100 Hari Pertama Menjadi Janda

100 Hari Pertama Menjadi Janda
Sahabatku, Maduku. Bagian 1


__ADS_3

Aku bernama Lestari. Orang-orang memanggilku dengan panggilan yang sama dengan orang tuaku, Tari. Usiaku 29 Tahun dan resmi menyandang janda 30 hari yang lalu. Aku dimadu dengan sahabatku sendiri.


Laila, namanya. Sahabatku sejak duduk di bangku sekolah Menengah pertama di sebuah Kabupaten kecil di Jawa Tengah. Lila dan aku tinggal berdekatan. Tak ayal, aku dan dia sering berangkat sekolah bersama-sama.


Laila anak buruh tani yang bekerja di ladang milik ayahku. Ayah adalah petani padi yang sangat terkenal di daerah kami.


Laila telah kami anggap sebagai saudara. Bahkan dianggap anak kandung oleh ayah dan ibuku. Jika hendak berangkat sekolah, maka ibu akan menyiapkan sarapan yang sama dan memberikan uang jajan dengan nominal yang sama denganku. Banyak yang mengatakan, bahwa kami anak kembar beda rahim, karena Laila selalu berpenampilan sama sepertiku.


Setelah menamatkan jenjang SMA. Aku melanjutkan pendidikan di sebuah Universitas Negeri di Depok. Sedangkan Laila, masuk di universitas negeri di kampung halaman.


Semasa SMA, Laila kerap bergonta ganti pacar. Ada Bayu, Panji, dan Prakas. Sedangkan aku tetap setia pada Lesmana. Laki-laki berperawakan tinggi dan tegap. Ia berhasil masuk IPDN dan menuntaskan pendidikannya terlebih dahulu dibandingkan aku.


Beruntung, Lesmana bisa mendapatkan penempatan kerja di kampung halaman kami. Setelah menyelesaikan pendidikan strata 1 dibidang kedokteran, aku mendapatkan tugas di luar pulau Jawa, tepatnya di sebuah distrik kecil di Enarotali. Papua.


Enarotali adalah sebuah kelurahan dan sekaligus menjadi ibukota dari kabupaten Paniai, yang berada di provinsi Papua, Indonesia. Secara administrasi, kelurahan Enarotali terletak di distrik Paniai Timur, di tepi danau Tage. Enarotali dianggap sebagai kawasan di pedalaman Papua yang dibangun Belanda.


Sebenarnya, aku sangat keberatan ditugaskan di daerah ini. Karena, aku ingin sekali berada bersama Lesmana. Namun pengajuan koas di wilayah Jawa Tengah ditolak, dan justru diminta tetap mengambil koas di wilayah pedalaman Papua.


Akhirnya, dengan berat hati aku menerima keputusan itu dengan harapan 2 tahun segera berlalu dan aku bisa mencari pekerjaan di wilayah yang sam dengan Lesmana. Maklum saja, meskipun usia kami masih sama-sama muda, namun orang tua kami, sudah saling mengenal satu sama lain. Lesmana adalah anak satu-satunya keluarga Harun. Pak Harun dan istrinya menikah di usia yang tak lagi muda, dan Lesmana adalah anak tunggal mereka. Menyegerakan pernikahan adalah harapan mereka, agar bisa segera mendapatkan momongan yang banyak.


Aku berangkat koas ke Enarotali di bulan November tahun 2019 tepat saat itu. Dari kampus ada 2 Orang mahasiswa kedokteran, 1 orang dari farmasi, 2 orang dari kebidanan kampus lain, dan 2 orang lainnya adalah anak magang dari kampus IT yang ada di kota Depok.


Kami terbang menuju Timika. Perjalanan memakan waktu 6 jam di dalam pesawat. Perjalanan yang hampir sama untuk


pergi ke negara Jepang!


Sesampainya di Timika, kami masih harus menaiki pesawat Twin Otter. Pesawat kecil. Melewati bukit dan pegunungan. Menyeramkan, tapi asyik juga. Sesekali kami ber 7 saling menguatkan ketika pesawat menukik terlalu tajam ketika melewati pegunungan yang menjulang. Bahkan ketika mendarat, sayap bagian kanan pesawat hampir saja menabrak sapi yang tengah makan rumput di area Bandara.


