
Dering ponsel berbunyi. Rania sedang asik dengan lembaran-lembaran tentang data klien LSM Sehati. Ia melirik sekilas ke ponselnya, mencari tau siapa yang telah menghubunginya.
"Merry..."
Sudah lima bulan ini Merry berada di Korea Selatan. Ia melanjutkan pendidikannya di Universitas Yonsei. Sebuah Universitas yang terkenal sebagai kampus SKY Korea. SKY adalah akronim yang digunakan untuk menyebut tiga universitas paling bergengsi di Korea Selatan: Universitas Nasional Seoul, Universitas Korea, dan Universitas Yonsei.
Yonsei University yang menempati peringkat 150 dunia untuk sektor kedokteran, persisnya rangking ke-101-150. Berdasar QS World University Rankings 2018 peringkat universitasnya secara keseluruhan adalah pada posisi ke-155. Yonsei University mempunyai College of Medicine yang terdiri dari Basic Science Departments dan Clinical Science Departments. Dimulai dari emergensi medicine, forensic medicine, medical education, medical law dan bioEthics, pediatrics, plastic dan reconstructive surgery, sampai neurology bisa didalami di sini.Merry memilih spesialis plastic dan reconstructive, sesuai keinginannya.
"Hallo Rania...".
Sebuah suara terdengar dari balik ponsel. Nomor yang tampil pada layar +82 menampilkan kode telpon Korea Selatan.
"Hai Mey...apa kabar?"
"Ya. Aku baik-baik saja, Rania".
"Bagaimana studi mu?"
"It's oke, Rania. Aku sedang menjalani hari-hari ku sebagai calon mahasiswa baru. Disini sedang winter, Rania. Saljunya sangat indah".
"Wah...semoga nanti aku berkesempatan liburan ke Korea ya Mer...."
"Tentu. Aku akan mengajakmu ke Korea jika kamu mau. Aku tinggal di sebuah apartemen dan saat ini juga bekerja pada sebuah klinik. Penghasilanku cukup baik disini".
"syukurlah Mer...aku turut bahagia mendengar kesuksesanmu".
"Oh ya Ran, klien apa yang saat ini sedang kamu tangani?".
Merry saat ini menjadi sahabat Rania. Mereka kerap berbincang mengenai klien yang tengah dihadapi Rania. Persahabatan mereka begitu akrab, meskipun terpisah dua benua.
"Saat ini aku tengah menangani klien dengan kasus diselingkuhi oleh adiknya sendiri".
"Jadi suaminya berselingkuh dengan adik si perempuan ini".
"Ya. Tepat sekali. Karena mereka tinggal di rumah yang sama".
"Kamu mendampinginya, Rania?"
__ADS_1
"Ya. Tentu Mer. Seperti aku mendampingi mu dulu".
"Aku sangat berterimakasih padamu Rania. Andai aku benar-benar gila. Maka selesai sudahlah cerita kisah hidupku. Aku tak ingin mengulanginya lagi, aku tak akan berharap dari manusia. Aku hanya ingin berharap pada Tuhan saja".
"Ya. setuju, Mer... dalam banyak kasus. Mereka yang akhirnya benar-benar kalah dan menyerah, dikarenakan terlalu berharap pada manusia. Terlalu mencintai suaminya. Akhirnya, ia korbankan jiwa maupun raganya, hanya untuk budak cinta".
"Apakah kasus yang kamu tangani kali ini demikian, Mer?".
"hemm...dia wanita karir. Sepertinya ia hanya syok saja dan perlu waktu untuk menerima nasibnya. Karena si pelakor adalah saudara kandungnya sendiri".
"Ya Tuhan. Semoga dia mendapatkan jalan keluar untuk kasusnya".
