100 Hari Pertama Menjadi Janda

100 Hari Pertama Menjadi Janda
Bagian 53 Pernikahan Rania


__ADS_3

Rumah yang dibuat oleh Jean masih sangat sederhana. Sebagai seorang yang baru saja memulai usaha, tentu ia harus mengatur cash flow keuangannya. Hanya terdiri dari 2 kamar dan satu kamar mandi di luar. Bagian dapur masih terbuat dari bambu dan beralaskan tanah. Sebenarnya Jean ingin membangun rumah dengan konsep vila, namun ia belum berani berinvestasi dibidang properti hunian. Apalagi investasi yang tidak bergerak.


***


Di suatu pagi yang cerah, Jean mengajak Rania berjalan-jalan menuju rumah barunya nanti. Jarak antara rumah mbok Siti dan rumah baru Rania hanya berjarak 500 meter saja. Hanya saja, Rania jarang bisa untuk sekedar berkeliling ke area lain selain rumah dan resto. Maklum, ia sangat sibuk. Jika tidak sedang di resto, Mak ia akan sibuk mengurus dua anaknya . Begitu kesibukannya setiap hari.


***


Jean menggandeng Rania. Jalan depan rumah masih tanah, sehingga licin ketika hujan.


"Rania, lihatlah...."


Rania membuka matanya. Melihat sebuah rumah bergaya minimalis Yang sangat sederhana. Ada pohon rambutan di bagian kanan, pohon mangga bagian kiri, bagian depan terdapat sayur mayur yang ditata rapi. Terasnya masih belum selesai. Jean menata batu kerikil sebagai penahan air. Rania kemudian berjalan ke bagian belakang, masih terbuat dari bambu, namun tertata sangat rapi. Bagian belakang ada deretan kandang kambing etawa yang sudah banyak terisi. Rania tau bahwa beberapa hari yang lalu Jean telah membeli beberapa ekor kambing jantan dan indukan.


"Jean...rumahnya sangat indah, meski sederhana namun tampak rapi"


Ucap Rania yang terkagum-kagum dengan rumah itu. Jean hanya membalas dengan senyuman.


" Rumah siapa ini, Jean"


"Rumah istriku!"


Ucap Jean dingin.


Rania terdiam sesaat.


"istri?"


Gumam Rania


"Istri Jeandra ya Rania..."


Ledek Jean sambil mencubit hidung Rania. Dan tertawa lepas.


"Maafkan jika rumah ini masih jauh dari harapanmu. maafkan jika tak ad kesan mewah dari tampilan rumah ini. Rumah ini sudah mulai aku bangun sejak pertama menginjak tanah Lumajang, aku meminta Pak Jarwo, anak mbok Siti untuk membangunnya, untukmu Rania ".

__ADS_1


Mendengar penjelasan Jean, Rania terharu.


"Apalah arti rumah mewah, jika penghuninya tidak merasa memiliki. Jika tak ada bahagia. Jika atapnya tak mampu melindungi dari segala ujian rumah tangga".


Ucapan Rania membuat Jean tertegun. Diusapnya kepala Rania dengan lembut.


"Nanti tolong dirawat ya sayuran ini"


Ucap Jean sambil menunjukkan sayuran jenis sawi pada Rania.


Rania mengangguk.


"Oh ya, aku juga akan ajarkan kamu untuk merawat ayam"


"hah...apa...ayam Jean?"


"iya ayam kampung. Supaya anak-anak kita makan ayam kampung, telur kampung, supaya mereka lebih sehat"


Ucap Jean sambil menunjukkan sebuah kandang yang baru saja selesai. Berbeda dengan kandang kambing, kandang ayam letaknya agak jauh kebelakang. Tanah yang Jean miliki disini memang cukup luas. Untuk rumah dan halaman saja, Jean mematok 1 hektar. Sedangkan untuk kebun, Jean memiliki 3 hektar, resto dan pabrik 2 hektar. Lahan-lahan ini sengaja ia investasikan sejak lima tahun lalu, karena ia sadar tak mungkin selalu menopang kehidupan dari usaha orang tua.


Jean kembali mengajar Rania berkeliling mendekati area resto. Kali ini spot tempatnya sangat indah. Ada aliran sungai yang sangat bersih dengan batu-batu besar yang berasal dari gunung Semeru. Ada pohon-pohon kopi muda yang sepertinya baru saja ditanam beberapa pekan lalu.


