
Rania menghela nafas panjang dan membuangnya secara perlahan, cara ini ia rasa ampuh untuk mengusir rasa nervous yang kini menguasainya. Perlahan perasaan nervous itu berkurang. Rania membaca do'a dalam hati, kemudian mengetuk pintu ruangan Bu Martha.
"Silahkan masuk...."
Ucap suara dari balik pintu. Rania pun membuka pintu dengan perlahan.
"Permisi Bu, saya Rania".
"Oh ya silahkan masuk"
Ucap perempuan berambut keriting pendek dengan perawakan tubuh sedikit berisi. Tinggi badannya sekitar 160cm dengan berat badan 50 kg. Bu Martha yang Rania ketahui adalah seorang pengacara perceraian. Kadang ia tidak menerima bayaran sepeserpun pada klien yang ia nilai tidak mampu, seperti korban KDRT dan para ibu rumah tangga yang dicampakkan oleh suaminya.
Bu Martha mempunyai tim lawyer yang sangat profesional. Di perusahaan lawyer nya itu ia memasang tarif tinggi bagi mereka yang mampu membayar, dan gratis bagi mereka yang tidak mampu. Begitulah silang subsidi yang ia jalankan agar LSM nya tetap bisa berjalan dan mendapatkan suntikan dana. Bu Martha pernah mendapatkan hibah uang sebesar 3 miliyar dari seorang CEO perempuan, karena ia telah bisa mengungkap perselingkuhan suami dengan sekretaris pribadinya, dan memenangkan Gono gini atas sebuah perusahaan pertambangan. Dari uang hibah tersebut, Bu Martha bisa memberikan bantuan dana modal bagi 100 janda korban perceraian yang tidak mampu secara ekonomi. Dalam tim Bu Martha juga melibatkan para psikolog yang menjadi partnernya. Mereka yang berkonsultasi hukum, juga akan mendapatkan layanan psikologis untuk membantu memberikan semangat hidup bagi mereka yang menghadapi perceraian.
Hati Bu Martha tergerak demikian, karena beliau adalah anak korban perceraian. Ibunya berjuang sendirian untuk membesarkan anak-anaknya hingga sarjana.
Rania duduk dengan tenang. Ia duduk berhadapan dengan Bu Martha yang saat itu mengenakan setelan jas berwarna hitam.
"Selamat pagi bu Rania, apa kabar...?"
"Alhamdulillah kabar baik Bu"
"Anda datang dengan siapa pagi ini?"
Rania menjawab dengan sedikit ragu.
"Dengan suami saya".
"Oh anda sudah menikah lagi?"
Rania menjawab dengan anggukan.
"Bagus. Itu adalah obat mujarab untuk menyembuhkan trauma psikis akibat perceraian. Saya do'akan pernikahan anda yang sekarang berjalan dengan bahagia dan penuh cinta".
Sebuah sambutan yang hangat dari Bu Marta, membuat ketegangan yang tadi menguasai Rania, melunak. Ia merasa relax untuk berbincang-bincang dengan Bu Martha.
"Saya akan menjelaskan cara kerja volunteer bagi korban perceraian ini. brand ia akan saya berikan klien. klien ini akan diobservasi dulu oleh seorang psikolog. Tugas berani adalah memberikan dukungan secara psychologist di lapangan memantau mereka dan melaporkannya kepada psikolog. Beraninya yang pernah bangkit dari sebuah perceraian bisa menggunakan pengalamannya bagaimana teknik untuk healing dari masalah yang sedang dihadapi. Namun, Bu Rania juga akan kami berikan pelatihan penanganan traumatis yang biasa dialami oleh korban perceraian. Mengingat efek trauma akibat perceraian itu berbeda-beda pada masing-masing orang. Tentunya penanganannya pun berbeda".
Rania dengan hikmat mendengarkan penjelasan dari Bu Marta.
Bu Marta kemudian melanjutkan penjelasannya.
"Bu Rani akan mendapatkan kompensasi berupa fasilitas kendaraan, dan juga pulsa untuk memudahkan komunikasi, kemudian kompensasi uang sesuai dengan kondisi keuangan lembaga mengingat kita adalah lembaga non profit. Bagaimana Bu Rania apakah anda setuju dengan sistem kerja LSM Sehati?".
"Sebagai korban perceraian, tentunya saya ingin membantu mereka yang menjadi korban seperti saya, untuk bisa bangkit dari keterpurukan dan menemukan kebahagiaan meskipun seorang diri. Saya menerima tawaran anda untuk bergabung di LSM Sehati".
