
Rania berlari menuju kamar mandi. Bagaimanapun Ia tak ingin suara tangisnya terdengar oleh Azka. Betapapun ia mencoba tegar. Ia hanya seorang wanita biasa yang memiliki perasaan cemburu. Mengapa Dani bersikap lembut padanya?, apa karena ada Pina sehingga ia menjaga image didepan calon istri mudanya itu?.
Pintu diketuk. Rania bergegas menyeka tangisnya.
"Rania…"
"Bu Latifaa…"
Rania tertegun melihat kehadiran Bu Latifaa. Ia tak menyangka akan dijenguk olehnya.
Rania juga baru menyadari bahwa ibu Nani, Pina dan Dani belum beranjak pulang dari Rumah Sakit. Mereka duduk di sofa yang tersedia di luar ruangan.
"Mari masuk Bu…"
Rania mempersilahkan Bu Nani untuk masuk ke ruang kamar. Hal yang tak terduga, Bu Nani ikut masuk ke dalam ruang.
"Ya, Tuhan mau apa lagi perempuan ini" gumam Rania. Namun ia masih berusaha menjaga sikap.
"Rania bagaimana keadaan kamu?, Mengapa tak mengabari kami sejak awal?"
Bu Latifaa terlihat sangat cemas melihatku. Ia duduk di sofa yang berada di ruang kamar inap. Menghadap Azka yang tertidur setelah ku berikan obat. Sedangkan Bu Latifa berdiri seperti penonton.
"Bu Latifaa, karyawan anda ini bukan orang yang baik. Dia itu menelantarkan keluarga. Lihat anaknya sampai masuk rumah sakit begini. Gak ngurus anak Bu!"
Tak disangka, Bu Nani bisa berbicara seperti itu. Tanpa basa basi perkenalan diri.
Rania kali ini disudutkan pada situasi, dimana jika ia bertindak diam, salah, melawan, juga salah.
"Bukan suami Bu. Tapi mantan suami. Jadi tidak ada kewajiban saya mengurus sesuatu yang bukan lagi tanggung jawab saya. Sedangkan anak saya, anda pun tau Bu, bagaimana saya mempertahankannya".
Ucapku terus berupaya tenang dan tak terpancing emosi.
"Dia diceraikan karena selingkuh!, dia selingkuh dengan karyawan ibu yang bernama Jean".
Ibu Nani sudah sangat keterlaluan. Selama ini ternyata ia banyak mencari tau tentang Rania.
"Tukang gosip!" gumam Rania.
"Maaf bu. Jika yang anda maksud adalah Jeandra, maka dia bukan karyawan saya. melainkan anak. Anak kandung saya!"
Balasan dari Bu Latifaa dengan ekspresi dingin berhasil membekukan Bu Nani. Selama ini ternyata ia tidak menerima informasi yang komprehensif!
"Rania. Ketidak hadiran kamu di kantor membuat tim baker keteteran. Oleh sebab itu, saya membawa ini untukmu".
Ucap Bu Latifaa sambil menyodorkan sebuah tas.
"Apa ini Bu?"
Tanya Rania sambil menerima tas itu dengan sopan
"Laptop. Kamu bisa menyambungkannya dengan WiFi dan mengontrol pekerjaan kamu secara online".
Ucap Bu Latifaa menjelaskan.
__ADS_1
Rania tertegun. Bu Latifaa sangat perhatian dengannya. Selama ini setiap.pekerjaan.mamg di kontrol.melaluti sebuah sistem online. Setiap divisi memiliki satu unit komputer yang memiliki Sistem Informasi Management Perusahaan.
Rania yang seorang sarjana. Tentu dengan mudah beradaptasi dari penggunaan komputer ke laptop.
"Bagaimana, kamu bisa mengoperasikannya Rania?"
Tanya Bu Latifaa.
"Ya. Tentu bisa bu".
Bu Latifaa tersenyum melihat Rania. Namun tidak Bu Nani. Ia terlihat kesal. Bu Nani juga tidak menyangka bahwa Jean adalah anak dari Bu Latifaa. Sehingga pikirannya traveling hingga menembus batas takdir. Prediksinya terlalu berlebihan sehingga membuat ia selalu berprasangka tidak baik terhadap orang lain.
"Rania, kenalkan ini Pina, calon istri Dani!"
Bu Nani mencoba kembali mengganggu Rania yang tengah menyuapi jus buah pada Azka. Rania mengabaikan celotehan Bu Nani. Ia tau betul dengan sifat mertuanya ini. Semakin diladeni, maka semakin menjadi.
"Pina itu punya karir bagus di sebuah bimbingan belajar. Gajinya juga sudah besar loh".
Rania, masih tak menggubris...
"Pina, kamu nanti nikahnya mau di rumah atau gedung?"
Bu Nani masih mencoba memanas-manasi Rania.
Pina mulai merasa ada yang tidak beres. Pina hanya diam dan tersenyum tipis. Membuat Bu Nani kembali kehilangan kalimat.
***
Rania mulai mengerjakan pekerjaan melalui online. Ia mengerjakan tugasnya saat Azka tertidur.
keheningan dipecahkan dengan celotehan Bu Nani. Rania menyadari bahwa orang yang semakin tua akan semakin cerewet. Ini biasanya terjadi jika mereka mengalami Post Power Syndrom.
