
Kehadiran ayah disaat serpihan jiwa Rania berhamburan, adalah sebuah mukjizat yang mampu memberikan pandangan hidup bagi Rania.
Setelah perbincangan sore itu. Rania menyadari bahwa ia telah kehilangan jiwanya. Kehilangan karakternya sebagai seorang Rania yang dididik untuk menjadi perempuan yang mandiri dan tangguh.
Rania selama pernikahan mendapatkan banyak tekanan dan bulying. Rania yang tak terlalu tinggi dan memiliki tubuh berisi, mengalami body shiming. Gembrot, boncel (sebutan untuk orang yang tidak terlalu tinggi badannya), gak bisa diandalkan (karena menolak berkarir setelah memiliki anak), dan orang kampung, karena berasal dari luar Jakarta.
Bulying yang diterima dari suami dan keluarganya, perlahan telah mengikis rasa percaya dirinya. Circle pertemanan yang menyempit pasca menikah, membuat Rania tak memiliki teman untuk sekedar mencurahkan perasaannya, apa yang dialaminya, dan apa yang harus dia lakukan. Memendam perasaan dan ketidakadilan adalah hal menyeramkan bagi seseorang. Dimana perasaan tidak berdaya ini dapat menimbulkan perasaan gagal dalam menjalani kehidupan. Itulah mengapa, banyak perempuan korban perceraian mengalami apa yang Rania rasakan, kemunduran psikologis dan kegagalan memahami permasalahan, hingga berujung merasa bahwa dirinya tidak layak untuk hidup, dan terjadilah berbagai upaya percobaan bunuh diri.
Dalam kondisi pasca perceraian, atau konflik rumah tangga. Perempuan perlu pendampingan dari orang terdekat, yakni keluarga inti. Motivasi, komunikasi dan kehangatan dari keluarga terdekat dapat menjadi self healing.
Beruntung, Rania masih memiliki orang-orang yang peduli padanya. Memiliki ayah yang mampu memberinya wejangan tentang betapa berartinya Rania dimata ayah dan ibunya. Masih ada orang-orang yang mencintainya.
Sejak perbincangan dengan ayahnya sore itu. Rania mulai berpikir ulang tentang dirinya dan apa yang akan ia lakukan untuk melanjutkan hidupnya.
Ia ingat pesan ayahnya saat menutup perbincangan
"bagaimanapun kerasnya hidup, harus tetap berlanjut. Bagaimanapun takdir, harus tetap dijalani. Tak ada manusia yang tak di uji. Sebab dunia adalah arena memperjuangkan nasib. Pemenangnya adalah dia yang mampu menyelesaikan setiap challenge dari Tuhan nya, dan bertahan hidup hingga malaikat mau menyelesaikan misi nya untuk mencabut nyawa kita. Pemenang sejati, dia yang mampu bersabar, hingga surga ganjarannya".
Sore ini Jean mengajak Rania dan ayahnya untuk berjalan-jalan di sebuah mall terbesar di Jakarta. Jean sangat mengistimewakan Rania dan ayahnya. Mereka diajak makan malam di sea food resto, membeli beberapa potong pakaian untuk oleh-oleh saat ayah kembali ke Aceh nanti.
Rania tiba-tiba ingin diantar ke toko buku. Jean menurutinya. Ia mengajak ke toko buku yang ada di area mall tersebut.
Ketika ayah dan Jean sedang asyik melihat alat musik yang dipajang di etalase toko buku itu. Rania berselancar di lorong yang menyediakan buku-buku diary. Ia mengambil satu buku diary yang cukup besar dan beberapa alat tulis. Ia juga membeli sebuah kalender duduk.
"Pak Jean, saya sudah selesai"
Jean yang sedang asyik mencoba gitar kayu menoleh pada Rania yang menjinjing sebuah keranjang berisi buku dan beberapa alat tulis.
"sudah itu saja?" Tanya Jean.
" iya. ini saja" jawab Rania.
Jean yang tengah bahagia karena melihat mata Rania yang kembali bersinar dan senyum manis yang mengembang, bersemangat menggandeng Rania menuju kasir.
__ADS_1
"cie...cie...." ucap Rehan asisten Jean yang kala itu ikut jalan-jalan.
"Buku diary?, kamu mau nulis diary, Rania?" tanya Jean menyelidik saat mereka sedang antri di kasir toko buku.
"Iya Jean. aku ingin menulis" Ucap Rania dengan senyum tipis.
"Kalau aku boleh tau, kamu mau nulis apa Rania?"
"Tentang siapa aku..." Jean menatap bingung setalh mendapat jawaban dari Rania.
