100 Hari Pertama Menjadi Janda

100 Hari Pertama Menjadi Janda
Dinda Bagian 4 : Arti sebuah Keperawanan


__ADS_3

Niken menyadari kedatangan Dinda. Namun, mengapa Dinda tak kunjung masuk, padahal hujan mulai turun di kita Bandung. Niken memutuskan untuk keluar rumah dan melihat apa yang terjadi pada Dinda.


"Dinda...kamu baik-baik saja?"


Tanya Niken yang menyadari bahwa ada yang tidak beres pada Dinda.


Dinda menoleh pada Niken, sambil menyapu air mata yang telah bercampur dengan hujan.


Dinda berlari menuju Niken, dan menghempaskan tangisnya disana. Niken belum mengetahui apa yang terjadi pada Dinda. Namun, ia berusaha menenangkan adik sepupunya itu.


Niken menuntun Dinda hingga ke kamar. Menyuruhnya mandi agar lebih segar dan bisa melihat masalah dengan kepala dingin. Niken pun membuatkan secangkir teh hangat untuk Dinda, sambil membujuknya untuk bercerita. Sejak beberapa bulan setelah Dinda mengikuti banyak kegiatan kerja dan kuliah, ia tak sekalipun melihat Dinda menangis. Tanda bahwa Dinda telah sembuh dari traumanya. Namun, pemandangan kali ini, seperti terlihat Dinda yang baru saja datang dari Lumajang.


Setelah tenang, Dinda mulai mau mengutarakan apa yang telah terjadi pada dirinya dan ketakutan-ketakutannya.


"Bagaimana aku mampu menjelaskan status ku pada Pras. Bagaimana jika dia menolak masa laluku... Apakah aku siap untuk kehilangannya, kak?"


Niken terdiam. Ia juga bingung memberi saran. Apakah ia akan menuntun Dinda untuk jujur, atau tak perlu jujur.


"Dinda...jujur aku juga memiliki ketakutan yang sama denganmu, saat Pras mulai menunjukkan perhatiannya padamu. Entah apa yang harus aku sarankan padamu, Dinda".


Niken dan Dinda saling terdiam beberapa saat.


"Dinda, sebaiknya kamu istirahat dulu saja. Nanti jangan lupa sholat tahajud, kita sama-sama minta petunjuk pada Allah. Semoga Allah memberi kita jalan keluar yang baik. Jika Pras memang jodohmu, tentu akan ada jalan yang mudah dilalui hingga ke pelaminan nanti. Namun, jika Pras bukan jodohmu, maka kamu harus siap dengan konsekuensinya".


Percakapan mereka pun berakhir. Niken kembali ke kamarnya, namun dengan membawa perasaan berkecamuk. Dengan susah payah ia berusaha membangkitkan semangat hidup Dinda dalam melewati 100 hari pertamanya. 100 hari yang ia lewati dengan berusaha tegar melawan trauma masa lalunya. Ia tak rela jika usahanya ini sia-sia, hanya karena laki-laki baru yang hendak masuk ke dalam kehidupannya.


Niken mengambil ponselnya. Mencari nomer ponsel Rania. Lama mereka tak saling bersua kabar karena kesibukan masing-masing.


"Assalamualaikum, Rania..."


Waktu menunjukkan pukul 22.30. Rania telah selesai menidurkan anak-anaknya. Chantika kini bisa tidur sendiri di kamarnya, seperti kakak-kakaknya yang telah tidur terpisah dari orang tuanya sejak kelas 1 Sekolah Dasar.


Rania hendak mematikan jaringan internet. Kebiasaan yang dilakukan sebelum tidur, agar bisa istirahat dengan maksimal. Namun, karena yang mengirim pesan adalah Niken, maka ia segera membalas pesan tersebut.


"Walaikumsalam. Iya, Niken. Ada yang bisa saya bantu...?"


Niken pun menceritakan ulang tentang apa yang terjadi pada Dinda. Maka, Rania pun segera membuat agenda untuk konseling bersama Dinda. Bisa saja, Rania memberi tahu Niken solusi terbaik yang menurutnya bisa diberikan kepada Dinda. Namun, pukul 22.30 menandakan tubuh waktunya istirahat, konsentrasi seseorang menurun. Ia tidak ingin salah memberikan bantuan konsultasi pada klien-kliennya, sehingga ia memutuskan untuk menjadwalkan konseling virtual keesokan harinya.


***


Pukul 08.00 Rania telah tiba di kantor LSM. Ia segera membuat rencana kegiatan hari itu. Ada jadwal konsultasi bersama Dinda yang ia selipkan diantara banyaknya klien yang kini harus i tangani dalam satu hari.


Pukul 09.30, jadwal yang dijanjikan untuk Dinda berkonsultasi. Diseberang sana, Niken telah siap mendampingi Dinda saat sesi konseling. Ya, kehadiran keluarga adalah kunci keberhasilan sebuah konseling. Meskipun ada 1000 konsultan dan psikolog yang mendampingi, namun, satu orang keluarga lebih dibutuhkan kehadirannya.