Hari berganti bulan. Aku mulai menikmati aktivitas ku di Enarotali. Alam yang begitu indah sangat menarik perhatianku. Kami tinggal di sebuah rumah kost alakadarnya di distrik tersebut. Kos-kosan yang beratapkan seng dengan fasilitas air yang sangat minim. Jika air sedang mati, kami terpaksa mandi di kali yang airnya sangat dangkal!


Namun, aku tetap menikmatinya. Jika sedang rindu keluarga. Maka kami bertujuh saling menguatkan.


Kami berangkat kerja ke puskesmas pembantu di wilayah tersebut dengan menggunakan sepeda motor yang telah disediakan oleh pemerintah. Perjalanannya seru. Melewati pegunungan dan melintasi danau Tege yang sangat indah.

__ADS_1


Tantangan yang berat kami alami kala harus membawa pasien ke lokasi Fasilitas Kesehatan yang lebih memadai, menggunakan perahu boat atau bahkan sampan.


Untuk menghilangkan kepenatan, maka setiap weekend, aku dan teman-teman seperjuangan, akan menghabiskan waktu bersama teman-teman di Pantai Paniai, pantai dengan pasir putih yang indah.


Selama bertugas di Enarotali, aku dan Lesmana kesulitan untuk saling bersua kabar. Susah signal. Lesmana bisa menghubungiku jika aku berada di rumah kos. Sedangkan saat bekerja, tidak ada signal. Namun itu tak menyurutkan Lesmana dan aku untuk saling memberikan kabar setiap hari.


Hingga menjelang akhir tugas Koas, Lesmana dan keluarganya telah resmi melamar aku pada orang tuaku di kampung. Aku meminta Lesmana untuk ke Enarotali untuk melakukan sesi prewedding di distrik ini. Nuansa alamnya yang indah, sangat pas untuk menampilkan suasana romantis di foto prewedding. Aku dan Lesmana pun foto prewedding disana.


Tibalah saat kepulangan ku ke kampung halaman. Aku mendapatkan pekerjaan di RSUD yang tak jauh dari tempat tinggalku. Semua berjalan lancar, hingga hari H pernikahanku.


Aku mengundang semua teman sekolahku. Termasuk Laila. Saat itu ia datang bersama pria lain. Teman sekantornya yang usianya jauh lebih tua darinya. Aku positif thinking, mungkin Laila lelah Gonta ganti pacar dan menginginkan seseorang yang lebih serius untuk ke jenjang pernikahan.


***


Aku dan Lesmana adalah keluarga bahagia lagi mapan. Meski baru menikah, kami sudah memiliki rumah pribadi yang cukup mewah dan kendaraan roda empat masing-masing. Aku terbiasa mandiri, kemana-mana sendiri, dan itu yang Lesmana sukai dariku. Tidak banyak menuntut dan sangat mematuhinya.


Satu tahun berlalu. Karirku sangat bagus. Aku lolos seleksi CPNS dan siap menjadi ASN, sedangkan Lesmana telah menjadi ASN terlebih dahulu. Karirnya juga cukup baik dan ia adalah ASN berprestasi di kantornya.


Dua tahun semenjak pernikahan. Karir kami terus beranjak tinggi. Namun, belum juga di karuniai momongan. Mertua yang dulu terlihat sangat mendukung hubungan kami, bersikap baik dan menganggap aku anak sendiri, kini mulai berubah. Setiap kali menelpon yang ditanyakan hanya, apakah istrimu sudah hamil?


Tiga tahun berlalu semenjak pernikahan kami. Aku belum juga memiliki momongan. Berbagai upaya telah kami lakukan. Hasil pemeriksaan medis menunjukkan bahwa kami sama-sama sehat. Bayi tabung telah 2x kami jalankan dan hasilnya sama-sama gagal. Aku telah mencapai titik lelahku. Kami tidak pernah bertengkar. Namun, Lesmana mulai bersikap dingin.


