
...Dear para readers mohon tidak boomlike karena mempengaruhi performance Author, dianggap curang oleh sistem. Terimakasih untuk pengertiannya dan semangat saling mendukung😊❤️...
Azka menjalani terapi psikologis selama beberapa bulan. Rania dan Jean berbagi tugas untuk membimbing dan melakukan terapi psikis untuk Azka. Sebenarnya anak diusia 6 tahun akan mudah melupakan memori masa kecilnya. Namun, beberapa peristiwa traumatik akan membekas pada anak dan bisa membentuk kepribadian yang menetap. Misalnya, anak yang trauma dengan kekerasan akan membentuk defense terhadap apa yang pernah dialaminya, sehingga ia bersikap keras dan melawan.
Azka dilatih untuk memahami arti cinta. Rania sebenarnya enggan menyebut nama Dani dalam kehidupannya lagi, namun, demi kesembuhan Azka, Rania terus mencoba menggali memori Azka tentang kasih sayang yang telah Dani berikan kepadanya. Bagaimanapun, kasih sayang yang diberikan Dani kepadanya jauh lebih banyak dari pada trauma yang telah ditorehkan.
"Azka sayang, Azka ingat kan papa sering mengajak Azka berenang? "
Rania mencoba menceritakan tentang papa Dani disela-sela kebersamaannya dengan Azka. Diawal-awal terapi, Azka lebih banyak menghindari cerita tentang Dani. Azka enggan mengingat Dani, bahkan ketakutan jika nama Dani disebut. Namun, Rania menunjukkan sikap ceria saat menceritakan mengenai Dani. Jean turut membantu Rania untuk memperbaiki memori Azka. Begitu mendukungnya Jean untuk kesembuhan Azka.
"Azka, kapan-kapan kita jenguk Papa Dani ya...?"
Bujuk Jean ketika mereka menjelang tidur. Azka terlihat gelisah ketika Jean mengutarakan niatnya untuk mempertemukan dirinya dengan papa Dani.
"A...aku...aku takut yah sama papa Dani!"
Jawab Azka sambil mengerutkan keningnya. Terlihat bahwa ia tak suka Jean membahas ini.
"Kasihan Papa, Ka. Papa saat ini sangat rindu Azka dan Zidan. Papa memang pernah salah. Makanya papa ingin bertemu dengan kalian. Papa rindu pada kalian".
Ucap Jean sambil mengelus kepala Azka.
Azka terdiam sejenak.
Biasanya Azka akan mengalihkan perhatian, bermain sendiri atau melakukan hal lain untuk menghindari perbincangan tentang Dani. Namun kali ini ia tidak melakukan hal itu. Azka hanya diam tertunduk.
"Abang, jangan takut, kan ada ayah Jean, ada Zidan juga. Zidan dan ayah akan melindungi Abang, iya kan yah!"
Ucap Zidan mencoba membujuk Azka. Tentu, karena Zidan tak pernah merasakan trauma akan tindakan ayahnya.
Jean tersenyum dan mengangguk.
"Azka tak perlu takut, nak"
Ucap Jean.
Secara kepribadian, Azka memang condong mengikuti kepribadian Dani yang mudah cemas. Sedangkan Zidan lebih mengikuti kepribadian Rania yang sangat mudah menyesuaikan dengan keadaan dan lebih kuat.
Dalam ilmu kepribadian, Menurut Santrock, seorang ilmuwan Psikologi, bahwa kepribadian yang sangat berpengaruh terhadap stres yaitu pola tingkah laku kepribadian Tipe A. Pola
tingkah laku Tipe A (type A Behavior patt ern)
yang dimaksud oleh Santrock merupakan sekelompok karakteristik seperti rasa kompetitif
yang berlebihan, kemauan keras, tidak sabar,
mudah marah, dan sikap bermusuhan.
Dani memiliki semua tipe kepribadian ini dan menurunkannya pada Azka. Orang dengan tipe kepribadian ini cenderung mudah cemas dan stress.
***
Jean tidak serta-merta memaksa Azka untuk mau menjenguk Dani. Ia membiarkan anak itu dalam diamnya. Jean mengantarnya untuk tidur.
"Anak-anak sudah tidur, Jean?"
Rania menyapa Jean yang baru saja meninggalkan kamar anak-anak, dan masuk dalam kamarnya untuk menemui Rania yang telah cemas menantinya.
__ADS_1
"Istriku sayang, panggil aku jangan nama donk...kan sudah suami istri!"
Ucap Jean sambil mencubit hidung Rania. Jean berusaha untuk mengalihkan pikiran Rania terhadap hal-hal membuatnya stres.
Jean kemudian mengambil posisi disamping Rania.
"kita sebentar lagi nambah momongan. Panggil aku ayah, ya?!"
Ucap Jean yang membuat Rania tersipu malu.
"Iya. Maafkan aku, ya..je...eh...yah..."
Ucap Rania yang masih kaku. Membuat Jean terkekeh.
Jean mendekap tubuh Rania dan menciuminya.
"Terimakasih telah menemaniku, yah".
