100 Hari Pertama Menjadi Janda

100 Hari Pertama Menjadi Janda
43 Semua Tentang Dani Yang Berakhir


__ADS_3

Rania tengah asik menemani anak-anak bermain di kolam renang, ketika tiba-tiba Dani hadir dan ikut bermain bersama anak-anaknya. Rania membiarkan Dani menggantikan perannya. Ia bergegas menuju kamar ganti, dan berganti pakaian.


"Mas, aku pulang ya, titip anak-anak"


Ucap Rania sambil menjinjing tasnya.


"Mengapa terburu-buru?"


Ucap Dani mencoba menahannya.


"Gak enak. Nanti istri kamu marah!"


Ucap Rania sambil menciumi Azka dan Zidan secara bergantian.


"Mama, kenapa ga ikut menginap ma...?"


"Mama harus kerja. Besok papa antar ke paviliun lagi kok, kalian jaga sikap didepan Tante Delita ya..."


Ucap Rania, dan segera berlalu dari pandangan.


***


Dani dan anak-anak kembali larut dalam permainan bola air. Hingga Zidan mengeluh kedinginan dan memutuskan untuk berganti pakaian.


Betapa terkejutnya Dani ketika mendapati Delita tergeletak begitu saja di lantai kamar. Dani panik, mengingat Delita tengah mengandung anaknya. Dani segera membawa Delita menuju rumah sakit terdekat.


Dani merasakan cemas yang luar biasa. Ponselnya tak pernah berhenti berdering. Keluarga Delita selalu menghubunginya. Tepatnya meneror Dani. Ia terus disalahkan atas kejadian ini. Ancaman akan dilaporkan ke polisi pun dilayangkan ibu Yayu.


Hampir dua jam berlalu setelah pemeriksaan. Delita baru saja siuman. Dokter mengatakan bahwa janin yang dikandung Delita dalam keadaan baik-baik saja. Namun yang harus diperhatikan adalah kondisi psikologis Delita. Ia meminta dokter untuk menggugurkan kandungannya. Ia merasa terbebani dengan kandungannya.


Dani tidak mengerti mengapa Delita begitu tertekan dengan kandungannya. Hingga ia merasa bahwa ada jurang komunikasi antara ia dan Delita. Semenjak pernikahan, mereka tidak memiliki komunikasi yang baik.


Dani mencoba mengecek ponsel Delita. sebagai ahli dibidang IT, tentu Dani tak merasa kesulitan untuk melihat isi ponsel Delita.


Rupanya, Delita mendapatkan tekanan dari teman-temannya. Teman kantor bahkan teman dekatnya dulu. Stigma pelakor telah disematkan di diri Delita. Stigma kehamilan diluar nikah, dan stigma buruk lainnya. Delita yang terkenal sebagai ratu dalam circle pertemanannya, kini menjadi pesakitan.


Delita juga rupanya banyak mencari tau tentang Rania, sehingga bayangan menjadi pelakor dalam rumah tangga Dani-Rania seperti tak bisa dilepaskannya.


Dani tertunduk lesu. Ia baru menyadari bahwa apa yang dilakukannya selama ini telah menjerat Rania, Pina, dan kini Delita dalam lingkaran kehidupan yang rumit. Ingin melepaskan tapi semua terlanjur terikat.

__ADS_1


***


Dani mengantarkan anak-anak kembali ke paviliun. Tak ada satu patah katapun yang ia katakan pada Rania.


"Delita baik-baik saja, mas?"


Tanya Rania ketika Dani hendak masuk ke mobilnya. Dani menghentikan langkahnya.


"Kamu tau yang terjadi pada Delita?"


" Tentu"


Jawab Rania dingin.


"Ia menghubungiku ketika kamu datang dan bergabung bersama anak-anak".


Ucap Rania masih dengan ekspresi dingin.


"Apa yang dia katakan?"


Tanya Dani mencoba mendengarkan.


"Ia bertanya apakah aku masih mencintai kamu, mas"


"Aku menjawab, Ya. Sebagai mantan istri yang dipaksa bercerai, tentu rasa itu masih ada".


Dani menatap harap pada Rania.


"Tapi, sebagai istri yang telah dicampakkan begitu saja dan melewati masa kritis dipisahkan dari anak-anak, hingga nyaris gila. Tentu aku harus belajar untuk berhati-hati. Jangan sampai jatuh ke lubang yang sama!"


Rania menjawab dengan tegas. Matanya ia tancapkan pada tatapan Dani yang mulai mengiba.


"Aku tak ingin mengulangi kesalahanku dengan berbagi rasa denganmu. Bagiku, Dani telah menjadi sampah, dan kamu Delita, telah menjadi tempatnya!"


Dani tertunduk bisu.


"Saat ini aku hanya ingin membuka lembaran baru kehidupan. Sesulit apapun itu. Kamu hanya perlu bertanggung jawab pada anak-anak tentang kasih sayang. Namun, saatnya bagiku untuk mengajari anak-anak tentang cara melepaskan!".


"Pulang lah untuk istrimu. Untuk calon anak yang dikandung Delita. Belajarlah dari kesalahan hidup bersamaku Dani. Jangan sampai ada korban berikutnya. Biarlah aku yang terlanjur terbuang. Aku akan segera melewati masa-masa tangis ku mengenang mu, anak-anak akan hidup dengan dunianya, dan tentang kita tinggallah kenangan saja!"

