100 Hari Pertama Menjadi Janda

100 Hari Pertama Menjadi Janda
Bagian Ke 16 Jiwa Yang Kembali


__ADS_3

POV Ayah Rania


Rania menghambur kedalam pelukanku. "Ayah Malik. Aku mengelus Rania. Rania kembali duduk di ranjang, sedang aku duduk di sofa yang berada di samping ranjang itu.


Ada perasaan campur aduk di hati Ayah Malik. Rania tak seperti yang ia kenal sebelumnya. ya...sebelum menikah dengan Dani.


Rania kecil adalah anak yang manja dan centil. Sejak kecil ia telah bercita-cita menjadi guru. Jika sedang didepan cermin, Rania bersolek dan berbicara sendiri, tingkahnya sangat genit dan menggemaskan.


Hampir setiap hari saat ayahnya pulang dari kantor, Rania akan mengajak Ayah dan ibunya bermain bersama. Rania akan berperan menjadi guru, sedangkan ayah dan ibunya dimintanya berperan menjadi muridnya.


Rania usia enam tahun. Saat pertama kali ia duduk di bangku sekolah Taman kanak - kanak, setiap pulang sekolah, ia akan bermain dengan teman-temannya.Ya, permainan yang sama, guru dan murid. Rania yang menjadi guru, akan mengajarkan teman-teman sebayanya tentang pelajaran yang ia dapatkan dari guru di sekolah. Rania tumbuh menjadi gadis cilik yang berprestasi secara akademik.


Rania remaja tumbuh menjadi gadis yang berambisi. Ia sangat energik untuk mengikuti banyak kegiatan di sekolahnya. Mulai dari Biologi Club, English Club, dan teater.


Rania remaja amatlah mandiri. Sikapnya mengayomi adik-adiknya, tidak pernah mengeluh


Rania SMA menjadi murid berprestasi. Pelajaran kesukaannya adalah Biologi. Itu sebab lulus SMA, ia memilih melanjutkan studi di Fakultas Pendidikan dan Ilmu Keguruan, di sebuah Kampus di Jakarta. Ia memperoleh beasiswa jalur PMDK atau jalur prestasi. Bahkan, agar meringankan orang tua, ia memilih bekerja part time pada sebuah bimbingan belajar, hingga akhirnya ia bersama dua temannya mampu mendirikan sendiri sebuah lembaga bimbingan belajar.


Tapi hari ini, aku melihat Rania menjadi sosok yang berbeda. Dia begitu rapuh. Mata tajam yang dulu menjadi ciri khas, sirna. Sejak mengenal Dani di bangku kuliah, Rania memang telah banyak berubah. Aku tak lagi menjadi tempat curahan hatinya. Sejak menikah, Rania juga pandai menyembunyikan masalah hidupnya. Ia tak pernah berkunjung pulang, meskipun hampir setiap hari yang ia keluhkan pada ku adalah rindu.


Dua hari yang lalu aku menerima kabar dari Jean, yang mengaku sahabat Rania. Jean mengatakan bahwa Rania saat ini berada di Rumah Sakit. Aku ingin berbicara dengan Rania. Namun tidak bisa. Kondisinya tak memungkinkan untuk mengobrol melalui ponsel. Separah itukah sakitnya?.


Rupanya iya. Bahkan aku mendengar Rania berada di bangsal sebuah Rumah Sakit Jiwa. Hatiku sakit sekali mendengarnya. Aku memutuskan untuk terbang ke Jakarta. Melihat apa yang sebenarnya terjadi pada putri kebanggaan ku.


Perjalananku menuju Jakarta memakan waktu dua jam lebih menggunakan pesawat. Aku sudah tak muda lagi. Usiaku tahun ini menginjak enam puluh lima tahun. Aku berharap perjalanan ini merupakan perjalanan yang menyenangkan. Seperti orang tua pada umumnya. Nengok cucu.


Tapi, kenyataan baik tak berpihak padaku. Aku masuk ke area komplek seperti pertokoan dan pabrik. Mobil yang menjemputmu masih terus melaju hingga jalan belakang area pertokoan itu. Ada deretan paviliun disana. Mobil berhenti di sebuah paviliun terbesar dari lainnya. Cat pagar putih dan deretan bunga aster berwarna jingga dan kuning menghiasi. Tak lama, aku pun memasuki paviliun itu.


Aku mengucapkan salam dengan lirih. Di sebuah kamar ada seorang wanita terbaring. matanya menatap ke arah luar jendela. Memandangi deretan aster. sepertinya paviliun ini dihiasi berbagai macam aster pada setiap sudut halaman.


Sepertinya aku mengenali perempuan yang terbaring itu. Dan benar saja.

__ADS_1


"Rania, anakku" seru aku


Anak sulung ku itu lalu berlari ke pelukanku. Air matanya mengalir membasahi wajahnya. Tapi, seperti yang ku rasakan bukan hanya air mata kerinduan, tetapi juga air mata nestapa.


Kami duduk berhadapan. Rania duduk di ranjang nya, sedangkan aku ada di sofa samping ranjang. Nak Jean menyambut aku dengan sangat ramah. Selain menjemput ku di Bandara, ia juga menyiapkan kamar khusus untuk ku. Ia bersikap seolah ia adalah menantuku. Tapi, sangat sopan. ya...iya seperti anakku saja.