"Dinda, harus aku sampaikan padamu. Bahwa ini adalah bagian hidupmu yang tetap harus kamu jalani. Memutuskan untuk sendiri dalam jangka waktu lama, itu tak baik. Kamu dan saya, sama-sama membutuhkan sosok imam yang mampu membimbing kita pada kehidupan yang bahagia. Percayalah, laki-laki yang baik, akan menghargai kejujuran mu. Dia menerima ataupun menolak masa lalu mu, itu adalah bagian dari takdir. Tuhan yang punya hak untuk menggerakkan hatinya untuk menerima ataupun menolaknya. Jika dia menerima, maka Pras adalah jodohmu. Namun, jika tidak, Allah akan menyiapkan laki-laki lainnya sebagai jodohmu nanti. Berkata jujurlah padanya. Namun aku sarankan, sebelum berbicara jujur padanya, aku sarankan kamu menyiapkan mental mu dulu. Jangan mencintai terlalu dalam. Agar sakitnya tak terlalu dalam".


***


Dinda merasa lebih pasti dengan apa yang akan ia lakukan. Setelah tahajud semalam pun ia mendapatkan petunjuk yang sama. Ingin jujur dan harus segera jujur, agar tak ada yang merasa di beri harapan dan tak terlalu dalam sakit nantinya.


Pesan singkat dari Pras sudah mencapai 30 pesan yang belum terbaca. Dinda tidak siap untuk membaca isi pesan itu. Dinda memilih untuk menekan tombol end chat pada chat yang dikirimkan Pras.


Setelah sesi konsultasi dengan Rania. Dinda pun akhirnya memberanikan diri untuk bertemu dengan Pras, guna menjelaskan mengenai apa yang terjadi pada dirinya semalam.


Pras menemui Dinda di sebuah cafe di pinggiran kota Bandung. Ia memilih lokasi ini karena Pras tengah melakukan sesi pemotretan untuk sampul sebuah majalah keluarga.


"Din...maaf ya sudah membuatmu menunggu lama"


Sapa Pras yang membuyarkan lamunan Dinda.

__ADS_1


Dinda tersenyum menyambut Pras.


"Iya tidak apa Pras. Maaf sudah mengganggu waktumu".


Jawab Dinda. Ia terlihat tenang, ketenangan yang selalu dilihat Pras, sebelum kejadian malam itu.


"Aku yang berterimakasih padamu, Dinda. Aku butuh penjelasan darimu tentang apa yang terjadi malam itu".


Ucap Pras. Perbincangan terhenti sesaat setelah seorang waiters menyuguhkan kopi latte pesanan Dinda dan Pras. Selera mereka sama. Kopi latte panas.


"Aku ingin mengenalkan diri padamu. Tentang siapa aku seutuhnya. Sesuatu yang belum kamu ketahui sebelumnya".


Hati Pras semakin tidak menentu. Ia tak mampu menebak apa yang hendak dijelaskan oleh Dinda.


"Aku sudah tidak perawan, Pras. Aku telah menikah sebelumnya".


Suara Dinda terasa berat. Terasa ada yang menyumbat kerongkongannya.


Pras terlihat syok. Ia pun sama, tidak mampu berkata apa-apa. Berusaha tetap tenang, menunggu penjelasan berikutnya dari Dinda.


"Aku menikah saat usiaku masih belasan tahun. Dinikahkan secara siri, dan kemudian tidak diresmikan secara negara, meskipun pernikahan telah beberapa tahun lamanya, dan usiaku cukup untuk maju ke meja KUA. Justru saat itu aku ditinggalkan, dicampakkan begitu saja, demi perempuan lain".


Dinda mulai menitikkan air mata yang sudah ia pertahankan semenjak awal cerita.


Mereka sama-sama terdiam. Pras tertunduk. Hatinya seperti hancur. Ia tak mampu mencerna dengan apa yang dijelaskan oleh Dinda. Jangankan mengatakan bahwa dirinya menerima ataupun menolak. Ia bahkan ingin bahwa penjelasan itu tidak pernah terjadi. Karena merasa tak siap dengan kenyataan.


"Mengapa kamu menikah dini, Dinda?"


Tanya Pras dengan lirih. Sempat ada rasa curiga bahwa Dinda menikah karena accident alias hamil diluar nikah.


"Aku menikah karena sebuah budaya di tempat tinggal ku. Budaya yang dianggap biasa dan biasa untuk solusi keluar dari beban orang tua".


Hening kembali.


Lagi. Pras mengajukan pertanyaan, namun tetap dalam posisi yang sama, tertunduk lesu.


"Kami telah bercerai. Menikah secara agama dan bercerai pun secara agama. Hanya ada selembar kertas talak yang dibuat dengan tulisan tangan oleh mantan suamiku, yang disaksikan oleh keluarga. Tak ada akte cerai, dan status di KTP ku adalah gadis. Namun, tidak lagi perawan".


Dinda terdiam, kemudian larut dalam isak tangis. Tak ada kata-kata yang keluar dari keduanya.


"Dinda, aku antarkan kamu pulang sekarang".


Ucap Pras dengan nada lesu. Hatinya bergemuruh tak menentu. Gemerlap lampu cafe malam itu, tak mampu menandingi gelap malam nan kelabu.