__ADS_1


Rania kemudian meninggalkan Dani yang berdiri mematung di halaman rumah Rania. Ia dihadapkan pada kenyataan bahwa semua orang telah ia kecewakan. Termasuk anak-anak nya.


***


Dani memutuskan untuk menunda meeting kantor siang ini. Ia akan menemani Delita di Rumah Sakit. Ia sadar bahwa kenyataan yang harus dihadapi kali ini adalah Delita. Benar apa yang dikatakan Rania, Jika sampai terjadi sesuatu pada Delita, maka Dani akan gagal kedua kalinya menjadi seorang ayah.


***


Sepekan berlalu. Rania masih larut dalam kesibukan yang sama. Tentang pekerjaannya, tentang anak-anak, juga tentang pikirannya yang hanya terfokus pada pemenuhan kebutuhan ekonomi. Rania memang tak membebani Dani pada nafkah untuk anak-anaknya. Penghasilan sebagai baker, sebisa mungkin ia atur untuk memenuhi kebutuhan keluarga.


Semenjak pertemuan pekan lalu, Dani tak lagi memberi kabar. Rania pun tidak mencoba menghubungi Dani, meskipun anak-anaknya meminta karena rindu. Berbagai alasan Rania coba berikan agar anak-anak nya bisa mengerti bahwa hubungan mereka dengan sang Papa tak bisa seperti dulu lagi. Perlahan Azka dan Zidan mulai mengerti dan tak menanyakan kehadiran Papa lagi.


Rania berusaha menggantikan peran ayah dengan banyak menghabiskan waktu dengan bermain bersama anak-anaknya. Hampir setiap sore Rania membawa Azka dan Zidan, ke lapangan futsal yang berada tak jauh dari komplek Latifaa group. Meskipun biaya yang ia keluarkan untuk membawa anak-anak ke tempat latihan futsal cukup besar dari prosentase gajinya, namun tak apalah, ia mengalah mengurangi jatah kebutuhan lain, demi kebahagiaan anak-anaknya.


***


Latifaa Group semenjak kepergian Jean, telah mengalami banyak goncangan. Hutang perusahaan tak kunjung terbayarkan, strategi market yang kurang baik, dan jumlah persaingan di industri pangan yang semakin ketat, membuat satu persatu saham Latifaa Group lepas dan beberapa aset perusahaan disita Bank. Bulan ini, Sebuah paviliun milik komplek manager yang pernah Rania tempati di sita oleh Bank. Beberapa manager di alihkan sementara ke tempat lain.


Rania mengkhawatirkan kondisi perusahaannya. Ia merasa telah sangat bergantung pada Latifaa Group. Disini karirnya dibangun. Disini ia mendapatkan tempat untuk sekedar berlindung dan membesarkan anak-anak nya.


Bagaimana jika nanti giliran paviliun yang ia tempati yang akan digusur?.


Bagaiman jika Latifaa group dipailitkan?


Rania mulai menyisihkan sedikit uang hasil gajinya untuk berjaga-jaga jikalau nanti paviliun yang ia tempati akan disita juga, atau bahkan hal terburuk tentang kehilangan pekerjaan.


Rania adalah orang tua tunggal. Kondisi apapun harus bisa ia atasi sendiri. Tanpa suami. Tanpa bantuan keluarga.


Rania belajar menjadi perempuan dewasa yang mampu mengatasi masalahnya sendiri. Ia menyadari bahwa selama nafas masih ia hirup, maka masalah akan tetap ada, di manapun. Namun, ia juga yakin bahwa yang Maha Kuasa tidak memberikan masalah diluar kemampuan hambanya. Rania hanya butuh berusaha, belajar dari kesalahan, dan mencegah agar tidak terikat dengan masalah yang sama.


***


Pagi ini Rania tersenyum kecut. Satu outlet di hanggar Convention Center milik Latifaa Group Remi ditutup. Ada lima puluh karyawan yang bergantung hidup disana, di PHK, kehilangan pekerjaan yang menghidupi mereka dan keluarganya.


Meski Rania belum merasakan imbasnya. Namun, bayangan dua anaknya telah berhasil menanamkan kekhawatiran di hai Rania. Sampai kapankah Latifaa Group akan mempertahankannya ataukah nasibnya akan sama dengan karyawan lainnya...?


Bersambung


100 hari pertama menjadi janda hampir memasuki setengah episode. Akan ada part yang mengulas mengenai bagaimana seorang janda harus benar-benar mempersiapkan ekonomi dalam kehidupannya. Sebab dalam banyak kasus, masalah ekonomi yang sering menyeret seorang janda pada masalah-masalah yang lebih besar. Misalkan yang sedang panas saat ini. Seorang ibu yang tega menggorok anaknya sendiri. Ujung dari masalah itu adalah ekonomi. Seandainya si ibu mampu memiliki ekonomi yang baik, tentu masalah perasaan bisa diatasi. Bukan author menomor satukan uang. Tapi, begitulah kenyataannya. Menjadi janda dengan dua orang, tiga orang anak yang masih dalam masa pertumbuhan , bukanlah mudah.

__ADS_1


Part selanjutnya, saya akan membahas mengenai Mengatur hati, menyiapkan diri, merajut ekonomi, lepaskan diri dari bayangan mantan sejati....so ikuti terus ya...


see you at the next part ❤️😘🤗


__ADS_2