Perbincangan dengan Rania


"Ada apa denganmu, Rania...?"


"Rania tertunduk tak membuka suaranya"


"Aku sudah tua, nak. Perjalanan Banda Aceh- Jakarta bukanlah mudah untuk orang sepertiku. Jika kehadiranku disini hanya untuk melihat kamu diam dalam derita, tentu kau seperti sedang menyambut kematian ku, Rania".


Mataku berkaca-kaca. Sejam telah berlalu. Tapi Rania masih saja diam, tak bersuara. Dalam hatinya aku yakin bergemuruh, ingin mengutarakan sesuatu. Tapi aku pun mengerti, tak mudah untuk mengutarakannya.


"Ayah... anakmu gagal. Gagal dalam banyak hal. Terutama pernikahan" Ucap Rania tertunduk.


"Suamiku selingkuh, aku diceraikan, dan anak-anak ku diambil paksa oleh Dani. Bahkan aku tak bertemu mereka sudah lebih dari tiga bulan lamanya. Sejak proses persidangan"


Suara Rania terdengar gemetar. Air mata mulai mengalir disudut netra. Aku seperti tak mengenali Rania. Sejak kecil, aku jarang sekali melihat anak ini menangis.


"Sekarang, aku menjadi manusia terbuang. Aku menjadi manusia hina karena gagal dalam banyak hal. Aku tak pantas untuk hidup yah!"


Mendengar Rania mengungkapkan perasaannya. Aku mendekapnya erat. Aku tak menyangka luka batinnya sedalam itu.


"Rania, kau adalah anakku yang kuat. Kelahiran mu adalah buah penantian aku dan ibumu setelah pernikahan selama lima tahun. Kau adalah hasil do'a kami siang dan malam, agar kami tak dipisahkan oleh nenek dan kakek mu karena mandul. Kelahiran mu membawa berkah kebahagiaan untuk kami!"


Aku tak kuasa menahan tangis dan luka di hati.


"Rania, anakku. Meski kau sempat menjadi anak satu-satunya. Kau tak ku didik manja. Aku mengajarkan kedisiplinan, arti berbagi, dan kerja keras, agar kamu siap menjalani kehidupan yang fana ini. Kami sadar tak akan sanggup selalu menjagamu. Maka, seperti itulah kami mendidik dan menyiapkan dirimu agar lebih mandiri!"

__ADS_1


Aku mulai tersengal. Dadaku sesak.


Aku lupa mengajarkan Rania mengenai pelajaran rumah tangga sebelum ia menikah. Aku lupa bahwa kehidupan rumah tangga berbeda dengan kehidupan kita sebelumnya. Ya...saatnya aku mengajarkan. Semoga belum terlambat. Ku dorong tubuh Rania dari pelukan. ku pegang bahunya yang lemah, lebih lemah dari bayi yang baru saja bisa duduk. Aku tatap matanya yang sayu.


"Rania, anakku. Betapa sayangnya aku dan ibu mu. Apakah kau lupa itu Rania?, Apakah kau lupa dengan pengorbanan-pengorbanan kami?!"


Rania hanya menangis tersedu-sedu. Tak satupun ia mengeluarkan kata-kata.


Namun, sesaat kemudian, ia menggelengkan kepala. seraya berkata


"Aku ingat semua pengorbanan ayah dan ibu" ucapnya lemah.


"Lalu, mengapa kamu melakukan ini???"


"Mengapa kamu ingin mengakhiri hidup hanya untuk laki-laki yang baru kamu kenal beberapa tahun, kemudian mencampakkan mu, Rania?"


"Sedangkan aku adalah laki-laki yang selalu membuatmu tercukupi semenjak kamu dalam rahim ibumu!, Aku yang selalu berusaha meluangkan waktu diantara lelahku untum mengajarimu, dan melenyapkan kantukku untuk duduk bersujud pada Allah untuk kesuksesan mu dalam hidup dan akhirat nanti"


Ucapku dengan nada keras. Rasa perih di hati aku ungkapkan. Rasa cemburu ku pada Dani yang begitu mudah mendapatkan tempat dihati Rania, sehingga Rania dengan mudah rela mati untuk laki-laki yang baru dikenalnya beberapa tahun.


Tiba-tiba aku melihat Rania berhenti menangis. Mengambil tanganku untuk menyapu air matanya. Matanya membulat. Senyum tiba-tiba mengembang di bibirnya.


Dan kulihat, ada jiwa yang kembali kedalam raganya. Inilah Rania ku, Rania anakku, sebelum ia menikah. Rania ku kembali...!!!!


...Hai pembaca setiaku......


...pada tulisan di bab ini author sangat butuh kekuatan untuk menulisnya...


...emosi di Bab ini diungkapkan dari sudut pandang seorang ayah....


...mengingatkan sebuah point besar. Mengapa banyak wanita Yang mengorbankan dirinya untuk seorang laki-laki yang baru dikenal beberapa tahun saja. yang disebut suami. sedangkan perjuangan seorang ayah lebih lama dan tentu lebih besar daripada suami kita. Note yang harus diambil oleh pembaca pada BAB INI...see you di Bab berikutnya yang tentunya lebih seru!!!!!...

__ADS_1


__ADS_2