"Hemm....nanti aku boleh baca ya" Nujuk Jean.
"Gak boleh dong, orang lain gak boleh tau"
Ledek Rania sambil mengumbar senyum meledek.
"Lah...kan aku yang bayar bukunya, ya boleh dong aku ikutan baca hahahaha"
"hahahaha..."
Jean tau bahwa Rania sedang meledeknya. Untuk pertama kali sejak berkenalan, mereka bisa akrab seperti ini. Jean menyayangi Rania seperti seorang teman yang ingin diajak sebagai teman hidup. Sedangkan Rania melihat Jean, hanya sebatas seorang atasannya.
Di rumah
Paviliun tempat Rania tinggal merupakan tempat yang sangat nyaman. Jendela kamar menghadap sebuah taman dengan banyak bunga aster yang beraneka jenis dan warna.
Rania memulai misi menulisnya. Menulis adalah hobinya semenjak SMP, dari menulis, ia menemukan banyak hal.
Rania pernah membaca sebuah artikel yang menyebutkan bahwa menulis itu dapat meredakan stres dan mengobati trauma. Maka, Rania mulai menulis apa yang ia rasakan.
Dear Diary ...
ini aku Rania, yang dilahirkan dari seorang ibu yang sangat sabar dan ayah yang sangat mencintai keluarganya. Dari mereka aku belajar hidup, bekerja keras dan mencintai setiap makhluk yang ada di dunia ini.
__ADS_1
Diary...
Tapi saat ini aku kehilangan jati diri. Aku lupa siapa aku. sebab yang terpikir olehku adalah orang lain yang ternyata mencampakkan aku.
Selama ini aku juga sangat memperjuangkan anak-anak ku, sangat mencintai mereka dan mengganggap suami dan anak-anak ku adalah milikku.
Hingga aku di tegur oleh Nya. Ya... aku ditegur oleh Allah yang sang pemilik jagad bumi dan seisinya, begitu juga aku, milik Allah.
Dan lucunya. Aku tak terima ketika diceraikan, anak-anak ku direbut oleh suamiku. Hingga aku sadar.... yang aku kira milikku ternyata hanyalah titipan. Yang aku anggap bahagia ternyata masih dunia. Ayahku bilang, bahagia yang sesungguhnya itu hanya di syurga nanti. Sedangkan dunia ini adalah lapangan atau arena mengadu nasib dan mengubah takdir yang tak diinginkan.
Aku malu....
Pendidikan sarjana
Tapi aku tidak tau arti dari kata bersyukur. Aku hanya tau arti syukur sebatas yang ada di Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI. Padahal pada prakteknya, makna syukur sangatlah luas. Dan rupanya sulit, tak semudah pelajaran bahasa Indonesia.
Diary...
Melalui tulisan ini, aku ingin menemuka. makna hidupku. jati diriku yang hilang.
Kini, Rania yang ada di tulisan ini adalah Rania baru yang akan berusaha melanjutkan hidup. Menata puzzle jati diri yang berserakan di koridor Pengadilan Agama. menarik senyum yang tertinggal di rumah lama, dan mengurai bahagia yang hilang sejak Azka dan Zidan melupakan ku. Aku yakin mereka tak ingin itu. Tapi mereka hanya anak polos yang berusaha menjadi patuh pada orang yang mengasuhnya.
Jika aku hanya berdiam diri dan menyerah, maka bagaimana aku bisa merebut kembali anak-anak ku?
Azka, Zidan adalah titipan Allah yang harus aku jaga. Maka untuk menjaga mereka, dibutuhkan kewarasan tingkat dewa.
Aku ibaratkan rumah tanggaku seperti sebuah kapal. Suamiku adalah nahkodanya, dan aku adalah asisten nahkoda. Kapal tak akan berjalan baik jika nahkoda berbuat curang merusak kapal. Maka nahkoda harus dibuang. Agar kapal bisa terus berjalan menyusuri samudera hingga ke pulau tujuan, maka asisten harus waras dan kuat. Jika tidak maka seluruh penumpang dan crew akan tenggelam seketika.
Diary
maka, sejak malam ini hari ke dua puluh aku menjadi janda. Aku putuskan untuk bangkit. Aku membuat target, agar mampu menciptakan sosok baru untuk Rania. Rania metamorfosis ...
Rania menutup diary saat jam telah menunjukkan pukul satu pagi. Besok adalah hari pertama ia masuk kembali bekerja sebagai Co Baker. Jabatan yang sempat tertunda dua puluh hari yang lalu.
__ADS_1
Alhamdulillah sudah episode ke 17 kawan-kawan
semangat terusssss🌼😍🤗