"terima kasih untuk semangatnya beraninya selamat bergabung menjadi tim LSM Sehati. Semoga niat baik bu Rania untuk membantu para korban perceraian bisa membantu mereka dalam kelangsungan hidup setelah perceraian".
Ucap Bu Marta menutup perbincangan mereka. sebelum Rania meninggalkan tempat, Rania diberikan sebuah dokumen dimana disana tertulis nama seorang klien bernama Merry Sahara.
Merry Sahara adalah seorang ibu rumah tangga yang telah menikah selama 10 tahun namun belum diberikan keturunan. Sudah berbagai upaya dilakukan untuk bisa mendapatkan keturunan namun belum juga diberikan. Merry dan suami sepakat untuk mengadopsi seorang anak perempuan yang kini dalam pengasuhan Merry. Sayangnya belakangan diketahui bahwa perilaku suaminya ini berubah drastis. suaminya jarang sekali pulang ke rumah, meskipun pulang ke rumah ya hanya untuk memenuhi kebutuhan ekonomi Merry dan anak angkatnya. kemudian suaminya akan pergi lagi untuk beberapa hari. Merry mulai mendengar desas-desus dari rekan kerja suaminya bahwa suaminya ini telah memiliki istri baru. istri baru tersebut merupakan mantan kekasih dari suaminya itu.
Merry merasa dikhianati. awal yang telah dibuat ternyata dilanggar oleh suaminya. ngirim mulai merasakan stres karena orang-orang menyalahkan dirinya yang tidak mampu untuk memberikan keturunan pada suaminya. Hingga amat wajar jika suaminya ini menikah lagi dengan perempuan lain dengan harapan akan mendapatkan keturunan.
Merry sebenarnya adalah seorang dokter muda yang memutuskan untuk bed rest dari pekerjaannya selama 3 tahun terakhir hanya untuk berjuang untuk bisa hamil. namun Tuhan berkata lain, belum juga dikaruniai seorang anak. saat ini kondisi psikologis mereka sangat terguncang. karena ia telah menemukan banyak bukti perselingkuhan suaminya. namun ya bingung apa yang harus ia lakukan. Apakah ia harus bercerai ataukah tetap melanjutkan pernikahannya. Mengingat hari sangat mencintai suaminya ini. mereka telah berpacaran semenjak duduk dibangku SMA, dan yang ia kenal suaminya amatlah baik padanya.
Rania diajarkan untuk memberikan pendampingan secara bertahap pada kliennya ini. Rania yang terkenal cerdas, mampu untuk mencerna apa yang harus ia lakukan kepada kliennya ini. dengan mantap dan ia menerima kasus klien pertamanya ini.
Rania dengan gegap gempita keluar dari ruangan Bu Martha. melewati lorong yang tadi ia lewati dengan perasaan semangat yang luar biasa. di luar telah ada Jean yang juga melihat dan merasakan semangat yang dimiliki Rania. ia berharap istrinya bisa bermanfaat bagi orang lain.
***
saat sampai rumah. Rania langsung membuka laptopnya. ya kemudian membuat rancangan penanganan dan pendampingan terhadap Merry.
untuk tahap pertemuan pertama dan ia akan membentuk bonding antara dirinya dan Merry. iya sangat berharap mereka bisa merasa nyaman dengannya. jika Meri sudah merasa nyaman maka apa yang akan ia katakan kepada kliennya itu mudah diterima.
hari itu juga Rania segera menghubungi Merry melalui pesan singkat ke WhatsApp.
"Selamat siang Merry..."
Rania mengirimkan sebuah pesan kepada Merry. Namun sayang pesan itu tak kunjung dibalas oleh Merry.
Rania pun mengirimkan pesan kedua kepada Mery.
__ADS_1
"Merry, saya Rania, tim dari LSM Sehati. Kita bisa berbincang sebentar?"
Pesan kali ini dibalas oleh Merry.
"Ya. Tapi aku sedang tidak mood untuk berbicara dengan siapapun. Aku tak mau pergi kemanapun hari ini".
Sepertinya Meri melakukan blocking. Namun Rania tidak menyerah. Ia terus membujuk kliennya itu.
"ingatkan aku untuk menemui mu di rumah. Kita bisa berbincang di rumahmu agar kamu bisa merasa lebih nyaman".
