100 Hari Pertama Menjadi Janda

100 Hari Pertama Menjadi Janda
Pernikahan suamiku


__ADS_3

Langit mendung menyelimuti kota pisang ini. Suhu turun nyaris diangka 16 derajat Celcius!


Hujan disertai angin membuat segala jenis kegiatan manusia tertunda. Banyak yang memilih berdiam diri di rumah masing-masing, apalagi BMKG saat itu telah menginformasikan bahwa akan turunnya hujan disertai angin kencang.


Melati tertegun melihat cuaca diluar, namun ia merasa bahwa perasaannya saat ini lebih mengerikan dari cuaca. Sudah sepekan Malik tak kunjung pulang ke rumah. Rumah yang Malik siapkan khusus untuk Melati agar ia merasa tenang tanpa gangguan dari orang-orang di sekitar pesantren kyai Mansyur.


Ia tak berusaha menghubungi suaminya itu, namun anehnya, Malik pun seperti tak berusaha menghubungi istrinya. Sesaat, hati Melati berdesir. Tentu ia telah menyimpan jawaban atas pertanyaannya sendiri. Berusaha mengelak pun ia tak mampu. Kenyataan itu harus ia hadapi.


"Ning... ustad datang"


Ucap salah seorang pelayan.


Melati terhenyak kemudian dengan spontan bangkit dari tempat duduknya. Ketika hendak berbalik, ia telah melihat sang suami berdiri di hadapannya. Matanya sayu dan tidak dapat menyembunyikan perasaannya.


Melati mendekati suaminya. Berdiri dihadapannya, menatap lekat mata suaminya yang mulai sembab.


"Apakah semuanya telah terjadi, mas?"


tanya Melati pada suaminya.


Tanpa jawaban, Malik menunduk. Sekejap kemudian, Melati jatuh dalam pelukan Malik dan menangis bersama dalam pelukan.


"Aku yang bersalah, mas. Bukan kamu".


Ucap Melati lirih.


"Jangan saling menyalahkan, sayang. Anggaplah ini kehendak Allah, meskipun kita tidak pernah menginginkannya!"


Malik menatap lekat mata bulat sang istri. Mata yang selalu bersemangat saat belajar hal-hal baru, selalu siap untuk pendidikan, dan tak pernah mengeluh dengan yang ia rasakan.


Melati menggiring langkah Malik menuju pembaringan, mendekap erat suaminya disana, meluapkan rasa rindu yang dijajah pilu dihari yang lalu.


#POV Malik

__ADS_1


Aku seperti tidak memiliki diriku sendiri. Tak mampu menolak sesuatu yang enggan aku lakukan. Rasa ingin berbakti pada orang tua menuntut perasaanku untuk mengalah. Menuntut cinta untuk berkorban, berkorban segalanya, termasuk kebahagiaan.


Sepekan aku meninggalkannya, Melati istriku yang selama ini sudah belajar mencintaiku, menerima keadaannya yang harus menikah. Aku tau ia pernah salah tentang pernikahan, tentang orientasi masa depan. Namun, aku juga tau, bagaimana dia berusaha memperbaiki dirinya, menerima nasehat-nasehat yang terkadang cenderung memojokkannya.


Ia telah minum berbagai suplemen untuk merangsang kesuburan, minum susu pra kehamilan, memeriksakan diri ke dokter, hanya saja Allah masih menguji kesabarannya. Namun, dari sinilah aku mengenal siapa istriku sebenarnya.


Melati adalah orang yang gigih. Ia sangat bersungguh-sungguh jika menginginkan sesuatu. Ia akan sangat berjuang untuk orang yang sangat ia cintai. Seribu malam aku mendengar tiap do'a di sepertiga malam. Tangisannya dan do'a-do'a panjang yang sering ia panjatkan diam-diam. Hingga suatu malam, ia mengajakku untuk berbincang. Matanya tak bisa menutupi kesedihan, meski dibalut cahaya senyuman disudut bibir.


Dengan terbata-bata, ia mengatakan sesuatu,


"Mas, tadi Abi dan umi datang ke rumah..."


ucapnya lirih sekali. Suaranya seperti bergetar dan tertahan. Aku hampir tak bisa berkomentar apapun .


"la...lalu...?"


Ucapku dengan ragu.


Kali itu, matanya tak lagi bisa membendung air mata yang telah menumpuk. Tapi, ia masih saja berusaha tersenyum. Belum sempat aku menjawab, ia telah memotongnya.


