100 Hari Pertama Menjadi Janda

100 Hari Pertama Menjadi Janda
Bagian 18 Metamorfosa Rania POV JEAN


__ADS_3

Hari ini, hari ke 21 Rania menjadi janda.


Dua puluh hari yang lalu adalah masa-masa suram yang harus ia lewati. Pekan pertama, ia perjuangkan untuk mengurus sidang banding perceraian. Pekan kedua ia habiskan untuk melalui proses sidang banding yang berakhir dengan kemenangan, namun gagal saat mengambil anak-anak yang sejak proses perceraian ada dalam kuasa Dani. Hampir lebih dari sepekan ia habiskan di bangsal rumah sakit dengan diagnosa Sindrom Respon Stres akibat perceraian.


Aku mengikuti perkembangan psikologis Rania pasca perceraian nya. Aku sangat iba melihatnya. Sejak seorang karyawan yang merupakan tetangga Rania ketika tinggal di kontrakan, entah mengapa hatiku tergerak untuk menolongnya.


Setelah lama tak mendengar kabar dari Rania karena handphone nya sudah tidak aktif lagi, aku mendapat kabar dari Sofi, tetangga Rania yang bekerja sebagai cleaning servis di toko ku, bahwa Rania mengalami kecelakaan tunggal. Aku berpesan pada Sofi untuk menyampaikan bahwa aku membutuhkan Rania untuk menjadi Baker tetap. Aku membuka dua cabang baru di Depok dan Bogor. sehingga membutuhkan lebih banyak suplai kue ready stok di outlet baruku itu. Alhamdulillah Rania bersedia hadir ke kantorku.


Aku terkejut saat Rania pertama hadir ke kantorku Wajahnya pucat pasi dan mata bulatnya seperti memancarkan kesedihan yang teramat dalam. Tanggalnya sedikit gemetar dan bibirnya kering. Sepertinya ia tidak kemasukan makanan sejak pagi, atau ia habis mengalami sesuatu yang berat tadi. Maka, aku menyuruh asistenku untuk menghidangkan aneka kue, jus dan seporsi nasi Padang dengan lauk rendang ukuran large. Aku tinggalkan Rania di ruangan sendirian. Aku berpamitan hendak meeting sebentar. Meskipun sebenarnya hari itu tak ada jadwal meeting. Aku hanya ingin melihat Rania makan dengan lahapnya.


Benar saja, saat itu Rania makan dengan lahap. Seporsi nasi Padang ukuran large habis disantap. Aku juga menyaksikan ia berwudhu dan melaksanakan ibadah sholat. Cukup lama ia di mushola. Seperti ada do'a-do'a panjang yang ia panjatkan pada Allah untuk membantu dia menghadapi masalah yang menjeratnya saat ini.


Waktu itu, Rania telah bekerja menjadi baker di toko kue Latifaa Group selama sebulan penuh tanpa mengambil jatah libur. Kemudian ia mengajukan cuti 2 hari untuk menghadiri sidang banding perceraiannya. Aku pun memberi ijin. Namun jujur hati tak tenang. Sehingga aku menyuruh seorang asistenku, Bilal, untuk mengikuti Rania.


Benar saja...Rania mengalami penindasan lagi. Saat ia diseret paksa oleh orang suruhan Dani. Rania pingsan dan tergeletak dijalan. Bilal yang mendapati Rania tergeletak dijalan, berinisiatif membawa Rania ke Rumah Sakit. Bilal pun segera melaporkan hal ini padaku. segera aku menyusul Rania ke Rumah Sakit yang telah disebutkan Bilal.


Keadaan di Rumah Sakit amat menghawatirkan. Mulanya Rania hanya mengigau memanggil nama anaknya. Namun, tak lama berselang, Rania mengamuk dan berteriak-teriak. Perawat yang ada di dalam ruang Rania serang. Seorang perawat terkena sasaran cakaran Rania. Hingga mengalami beberapa luka.


Akhirnya, Rania di pindahkan ke sebuah bangsal Rumah Sakit jiwa. Kedua lengannya terpaksa diikat. Rania juga mendapatkan suntikan obat penenang. Aku begitu mengkhawatirkan nya. Sehingga aku putuskan mengabarkan ayah Rania.


Ketika ayah Rania datang, Alhamdulillah keadaan Rania lebih stabil. Bahkan Rania kembali bersemangat bekerja.


