikatan batin yang menyatukan kalian, kan?!"
Ucap Jean mencoba menyadarkan istrinya itu.
"Bukan hanya Azka. Dirumah ada Zidan yang juga merindukan dekapanmu. Lalu kamu masih mau menyiakan kesehatanmu?!"
Ucap Jean sedikit membentak. Ia tak suka Rania bersikap lemah seperti ini.
Rania menatap Jean. Begitu merasa bersalah ya Rania. Ia tak enak hati, sebab selalu menyusahkan suaminya.
"Jean maafkan aku selalu menyusahkan mu!"
Ucap Rania terbata-bata.
"Saya ingin kamu menjadi perempuan yang kuat, seperti pesan Bu Murti, Ibumu!".
Rania teringat akan pesan ibunya. Bahwa setiap makhluk yang bernafas akan tetap diuji dan diuji. Tak akan pernah berhenti sampai diputusnya rejeki dan nikmat hidup, yaitu mati.
Rania kemudian mengambil bungkusan nasi Padang itu. Memakannya dengan lahap. Karena pada dasarnya ia dalam keadaan sangat lapar, karena telah berpuasa sejak Azka dinyatakan hilang. Namun kini ia sadar, bahwa Azka butuh motivasi dari Rania. Motivasi ghaib dari do'a dan keyakinan ibunya.
__ADS_1
Setelah makan, Rania bergegas mandi. Jean telah membeli beberapa potong pakaian untuk salin Rania. Setelah mandi, Jean menghamparkan sajadah di samping ranjang Azka. Kemudian mengumandangkan Adzan dengan keras. Lalu, Rania dan Jean pun sholat berjamaah. Sholawat berjamaah dan mengaji bersama.
"Azka, ini mama nak. Adek Zidan nunggu mas Azka di rumah. Katanya, ayok kita main lagi, ngaji lagi. Ayah juga mau ngasih mas Azka anak kambing. Ayo bangun, nak!"
Rania mencoba memanggil Azka. Seolah anaknya itu telah sadarkan diri.
"Azka, ini ayah Jean. Ayah punya hadiah anak kambing untukmu. Azka bilang kemarin minta anak kambing kan..."
Jean melakukan hal yang sama dengan Rania. Mereka mengajak bicara Azka seolah ia telah sadarkan diri. Jean menguatkan Rania bahwa motivasi seperti ini akan menguatkan Azka yang tengah berjuang untuk siuman.
Jean terus mengumandangkan adzan di dalam kamar rumah sakit saat masuk waktu sholat.
***
Masuk waktu subuh, Jean mengumandangkan adzan yang sama.
"Assholatu khoirumminannaum...Assholatu khoirumminannaum..."
"Ma...ma...ma..."
Terdengar Azka dengan terbata memanggil nama mamanya ketika Jean telah mengangkat tangan untuk sholat.
"Allahuakbar....!"
Jean dan Rania menguatkan diri untuk melanjutkan Sholah subuh berjamaah. Disamping mereka ada Azka yang mulai siuman, suara lemahnya memanggil-manggil kata "mama".
Selepas salam. Rania dan Jean dengan cepat menghampiri Azka. Beribu syukur mereka panjatkan kepada Allah yang masih memberikan kesempatan kepada Azka untuk kembali siuman.
Jean kemudian memanggil dokter untuk memberikan penanganan kepada Azka.
Hari itu, Azka telah kembali menatap dunia. Jean meminta dokter untuk memindahkan Azka ke ruang perawatan biasa. Jean memilihkan ruangan dengan kaca besar. Ruangan VVIP anak dengan kaca jendela dengan view taman selayak hotel bintang lima.
Jean membuka tirai penutup jendela. Ia ajak Azka menatap keluar kamar. Azka masih terbaring lemah diranjangnya.
"Azka, yah ingin mengajak kamu dan Zidan tanding bola di lapangan hijau seperti diluar".
Ucap Jean seraya menunjuk view hamparan taman hijau disamling rumah sakit.
"Kapan ayah?". Tanya Azka dengan suara lemah.
"Segera setelah kamu bisa turun dari ranjang ini".
Sontak ucapan dari ayahnya itu membuat anak lelaki yang terbaring lemah menjadi bersemangat. Azka yang telah diijinkan makan tanpa selang, kemudian makan dengan lahapnya. Sehingga tenaganya kembali pulih. Jean tak pernah berhenti memotivasi Azka. Baginya, motivasi adalah obat mujarab untuk kesembuhan banyak penyakit di dunia ini.
Bersambung....
__ADS_1