
Pagi yang riuh di Pesantren Kyai Mansyur. Seorang abdi dalem bernama Salmia yang tengah bertugas membersihkan kamar Ustadz Malik, tak sengaja menemukan pil KB di atas ranjang Melati. Pil KB yang selama dua tahun terakhir Melati konsumsi demi kelanjutan studinya. Ia masih ingin meneruskan pendidikan jenjang sarjana terlebih dahulu, barulah ia ingin merencanakan kehamilannya.
Apa yang Melati putuskan telah melewati restu dari sang suami. Melati telah menjadikan ini sebuah perjanjian sebelum pernikahan itu terjadi. Ia hanya berpegang pada restu dari suaminya, bukan tak ingin memiliki anak, namun, ia hanya ingin menjadi seorang ibu yang siap mental kedepannya, bukan ibu yang penuh ambisi di masa lalunya.
Nyai Mansyur terbelalak melihat sebuah pil yang seumur hidup tidak pernah ia konsumsi. Baginya, setiap anak adalah anugerah, kehadirannya tak boleh dicegah. Apalagi Nyai sangat mendambakan seorang cucu dari putra kebanggaannya.
"Pantas saja selama ini ia tak bisa hamil. Ternyata ia sendiri yang tidak menginginkan untuk hamil!"
Gumam nyai Mansyur yang kemudian menyuruh seorang abdi dalem memanggil Ustadz Malik dan Melati.
***
Melati terkejut saat sang suami datang menjemputnya di sebuah madrasah kecil yang berada 300 meter dari pesantren milik Kyai Mansyur. Tak seperti biasanya sang suami menjemputnya untuk pulang di jam yang belum saatnya ia pulang dari mengajar. Ya, disela kuliah, Melati mengabdikan dirinya untuk ikut menyumbang ilmu agamanya di madrasah ini, sedangkan di dalam lingkup pesantren, ia belum bisa dipercaya oleh pengurus.
"Mas, ada apa gerangan menjemputmu diwaktu yang belum saatnya pulang?"
Tanya Melati dengan tatapan mata penuh tanya.
Sang suami hanya tersenyum menatap Melati, tanpa bicara, ia menggandeng melati untuk pulang ke pesantren.
Suasana terlihat ramai. Ada beberapa pasang mata yang memandang tak suka, namun terasa telah biasa olehnya.
Nyai dan kyai Mansyur telah duduk di sebuah kursi kayu. Ustadz Malik menuntun Melati untuk duduk di bangku seberang. Kepala mereka tertunduk, tanda takdzim pada kedua orang tuanya.
Raut wajah kecewa nampak jelas diwajah Kyai Mansyur dan Nyai. Mereka bahkan seperti enggan menatap Melati meskipun perjuangannya telah membawa pesantren ke arah yang lebih baik.
Semenjak Melati tinggal di pesantren ini, ia merawat bayi dan anak yang telah yatim piatu di desanya. Ia membuka donasi lewat yayasan kecil yang ia dirikan. Melati yang melek teknologi membuat banyak rekanan baik di dalam dan luar negeri membantu Yayasannya dalam aspek dana, sehingga Melati mampu membiayai Panti Asuhan tanpa menggunakan biaya dari dalam pesantren. Gedung pun, ia merelakan rumah yang ia tempati untuk tempat penampungan bayi dan anak.
Selain itu, Melati juga aktif memberikan pelatihan kepada para janda miskin di desanya. Pelatihan mulai dari membuat kue, membatik, menjahit. Ia bekerjasama dengan lembaga-lembaga sosial, dan hal inilah yang kemudian mengenalkan Melati pada LSM Sehati dan membuatnya menjadi sahabat bagi Rania yang kebetulan tinggal dalam satu wilayah yang sama..
Rania juga mengajarkan Melati untuk mempublikasikan kegiatan sosialnya untuk dapat menginspirasi banyak perempuan diluar sana.
seperti selogan dari LSM Sehati
"Jangan berhenti menginspirasi".
Hasilnya, ia berhasil membantu para janda miskin untuk membangkitkan kembali ekonomi mereka.
Namun, ia tampak kuat diluar dan keropos di dalam. Rupanya ia tak akan pernah terlihat baik dimata orang yang memang membencinya sejak awal.
__ADS_1
Dialah Ustadzah Tia, seorang santri yang diangkat menjadi pengurus santri putri, telah jatuh cinta pada seorang Ustadz Malik, putra sang Kyai. Ia telah mengenal Malik semenjak masih duduk di angku Diniyah. Mengagumi, kemudian mendambakan menjadi seorang istri dari ustadz Malik. Hanya saja, Ustadz Malik telah menganggapnya sebagai seorang sahabat, dan tidak pernah bisa lebih dari itu.
Semenjak ustadzah Tia menyadari adanya perjodohan antara ustadz Malik dengan Melati, maka, muncullah kebencian yang mendalam pada Melati, jauh sebelum Tia berhasil mengenalnya.
Tia kemudian terhasut oleh syetan. Setiap hari, tak pernah ia berhenti menggunjing kehadiran Melati. Jauh sebelum Melati menghubunginya, Tia telah mencari tau tentang Melati terlebih dahulu.
Segala informasi mengenai melati, akan segera menyebar dengan mudah. Termasuk soal pil KB yang sengaja ia cari bersama abdi dalem yang telah bersekongkol dengannya.
