
Fika dengan hati-hati menurunkan kursi roda, setelahnya ia baru menurunkan sang ayah dari sebuah taxi online yang ia pesan untuk mengantarkan sang ayah. Siang ini, Fika berusaha memenuhi janjinya untuk mengantarkan sang ayah menemui putra sulungnya. Azkaria Mahendra. Lelaki yang juga menjadi kakaknya.
Tanpa bicara, Fika memasrahkan semua pada Tuhan. Berharap kelembutan hati Azka untuk bertemu dengan ayahnya. Tempat yang ia tuju yaitu sebuah paviliun sederhana dengan cat warna silver. Dari kejauhan ia melihat sosok wanita. Ia tentu sangat mengenalinya.
"Bu Rania..." gumamnya.
Sang ayah terlihat gusar di kursi rodanya. Dari jauh, Fika dan Rania saling berpandangan.
"Fika...!"
Sapa Rania. Wajah berbinar dari Rania sedikit memberi harapan bagi Fika agar dapat diterima ditempat itu, setidaknya sebagai tamu.
" Assalamualaikum Tante Rania ...". Sapa Fika.
Seutas senyum mengembang dibibir Rania.
"Walaikusalam Fika ..."
"Ra...i..a..." Dani berusaha menyapa Rania. Wanita yang telah memberinya dua orang jagoan.
Rania membalas sapaan Dani dengan senyum tipis. Sulit baginya memberi ekspresi pada Dani. Ingin menyambut dengan baik, tentu tidak mudah, tapi, ia sadar, Fika dan Dani tetap harus tetap dihormati.
"Masuklah..." ucap Rania sambil mengarahkan tangan ke arah sebuah ruang tamu.
Fika melihat ke sekitar ruangan itu. Ada beberapa foto masa kecil Azka dan Zidan, juga Bu Rania dan suami barunya, Jean. Tampak bahagia, tampak sebagai keluarga harmonis. Fika menghela nafas, apa yang ayahnya rasakan ketika melihat protret di dinding ini?!
Tak berselang lama Rania membawakan dua cangkir teh manis untuk Fika dan Dani.
"Tante, Kedatangan ku kesini untuk mempertemukan ayah dengan Azka".
Ucap Fika. Rania terdiam sejenak, menatap kearah Dani.
"Fika, 17 tahun telah berlalu dari cerita antara aku dan ayahmu. Aku telah enggan bercerita tentang versi ceritaku dan pembelaan ibumu. Aku pun sudah tidak Sudi menceritakan pahitnya pengalaman rumah tanggaku. Cukup menjadi pelajaran dan aku terima sebagai surat takdir".
Fika dan Rania berpandangan. Ada ekspresi berbeda diwajah Rania. Seperti ia tengah mengorek luka yang mengering.
"Tapi, Fika. aku dan ayahmu ini punya anak. Mereka juga memiliki perasaan. Tentu kisahnya sama seperti kamu. Ingin memiliki ayah, bertanya dimana ayahnya. Betapa sakitnya mereka saat mendapati ayahnya bahagia dengan keluarga baru, anak barunya...!"
"Tapi, Tante ... ini adalah kesalahan masa lalu orang tua Fika. Mereka kini telah berubah. Terutama ayah, dia sangat ingin bertemu dengan Azka dan Zidan".
"Terlambat!!!" Tiba-tiba Zidan dan Azka muncul dihadapan Fika. Mengejutkan Fika. Dada Fika terasa sakit . Ia tak biasa dengan bentakan - bentakan yang belakangan sering ia terima dari Azka.
"Hatiku sudah mengeras, Fika. Terlanjur aku menjadi manusia yang tidak punya hati. Ibumu telah membakar rasa lemahku!!!"
__ADS_1
Ucap Azka.
"Mungkin mereka datang kesini karena saat ini kita sudah berkecukupan, kak. Dulu ayah membiarkan kita kelaparan, membiarkan kita hidup serba kekurangan!!!" imbuh Zidan.
"Azka, Zidan... berbicaralah yang sopan didepan ayah kalian!!!" ucap Rania.
"Tidak, ma... mereka harus menerima ucapan pedas kita. Kata-kata ini telah ku pendam sejak aku berusia empat tahun. Tapi, saat itu aku lemah, yah. Aku tak bisa melawan mu. Aku pasrah ketika dipisahkan dari mama dan diasuh oleh perempuan menjijikkan itu". Ucap Zidan sambil menunjuk Fika.
"Sudah aku katakan padamu, Fika. Pergilah dari hidupku, atau kau akan menerima perlakuan tak baik dariku. Dendam ini tak bisa kamu padamkan dengan kata maaf, luka yang ditorehkan keluargamu terlalu besar!!!!"
Zidan kemudian bergerak maju, menyeret lengan Fika dengan kasar. Menyeret keluar. Namun, Azka malah mendorong kursi roda ayahnya masuk ke dalam ruangan.