Post power syndrome adalah suatu kondisi kejiwaan yang umumnya dialami oleh orang-orang yang kehilangan kekuasaan atau jabatan yang diikuti dengan menurunnya harga diri. Biasanya dialami oleh orang-orang usia pensiun. Gejala umumnya adalah rasa khawatir yang berlebih dan efeknya tergantung dari kepribadian masingmasing.
Rania juga tak mengerti mengapa Bu Nani sangat benci padanya, kuatir berlebih jika anak-anak dalam pengasuhan Rania, bukan karena takut Rania tak bisa mengasuh. Melainkan, kuatir Dani kembali pada Rania.
"Bu, kalau ibu merasa tidak nyaman dengan saya. Ibu boleh pulang dan beristirahat. Biarkan saya disini menjaga Azka. Bukankah, Zidan ditinggal di rumah?!"
Rania mencoba menjawab dengan tenang. Kepribadian Rania yang merupakan keturunan darah Sumatera membuatnya tegas dan mudah marah.
"Kamu nanti menculik Azka!"
Ucap mama dengan nada tinggi. Azka yang lelap tidur, terjaga.
Keributan Tan dapat dihindarkan. Rania yang geram, kembali tak bisa mengendalikan emosinya. Menarik tubuh mertuanya menuju liar ruangan
"Ibu dengar... saya Rania, Ibu kandung Azka Dwingga. Saya berhak membawa Azka kemanapun saya mau. Sekalipun anda melarangnya. Anda mengurusi urusan anda dengan menantu anda ini..." Ucap Rania.
Pina seperti malu berada diantara mereka. Security Rumah Sakit berusaha melerai.
"saya minta maaf Bu. Jika aku terlihat menjijikkan di mata ibu. Tapi yang perlu ibu ingat, bagaimana rasa seorang ibu dijauhkan dari anak-anaknya, karena anda juga seorang ibu!"
Ucap Rania seraya menutup pintu ruang VVIP dan menguncinya dari dalam.
__ADS_1
***
Pagi ini, Azka telah diperbolehkan untuk pulang. Rania merapikan semua pakaian Azka. Ia akan berusaha membawa Azka pulang ke Paviliunnya.
Rania telah siap merapikan pakaian Azka. Ketika Dani dan Pina datang ke Rumah Sakit.
"Rania, aku akan membawa pulang Azka!"
Ucap Dani ketika baru saja tiba. Membuka pintu kamar dengan kasar, dan membuat Azka terlihat ketakutan.
"Tidak mas, Azka akan ikut saya"
Jawab Rania.
"Rania, anak-anak akan hidup menderita jika hidup bersama kamu!, kamu tak punya tempat tinggal!"
"Hidup dengan kamu tidak lebih baik, mas. Mereka harus hidup bersama ibu tiri!"
"Aku tak sejahat yang kamu kira, Bu. Aku bisa mengurus anak-anak mu, tenang saja" Ucap Pina membuat geregetan.
"Tidak akan Pina, kau begitu labil. Kau tak pernah tau rasanya menjadi ibu!"
Ucap Rania.
"Dari kemarin aku diam Bu. Ternyata benar apa kata mas Dani. Bu Rania itu suka membantah mas Dani!"
Ucap Pina dengan menyipitkan mata.
"Ya, aku memang pembangkang. Lelaki seperti Dani tak pantas di patuhi!"
Rania berlari menuju keluar kamar. Terjadi tarik menarik Azka diantara mereka. Untung saja Azka melakukan perlawanan.
Rania berlari menyusuri setiap koridor rumah sakit. menuruni anak tangga tanpa lift. Ia tak ingin kehilangan kesempatan lagi. Satpam berusaha menahan Rania di pintu keluar. Rania terjebak situasi.
Rania, Azka dalam dalam pelukan ketakutan.
Apapun caranya, Rania akan tetap mempertahankan Azka. Demikian pula Azka.
Pengawas Rumah Sakit turun tangan. Keributan yang terjadi sejak dari lantai tiga telah mengganggu aktivitas Rumah sakit pagi itu.
Rania, Azka, Dani dan Pina duduk berunding di sebuah ruangan Rumah Sakit.
"Bapak dan Ibu, kami sangat terganggu dengan keributan yang terjadi. Sehingga kalau permasalahan ini tidak selesai disini, maka mari kita selesaikan di kantor polisi saja. Karena bapak dan ibu telah mengganggu ketertiban!" Ucap staf Rumah Sakit.
"Perempuan itu akan mengambil anak saya" Ucap Dani.
"Saya adalah ibunya, ibu kandung anak ini!, hak asuh pun jatuh ke tangan saya!"
Ucap Rania.
Namun, seberapa hebat Rania mempertahankan diri. Ia lupa bahwa Rumah Sakit yang ia injak saat ini adalah milik management perusahaan yang Dani kelola.
"Ibu Rania. Bapak Dania adalah pengelola saham disini. Itu artinya Bu Rania adalah tamu disini. Sedangkan Azka adalah anak yang dititipkan di Rumah Sakit ini. Sehingga, Bu Rania tidak memiliki hak apapun disini, kecuali hak untuk pulang dalam keadaan sendiri!"
__ADS_1
Ucapan staf Rumah Sakit itu membuat Rania lunglai. Ia sadar ia akan kalah. Ia dekap kuat Azka dan berusaha lari. Tapi tenaganya tak mampu melawan banyak tenaga laki-laki yang berada di ruangan itu. Sayup-sayup perlahan kesadaran Rania menurun. Dan...dalam sekejap, Azka telah berada di gendongan Pina.
Bersambung....