
Aku pulang menuju gubuk kecilku dengan perasaan haru. Ada perasaan haru dan bangga atas apa yang telah aku lakukan. Mempertemukan seorang anak dengan ibunya
tentu hal sederhana untuk orang dewasa mencari sebuah alamat, namun bagi seorang anak kecil seusia enam tahun, tentu akan terasa sulit, apalagi untuk kota bernama Jakarta. Mungkin, Tuhan telah menggiring Rukmini istriku dan aku untuk bertemu anak kecil bernama Azka. Dimalam yang mulai disirami rintik hujan, Rukmini melihat Azka berjalan seperti orang kebingungan. Kami tau Azka bukan anak jalanan. Ia tak mengetahui arah jalan, mengenakan pakaian rapi khas anak rumahan. Rukmini terketuk hatinya dan segera memanggil ku. Kemudian kami sepakat untuk membawa anak ini.madum ke dalam rumah dan mengijinkannya menginap semalam. Namun, sebelum ia tertidur, ia mengatakan bahwa adiknya hilang. Sehingga aku putuskan untuk melapor ke kepolisian. Rupanya adiknya telah diketemukan.
Sebenarnya aku akan mengantarkan Azka ke kantor polisi, atau ayahnya akan menjemput Azka ke gubuk ku. Namun, rupanya Azka memang sengaja kabur dari rumah ayahnya demi mencari mama nya. Aku yang selama lima puluh tahun tak bertemu dengan sosok seorang ibu, tergerak hati untuk mempertemukan Azka dengan ibunya.
Sepeda motor tua segera ku nyalakan. Aku tak mengebut. Ku pacu dengan santai sambil mengamati jalanan kota yang mulai padat. Aku melihat-lihat penjual bunga yang berderet di sepanjang jalan menuju alun-alun. ah...aku ingat bahwa hari ini Rukmini berulang tahun. Aku kemudian menepikan kendaraan ku dan membeli setangkai mawar yang akan aku berikan padanya. ah... Rukmini itu usia nya saja bertambah tua. Tapi, manjanya sama seperti saat gadis dulu. Ku lanjutkan perjalanan. Kali ini ku pacu lebih cepat. Akan ku traktor bakso kesukaanmu hari ini Rukmini, biar kamu bahagianya maksimal hari ini.
Aku telah sampai didepan kios yang sekaligus menjadi gubuk bahagiaku bersama Rukmini. Namun, kios ku tutup. Tak biasanya ia menutup kios kalau bukan jam sholat. Ku coba manggil-manggil namanya, tapi tak kunjung muncul. Rukmini tak mengerti jalan di Jakarta, sehingga mustahil baginya berpergian tanpa dampingan ku. Selama sepuluh tahun di Jakarta, Rukmini tak sekalipun pergi tanpa dampingan ku.
"Pak... Subur...Pak....!"
Terdengar seseorang memanggil dari arah luar rumah. Aku bergegas menuju sumber suara.
"Ya, Bu Yuli...?"
Rupanya Bu Yuli pemilik kios sebelah.
"anu...pak...eeee..."
Nafas Bu Yuli terengah-engah.
"apa Bu....?"
Tanyaku mempertegas.
"Bu Rukmini di bawa ke Kantor Polisi...!!!"
Ucap Bu Yuli seraya terbata-bata.
__ADS_1
"loh...loh...apa Bu?!"
Aku seakan tidak percaya.
"katanya kasus penculikan!"
Ucap Bu Yuli menutup perbincangan setelah menyebutkan alamat Polsek yang dimaksud.
Aku mencoba mencerna apa yang disampaikan Bu Yuli. Apa dasar adanya kakus penculikan ini?
deg....
Aku teringat Azka. Bukankah seseorang berjanji akan menjemput Azka. ya...seseorang itu adalah ayah Azka sendiri!
Aku kemudian melaju lebih cepat. Aku ingin meluruskan semuanya dihadapan polisi. Bagaimanapun istriku tak boleh bersedih di hari ulang tahunnya. Meskipun aku sudah tidak ingat lagi dimana aku letakkan setangkai mawar yang aku beli tadi. Aku hanya fokus pada keselamatan Rukmini saat ini.
Aku menuju ruang lapor.
"Bapak....!"
Raut wajah Rukmini terlihat ceria. Tak seperti yang aku khawatirkan tadi.
"Bu...kamu gak apa-apa?"
"Alhamdulillah tidak pak. Ayo kita jawab pertanyaan polisi sama-sama!" Ucap Rukmini yang ku jawab dengan anggukan.
