100 Hari Pertama Menjadi Janda

100 Hari Pertama Menjadi Janda
63 Karma level 1


__ADS_3

Semenjak kejadian penculikan, Jean menjadi sangat perhatian dalam mengawasi Rania dan anak-anaknya. Beruntungnya, Jean dan Rania tak lagi mengenal jam kantor. Dengan bisnis yang mereka geluti di kampung, menjadikan waktu pertemuan mereka menjadi lebih fleksibel.


Rania merasa bersyukur tinggal di kampung. Ia tak cemas karena harus meninggalkan anak-anaknya untuk bekerja. Ini merupakan do'a yang pernah ia panjatkan pada Allah saat dirinya terpaksa harus bekerja dan meninggalkan anak-anak di penitipan anak. Ia hanya perlu berhati-hati pada orang baru yang masuk ke wilayahnya, ia khawatir kejadian penculikan itu terulang kembali.


***


Pagi itu mentari menyinari wilayah Lumajang dengan begitu cerahnya. Hamparan sayur sawi hijau yang semalam diguyur hujan, kini disinari mentari. butiran kristal dari air yang memantulkan cahaya membuat tanaman itu terlihat cantik. Rania membersihkan hamparan sawi dari gulma yang mengganggu. Ia kemudian memetik beberapa batang untuk dijadikan masakan. Ada beberapa ikat besar sawi yang akan dibawa Jean kepasar. Jean biasa membawa sawi dan beberapa hasil kebun ke pasar terdekat, biasanya aktivitas ini dilakukan sembari mengantarkan anak-anak ke sekolah.


"Yah, cabinya nanti sekalian dibawa ya. Sudah aku timbang, ada 5 kilogram"


Ucap Rania pada Jean yang tengah mengikat beberapa sawi.


"Oke. Oh ya ma, kemarin aku bertemu Bu Susilo, orang dari dinas perdagangan. Dia menawarkan untuk kamu, katanya mau mengajak ikut pelatihan pembuatan keripik pisang khas Lumajang".


"Oh ya...wah aku tertarik yah".


"Kalau kamu berminat, besok aku antarkan ke rumahnya Bu Susilo ya. Sekalian biar kamu punya teman disini".


Ucap Jean sambil mengecup kening Rania. Ia telah siap dengan mobil pickup yang baru dua Minggu ia beli khusus untuk mengantarkan sayuran dan susu untuk dijual ke pasar. Dibagian jok samping, anak-anak telah duduk berjejer menunggu ayahnya memacu mobil sampai ke sekolahan yang jaraknya tak jauh dari lokasi pasar.


Kehidupan Jean yang berubah drastis, dari pengusaha bakery menjadi usaha pertanian dan resto kecil. Ia yang pernah tinggal di Singapura, memanfaatkan ilmu ya dalam berbisnis, bukan gaya hidupnya. Rania bahkan terkagum-kagum melihat Jean sangat bersemangat ketika harus mempelajari cara Budidaya ikan dan kambing perah. Rania bahkan menyaksikan bagaimana Jean turun langsung ke pabrik untuk mensortir hasil susu yang berkualitas untuk dijadikan susu kambing bubuk.


***


Sementara, Rania juga tengah menunggu jadwal persidangan Dani untuk kasus penculikan. Sebenarnya Jean memberikan saran untuk mencabut gugat perkara atas kasus penculikan ini. Namun, Rania belum menggubrisnya. Ia sangat ingin memberi Dani dan Delita pelajaran. Selama ini mereka menganggap Rania sosok yang lemah. Namun kini saatnya ia membalas dan membuktikan bahwa ia bukan orang yang lemah.


Rania menggunakan uang tabungan yang sempat ia kumpulkan saat bekerja untuk menyewa seorang pengacara. Ia tau Dani akan menyewa pengacara untuk meringankan hukumannya. Namun, Rania yakin pengacara yang ia pilih tak kalah hebat, apalagi ia dipihak yang benar.

__ADS_1


***


Sebuah surat panggilan persidangan dari Polda Jawa Timur sampai ke tangan Rania. Kasus Dani telah dilimpahkan ke kepolisian Daerah Jawa Timur, jadwal persidangan akan dimulai pekan depan.


