100 Hari Pertama Menjadi Janda

100 Hari Pertama Menjadi Janda
Firasat


__ADS_3

Sore itu, tidak seperti biasanya, Ayah Dani menunggu kepulangan Azka dari kantor. Ayah Dani sudah beberapa lama telah tinggal bersama Azka dan Zidan, di rumah yang dibangun oleh Ayah Jean.


Ayah Jean memang laki-laki yang luar biasa. Ia bahkan tidak menolak jika Mama Rania datang menjenguk anak-anaknya, meskipun di rumah yang sama terdapat ayah Dani. Tentu, ayah Jean akan ikut serta mendampingi kemanapun mama Rania pergi. Mereka seperti sepasang sejoli yang sedang dimabuk asmara setiap waktu.


Cinta yang mereka bangun, mengajarkan anak-anak tentang kasih sayang hingga akhir hayat. Cinta yang tidak mutlak, namun harus dibagi sesuai porsi. Berbagai bukan berarti mengkhianati, sebab cinta yang benar-benar mutlak itu hanya cinta Tuhan pada hamba-Nya.


Itu sebab, saat ini dirumah ini, hanya ada Azka, Zidan dan Ayahnya yang dirawat oleh dua orang Asisten perawat yang berjaga secara bergantian.


Kondisi ayah Dani pun berangsur membaik. Ia tidak lagi menggunakan kursi roda dan sudah mampu berbicara dengan baik. Keuangan yang cukup mapan dari seorang Azka, mampu membiayai biaya perawatan sang ayah yang mencapai ratusan juta rupiah, dan membiayai Azka hingga bisa berkuliah di Universitas terbesar di Jakarta.


###


Ayah Dani menunggu didepan gerbang rumahnya. Ketika mobil yang Azka kendarai masuk ke dalam garasi rumah, sang ayah terlihat antusias menyambutnya.


"Yah, kenapa ada diluar?"

__ADS_1


Sapa Azka sambil meraih tangan ayahnya untuk dicium.


"Ayah...ayah ingin berbicara sama kamu, nak. Kalau kamu tidak capek!" Jawab ayah Dani sambil meraih tubuh anaknya.


"Azka gak capek kok yah, ayo kita berbincang di kursi taman!" Ajak Azka.


Tangan sang ayah dipapah oleh Azka menuju bangku sebuah taman bunga Aster yang telah tumbuh puluhan tahun lamanya.


Ayah Dani duduk sambil menghela nafas. Dia memang belum sanggup jalan terlalu jauh, nafasnya tersengal-sengal. Azka mengambilkan sebuah botol minum yang ia selalu bawa kemanapun.


"Azka. Aku ingin kamu menemui adikmu, Fika. Aku ingin kamu memastikan bahwa dia dalam keadaan baik-baik saja!".


"Fika sudah besar dan dewasa yah, dia tentu mampu menjaga dirinya dan ibunya!" Jawab Azka mencoba menenangkan ayah Dani.


Namun raut wajah cemas dan kesedihan tergambar di wajah Dani. Ia tetap ingin Azka memastikan keselamatan Fika.

__ADS_1


"Azka, aku ini orang tua. Firasatku tentu tak akan meleset!, meski aku tidak tau apa yang sedang dialami anak-anak ku, namun akh tau apakah mereka sedang baik-baik saja atau sedang mendapatkan musibah. Datanglah untuk ayah, Ka!"


Ucap Dani dengan kata-kata yang terbata. Menangis bagi seorang laki-laki menyiratkan bahwa ia tengah bersedih.


Azka menarik nafas panjang.


"Baiklah yah, akan Azka pertimbangkan!" Ucap Azka sambil menuangkan teh yang diantarkan oleh seorang pelayannya.


###


Malam ini, Azka merasakan kegundahan yang tidak biasa. Hasrat dirinya ingin segera menemui Fika. Meskipun egonya mencoba menolak, namun ternyata, rasa manusiawi menyerangnya, memenangkannya. Azka segera mengganti pakaiannya dan mengambil kunci mobil. Ia meluncur menuju rumah Fika. Rumah yang selama tiga tahun lalu selalu ia datangi, hanya untuk menjemput Fika. Rumah yang selalu ia jaga untuk tidak ia masuki, sebelum pernikahan menghalalkan mereka.


Mobil meluncur dengan kecepatan tinggi. Hingga jarak 25 kilometer mampu ia tempuh hanya dalam waktu 25 menit saja!


Azka tiba di rumah Fika. Pintu gerbang tak terkunci, begitu pula pintu masuk ke rumahnya. Azka tak berpikir panjang, ia kemudian masuk dan mencari kamar Fika. Ini kali pertama Azka masuk kedalam rumah Fika, sehingga ia tidak mengetahui kamar Fika.

__ADS_1


"Fik...Fikaaaaa!!!"


Bersambung ...


__ADS_2