100 Hari Pertama Menjadi Janda

100 Hari Pertama Menjadi Janda
Dejavu Pina


__ADS_3

Azka segera memasuki rumah yang tidak terkunci itu. Setengah berlari mencari kamar milik Fika. Ia tak menemukan Fika dikamarnya. Kamar bercat biru muda dengan ornamen berwarna pink khas kamar perempuan.


Suara gemercik air terdengar dari arah kamar mandi. Namun, tak terdengar aktivitas orang disana. Langkah Azka mendekat dan mencoba memastikan. Pintu kamar mandi di dorong, namun terkunci dari dalam. Dia berusaha untuk menjadi fentilasi kamar mandi, dan menaiki sebuah bangku untuk menjangkau dan melihat kearah dalam kamar mandi.


"Fika....!!!" Azka berteriak memanggil-manggil nama Fika yang terduduk lemah di lantai kamar mandi.


Segera Azka keluar rumah untuk mencari pertolongan dari warga sekitar.


Tak butuh waktu lama untuk bisa mendobrak pintu itu.


Ditangan Fika terdapat test pack yang telah terpakai dengan dua garis merah yang nyata. Sedangkan lengannya, mengalami luka akibat sayatan benda tajam. Fika baru saja melakukan percobaan bunuh diri. Azka segera membawanya ke rumah sakit. Sedikit saja terlambat, maka ia akan mati kehabisan banyak darah!


###


Fika mencoba membuka matanya, ia berharap ia sudah tidak lagi berada di dunia yang kejam padanya.


Sayup-sayup ia mendengar suara seseorang memanggil namanya. Ketika matanya terbuka, ada wajah penuh harapan, wajah yang menyambutnya dengan keteduhan.

__ADS_1


"Bangunlah, nak!"


Fika mencoba membuka matanya yang terasa begitu berat. Ia merasakan usapan lembut di kepalanya. Dan ketika matanya benar-benar terbuka, dilihatnya sang ayah berdiri tepat disampingnya. Ia berusaha untuk mengangkat kepala dan memeluk erat ayahnya. Namun, tidak berhasil, Fika begitu lemah dan tidak berdaya.


Ayah Dani yang kali ini memeluk erat Fika. Keduanya larut dalam tangisan masing-masing. Tangisan kerinduan ayah Dani, dibayar dengan tangis pili dari Fika.


###


Proses pemulihan Fika jalani hanya dengan terbaring di tempat tidur. Namun itu cukup membuatnya bahagia, karena ayah Dani dengan setia mendampinginya siang ataupun malam. Bahkan, ayah Dani menyambut dengan suka cita anak yang dikandung Fika. Meskipun Fika tidak.


Andai ia memiliki tenaga, ia ingin menggugurkan kandungannya dan membalaskan dendam kepada laki-laki yang telah melemahkannya. Namun sayang, dokter mengharuskannya untuk beristirahat total. Karena ia baru saja mengalami kehabisan darah yang cukup banyak.


"Apa kabarmu, Fika?" Ucap Rania sambil berurai senyum.


Fika bahkan tidak tau, apakah keramahan ini berasal dari ketulusan hati, ataukah kepuasan karena lawannya telah gagal mendidik putri semata wayangnya. Namun, demi menjaga perasaan sang ayah, ia berusaha untuk seramah mungkin.


"Kabar baik Tante!" Ucap Fika halus.

__ADS_1


"Aku bawakan puding buah untuk kamu, Fik!" Ucap Rania sambil menyodorkan kotak tersebut.


Fika tersenyum menerimanya. Sejenak mereka saling diam.


"Aku ikut prihatin dengan keadaan kamu, Fik" Ucap Rania sambil duduk di samping ranjang.


"Seharusnya ini tidak terjadi, Fika!". Ucap Rania mengatur nafas yang mulai sesak akibat berbagai perasaan yang datang.


Fika terdiam . Sudah terbiasa baginya dihakimi oleh orang yang tidak berada pada posisinya.


"Sejarah itu terulang kembali. Karma itu terjadi!" Ucap Rania dengan ketus.


Rasanya busur panas ditancapkan begitu saja oleh seorang Rania. Seberapapun hebatnya Rania memaafkan, rasa sakit itu tidak mudah untuk hilang.


"Apakah Tante datang hanya untuk menghinaku?" Tanya Fika dingin.


Rania membalas tatapan dingin Fika dengan senyuman yang dipaksakan. Ia seperti berhadapan dengan Pinda dimasa lalu .....

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2