100 Hari Pertama Menjadi Janda

100 Hari Pertama Menjadi Janda
Masa lalu : Delita. Habis


__ADS_3

Rania mencoba untuk tetap sadarkan diri. Meski darah di bahunya telah mengucur membasahi pakaiannya. Ia memalingkan wajah. Ia mampu melihat dengan jelas siapa yang telah menikamnya.


"De...Delita!!!!"


Beberapa detik kemudian. Ia kehilangan kesadaran.


Delita berlari menuju keluar gedung. Ada beberapa tukang ojek pangkalan yang melihat tangan Delita berlumuran darah, kemudian mengejar dan berhasil menangkap Delita.


***


Di Kantor polisi. Perempuan itu terduduk dengan tatapan kosong. Sesekali ia tertawa cekikikan.


"puas kamu Rania...puas!!!!"


sesekali Delita menyebut-nyebut nama Rania dan menyuruhnya untuk ke neraka.


Delita belum dapat menjalani interogasi. Ia yang sebelumnya masih bisa diajak komunikasi, tiba-tiba tidak bisa. Tekanan mental yang ia alami begitu berat. Hingga ia tak mampu mengendalikan emosinya sendiri.


Sedangkan Rania, ia dibawa oleh staf yang berjaga malam dan beberapa tukang ojek yang menjadi saksi penikaman tersebut.


Rania sadarkan diri setelah beberapa jam pingsan. Untung saja luka yang ia terima tidak mengenai organ vitalnya. Ia segera menghubungi Jean.


"Aku akan segera menjemputmu, ma!"


Ucap Jean yang terdengar panik. Ia sebenarnya tidak setuju Rania berangkat sendiri ke Semarang. Namun, Chantika tengah mengikuti Ujian Sekolah, sehingga anak-anak tidak bisa mengikuti Rania ke Semarang. Mereka membagi tugas, Jean mengurus anak-anak di rumah, sedangkan Rania berangkat sendiri.


"Yah. Tidak usah. Aku hanya mengalami cidera ringan. Delita hanya menikam ku 1 kali. Sepertinya hanya untuk meluapkan emosinya saja. Sebab jika berniat mencelakai, tentu ia akan menikam ku berulang kali".


Ucap Rania. Tentu malam itu semua bisa terjadi. Delita memegang sebilah parang dan juga kayu ditangan kirinya. Rania yang alergi melihat darah, tubuhnya lemas begitu saja saat melihat parang telah diayunkan kearah bahunya. Ia sempat berpikir bahwa Delita akan membunuhnya. Namun ternyata tidak ia lakukan. Rania menyadari ada tekanan dalam jiwa Delita.


Rania juga menghubungi Dani, ia harus tau bagaimana kondisi istrinya itu saat ini.


"Assalamualaikum mas Dani. Ini Rania"


Sebuah pesan suara ia kirimkan kepada Dani. Tangannya tidak bisa ia gunakan untuk mengetik pesan.


"Iya, Rania. Wa'alaikumsalam. Lama tidak bersua kabar"


Ya. Dani dan Rania telah lama tidak bersua kabar langsung. Karena Azka dan Zidan telah bisa mengoperasikan handphone, sehingga mereka bisa leluasa langsung menghubungi ayahnya jika rindu, begitu juga Dani.


"Ya mas. Aku berada di Semarang saat ini".


Ucap Rania.


"Ada keperluan kerja, Ran?"


"Ya mas, dan aku bertemu dengan istrimu, Delita!"


Pesan cukup lama tidak terbalas oleh Dani.


Rania mengirim gambar dirinya tengah dirawat di sebuah ruangan Rumah Sakit. Tak lupa ia menulis keterangan.


"Mas, Delita mengalami gangguan jiwa. Dia menikam ku!"


Tak lama, Dani melakukan Vidio Call dengan Rania.

__ADS_1


Rania tidak mengalami luka yang terlalu berat. Sehingga ia diijinkan untuk rawat jalan..


***


"Bu Rania, ada yang ingin bertemu dengan anda".


Ucap salah satu staf saat Rania tengah menghadiri sesi konseling klasikal. di salah satu ruang gedung LSM. Rania telah pulih, meski ia harus menunggu sampai putusan pengadilan, apakah kasus Delita akan dilanjutkan ke meja hijau, ataukah ditutup karena tersangka mengalami gangguan mental.


Rania keluar dari ruangan. Menuju ke ruang tamu yang ada di bagian depan gedung.


"Mas Dani!"


Ia bergumam. Matanya melihat sosok laki-laki yang kini terlihat lebih tua dari yang ia lihat sebelumnya.


Dani membalikkan tubuhnya. Melihat sosok Rania yang baginya juga telah banyak berubah. Perempuan yang dikenalnya dulu kini tak lagi sama. Penampilan Rania menjadi sangat elegan, seperti orang kantoran pada umumnya. Wajahnya terlihat fresh dengan make up tipisnya.


Ternyata perempuan cantik itu bisa dibentuk. Namun, perempuan yang baik itu adalah karakter!!!


Rania duduk berhadapan dengan Dani. Ada meja yang membatasi mereka. Dani terlihat gugup melihat Rania. Sedangkan Rania terlihat tenang. Lengannya masih mengenakan perban.


"Kamu masih sakit?"


Tanya Dani memulai perbincangan.


"Ya. Sedikit!"


Jawab Rania.


"Delita harus dihukum atas perbuatannya!"