"Demi Allah aku telah mencintai kamu, mas. Tapi, sepertinya Allah ingin mencabut nikmat itu...nikmat untuk memilikimu seutuhnya!"


Ia mulai tak bisa melanjutkan kata-kata. Begitupun aku, yang seakan bingung harus mengatakan apa, berbuat apa, lalu bertanya pada diri sendiri,


" dimana letak integritas ku sebagai seorang suami, jika tak mampu memberikan janji pada istriku, bahwa aku akan selalu bersamanya?!"


"Aku akan selalu mencintaimu..."


Ucapku yang kemudian ditepis oleh Melati.


"Jangan biarkan aku berharap, mas. Sebab aku yakin, kalimat ini terurai sebab engkau belum tau rasanya berbagi!"


Kalimat dari Melati seolah menohok di dada. Ia kemudian bangkit dan kembali ke pembaringan. Sedang aku, hanya bisa terdiam di syaf imam, namun selalu menjadi makmum untuk kebahagiaan yang lain.

__ADS_1


***


Hari berikutnya adalah hari-hari yang paling menyakitkan bagi Melati. Aku tau itu. Aku merasakan itu. Saat umi sering menahan ku untuk pulang ke rumah Melati. Ada saja yang umi lakukan untuk menahan ku. Hingga suatu hari, Abi dan umi mengajakku untuk meminang seorang Ustadzah yang ku kenal sebagai Tiya. Seorang pengurus pondok pesantren milik Abi. Astiya atau Tiya, bukan orang asing bagi keluarga ku, kami sudah saling akrab. Namun, tidak pernah ku sangka ia yang akan menjadi duri bagi Melati.


Sejujurnya, aku tau jika Tiya telah ingin menjadi istriku sejak pertemuan pertama kami di bangku Madrasah Tsanawiyah. Ayahnya yang seorang pengurus pesantren, tentu membuat intensitas pertemuan keluarga kami sangat rutin. Setiap pengajian malam Jum'at, Astiya membantu sang ibu untuk mempersiapkan jamuan untuk jama'ah pengajian di rumahku. Bahkan, Tiya sendiri pernah mengungkapkan perasaannya langsung padaku, saat kami tak sengaja mengikuti lomba MTQ dan mendapat pelatih yang sama. Namun, ada satu hal yang tidak aku sukai darinya, dan justru itu muncul ketika aku masih menjadi pengantin baru dengan Melati. Aku sering menatap tatapan sinis Tiya pada Melati. Padahal jelas, Melati bukanlah perebut cintanya Tiya. Bahkan, saat Melati tak kunjung hamil, Tiya lah yang menyebarkan gunjingan dan meracuni pemikiran pada orang disekitar pondok. Tapi, apalah daya, ia memiliki kelihaian untuk menarik perhatian umi dan Abi, dan siasatnya berhasil.


Pernikahan disiapkan tanpa persetujuan ku. Penghulu telah hadir di tempat, dan Tiya telah berias. Ia bahkan duduk disamping umi.


"Maaf bi, kali ini sungguh keterlaluan!. Saya belum sempat meminta ijin pada istri!"


Jawabku ketika Abi mengatakan bahwa penghulu telah siap untuk pernikahanku dengan Tiya.


Perdebatan sengit antara aku dan Abi akhirnya pecah. Perdebatan yang tak pernah aku lakukan seumur hidup kami. Perdebatan ini didengar umi yang seumur hidup tak pernah melihatku tidak menuruti mereka.


"begitu....le....kamu sudah diracuni perempuan itu!!!!"


Teriak ibu saat melihat Abi dengan nafas terengah-engah marah padaku.


"Umi....tolong biarkan aku memilih apa yang terbaik untuk keluargaku, aku masih berjuang dengan istriku. Bukan Melati yang salah. Tapi aku yang memilih untuk bertahan!!"


Sebuah tamparan mendarat di pipiku. Abi yang melakukannya. Baru pertama kali aku merasakan tamparan ini.


Selanjutnya, aku hanya menyaksikan umi pingsan.


***


Dalam ketidak berdayaan, aku menerima Tiya sebagai istriku. mengabaikan semua rasa yang menghalangi.


"berikan umi cucu...!"


Hanya itu kalimat yang terpatri, mengalahkan janjiku pada Melati.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2