"Ditempat ini, aku akan membangun sebuah penginapan. Nanti kamu tidak akan banyak mengurus dapur, tapi lebih banyak membantuku di management resort nya".


Rania tersenyum lembut. Hatinya terasa sejuk. Ia merasa bahagia yang sesungguhnya, bahagia yang datang dari sebuah kesederhanaan, bukan hanya soal harta. Jean bukanlah laki-laki yang memamerkan harta, dia tipe laki-laki yang suka berinvestasi, apalagi investasi tanah . Baginya, investasi tanah akan.meberi keuntungan nyari diatas 50% di lima tahun berikutnya. Sehingga ia sangat hobi investasi tanah.


***


Bagian Dani....


Dani sangat tertekan dengan sikap Delita. Semenjak kehamilannya, Delita menjadi sangat sensitif. Ia mencari semua kenangan tentang Rania yang ada di rumah, kemudian memusnahkannya. Delita juga meminta agar handphone Dani tidak di password, sehingga dirinya leluasa untuk mengecek isi ponselnya.


Delita sangat marah dan benci terhadap Rania. Baginya Rania adalah ancaman kelangsungan rumah tangganya. Bagaimanapun Dani harus menjadi utuh miliknya, tanpa ada embel-embel masa lalu bersama Rania. Itu sebab, Delita melarang Dani untuk bertemu dengan anak-anaknya. Delita akan menyusul Dani ke kantor dan menahan kiriman Dani untuk anak-anak yang biasa dititipkan melalui supir pribadinya. Itu sebabnya, seolah Dani tak pernah mengirimkan nafkah pada Azka dan Zidan.


Pertengkaran akibat sikap Delita yang posesif sebenarnya sering terjadi, tatkala Dani berusaha bertemu dengan anak-anaknya, sayangnya, Delita pandai membuat alibi. Ia akan berpura-pura sakit hingga harus dirawat dan dijaga nonstop oleh Dani.

__ADS_1


Lam kelamaan, sikap Delita membuat Dani berontak. Meskipun ia pernah khilaf, namun ia masih sangat sadar akan tanggung jawabnya terhadap anak-anak dari Rania.


"Delita, aku akan menemui Azka dan Zidan malam ini!"


Ucap Dani pada Delita yang tengah mengupas mangga untuk dibuat rujak.


"Kau hanya ingin bertemu dengan Perempuan itu!"


Ucap Delita sambil mengacungkan pisau yang ia gunakan untuk mengupas buah mangga.


"Jangan terlalu curiga padaku, Del. Aku hanya ingin bertanggungjawab terhadap anak-anak ku. Aku menikahi kamu juga karena tanggungjawab ku terhadap anak yang kamu kandung!"


Delita berjalan menghampiri Dani.


"Ku mohon jangan kesana. Aku tidak mau kamu berpaling lagi pada perempuan jelek itu!"


"Delita, jaga ucapanmu!!!"


Dani membentak Delita yang ia anggap sudah sangat keterlaluan.


"kenapa mas, bukankah dulu kamu yang memberi tahuku bahwa Rania itu jelek, gak bisa dandan, ga jago di ranjang, dan tubuhnya bau. Kenap sekarang kamu keberatan Rania ku hina?!"


Dani mendengus. Ia sudah sangat tidak sabar.


"Aku hanya ingin kamu menjadi milikku seutuhnya mas. Kalau tidak, aku tidak akan segan berbuat nekat!"


"Kamu keterlaluan Delita!"


"Kamu juga keterlaluan mas. Karena kamu ingin aku, tapi juga tak ingin kehilangan Rania dan anak-anaknya!"


plakk


Dani menampar Delita untuk pertama kalinya. Delita menjerit dan mengagetkan seisi rumah. Delita merasa kontraksi di bagian perut. Hal ini sangat sering dia alami sejak usia kehamilan terus membesar. Jika sudah begini, Dani akan disalahkan oleh orang tuanya yang tinggal bersamanya semenjak Delita menginjak usia kandungan trimester kedua, dan lagi...Dani gagal mencari anak-anaknya.


***

__ADS_1


POV Delita


"Aku akan terus mengukir waktumu sampai Rania pindah dari paviliunnya. Dan kamu Dani, jangan harap bisa menemui anak-anak kamu lagi. Rasakan!" Gumam Delita.


__ADS_2