
Matahari telah membenamkan cahayanya. Siluet perlahan menghilang. Fika masih saja menikmati es kelapa muda dan menikmati deh ombak yang semakin memacu disaat petang.
"Kamu masih mau menikmati Ubud?" Tanya Wisnu sambil meletakkan kamera DSLR. Sedari tadi Wisnu asyik dengan kameranya. Namun, itu tak masalah bagi Fika, karena Fika lah yang menjadi objek jepretan mata kamera Wisnu.
"Hem...iya kak. Kau sangat menikmati sunset dan malam disini. Tapi aku tau kakak pasti lelah. Apalagi sebentar lagi kita harus memberi laporan pada kantor. Ayok kita pulang!" Ajak Fika sambil beranjak dari tempat duduknya.
Wisnu menggandeng tangan Fika saat berjalan menuju parkiran. Mereka baru saja meresmikan hubungan mereka sebagai sepasang kekasih. Romansa kasmaran dengan hati yang tengah bertebar bunga.
Wisnu sangat lihat untuk menarik hari perempuan..Ia menjadikan Fika layaknya seorang ratu. Jarak usia yang cukup jauh, membuat Fika lebih nyaman berada bersama Wisnu, sebab ia mampu memahami sifat Fika yang keras kepala.
"Fik...Fika...!" Suara Wisnu terdengar saat mengetuk conecting room milik Fika.
Fika bergegas membukakan pintu. Ia baru saja mandi dan mengenakan kimono.
"Kita harus meeting sekarang. Pak Julius sudah menunggu". Ucap Wisnu sambil membopong Sebuah laptop.
"Oh oke kak. Aku segera masuk Zoom. Tolong share meeting di dan password ya kak!" Ucap Fika sambil kembali menutup pintu. Mereka mengikuti meeting di kamar masing-masing. Kurang lebih satu jam lamanya ya meeting berlangsung. Sejak pukul 20.00 hingga 21.00 WITA.
Karena lelah seharian, ia pun tertidur di depan laptopnya.
10.00 WITA, Wisnu masuk kedalam kamar Fika. Conecting room milik Fika tidak terkunci. Ia lupa menguncinya saat terakhir kali terbuka. Wisnu memberanikan diri mengangkat tubuh Fika. Ia bermaksud untuk meletakkan tubuh Fika diranjangnya.
Fika tak sedikit pun terjaga. Mungkin ia sangat lelah. Perlahan Wisnu meletakkan tubuh Fika diatas ranjang. Tubuh Fika menggeliat, membuat Wisnu menelan Saliva ketika melihat leher Fika yang begitu panjang dan ramping. Hampir saja dia tergoda untuk sekedar mencicipi tubuh Fika yang body goal. Namun, ia takut Fika terjaga. Mereka baru saja menjadi sepasang kekasih, ia tidak mau Fika kira ia memanfaatkan momentum itu.
Wisnu akhirnya hanya menyelimuti Fika dan mencium kening gadis itu. Lalu kembali ke Kamarnya.
Di kamarnya, Wisnu tidur dengan gelisah. Ia masih saja membayangkan tubuh Fika yang hanya berbalut kimono. Leher Fika yang begitu panjang dan menggoda, dengan beberapa tahi lalat tidak hidup, yang membuatnya semakin seksi. Kaki Fika begitu jenjang dan mulus.
"Agh...ingin rasanya ia memberanikan diri untuk meminta ijin, menikmati tubuh Fika sebentar saja, ah...sial pikiranku ini!!!".
Wisnu akhirnya mengabiskan malam dengan menonton Bola. Tepat pukul 02.00 pagi. Fika mengetuk conecting room.
"Mas...mas belum tidur?" Tanya Fika sambil mengucek mata.
__ADS_1
"Iya. Kamu kenapa bangun, Fik?"
Tanya Wisnu yang sudah mulai mengantuk.
"Aku tadi mau ke toilet, dan ku lihat pintu Kaka k terbuka". Ucap Fika.
Wisnu Yang dari tadi tengah menahan birahinya, segera menarik lengan Fika. Ia merasa bahwa Fika tengah memancingnya.
Tubuh Fika disandarkan ke tembok. Hingga tubuh mereka berada tanpa sekat penghalang.
"Aku sedang ingin..."
Fika yang kesadarannya belum pulih, merasa bingung.
"Maksud mas?"
"Aku ingin kamu Fik?".