Ini adalah hari pertama Rania bekerja. Ia nampak rapih dengan kostum barunya sebagai Co Baker. Ya, selama beberapa bulan menjadi freelencer baker, kemudian menjadi karyawan tetap, kinerjanya sangat memuaskan. Bahkan Rania mampu membuat beberapa resep baru. Sebenarnya, untuk menjadi Co Baker, harus melewati satu tahun masa kerja. Akan tetapi, aku kekurangan tim inovator resep yang biasa dilakukan Co Baker. Akhirnya aku membuat tes kenaikan jabatan untuk mengisi kekosongan Co baker. Siapapun boleh mendaftar, tidak terkecuali karyawan baru. Dan, berdasarkan analisis Human Resource, Rania lolos tes.


Rania terlihat cantik mengenakan kostum Co Baker. Jujur, aku tak pernah melihat Rania secantik ini. Tubuhnya memang tak terlalu tinggi dan tidak langsing. Namun, Rania terlihat imut dari usianya. Setiap orang yang melihat mata Rania, akan setuju bahwa matanya memancarkan aura yang menyatakan bahwa wanita ini cerdas.

__ADS_1


"Rania, selamat bekerja menjadi Co Baker. Saya harap, kamu bisa menjadi Rania seorang Baker handal yang mampu mendukung perkembangan bisnis Latifaa Bakery"


Ucap ku menyambut Rania yang telah bersiap masuk ke ruang produksi.


"Trimakasih Pak Jean. Suatu penghormatan bagi saya, Bapak telah memberi kepercayaan kepada saya untuk menjadi Co Baker. Insyaallah saya akan berkerja semaksimal mungkin agar bisa mendukung Latifaa Bakery, seperti yang bapak harapkan". Ucap Rania tegas.


Kata-kata yang Rania ucapkan, mampu membuat hatiku tertegun. Matanya yang bulat memancarkan aura seorang yang percaya diri.


Ah...siapkah Rania yang ku anggap lemah itu?


apakah Rania telah berubah ?


atau, aku baru saja mengenalnya?


Seharian aku mondar mandir ke ruang produksi. Padahal biasanya hanya sesekali saja. Karena biasanya ada manager produksi yang akan mengecek. Tapi kali ini entah mengapa, aku selalu ingin ikut campur ke bagian produksi.


"Apa ini, Rania"


Rania terkejut dengan kedatanganku yang tak diketahuinya. Aku sengaja masuk tanpa mengucap salam. Berjalan perlahan agar suara sepatuku tak mengganggu konsentrasinya.


"Oh...Pak Jean. Ini tadi saya mencoba membuat dua resep baru puding"


Jawab Rania. Senyum manisnya memancar dan mampu membuah hati ku bergetar. Semenjak istriku meningal dunia akibat melahirkan putri kami. Aku tak pernah merasakan lagi hati berbunga.


"Puding apa? coba presentasikan" Ucapku basa-basi untuk menghilangkan perasaanku yang tak menentu.

__ADS_1


"Pak, bukannya presentasi produk dilakukan di ruang manajemen setelah produk di uji testimoni ya pak?"


ah...Rania benar. Ada prosedur sebelum suatu produk di presentasikan didepan management.


"Iya, tapi aku mau dengar sekilas aja tentang produk ini, Rania". Ucapku sambil meledek Rania. Ku comot kue yang sudah di packing rapi.


"Loh pak...itu...itu..." Rania terkejut. Wajahnya ingin marah tapi tak enak hati.


"Apa...gak boleh...?"


Rania terdiam ...


"Kan aku bos nya hahaha...."


Aku tertawa sambil terus membuka bungkus kue itu, dan happp melahapnya.


Rania akhirnya ikut tertawa.


"Ayok segera selesaikan pekerjaanmu. Kasihan Pak Tino nungguin kamu buat mengunci ruangan, jangan terlalu rajin!" bisik ku dan kami pun tertawa.


"Rania, aku tunggu di parkiran ya, temani aku makan lalapan bebek goreng di warung lesehan seberang toko!" Ucapku sambil berlalu meninggalkan nya.


"Siap, pak" sahut Rania.


"Tapi kamu yang traktir ya Rania...!" Ledekku

__ADS_1


Rania memanyunkan bibirnya. Terlihat lucu dan menggoda...


🤗🤗🤗🤗 semangati aku untuk terus nulis ya... klik like sebanyak-banyaknya ❤️


__ADS_2