Kemudian telpon berakhir.
klien Rania kali ini bernama Suci. Ia wanita yang bekerja sebagai seorang manager marketing di sebuah bank ternama. Kesibukannya menuntut ia untuk selalu beraktivitas diluar rumah. Pergi gelap, pulang gelap. Ia tinggal di rumah pribadi. Namun, karena satu dan lain hal, adik kandungnya yang bernama Naya, juga ikut tinggal bersamanya. Naya masih melanjutkan studi di universitas yang ada di kota tempat tinggal Suci. Awalnya Suci merasa terbantu dengan kehadiran Naya dirumahnya. Selain menjadi teman berbincang dikala senggang, Naya juga sering membantu menjaga anak-anak Suci. Hubungan mereka cukup harmonis.
Sampai suatu ketika, Reva, anak bungsu Suci merengek ketika Suci baru saja pulang. Dia mengadu kalau tidak diajak main oleh Tante Naya dan ayahnya. Katanya anak kecil tidak boleh ikut. pintu kamarnya dikunci. Hanya ayah dan Tante yang ada di dalam kamar.
Suci sangat syok mendengar ucapan dari anak usia 3 tahun yang begitu polos. Ternyata ditengah jadwal kesibukan suaminya sebagai pengusaha otomotif, ia pulang diam-diam saat Suci berada di kantor.
Saat ini Suci tengah berjuang untuk menuntut suaminya ke pengadilan. Ia merasa tidak sanggup mempertahankan biduk rumah tangga keluarga kecilnya itu.
Selama ini ia bekerja siang dan malam hanya untuk menutupi kebutuhan keluarga, menyekolahkan adik-adiknya hingga mandiri, dan membahagiakan orang tuanya. Namun justru mendapatkan pengkhianatan
***
Disebuah persidangan. Rania mendampingi Suci yang menatap pilu. Suaminya, Rian, juga hadir di persidangan. Rian mengajukan pembelaan atas tuduhan perselingkuhan. Ia mengatakan bahwa, siang itu ia hendak mengambil berkas yang tertinggal di rumah. Saat itu ia melihat Naya tengah bermain dengan kedua anaknya di kamar. Reva meminta mandi, dan mereka mandi di kamar mandi yang letaknya berada di kamar tidur Suci.
"Saya hanya seorang laki-laki biasa. Saat hubungan saya dan istri saya merenggang karena kesibukan pekerjaan masing-masing, wajar bila saya melirik wanita lain, dia saat itu ada di depan mata saya. Mengenakan pakaian mini dan saya telah hampir sebulan tidak mendapatkan pelayanan napsu dari Suci. Semua terjadi begitu saja. Tanpa ada perlawanan dari Naya".
***POV Naya :
Namaku, Arinaya. Usiaku baru 18 tahun ketika kakakku, Suci, mengajakku pindah ke kota tempat ia tinggal. Aku dijanjikan untuk melanjutkan pendidikan tinggi dengan biaya full darinya. Tentu aku mau, daripada tetap tingg bersama orang tua, tentu ikut bersama kakak tertua akan meringankan beban orang tuaku.
Kak Suci adalah kakak sulung di keluarga. Aku adalah anak bungsu, sedangkan kakakku nomer dua,memilih menjadi abdi negara di desa tempat tinggalku.
Aku mengetahui bahwa kak Suci telah menikah dan memiliki dua orang anak. Mengasuh keponakan sendiri tentulah menyenangkan bagiku. Reva dan Elsa adalah anak-anak yang lucu. Suaminya kak Suci bernama mas Rian. Usianya lebih muda dua tahun dari Kak Suci. Ia memiliki showroom sepeda motor kecil yang tak jauh dari rumahnya. Penghasilan kak Suci jauh lebih tinggi tentunya, karena ia adalah seorang manager marketing di sebuah bank pemerintah.
__ADS_1
Sejak awal, aku memang yang telah menyukai mas Rian terlebih dahulu. Aku tak pernah melihat pria setampan dirinya di desaku. Aku termasuk anak rumahan, sehingga jarang bergaul dengan teman sebaya. Di rumah kak Suci pun aku hanya keluar saat akan kuliah saja. Itupun kak Suci sering meminta mas Rian untuk mengantar dan menjemput ku di kampus.