Kali ini Rania berhasil. Sebuah alamat dikirimkan oleh Merry. Rania segera memberitahukan ini pada Jean. Jean pun siap mengantarkan Rania. Sebelumnya mereka akan menjemput Chantika dulu dari sekolah. Azka dan Zidan ikut full day School, sehingga jadwal mereka pulang lebih lama. Sedangkan Chantika masih duduk di bangku play group.
Mereka pun segera meluncur menuju sekolah Chantika terlebih dahulu. Rania menyiapkan sebuah box berisi nasi. Nantinya, Jean dan Chantika akan menunggu Rania di sebuah tempat. Chantika akan makan siang dengan menu rumahan, meskipun sedang berada diluar rumah.
***
"Mama....ayah ..."
Terdengar suara Chantika memanggil nama orang tuanya. Gadis berambut sebahu dan di kuncir itu terlihat ceria dan bahagia. Cantika menunjukkan sebuah buku gambar miliknya. iya sangat bangga karena telah bisa menggambar sebuah rumah dengan sempurna. Jean dan Rania memuji hasil karya anak bungsunya itu. Mereka pun masuk ke mobil.
"Chan. Hari ini kita antarkan mama kerja dulu ya..."
Ucap Rania pada Chantika yang duduk dipangkuan Rania.
"Loh mama kerjanya pindah ya, gak di resto lagi?"
Protes anak itu.
"Masih di resto. Tapi, sekarang mama dapat tugas tambahan. Gak apa ya, Chantika ikut mama kerja dulu?"
"iya. Ma...."
Lima belas menit kemudian mereka telah sampai di alamat yang dimaksud. Chantika dan Jean menunggu di mobil. Karena ini kali pertama, Jean tidak ingin meninggalkan. Rania sendiri. Ia takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Rania berjalan menuju rumah itu. Rumah berpagar putih yang terlihat sangat mewah. Namun, ia melihat rumah itu seperti tidak terawat oleh si empunya rumah. Rania menekan bel yang terpasang di pagar rumah itu. Tak berselang lama, seorang perempuan berperawakan kurus tinggi keluar dari rumah. Berjalan dengan lemah menuju pagar dan membuka gemboknya.
"Selamat siang, Merry"
Merry hanya tersenyum tipis dan berat. Tanpa menjawab. Tercium aroma yang kurang sedap dari tubuhnya. Rambutnya pun terlihat gimbal. Namun, ia masih terlihat normal. Setidaknya mampu merespon Rania.
Rania berjalan menuju pintu masuk rumahnya. Furniture di rumah ini terlihat mewah, dengan desain minimalis. Ia tentu bisa menebak bahwa ekonomi Merry cukup baik. Namun, ia kehilangan semangat untuk menjadi ibu rumah tangga yang baik. Semua perabotan berserak dan kotor.
Rania kemudian masuk kedalam rumah. Betapa terkejutnya ia ketika mendengar rintihan seorang bocah.
"Mer...siapa yang sedang merintih itu?"
Rania mencoba bertanya pada Merry. Namun Merry tak menjawab. Ia hanya duduk di sebuah sofa. Kali ini, pandangan Merry kosong. Rania segera mencari sumber rintihan. Sambil tangannya bergerak meraih ponsel, untuk segera menghubungi Jean. Rania tidak menemukan siapapun di lantai 1 rumah itu. Rania kemudian naik menuju lantai 2. Aneh, Merry tak berusaha mengejarnya, atau memberi petunjuk apapun. Ia hanya duduk di sofa dengan tatapan mata yang kosong. Rania membuka setiap pintu yang ada di lantai 2..Betapa terkejutnya ia ketika melihat seorang anak berusia 4 tahun tengah terbaring telanjang diatas lantai, dengan tubuh yang sangat lemah. Rania segera mengangkat anak itu ke ranjang. Ruang kamar tempat anak itu ditemukan tak layak huni. Pampers bekas pakai berserakan dan bekas makanan yang telah mengeluarkan bau, juga ada disana. Rania segera membopong tubuh anak itu keatas ranjang. Hingga Jean tiba di tempat bersama Chantika. Jean juga telah melihat kondisi Merry yang berada di sofa ruang tamu dengan pandangan kosong.
Jean segera menghubungi ambulance. Jean menyuruh Rania untuk membawa anak itu ke rumah sakit dengan mobil mereka. Chantika pun ikut menemani Rania. Sedangkan Jean, akan menunggu ambulance untuk membawa Merry. Bukan tanpa sebab Jean memilih ambulance untuk membawa Merry. Mengingat, Jean dan Rania tidak tau kondisi kejiwaan Merry. Ia takut Merry melakukan perlawanan dan nekat loncat dari mobil.