Ia tak lagi memujiku, jarang ada di rumah. sekalipun ia dirumah, maka akan bersama dengan gadgetnya. Kata-katanya lebih ketus, apalagi jika ia baru saja berkunjung ke rumah orang tuanya, atau mertua kami sengaja berkunjung, maka ia akan berbicara lebih ketus dari biasanya.


Aku mencoba tetap bersabar dengan keadaan ini. Terus berikhtiar untuk mendapatkan momongan dan tidak melawan saat banyak hinaan yang menyalahkan aku yang tidak bisa hamil.


Aku mulai tertekan. Aku butuh orang yang bisa mengerti keadaanku. Semenjak sibuk bekerja, circle pertemanan ku berkurang. Teman kantor tak bisa ku jadikan sahabat untuk curhat. Maklum, aku adalah atasan yang harus menjaga wibawa di depan bawahan ku.


Aku mencoba menghubungi Laila. Sahabat yang sejak kecil selalu ada untukku, menjadi teman curhat dan berbagi cerita. Laila masih tinggal di kota yang sama denganku, meskipun jaraknya cukup jauh.


Aku memutuskan untuk menghabiskan weekend ku bersama Laila. Aku pergi ke tempat ia bekerja. Laila bekerja sebagai marketing officer di sebuah perusahaan properti yang cukup ternama. Sepertinya ia cukup sukses dengan pekerjaannya. Penampilannya bak artis kelas atas. Wajahnya yang dulu selalu dipenuhi jerawat kini tak nampak lagi, semenjak Laila mengenal skincare dan dokter kecantikan. Pakaiannya **** dan gaya bicaranya jauh berbeda. Namun, aku tetap nyaman berada didekatnya, curhat dengannya dan menghabiskan banyak waktu di rumah kontrakannya saat weekend.


Hingga suatu hari. Ketika kami sedang asyik menonton TV bersama, ada tamu yang tidak diundang. Mengetuk pintu dengan keras dan memanggil nama Laila dengan kasar.

__ADS_1


"La...siapa itu?!"


Aku merasa ketakutan ketika pintu ditendang paksa oleh orang yang ada dibalik pintu.


"Keluar kau perempuan murahan!!!"


Bentak seorang perempuan dari balik pintu.


"Iii...itu...itu...istrinya Mas Andra!"


Ucap Laila terbata-bata. Ia mengenal Andra sebagai kekasih Laila dia Ara pernikahannya dulu. Ia baru mengerti bahwa ternyata Andra adalah pria beristri yang telah memiliki 2 orang anak. Rumah yang ditempati Laila saat ini adalah rumah aset bersama Andra dan istrinya.


Laila diusir dari rumah itu setelah perkelahian hebat. Laila yang terkenal lugu rupanya bisa bertengkar sehebat itu melawan istri Andra.


Laila kebingungan untuk mencari tempat tinggal. Aku tak tega melihatnya. Dia sahabat yang telah dianggap saudara kandungku sendiri.


aku akhirnya memutuskan membawa Laila ke rumahku. Dia bisa tinggal dilantai atas yang tidak pernah ku huni. Karena lantai bawah saja cukup luas untuk aku dan mas Lesmana tinggal. Lagian, mas Lesmana jarang ada di rumah. Dia akan berangkat jam7 pagi dan pulang jam10 malam nanti.


"Mas, ini Laila, masih ingat kan?"


Ucapku disaat Mas Lesmana duduk merokok di depan TV. Matanya tertuju pada monitor TV.


"hemmm" ia hanya menjawab pertanyaan ku dengan berdehem.


"Aku membawa Laila untuk tinggal di rumah kita sementara waktu, sampai dia menemukan kontrakan yang baru. Boleh kan mas?"


Bujuk ku dengan lembut.


Lesmana melirik sekilas kearah Laila, kemudian berucap.


"Ya!"


Meskipun terkesan dingin namun aku menyambutnya dengan bahagia. Mulai hari itu, aku tidak akan merasa kesepian lagi di rumah mewah itu.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2