****
Matahari diluar terasa terik, namun suasana di dalam ruangan itu terasa lebih terik. Tubuh Melati bermandikan peluh ketika melihat tablet KB yang rutin ia minum ada di atas meja. Ia tentu hapal betul pil itu milik siapa, sebab ia tau bahwa keluarga sang suami tak akan pernah mengkonsumsi itu.
"Maafkan saya Umi..."
Ucap Melati lirih namun dipotong oleh Nyai.
"Bagaimana kamu mendidik istrimu, Malik. Sejak kapan kamu berani membohongi umi?!"
Suara Nyai terdengar sangat berat. Ia sangat kecewa pada Malik yang hanya diam menyaksikan perilaku istrinya yang selalu mengejar duniawi.
"Bukan begitu umi. Tujuan dari pernikahan memang untuk mendapatkan keturunan, namun menurut Malik, ini juga harus dilandasi dengan kesiapan baik fisik maupun mental. Bukankah kita sama-sama tau, bahwa saya menikahi melati di usianya yang belum genap enam belas tahun?"
Nyai mulai terbawa emosi. Suara beratnya berubah menjadi tangis yang pecah.
"Jadi selama ini, kamu merencanakan semua ini, menikah, menunda anak, melanjutkan pendidikan, dan mengembangkan setiap ambisi hanya untuk sebuah kenikmatan dunia?!"
Ucap Kyai berat.
"Ngapunten Kyai, saya yang salah. Saya memang sangat mengejar cita-cita saya dan berharap bisa sukses di dunia menjadi ibu rumah tangga sekaligus membantu sesama dengan bekal ilmu yang saya miliki"
Ucap Melati yang membela diri.
Perdebatan kecil sempat terjadi. Dalam hal apapun, Melati akan tetap menjadi minoritas yang harus mengalah di hadapan Kyai dan Nyai.
***
Malik memeluk tubuh Melati yang tengah larut dalam Isak tangisnya. Cukup waktu untuknya menunda kehamilan. Bagaimanapun Melati harus hamil!!
Malik mencoba menguatkan dan membimbing Melati. Bahkan Malik berjanji akan membantunya untuk merawat sang bayi, apabila nanti Melati hamil.
__ADS_1
Mereka masih bisa menyewa seorang pengasuh untuk membiayai bayinya.
"Tenangkan dirimu. Kita akan melangkah bersama. Aku berjanji akan selalu ada untukmu, dan tak akan pernah meninggalkanmu".
Namun, tekanan demi tekanan di dalam pesantren membuat Melati mengalami stres. Ia merasa bahwa gosip ia tidak meminum pil KB telah menyebar ke sepenjuru pesantren. Bahkan sampai ke telinga sang ayah, Kyai Basuki.
Kyai Basuki bahkan meluangkan waktu untuk bertemu dengan sang anak dan menumpahkan kekecewaan.
"Andai engkau masih menjadi hak ku, akan aku cambuk 100 kali tubuhmu, wahai anakku, Melati!!!"
Ucap Kyai Basuki saat bertemu dengan Melati. Sang ayah tak mengerti bahwa melati telah mencoba tegar menghadapi situasi ini. Situasi yang memaksanya dewasa sebelum waktunya, menerima takdir tentang kehilangan cita-cita, berjuang menggapai cita-cita, dan mengatur sedemikian rupa, agar semua berjalan sesuai dengan rencana.
Keadaan mental yang semakin runyam, membuat Melati harus berkali-kali mengalami keguguran. Dalam satu tahun ia mengalami keguguran hingga tiga kali. Sehingga, membuat kesehatannya menurun.
"Ibu Melati kami sarankan untuk tidak hamil terlebih dahulu, agar ia benar-benar pulih dan tubuhnya netral dari obat"
Setahun, dia tahun, tiga tahun...waktu yang diucapkan dokter hampir saja dilupakan, saat Melati keguguran untuk ketiga kalinya.
Mereka tak ingin tahu. Yang mereka lihat adalah bagaimana seorang perempuan menjadi alat reproduksi untuk para kaum Adam dan mendapatkan seorang keturunan.
Empat tahun berlalu. Melati tak kunjung memperoleh momongan. Ustadz Malik melihat adanya gejala stres yang dialami sang istri. Ia kemudian beralibi mendapatkan tawaran mengajar diluar pesantren, membawa Melati pindah pesantren milik ayahnya, dan memulai kehidupan baru yang tenang.
Bisa?
Tentu tidak!!!
Di sesuatu malam selepas isya. Melati kedatangan tamu. Nyai dan Kyai sengaja datang menemui Malik. Mereka sibuk berbincang dengan banyak hal, sedangkan Melati duduk di bagian kamar yang hanya bersekat dinding triplek.
Sayup-sayup ia mendengar, sebuah tawaran untuk poligami!
Jantung melati terasa berhenti berdegup seketika. Ingin sekali ia berlari kedepan dan memprotes tawaran itu, jelas!
Bukankah point' poligami telah ada dalam perjanjian pra nikah, lalu, kini ia dihadapkan pada kenyataan, bahwa ia pun tak bisa memenuhi perjanjian dengan sang ibu mertua, yang diikrarkan saat penemuan pil KB.
"Berusahalah hamil, kami akan menunggu, namun jika sampai pada waktu, dan kami tau kamu belum kunjung hamil, maka ijinkan suamimu melaksanakan sunnahnya".
Pecah tangis Melati dihadapan sang suami dan keluarganya. Ia bersujud memohon ampun di kaki sang suami. Untuk pertama kalinya se-panik ini.
Poligami, adalah Sunnah yang menjadi ketakutan terbesarnya.
__ADS_1
bersambung ...