Rania segera membopong anak itu menuju mobil. Chantika mengikuti dari belakang. Chantika membantu membukakan pintu mobil. Rania memasukkan anak itu di jok belakang. Mobil dipacu menuju rumah sakit terdekat. Jaran 15 menit mereka telah sampai di rumah sakit. Anak itu segera mendapatkan perawatan medis dan masuk ke ruang UGD.
Rania belum tau dengan apa yang terjadi pada anak itu dan Merry. Ia segera menghubungi tim Psikolog dari LSM Sehati. Mereka segera menurunkan tim untuk membantu Rania.
***
Menjelang sore, Rania baru mendapatkan kabar dari Jean bahwa Merry telah dirawat dirumah sakit yang sama. Merry terkena depresi.
Rania segera mencari tempat dimana Jean berada. Rania memeluk Jean. Ini merupakan kasus pertama yang ia tangani, namun ternyata ia langsung mendapatkan pasien dengan kondisi mental yang buruk. Bahkan belum bisa dilakukan pendekatan sedikitpun.
Menjelang malam, Rania dan Jean memutuskan untuk pulang, setelah keluarga Merry tiba di rumah sakit.
***
Esok harinya, Rania tiba di rumah sakit. Ia segera menuju bangsal anak, tempat anak yang kemarin ia selamatkan dirawat. Namanya Sesil. Anak yang diadopsi dari sebuah keluarga tidak mampu. Menurut keterangan dokter. Anak ini mengalami dehidrasi parah dan kurang gizi. Saat ini sedang dilakukan penanganan medis untuk menyelamatkan nyawanya. Disinyalir, Sesil telah tidak makan dan minum selama 3 hari. Ini bukan penyiksaan, namun pengabaian, dikarenakan kondisi Merry pun tak jauh berbeda. Ia yang terdiagnosa mengalami depresi, telah kekurangan cairan tubuh.
Rania segera melihat kondisi Merry. Ia terlihat tenang setelah diberikan obat penenang oleh dokter medis. Tangannya di infus karena ia kekurangan cairan.
"Merry...aku datang, Rania..."
Siap Rania pada Merry yang tengah melihat kearah luar kamar. Rania teringat dengan kondisinya yang pernah ada di posisi Merry. Sejenak hati Rania teriris. Ya, luka yang teramat dalam itu telah menghancurkan fisik maupun psikis seseorang. Luka akibat sebuah pengkhianatan.
Rania mencoba bersikap profesional. Ia berusaha untuk tegar dihadapan Merry.
__ADS_1
Rania mencoba untuk mengajak Merry berkomunikasi. Ia berharap masih ada kesadaran dalam diri Merry sehingga Rania bisa memberikan motivasi padanya.
"Merry aku hadir disini untukmu, sayang. Kamu tidak sendirian".
Namun tetap tak ada respon dari Merry. Ia tetap memandang kearah yang sama dan dengan tatapan yang kosong. Dokter yang menjaga memberikan saran agar Rania bersabar. Pasien dengan kondisi depresi berat, membutuhkan waktu untuk memulihkan kesadarannya. Rania pun menunggu dengan sabar.
Rania membantu menyuapi Merry. Mengajaknya berbincang meski tak ada respon. Ia melakukan bonding terhadap Merry.
***
Hari Ketiga di rumah sakit...
Seperti biasa, setalah mengantar anak-anak ke sekolah, Rania menyempatkan diri untuk mengunjungi Merry di rumah sakit. Kebetulan jarak rumah ya ke rumah sakit hanya sekitar lim menit saja. Rumah sakit besar sekelas RSUD yang berada di kawasan pegunungan.
Pagi ini, Rania akan mengajak Merry berjalan-jalan di sekitar rumah sakit. Alam yang indah akan membantu pemulihan kondisi mental seorang pasien. Rania mengajak Merry ke sebuah taman bunga.
"Merry, coba lihat tanaman bunga disana. Indah bukan?"
Ucap Rania yang duduk disamping kursi roda Merry.
"Merry. Hidup ini terlalu indah untuk disia-siakan. Bangkitlah sayang. Kamu akan menemukan kehidupan yang lebih baik meskipun tanpa suamimu, percayalah...".
Tiba-tiba Merry merespon dengan cara menangis sesenggukan. Masih tanpa kata. Namun, Rania melihat ada respon dari Merry. Menangis, merupakan tanda respon bahwa orang tersebut bisa memahami apa yang lawan bicaranya ucapkan..