Rukmini menjawab satu persatu pertanyaan dengan siap dan tenang. Bahkan ia seperti membela Rania, sosok yang tidak ia kenal , dan Azka sosok yang mungkin sudah melupakannya sejak ia memeluk ibunya. Tapi, Rukmini tidak. Perkataannya seperti selalu mengedepankan hati nurani. Setiap pertanyaan dijawab dengan logika, hati kemudian nasehat.
"Rukmini, aku telah menikahi mu lebih dari dua puluh lima tahun, namun baru aku tau, bahwa kata-kata mu sebijak itu". gumam ku.
__ADS_1
Ada satu kalimat yang sangat aku kagumi
"Saya menampung Azka di rumah saya karena rasa kemanusiaan saya. Saya dan suami saya mengantarkannya ke pelukan ibunya karena saya yang juga seorang ibu yang ingin bertemu dengan anak-anak saya. Dan anda yang punya hati tentu akan melakukan hal sama, namun legal dalam hukum!"
Tak disangka, Rukmini masuk kedalam sel tahanan. Aku menangis tak terima. Aku menanyakan kepada Rukmini, apabila ia ingin menukar Azka dengan kebebasan mu, maka aku akan bersedia. Namun, luar biasa. Rukmini hanya mengumbar senyum dari balik jeruji besi.
"Rukmini mengapa kau berani mengambil resiko ini..."
Aku menggenggam tangannya. Ia nampak begitu tenang dan bahagia. Entah apa alasannya.
"Pak, selama ini, keluarga telah membuang kita, seperti kita tak berharga. Selama kita juga tak mampu memberikan apa-apa untuk lingkungan kita. Namun hari ini, kita membuktikan bahwa kita adalah orang-orang yang mampu berkorban untuk kebahagiaan orang lain. Ketika bapak menelpon bahwa Azka telah bertemu ibunya, memeluk dalam tangis, jujur saat itu, polisi telah ada di hadapanku. Aku yang awalnya takut, justru berubah menjadi berani. Entah mengapa. Aku yakin, aku tidak rugi telah membantunya, meski kini harus ku tanggung akibatnya". Ucap Rukmini dengan mata berkaca-kaca, bukan sedih melainkan bahagia.
Aku menangis dan memeluk Rukmini, sebelum ia di masukkan kedalam sel. Aku meminta diri untuk ditahan juga. Namun, ternyata Rukmini membuat pernyataan yang mengejutkan. Ia tidak melibatkan aku, sehingga aku hanya dijadikan saksi oleh mereka.
"Rukmini aku tidak bisa pulang tanpa kamu...aku tak ingin sendiri...!"
Aku memang tak bisa jauh dari Rukmini. Semenjak menikah, mungkin ini kali pertama kami akan berpisah. Kemanapun kami selalu berdua. Bahkan ia rela meninggalkan rumah nyaman milik orang tuanya, dan memilih untuk hidup bersamaku, merantau di Jakarta. Ia memilih menjaga kehormatannya dihadapan orang tua. Ya... Aku menjadi pengangguran setelah tambang pasir di kampung ditutup. Kehidupan kami berubah menjadi tak teratur. Rukmini keguguran, aku tak memiliki biaya pengobatan. ah...masa itu sangat berat. Cemoohan dari orang-orang terdekat seakan menghakimi bahwa kami tak berguna bagi mereka. Akhirnya, kami memutuskan untuk merantau ke Jakarta, mengadu nasib, menguji peruntungan.
Bertahun-tahun aku berjuang mengadu nasib, nyatanya kehidupan kami belum berubah. Sebuah gubuk sekaligus kios kelontong yang disulap fungsional sebagai rumah. Rukmini tak pernah mengeluh, selalu ceria.
Ku genggam erat tangan itu sebelum polisi meminta agar Rukmini kembali masuk ke sel tahanan. Ku bisikkan ditelinga nya.
"sayangku, selamat ulang tahun...maafkan aku yang tak bisa menemani kamu"
Tangisan ku tak terbendung. Namun, Rukmini tersenyum dan mengatakan
"Terimakasih sayang. Jangan menyesal telah berbuat baik. Banggalah pada keputusan kita. Dan ulang tahun kali ini, adalah ulang tahun terbaik sepanjang hidupku. Tunggulah aku di rumah. Aku berjanji akan segera pulang". Ucapnya sambil mencium punggung tanganku.
dear pembaca setia...maaf kemarin gak update karena aktivitas. Alhamdulillah hari ini done 1 Up 🤗 selamat membaca❤️
__ADS_1