Sering berboncengan berdua, dan setelah menjemput biasanya mas Rian akan beristirahat dulu di rumah sebelum kembali ke showroom nya, tentu itu menjadi kesempatan kami untuk selalu bersama. Mas Rian sering mengajakku makan di luar sebelum kami sampai rumah. Aku sering kedapatan memandangi wajahnya ketika kami bersama. Gayung bersambut. Mas Rian menyatakan perasaannya padaku di hari ulang tahunku. Setelah menjemput ku dari kampus, ia mengajakku untuk ke suatu tempat. Tempat itu berada di puncak, pemandangan indah dan romantis. Mas Rian memberikan sebuah cake dengan bentuk love padaku. Aku yang sudah dewasa tentu mengerti maksudnya.
Tanpa memikirkan keberadaan kak Suci, aku menerima cinta kak Rian. Sungguh cinta telah membutakan. Hingga kejadian disiang itu. Mas Rian pulang ke rumah, disaat aku sedang mengasuh Rafa anak bungsu kak Suci. Sedangkan Elsa sedang les calistung dan diantar oleh Bu Imas, pembantu di rumah itu. Mas Rian tiba-tiba menarik tubuhku dari kamar mandi saat aku tengah memandikan Refa. Anak itu menangis tak ingin ditinggalkan olehku. Tapi mas Rian bilang hanya ingin main sebentar dengan Tante. Tubuhku dibaringkan di ranjang yang biasa ia gunakan untuk tidur bersama kak Suci. Aku tak bisa menolak, justru aku menerima begitu saja apa yang dilakukan oleh Mas Rian. Ia mencumbu seluruh bagian tubuhku tanpa sisa. Aku yang baru pertama kali merasakan itu, hanya diam menikmati. Hingga keperawanan ku pun hilang begitu saja. Hal itu terjadi berulang kali. Tapi, aku tetap menikmatinya. Tak pernah menolaknya, bahkan semakin lama, aku semakin mahir untuk melayani nafsunya.
Jadwal pulang mas Rian ke rumah saat siang hari sudah terjadwal. Saat Elsa les dan diantar pembantu. Maka, kami akan rutin melakukan hubungan suami-istri. Bebas dan menikmati. Bisa dikatakan, aku adalah istri yang sesungguhnya. Karena aku yang lebih banyak melayani mas Rian daripada kakakku, istri sahnya.
Kak Suci terlalu sibuk dengan karirnya. Terlalu sibuk dengan sosialitanya, hingga lupa memberikan waktunya untuk Mas Rian. Bahkan, Mas Rian pernah bercerita, bahwa dirinya kurang percaya diri saat berhadapan dengan kak Suci. Karena secara finansial kak Suci jauh lebih mapan, sedangkan penghasilan mas Rian hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari saja. Bahkan rumah yang kami tempati adalah hasil KPR Kak Suci jauh sebelum menikah dengan Mas Rian. Jika ada pertengkaran diantara mereka, terkadang, muncullah kata-kata mampu dan tidak mampu.
Mas Rian sangat nyaman saat bersamaku. Ia makan masakan ku. Terkadang, jika Elsa tak ada jadwal les, maka mas Rian tak akan pulang siang, maka aku yang akan mengantarkan makan siangnya ke showroom. Bahkan, para pelanggan showroom dan anak buah mas Rian menganggap akulah istri mas Rian, wajah kami mirip, usia kami sepadan dan kami seperti pasangan serasi. Tanpa menikah, aku telah menikmati menjadi istri mas Rian. Meski kadang saat ia bersama dengan kak Suci, aku merasa cemburu. Namun, Mas Rian selalu menjaga sikap jika keberadaan ku diantara mereka.