Rania kemudian menceritakan kisah hidupnya pada Merry. Bagaimana ia pernah di posisi yang sama dengan Merry. Namun, Tuhan masih berbaik hati padanya. Memberikan kesembuhan padanya, dan memberikan pasangan yang baik hati. Semua terlewati dengan rasa optimis. Jika kita pesimis, maka bagaimana Tuhan mau membantu kita, jika kita ragu pada kuasa-Nya?
Perlahan, Merry memberikan pandangannya pada Rania. Telah ada thrust dalam diri Merry untuk Rania. Merry pun mulai merespon setiap perintah Rania. Seperti ketika Rania memberikan makanan kepada Merry. Rania akan memancing dengan menawarkannya terlebih dahulu pada Merry. Merry telah mampu merespon dengan sebuah anggukan. Sebuah kemajuan yang cukup baik.
***
Seorang rekan volunteer LSM Sehati menghubungi Rania. Ia ingin menunjukkan rekaman CCTV yang ia dapatkan dari rumah Merry. Rania segera meluncur menuju kantor.
Di kantor, ia segera menuju ruang observasi. Disana telah ada Yusri, rekan sesama volunteer yang bertugas untuk menyelidiki. Yusri menunjukkan rekaman CCTV tersebut. Betapa terkejutnya Rania, ternyata selama tiga hari. Suami Merry datang bersama kekasih barunya, atau istri barunya. Mereka mengambil barang-barang berharga yang menjadi simpanan Merry. Lima belas menit sebelum Rania tiba. Suami Merry kembali datang dan mengambil mobil milik Merry. Disinilah kondisi Merry mulai linglung bahkan tidak lagi terjadi pertengkaran.
Rania kemudian mengambil kesimpulan bahwa Merry mengalami trauma. Suaminya mulai terang-terangan melakukan perselingkuhan di rumahnya.
***
Perlahan Rania mendekati Merry yang mulai bisa diajak berkomunikasi. Rania menanyakan padanya, apa yang ingin ia lakukan saat ini. Namun Merry mengatakan tidak tau apa yang harus ia lakukan saat ini. Ia merasa semua orang telah menyalahkannya atas perselingkuhan yang dilakukan oleh suaminya. Tak ada seorang pun yang memahami dirinya.
Rania duduk disamping Merry, menggenggam tangan Merry dengan erat.
"Aku akan berusaha untuk memahami perasaanmu Merry. Katakan apa yang kamu inginkan, aku akan berusaha untuk memenuhinya".
Ucap Rania.
"Aku ingin suami ku kembali seperti dulu".
Ucap Merry.
"Merry. Kalau aku ganti suami kamu dengan yang baru bagaimana?".
Merry terdiam tak menjawab.
"Merry, mobil yang sudah rusak parah, tak layak untuk diperbaiki. Kalau pun bisa, waktumu akan habis hanya untuk memperbaikinya. Lebih baik, kamu ganti saja dengan yang baru, yang lebih baik dan menarik".
Merry menatap Rania. Rania tersenyum meyakinkan Merry.
"Aku akan segera memberikanmu gantinya. Asalkan kamu harus bangun dari kesedihanmu".
ucap Rania kembali meyakinkan Merry.
Merry yang saat itu mulai berangsur pulih mempercayakan dirinya pada Rania.
Langkah pertama yang Rania lakukan adalah memindahkan rumah Merry ke tempat yang tenang. Bukan rumah lamanya, karena akan terus membuat Merry mengingat kenangan bersama suaminya.
Dengan kesepakatan keluarga Merry, Merry akhirnya mengajukan gugatan perceraian di pengadilan agama. Alasan perceraian adalah adanya perselingkuhan. Rania bertekad Merry harus mendapatkan hak gono gini yang besar, mengingat cukup bukti bahwa suaminya bersalah telah berselingkuh, dengan bukti sebuah rekaman CCTV.
Persidangan berjalan terus. Merry berusaha untuk melawan rasa depresinya di persidangan. Sebuah tagar #saveformerry menjadi trading di Twitter. Masyarakat memberi support moril pada Merry. Rania menunjukkan trading topik Twitter tersebut pada Merry. Membuat Merry menjadi berani dan bersemangat.
Bersambung...
Hai dearest maaf ya part berikutnya lebih panjang dari biasanya. Diungkap perkasus dari klien Rania....yuks ikuti terus ya ..🤗 jangan lupa like nya oke
__ADS_1