"Aku telah mencabut berkas laporan kriminalnya. Delita saat ini berada di RSJ Magelang dan menjalani perawatan Jiwa!"


Ucap Rania dengan nada datar. Ia kecewa dengan sikap Dani, yang sepertinya menyalahkan keadaan istri. Padahal Delita seperti itu karena tidak ada pendampingan dari Dani.


"Mengapa kamu mencabut berkas Delita. Bukankah dia menyakitimu?!"


Tanya Dani seolah ada di pihak Rania.


"Dia melakukan itu tanpa sadar. Ia tentu tidak ingin melakukannya. Jika dia mau, saat itu dia bisa saja membunuhku. Tapi dia hanya menikamku!"


Hening sesaat.


"Dia butuh kamu mas...kamu sebagai suaminya!"


Dani masih terdiam.


"Aku juga telah bertemu dengan anakmu, darah daging mu, Abil!"


Ucap Rania sambil menatap tajam mata Dani.


"Dia juga sama keadaannya. Sangat memprihatinkan. Diasuh oleh nenek yang mengalami gangguan kesehatan mental. Sama tertekannya dengan Delita. Bahkan Bu Yayu dijauhi oleh masyarakat sekitar karena memiliki seorang anak yang pelakor dan cucu yang cacat!"


"Mungkin mereka menganggap bahwa anak cacatnya hasil dari sebuah perselingkuhan!"


Ucap Rania ketus.

__ADS_1


Dani seketika menunduk menutupi pandangannya. Seolah tengah dihakimi oleh Rania.


Mata Rania membulat. Ia melihat karma terjadi didepan mata. Empat tahun setelah perceraiannya dengan Dani, rupanya, Dani masih memetik karma dan kehancuran yang bertubi-tubi. Ia pikir Dani akan bahagia dengan apa yang dimiliki. Bahkan Rania tidak pernah mengusik nafkah bagi kedua buah hatinya, sebab tak ingin ada lagi cerita tentang Dani.


Namun, rupanya kehidupan Dani penuh liku dan karma..


"Aku dan Delita telah bercerai, Rania. Aku menceraikannya tiga tahun yang lalu. Saat aku mengetahui ia tidak mengurus Abil dan memilih untuk selingkuh dengan mantan kekasihnya. Delita bahkan tak pernah menjengukku saat di penjara. Aku sangat kecewa padanya!"


Dani diam sesaat. Rania tertawa didalam hati, si tukang selingkuh ini, ternyata merasakan juga rasanya diselingkuhi!


"Aku telah berusaha menafkahi Abil. Tapi Bu Yayu seakan tidak pernah melihat usahaku. Ia tak pernah merasa cukup dengan nominal yang aku berikan. Tetap saja kurang. Berapapun!!!"


Ucap Dani dengan Nada kesal.


"Sejak itu, aku tidak pernah lagi menghubungi Delita, dan membiarkannya membesarkan Abil sendirian".


Rasanya Rania ingin tertawa mendengar kisah pilu tentang Dani, dan Rania benar-benar tertawa kecil. Ini masih di dunia, tapi Tuhan memberikannya bonus untuk melihat sebuah balasan bagi mereka yang dholim terhadap orang lain.


Di akhirat? entahlah...


Rania berusaha kuat untuk menahan. tawanya dan belajar bersikap dewasa.


"Datanglah pada Bu Yayu. Ambil Abil. Karena dia satu-satunya anakmu yang akan menemanimu saat usia senja nanti!"


Ucap Rania. Dengan ucapan itu, ia juga menegaskan sekaligus. Bahwa Azka dan Zidan, tidak akan ia biarkan untuk merawat Dani, pria yang sulit untuk bertanggungjawab atas apa yang di pikulnya. Meski hanya 1 istri dengan 1 anak. Bagaimana dengan 2 anak?!, pikir Rania.


Ia tentu ingin anak-anaknya tumbuh seperti Jean. Lelaki sederhana itu penuh tanggung jawab. Menjadi bapak sambung untuk 2 anak, plus 1 anak kandungnya.


Dani memelas iba pada Rania. Ia seperti ingin mendapatkan simpati dari Rania. Mengajaknya mengobrol dan menjadi teman curhatnya.


"Aku tidak ingin lebih, Rania. Hanya ingin kita mengobrol seperti dulu!"


Ucap Dani memelas.


"Ini sebab aku menutup akses komunikasi kita. Aku hanya ingin mengingatkanmu untuk bertanggung jawab terhadap anakmu, kamu malah meminta lebih!"


Ucap Rania kesal..


"Tidak!, aku tidak akan pernah menyakiti perasaan suamiku. Maaf aku masih banyak pekerjaan!"


Ucap Rania seraya meninggalkan Dani sendirian.


***


Rania telah bersiap pulang ke Lumajang, saat salah seorang staf bermaksud untuk mengabari Rania tentang kondisi Delita.


Dani datang untuk Delita. Membantu Bu Yayu untuk mengurus Delita dan juga mengasuh anak mereka, Abil.


Dani menyekolahkan Abil di sebuah SLB terbaik di kota Semarang. Sedangkan Bu Yayu lebih banyak di RSJ menemani Delita.


Begitulah karma mengajari manusia, untuk kembali pada fitrahnya. Tak ada manusia yang benar-benar lemah dan tak ada yang sangat kuat untuk melemahkan manusia lainnya!!!


Selesai....


Jangan lupa mampir lagi ya ..masih ada kisah lainnya🤗

__ADS_1


__ADS_2