Hati Dinda terasa sakit. Namun ia merasa lega karena telah berkata jujur pada Pras. Ia pasrah jika memang harus kehilangan Pras.


Sejak malam itu. Sikap Pras terasa dingin pada Dinda. Meski mereka masih terlibat dalam project yang sama. Dinda perlahan mulai terbiasa dengan sikap Pras. Tanpa harus dijelaskan. Dinda tau, Pras sedang berusaha untuk menjauh.


Dinda pun tak lagi meminta jemputan pada Pras. Ia belajar mengendarai sepeda motor. Dengan uang hasil tabungannya, ia berhasil membeli sebuah sepeda motor matic bekas. Lumayan, untuk mobilitas ke kampus dan lokasi pemotretan prewedding. Setidaknya, ia tak akan lagi bergantung pada Pras.


***


"Kenapa sepeda motormu, Din?"


Suara seseorang mengaburkan kejengkelan Dinda saat mengetahui ban sepeda motornya bocor. Hari sudah semakin gelap. Tentu tak ada tukang tambal ban yang masih buka. Dinda menggerutu sendiri. Mengapa ban motor ini tak bersahabat, bocor disaat yang tidak tepat.


Dinda melirik ke sumber suara.


"Pras..."

__ADS_1


Gumamnya.


"Ban sepeda motorku kempes. Sepertinya bocor!"


Imbuh Dinda. Hatinya sebenarnya bergetar. Ah...masih saja ia belum bisa move on dari pria itu. Lain di mulut, lain di perasaan.


Pras turun dari sepeda motornya.


"Coba ku lihat"


Ucap Pras mengecek ban sepeda motor Dinda.


"Iya, ban sepeda motormu tertancap paku. Biar ku bantu dorong. Kamu naik sepeda motorku dulu".


Sepeda motor Pras juga berjenis matic, sehingga tak kesulitan bagi Dinda untuk mengendarainya.


"Lalu kamu, Pras?"


"Biar aku dorong. Di depan ada tambal ban. Semoga saja masih buka. Kamu tunggu disana".


Ucap Pras sambil mulai mendorong sepeda motor Dinda. Dinda pun menuruti keinginan Pras. Terlalu banyak bicara akan mengukur waktu lebih lama. Sedangkan hari sudah hampir menjelang magrib.


Kurang lebih 300 meter akhirnya Dinda sampai di tempat tambal ban. Tempat itu hampir saja tutup, Dinda meminta bapak pemilik tambal ban untuk menunggu sepeda motornya tiba. Untungnya si bapak mau menunggu.


Dari kejauhan, Dinda melihat Pras dengan susah payah mendorong sepeda motor miliknya. Jalanan agak menanjak, tentu membutuhkan tenaga lebih untuk bisa mendorong sampai tempat tambal ban.


Dinda iba melihat peluh di kening Pras. Ia memberikan selembar tisu dan sebotol air mineral yang selalu ia bawa di tasnya pada Pras.


"Din, kita sholat dulu yuk, sambil menunggu ban motormu di perbaiki".


Mereka pun memutuskan untuk singgah di sebuah masjid yang tak jauh dari lokasi itu.


Dinda tertegun. Mengapa semua seolah lebih indah ketika bersama Pras. Ia telah berusaha mandiri, tanpa Pras. Namun, ternyata ia masih sangat membutuhkan Pras yang hampir selalu ada kala dibutuhkan.


***


"Dinda, hari sudah terlanjur malam. Aku akan mengantarkan mu pulang".


Ucap Pras saat keduanya keluar dari masjid.


"Tak mengapa, Pras. Aku bisa pulang sendiri".


Ucap Dinda berusaha menolak dengan halus. Namun, dalam hatinya, ia tak berani pulang sendiri dalam keadaan hari yang mulai gelap. Perjalanan menuju rumah akan ditempuh lebih dari 30 menit.


"Aku akan tetap mengantarmu pulang, Din. Bahaya perempuan pulang sendiri malam begini".


Akhirnya Dinda pun menuruti Pras. Mereka pulang bersama, meski dengan kendaraan yang berbeda. Pras mengikuti Dinda dari belakang. Sesekali tatapan Dinda mengarah pada kaca spion. Pras sangat sabar membuntutinya. Kendaraan sengaja ia laju selambat mungkin. Hanya diikuti dari belakang saja sudah berhasil membuat Dinda bahagia.


"Dinda, aku boleh menjemputmu besok?"


Ucap Pras saat telah sampai di rumah Dinda.


Dinda diam sejenak. Ia tak tau harus menjawab apa. Ia merasa sudah baik-baik saja. Belajar menerima bahwa Pras bukanlah jodohnya.


"Pras. Apa yang bisa aku harapkan dari kedekatan kita?"


Tanya Dinda dengan penuh kehati-hatian, satu sisi ia sangat mengagumi Pras. Sisi lainnya, ia takut kecewa untuk kedua kalinya.


Hening sesaat. Pras tetap ditempatnya, diatas sepeda motornya, Menunduk.

__ADS_1


Dinda harap-harap cemas.


Bersambung ...


__ADS_2