
3 bulan berlalu begitu saja. Tak ada tanda-tanda kehamilan bagi Melati. Malik tetap berusaha membuat Melati tenang, meski dilihatnya sang istri mulai menunjukkan tanda-tanda kecemasan. Melati sering menyendiri, bahkan sangat irit kata-kata pada sang suami.
Melati sering menghabiskan waktunya di sebuah gazebo ditengah kebun, tempat ia menanam tumbuhan obat yang ia ramu menjadi jamu. jamu-jamu tersebut kemudian ia jual dan hasilnya untuk membantu operasional sekolah yang sedang ia rintis.
Ditempat itu, ia juga menyempatkan waktu untuk menulis di sebuah blog yang di privat untuk dirinya sendiri. Sesekali, ia juga menceritakan apa yang ia rasakan pada Rania, sosok yang ia kenal dari sebuah komunitas yang Rania bangun.
waktu melati banyak tersita oleh kegiatan sekolah dan kuliah yang tengah ia jalani. Ia berusaha tetap waras, ditengah celotehan orang-orang yang menganggap dirinya egois, karena mendzolimi suami, enggan memiliki anak dan mementingkan pendidikan.
Langit Lumajang berselimut kelabu. Bulan enggan berbagi dengan sinarnya, tergantikan rintik hujan yang mulai menebarkan dingin, hampa, membeku. Melati tak kunjung bisa tidur, ia merasa sangat gelisah menanti suaminya yang belum juga pulang mengajar di pondok pesantren milik sang ayah mertua. Sebenarnya, sebagai seorang perempuan, ia telah mampu menerka apa yang sebenarnya sedang terjadi. Seseorang dengan sengaja mengirimkan pesan singkat padanya, memperlihatkan sebuah foto, dimana sang ustadz tengah duduk bersebelahan dengan Kyai Mansyur, sedangkan diseberang mereka ada sosok yang tak asing ia lihat, wajah sosok perempuan bernama Astia, atau ustadzah Tia!
Melati hanya terdiam tanpa tangis, meskipun hatinya remuk redam. Laki-laki yang saat ini menjadi suaminya, memang bukanlah sosok yang ia cintai. Namun ia sadar, bahwa ia dan suaminya telah berjuang keras mempertahankan biduk rumah tangga selama beberapa tahun lamanya. Jika harus menerima sebuah perpisahan pun, tentu tak mudah, sebab Malik telah menemani hari-hari Melati saat ini.
Perlahan, rasa kehilangan hinggap di hati. Ada bagian jiwa yang tiba-tiba lenyap...kosong...
Air mata itu mengalir tanpa aba-aba. semakin lama, semakin deras saja. Sekarang tangisan itu bukan hanya sekedar isakan. Melati menangis, meraung histeris... hingga membuat beberapa pengurus pondok yang tinggal di sebelah kamar Melati terjaga dari tidurnya. Mereka bergegas menuju kamar Melati untuk melihat kondisinya.
__ADS_1
Sengatan sinar matahari menyilaukan, Melati mencoba membuka matanya yang begitu berat. Kepalanya terasa sakit. Sayup ia dengan ada orang yang tengah mengaji. Beberapa orang berdiri disamping ranjang dengan cemas.
"Ning, sudah bangun..."
Ucap seorang yang dikenali Melati sebagai Arum, pengurus pondok.
Kemudian mereka bergegas sibuk, ada yang mengambil handphone dan seperti menghubungi seseorang, dan ada yang berteriak memanggil dokter. Sementara lainnya sibuk memijit kaki dan tangan Melati.
Melati setengah sadar. Ia bahkan menolak untuk bicara dan memilih menutup mata.
Ia tak mendengar kabar apapun tentang Malik.
Ia tak melihat handphone-nya, tidak melihat apakah Malik khawatir dengannya.
Apakah Malik terus menanyakan keberadaan ya.
__ADS_1
Melati tak tau...dan ia tak berusaha bertanya.
Untuk apa ia bertanya, jika ia sudah tau apa jawabannya.
Ia hanya mengingat saat terakhir Malik berpamitan padanya akan berangkat mengajar di pesantren milik Kyai Mansyur,
"Sayang, istriku. Terimakasih telah menjadi jodohku. Terimakasih karena kamu telah bertahan untuk menjadi istriku. Melewati segala rintangan ini. Semoga Allah masih memberikan kita waktu, agar cinta ini benar-benar menyatu, dan nantinya, segala do'a akan di ijabah".
Melati tak menjawab. Hingga satu kecupan mendarat di pelipisnya.
Malik pamit ...
Dear pembaca ...maaf ya baru bisa update,..Krn kesibukan dan demi menjaga kualitas tulisan agar ceritanya tetap bagus. jd author istirahat dulu kemarin...
Selamat membaca ya... insyaallah 1 hari 1 up lagiii😘😘😘
__ADS_1