Namun Fika yang belum sadarkan diri, tidak juga mengerti maksud Wisnu.
Ucap Fika polos.
"Aghhh...sial!!!" gerutu Wisnu dalam hati. Ia pun melepaskan Fika begitu saja, sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Kamu gak takut tidur sendiri, Fik?!" Tanya Wisnu mencoba memancing Fika.
Namun, jawaban Fika sungguh diluar dugaan.. Perempuan itu hanya menggeleng dan menjatuhkan dirinya diranjang. Wisnu menatapnya dengan kesal. "Gagal!" Gumamnya.
Keesokan harinya...
Pintu diketuk dengan keras. Namun akhirnya Fika sadar bahwa pintu kamar Wisnu tidak dikunci.
Ia langsung masuk ke kamar dan membangunkan Wisnu dengan kasar.
__ADS_1
"Mas, ayo bangun. Ini sudah jam 08.00 pagi. Kita janji dengan klien jam 08.30!"
Ucap Fika sambil menarik selimut Wisnu. Namun, Wisnu yang semalaman tidak bisa tidur malah menarik tubuh Fika kedalam pelukannya. Dengan rakus ******* bibir tipis Fika, dan tanpa perlu ijin menggigiti leher gadis itu. Fika tak siap dengan serangan itu. Ia hanya mengerang menahan rasa yang baru pertama kali ia rasakan. Bibirnya mengatakan cukup, namun tubuhnya tak ingin lepas dari pria itu.
"Mas, tolong sudah mas. Please...!" Ucap Fika sambil mendesah. Namun, Wisnu tak lagi peduli dengan penolakan Fika. Ia bisa sakit kepala jika sampai Fika lepas dari pelukannya.
Dering ponsel mengejutkan Fika dan Wisnu. Wisnu segera beranjak dan mengangkatnya.
"Fik, klien kita sudah menunggu!!!" . Ucap Wisnu sambil terburu-buru masuk kedalam kamar mandi. ****** ******** telah basah, ia telah mencapai *******.
Fika pun segera beranjak bangun dan mengganti pakaiannya yang telah kusut akibat pergulatan dengan Wisnu tadi. Ia tau apa yang ia lakukan salah. Namun, sialnya, jiwanya sangat menikmatinya!
Tak berselang lama mobil mereka melaju dengan kecepatan super, menuju lokasi klien mereka berada. Wisnu menunjukkan kepuasan atas apa yang ia nikmati tadi.
Disela coffe break, Wisnu mendekati Fika. Ia menatap lekat mata Fika. Memberi kode bahwa ia ingin membahas yang tadi pagi terjadi.
"Aku menikmatinya, Fik!". Ucap Wisnu dengan mata penuh nafsu.
Fika tersipu malu. Betapa ia tak mampu membalas tatapan Wisnu yang menjadi candu.
"Ku ingin segera malam!" Balas Fika.
Entah mengapa ia seberani itu, mengungkapkan isi hatinya dengan cara nakal. Padahal ketika dengan Azka, ia sangat menjaga diri dan fitur katanya. Meskipun mereka telah menjalin cinta dua tahun lamanya, tak pernah sekalipun Azka melakukan hal-hal yang merusak kesucian cinta.
Namun apa daya, Fika sedang dimabuk asmara. Baginya apa yang dilakukan Wisnu mampu membuat dia bahagia. Fika yang haus akan cinta, bertemu dengan Wisnu yang memiliki gelora cinta dan romantisme.
"Ah...sial. Aku tak mampu sedikit pun menahan untuk tidak menyentuhnya. Sedangkan suaranya saja sudah membuat ku bergairah. Apalagi bisa menyentuh bagian-bagian tubuhnya!" gumam Wisnu.
Ia bahkan tak konsentrasi dengan apa yang tengah ia kerjakan. Beberapa dokumen yang sedang ia siapkan, harus direvisi beberapa kali.
"Fik, aku gak konsentrasi sama sekali?!"
Ucap Wisnu sambil menatap Fika dengan tatapan nakal..
__ADS_1
" Mas. Kita harus profesional. kita lagi dengan klien!". Ucap Fika jengkel. Sedari tadi bukan hanya Wisnu yang tidak konsentrasi, Fika pun tidak bisa konsentrasi karena Wisnu beberapa kali bersikap nakal. Ia mengecup pipi Fika, memegang Pinggang dan membelai rambut pajang Fika. Sehingga membuat Fika kehilangan konsentrasinya.
Bersambung ...