Ingatan Rania kembali kemasa bagaimana untuk pertama kali ia kan mengikuti sebuah persidangan. Bukan persidangan atas sebuah kasus kriminal, melainkan sebuah kasus perceraian. Ia ingat bagaimana mulutnya dibungkam oleh saksi-saksi palsu bayaran tuan Dani. Ia juga mengingat bahwa tanda tangannya pernah dipalsukan oleh seorang pengacara yang juga perempuan. Pengacara yang melanggar sumpah jabatannya. Karena ia menghalalkan segala cara demi sebuah perceraian yang mulus, tanpa hak asuh anak dan tanpa gono gini.


Mengingat masa-masa kelam itu, Rania sampai meremas lengannya sendiri. Luka itu baru saja sembuh setelah 100 hari ia melewatinya, setelah 100 hari dan akhirnya ia menemukan laki-laki yang sangat bertanggung jawab dan mencintai dia dan anak-anaknya.


Rania tentu tidak mampu melupakan begitu saja 100 hari pertama menjadi janda yang begitu memilukan.


***


Sepekan berlalu dengan cepat. Jean sendiri yang mengantarkan Rania menuju tempat gelar perkara. Azka dan Zidan turut serta. Mbok Siti dan Pak Darmo yang bertugas menjaga kedua buah hati Rania.


Jean tak pernah menjauh dari Rania. Dani yang menyaksikan Jean sangat dekat dengan Rania dan anak-anaknya menatap dengan penuh kebencian. Tak disangka, saat itu Delita hadir bersama kedua orang tuanya. Delita yang tengah hamil besar terlihat kesusahan meskipun hanya untuk berjalan saja.


"Rania ..Rania...aku harus bicara padamu!"


Panggil Delita dengan tergopoh-gopoh.


Rania berdiri dan menatap tajam perempuan yang berani menjadi madu beracun dalam rumah tangganya.


"Kau tidak lihat keadaanku. Aku tengah hamil besar. Sebentar lagi aku akan melahirkan. Tidakkah kamu iba melihat aku melahirkan tanpa seorang suami?, dimana hati kamu ketika anak ku harus lahir tanpa seorang ayah!!"


Ucap Delita sambil berderai air mata.


Rania tersenyu kecut

__ADS_1


"Bukankah cita-cita mu untuk melahirkan tanpa seorang ayah?, ketika kamu memilih menjadi perebut rumah tangga orang, seharusnya kau sudah siap juga untuk ditinggalkan!"


Seru Rania. Semua mata tertuju pada mereka berdua. Tak terkecuali Dani.


"Dimana hatimu ketika aku merawat anak-anak ku tanpa kehadiran ayahnya, karena sedang sibuk dengan perempuan lain?!, Bagaimana rasanya melepaskan rindu pada ayahnya, padahal ayahnya masih hidup, namun kau menghalanginya!!"


Rania sesak menahan Isak tangis yang membuncah didada. Namun, ia tak ingin kehilangan momentum ini untuk membalaskan sakit hatinya.


"Kau akan belajar cara mengatasi kesepian tanpa sosok suami, Del. Kau akan belajar menjadi seorang ibu yang kuat tat kala merawat anak tanpa pendampingan suami,dan bisa jadi kau akan merasakan menjadi tulang punggung, meskipun suamimu masih berstatus hidup"


Rania kemudian berbaik badan seraya mengatakan,


"Selamat memanen hasil perbuatanmu. Karma dibayar TUNAI!!!"


Rania pun berlalu dari hadapan Delita. Perempuan bernama Delita yang dulu terlihat sangar, kini terlihat lemah. Ia menangis histeris mendapati Rania yang tak mau bernegosiasi untuk pembebasan Dani.


Ibu dari Delita berlari mengejar Rania, kemudian memeluk kedua kaki Rania. Bersimpuh memohon kelembutan hati Rania.


"Jangan biarkan kami mati disini nak Rania, kami bisa mati melihat anak perempuan kami tersiksa seperti ini!"


Ucap Ibu Delita dengan derai air mata mengiba.


"Jika anda hampir mati. Tapi ibuku telah mati. Mati karena selalu mengkhawatirkan anaknya yang suaminya direbut oleh anak gadis yang tak punya harga diri. Maka jika anda ingin mati, matilah, anda layak mati!!!"


Rania kemudian tak segan menyingkirkan lengan Ibu dari Delita, dan berlalu dari hadapan mereka.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2