Hingga suatu hari, Refa yang makin pandai berbicara, menceritakan apa yang terjadi di rumah pada Suci. Rafa yang masih polos menceritakan adegan-adegan yang ia lihat antara aku dan mas Rian. Awalnya, mas Rian berusaha meyakinkan Kak Suci bahwa adegan itu tak seperti yang dibayangkan Suci. Ku pikir kak Suci telah percaya. Namun ternyata, di suatu siang, ia tiba-tiba pulang dan membawa rekan-rekannya. Saat itu kebetulan jadwal Elsa les. Sehingga mas Rian tentu saja pulang. Aku yang tak pernah mengunci pintu depan, akhirnya tak bisa berkutik saat berada berduaan di dalam kamar. Posisi mas Rian saat itu berada diatas tubuhku. Aku menangis mengiba maaf pada Kakakku, namun ia tanpa ampun Kak Suci segera mengemasi pakaianku dan mengantarku pulang ke kampung. Orang tuaku sebenarnya tak mempercayai atas apa yang dituduhkan. Mengingat aku yang selalu menjaga diri dan nyaris tak pernah berpacaran. Namun, akhirnya Bidan Yuni mengungkapkan, bahwa aku sudah tak lagi perawan.
Penyesalan selalu datang belakangan. Studi ku terancam putus ditengah jalan, aku menjadi cemoohan keluarga besar. Ibuku sakit-sakitan, dan Mas Rian, ku dengar di gugat cerai oleh Kak Suci.
***
Kasus kali tidak menyudutkan perempuan dalam hal ekonomi. Karena Suci masih berkarir. Hanya saja, ia syok karena pengkhianatan itu dilakukan oleh adik kandungnya sendiri. Mungkin ada bekas suami, namun tak akan pernah ada bekas adik!
Luka yang mendalam membuat Suci enggan melihat adik yang paling ia sayangi itu. Bagaimana ia berkorban dalam banyak hal agar adiknya itu bahagia. Namun nyatanya, ia malah menghancurkan kebahagiaan dirinya.
***
Suci datang bersama kedua anaknya. Suci hanya butuh orang yang mampu untuk mendengarkan dirinya. Segala kebencian yang ingin ia lupakan pada adiknya. Rania menampung luapan perasaan Suci. Memintanya untuk kembali fokus pada karirnya, tetap menyibukkan diri dan tidak menghubungi keluarga di kampung untuk sementara waktu, sampai ia bisa berpikir jernih.
Sidang putusan perceraian telah di tetapkan. Tanpa diduga sebelumnya, Rian mendatangi Naya. Mereka menikah hanya dari jarak 30 hari sejak perceraiannya dengan Suci. Rian mengajak Naya pindah dan entah kemana.
Antara sayang yang bercampur dengan kebencian, Suci belajar untuk menerima keadaan. Suci akan selalu datang ke LSM Sehati jika dirinya merasa tertekan secara mental. Rania rutin mengunjunginya saat akhir pekan, memastikan agar Suci baik-baik saja.
Bagaimanapun, yang terlihat baik-baik saja di permukaan, belum tentu sesuai dengan kondisi di dalamnya. Mereka harus tetap didampingi, sampai bisa melewati masa traumatik dalam hidupnya.
Rania belajar dari kasus ini, bahwa perselingkuhan bisa menimpa siapa saja, tak peduli ia wanita karir atau rumah tangga, tak peduli ia cantik atau buruk rupa. Banyak istri yang wajahnya biasa, hanya ibu rumah tangga yang tidak berpenghasilan, namun suaminya baik-baik saja. Ada yang terlihat baik-baik saja, kemudian mengakhiri hidupnya, karena berusaha memendam tangis dan deritanya sendiri.
Tak ada hidup yang tak diuji. Dunia adalah titian ujian. Setiap orang punya lembar ujiannya masing-masing. Tak akan sama, tak akan pernah sama...
Bersambung ...
__ADS_1