"Karena itu telah menjadi tanggungjawab ku, sayang"
Jawab Jean sambil terus mendekap Rania.
"Bagaimana respon Azka tadi?"
Tanya Rania sedikit cemas.
"Masih sama. Dia belum mu membuka cerita tentang Papanya. Kita harus bersabar, sayang!"
Ucap Jean.
Air mata Rania kembali berurai.
Ucap Rania.
"Semua butuh proses, Ma..."
Ucap Jean. Seketika membuat perhatian Rania beralih. Jean mulai memanggilnya, mama.
***
Subuh itu, Azka bangun lebih awal dari biasanya. Ia masuk dalam shaf sholat bersama Jean dan Rania. Selesai sholat, Azka duduk disamping ayah Jean yang tengah berdzikir.
"Ayah, kapan kita akan menjenguk Papa Dani?"
Sontak pertanyaan Azka membuat Jean dan Rania terhenyak. Mereka saling bertatapan. Rania mengucap syukur didalam hati.
"Azka mau bertemu papa segera?"
Tanya Jean yang tetap memperhatikan pendapat anak sulungnya itu.
Azka mengangguk.
"Azka kangen papa. Semalam Azka mimpi ketemu papa".
Ucap Azka dengan polos.
"Kalau begitu. Bersiaplah, kita akan segera menemui Papa!"
__ADS_1
Ucap Jean. Kemudian Jean menatap Rania. Tanpa harus di aba-aba Rania telah mengerti apa yang suaminya maksud.
Rania kemudian menyiapkan pakaian anak-anak yang akan dibawa dan berlanjut ke dapur untuk menyiapkan sarapan dan bekal. Sementara Jean segera menghubungi pak Darmo untuk membantunya mengemudikan kendaraan.
Satu jam berselang, Rania, Jean, dan anak-anak telah siap untuk berangkat ke Lapas Surabaya. Jean bahkan tidak melihat adanya kecemasan di wajah Azka. Bahkan ia terlihat lebih lepas dan ceria.
Jean sengaja meminta pak Darmo untuk mengemudikan kendaraan. Sebab Jean berusaha untuk fokus pada Azka. Disepanjang perjalanan, Jean menghibur Azka. Mencoba membuat suasana perjalanan menjadi menyenangkan.
Lima jam mereka telah sampai di lapas Surabaya, tempat Dani ditahan. Tak lupa Jean mengajak anak-anak ke toko oleh-oleh terlebih dahulu.
Jean bahkan meminta Azka sendiri yang memilihkan oleh-oleh untuk ayahnya.
****
Suasana di lapas....
Jean dan Rania mendampingi anak-anak. Azka dan Jean duduk bersebelahan, sedangkan Zidan duduk bersama Rania di sebuah kursi kayu.
Jam besuk telah tiba. Rania dengan vas memperhatikan satu per satu tahanan yang hilir mudik menemui kerabatnya. Satu diantara Meraka adalah Dani.
Dani terlihat lebih kurus. Rambutnya terlihat gondrong. Kumisnya panjang dan berjanggut. Sepertinya lama Dani tak merawat diri.
Azka terdiam kaku saat Dani duduk diseberang bangku.
"Azka anak papa..."
Sapa Dani.
Azka terlihat ragu dan menatap dalam mata ayahnya. Jean kemudian memberikan isyarat.
"Papa...Azka kangen papa ..."
Ucap Azka lirih dan berhasil membuat Dani menangis. Ia kemudian bersujud didepan Azka dan berusaha memeluk Azka.
Meskipun awalnya Azka menolak, namun lagi-lagi Jean berhasil meyakinkan anak itu untuk memberikan ayahnya kepercayaan lagi. Tak berselang lama, Zidan pun ikut memeluk Papanya dan disambut hangat.
"Papa, janggutnya sudah panjang, ada berewoknya, rambut ayah gondrong..."
Ucap Zidan yang masih dalam pelukan Dani.
Zidan memang anak yang sangat kritis. Semakin bertambahnya kemampuan bahasa, ia semakin banyak berkomentar tentang banyak hal. Dan kali ini berhasil membuah dani terharu dan terkekeh dengan perhatian anak bungsunya itu.
" Kalau begitu, nanti kalau kesini lagi, bawakan ayah alat cukur ya ..."
Ucap Jean.
"Besok kita jenguk Papa lagi ya, yah?"
Tanya Zidan
Jean mengangguk.
Jean memutuskan untuk menyewa apartemen yang lokasinya berdekatan dengan lapas. Selama seminggu ia akan membiarkan anak-anak untuk bertemu dengan ayahnya. Menjalin bonding yang sempat pudar antara ayah dengan anak. Tanpa ada rasa egois, Jean menjadi jembatan penghubung silaturahmi antara Papa dengan anak-anaknya.
Bersambung ...
Hello readers...yuks follow Ig @bungakering1986 dan sharing pengalaman rumah tangga atau yg mau sekedar curhat dan berbagi cerita disana. Bisa di DM atau kolom cerita ya ..author akan balas langsung atau saat live nanti dibahas...yuk...yuk merapat!
__ADS_1
See you at the next part 😍🙏