Pintu terkunci.... Fika berada diluar pagar rumah, namun ia menyadari bahwa kursi roda sang ayah tak bersamanya.
Ia panik dan segera bangkit....
"Ayah...... ayah.....yah...." Dengan penuh histeris Fika berteriak memanggil sang ayah. Dua security tiba-tiba menghampiri Fika, menyeret Fika menuju sebuah mobil. Menyeret dengan paksa.
" Lepaskan tangan ku!!!!!" Fika meronta ketika dua security menarik paksa Fika untuk masuk kedalam mobil. Sekuat apapun ia berusaha berteriak namun tak ada satupun manusia yang bisa menolongnya.
Fika menangis sejadi-jadinya.
"Kami akan mengantarkan kamu pulang, nona Fika!!!"
Seorang security yang duduk disebelah Fika memberikan sebuah telpon padanya. Diseberang telah ada suara Zidan.
"Fika. Kamu dan aku sama-sama anak dari ayah Dani. Kamu merebutnya secara utuh selama bertahun-tahun. Sekarang, giliran kami yang merebutnya kembali secara utuh. Kamu harus menerima itu!!!"
Belum sempat Fika menjawab. Sambungan telpon terputus.
Fika berhenti menangis. Tatapannya kosong. Dan ia mulai tak sadarkan diri.
###
"Fika ....Fika...." sayup-sayup terdengar suara memanggil namanya. Fika mencoba membuka matanya, namun terasa berat. Kepalanya terasa sangat sakit.
"Awwww...." keluh Fika sambil memegangi kepalanya yang sakit.
"Kamu sudah siuman, nak!"
Fika membuka mata. Ibunya telah berada disampingnya. Memberinya beberapa sendok air teh manis hangat.
Beberapa saat, akhirnya Fika menyadari bahwa dirinya telah berada dirumah.
__ADS_1
"Aku sangat mengkhawatirkan kamu!"
Ucap ibunya dengan nada dingin.
"Ayah ada bersama Azka..." ucap Fika lirih.
"Aku sudah menduganya. Sudah ku katakan padamu. Jika hidupmu ingin tenang, maka jangan pernah kamu berharap untuk menjadi bagian dari Azka!". Ucap Pina dengan keras.
"Ayah ingin bertemu Azka, Bu!"
"Lalu kamu kini kehilangan ayahmu?!"
ketua Pina.
Fika terdiam.
"Tapi tidak mengapa. Semua tujuanku telah tercapai. Kamu menjadi pewaris satu-satunya kekayaan Dani. Aku telah mengganti semua sertifikat menjadi atas nama kamu!" Ucap Pina sambil tertawa lepas...
"Bu...kenapa ibu berbuat seperti itu. Aku tak menginginkan apapun. Cukup memiliki keluarga yang bahagia, itu saja Bu!!!" Pekik Fika. Rasa kecewa terhadap sikap ibunya yang rakus.
"Tau apa kamu tentang bahagia?!".
Ucap Pina dengan bola mata yang hampir saja keluar.
"Bertahun-tahun aku membesarkan kamu dengan susah payah. Aku tidak punya pekerjaan tetap. Tidak diakui sebagai istri dan tidak dinafkahi. Dan kamu Fika, butuh tes DNA agar ayahmu mengakui mu sebagai darah dagingnya!".
Balas Pina dengan keras.
"Bertahun berlalu, saat kamu memintaku mempertemukan mu dengan ayah. Aku menggendong kamu menaiki kereta api menuju Jakarta. Hanya bermodalkan uang tiket. Kamu lapar dijalan, aku terpaksa menjual handphone yang ku punya untuk bekal makan kita dijalan. Berhari-hari mencari alamat baru ayahmu. Dan kamu tau, aku terusir begitu saja, tak diterima!'
Dada Pina terasa sesak. Ia mengurai kembali kisah pahitnya saat harus mengenalkan Dani, bahwa Fika adalah putrinya.
"Aku mengemis pada Dani untuk bisa tinggal dirumahnya, karena aku tak punya saudara di sini. Dan kamu ingat, kita tidur disebuah gudang, hingga hasil tes DNA mu diterima, dan kamu berhasil menjadi anak dari Dani!!"
Pina menghela nafas
"Kamu begitu bodoh mencari kebahagiaan. Aku dulu sepertimu, terlalu lugu mencintai. Hingga mau menyembah dan melakukan apa saja agar terlihat baik dan dicintai kekasih hati. Tapi itu semua bulsyit Fika".
Pina terdiam dan menatap tajam mata Fika
"Bertahun-tahun aku berjuang, agar Dani mau melimpahkan hartanya atas namamu Fika, itu bukan hal mudah. Aku harus membuat Dani lumpuh!!!!"
Kali ini Fika amat terkejut dengan ucapan Ibunya. Selama ini dia berpikir bahwa kelumpuhan Dani akibat dari stroke yang dialaminya, dan normal karena penyakit. Namun, apa maksud dari ucapan Ibunya kali ini. . ...,????!!!
__ADS_1
Bersambung....