100 Hari Pertama Menjadi Janda

100 Hari Pertama Menjadi Janda
100 Hari Pertama Menjadi Janda : Dinda


__ADS_3

Dinda namanya. Usianya baru 23 tahun..Usia yang masih sangat muda. Dinda korban pernikahan dini. Ia mengalami putus sekolah semenjak duduk dibangku SMP, dan menikah untuk meringankan beban keluarga. Dia anak tertua dari empat bersaudara. Semua adik-adiknya masih kecil.


Dinda adalah anak yang cantik. Tubuhnya tinggi semampai, kulitnya sawo matang. Jari-jari tangannya kasar. Sepertinya ia bekerja terlalu berat, dan tidak sesuai dengan apa yang saya pikirkan tentang perempuan cantik ini.


Dinda datang ke LSM ditemani oleh tetangganya yang merasa iba dengan kondisi Dinda. Suaminya Hadi telah ingkar janji. Menikah diusia dini membuat Dinda hanya menikah secara siri. Hal ini biasa dilakukan di kabupaten Lumajang. Tidak tabu, karena telah dianggap sah oleh agama,dan biasa dijalankan oleh budaya. Bahkan mahar yang diberikan kepada mempelai perempuan nyaris bernilai hanya seharga beras 10 kg.


Di kantor Dinda langsung ditangani Rania. Ia lebih banyak diam dan tertunduk, sedangkan yang banyak berbicara adalah orang yang membawanya.


Perjalanan kisah Dinda dimulai saat ia terpaksa berhenti sekolah karena keterbatasan biaya. Ia hanya diam di rumah. Aktivitas sehari-hari nya hanya membantu ibunya di dapur.


Suatu hari, datanglah Hadi beserta ayahnya ke rumah Dinda. Hadi mengenal Dinda ketika ada lomba voli. Dinda menyaksikan lomba tersebut bersama adik-adiknya. Dinda telah lama kehilangan teman sebayanya yang melanjutkan sekolah. Dari sanalah cinta tumbuh dari dalam hati Hafi. Sedangkan Dinda, ia belum pernah merasakan cinta kepada lawan jenis.


Tak perlu waktu lama bagi Hadi yang usianya terpaut sepuluh tahun untuk memutuskan melamar Dinda. Mereka pun menikah bawah tangan dengan upacara adat yang sederhana. Maklum pekerjaan Hadi saat itu juga hanya sebagai pekerja serabutan di sebuah pasar.


Perjalanan rumah tangga Dinda dan Hadi tak berjalan mulus. Hadi jarang sekali memberikan nafkah kepada Dinda. Bukan tanpa sebab, Hadi yang masih kekanak-kanakan lebih suka menghabiskan uangnya untuk judi bola, dan sayangnya, ia lebih sering mengalami kekalahan daripada kemenangan. Jika sudah begitu, ia akan pulang dalam kondisi mabuk dan marah-marah. Dinda menjadi luapan emosinya.


Namun, rumah tangga masih tetap berjalan. Hingga suatu saat. Hadi meminta ijin pada Dinda untuk merantau ke negeri Jiran, Malaysia. Sebenarnya ada keraguan dalam hati Dinda untuk melepaskan Hadi. Namun, alasan memperbaiki ekonomi tak bisa dipungkiri lagi. Dengan ekonomi yang baik nanti, dinda berharap Hadi bisa berubah dan kembali utuh mencintainya seperti awal ia berjuang mendapatkan hati Dinda. Tak banyak yang Dinda minta, ia hanya menginginkan sebuah status untuk pernikahan yang mereka jalani. Usia Dinda sudah cukup untuk melangsungkan pernikahan saat itu. Ia sengaja menunda memiliki momongan, agar nantinya anaknya bisa diakui negara.


Dua tahun yang lalu Hadi berangkat ke Malaysia. Ia bekerja sebagai tukang potong di sebuah pabrik kayu. Gajinya cukup besar. Di awal-awal, ia sanggup mengirimkan uang sebesar 2 juta rupiah untuk Dinda. Uang yang cukup besar bagi Dinda, mengingat Hadi jarang sekali memberikan nafkah untuknya. Dinda mulai memperbaiki rumah orang tuanya, dan membuat sebuah tempat yang terpisah dengan rumah orang tuanya. Dapurnya juga terpisah. Dinda ingin belajar mandiri.

__ADS_1


Namun lambat laun, keluarga Hadi mengintervensi kiriman uang yang diberikan Hadi pada Dinda. Setiap kali Jadi mengirim uang, maka keluarganya akan datang, tak tanggung-tanggung, setengah dari kiriman Hadi berpindah tangan ke keluarganya.


Dinda mengalami pengancaman. Ancaman agar ia tak melaporkan bahwa uang kiriman dipangkas setengah oleh keluarga Hadi sendiri. Alhasil, Dinda harus banting tulang untuk mempertanggungjawabkan uang kiriman Hadi. Sebab Hadi akan bertanya kemana larinya uang yang telah ia kirimkan.


Pekerjaan untuk seorang yang tidak tamat SMP amatlah sempit di desa. Apalagi Dinda tak memiliki skill yang cukup untuk bekerja.


Namun, bukan Dinda namanya jika ia tidak gigih. Akhirnya Dinda mendapatkan pekerjaan sebagai penjaga kios kelontong di pasar. Ia dengan mudah mendapatkan pekerjaan ini, mengingat pemilik toko sangat mengenal Hadi.


Dinda melakukan pekerjaan apa saja. Mulai dari melayani pembeli hingga mengangkut sekarung terigu, gula, dan juga beras. Ya ia melakukan pekerjaan itu, pekerjaan yang biasa dilakukan oleh laki-laki. Tak ada pilihan lain. Apalagi, Hadi mulai terhasut oleh fitnah yang dibuat keluarganya sendiri, bahwa Dinda telah berselingkuh, hanya karena Dinda sempat mengobrol dengan salah seorang kurir yang keliru menurunkan barang.


Dua tahun berlalu. Hadi mulai jarang mengirimkan kabar, apalagi uang. Bahkan Dinda mulai mendengar desas desus bahwa suaminya telah memiliki wanita lain. Namun, Dinda tetap berusaha untuk mempercayai suaminya itu.


Satu Minggu yang lalu. Ketika Dinda tengah memanggil sekarung terigu di pundaknya, ia seperti melihat Hadi tengah turun dari sepeda motor bersama dengan seorang wanita. Dinda mengira bahwa Hadi telah pulang. Ia berusaha untuk memanggil pria itu, dan tiba-tiba pria itu hanya melihatnya sekilas dan melengos pergi. Dinda berusaha untuk mengejar Hadi. Namun, berakhir kecewa.


Ucap Dinda yang tubuhnya putih penuh dengan tepung.


wanita yang bersama Hadi melirik sinis pada Hadi.


"Maaf, saya tidak kenal kamu?"

__ADS_1


Jawab Hadi sambil menggenggam tangan wanita itu.


"Bagaimana mungkin?!".


Ucap Dinda yang mulai berlinang air mata. Ia berusaha membersihkan tepung yang mungkin menempel di wajahnya dan membuat Hadi tak mengenali dirinya. Namun Hadi melengos meninggalkan Dinda. Kali ini, Dinda hanya diam terpaku, sambil mengusap kasar wajahnya. Ia pulang kerumahnya dengan keadaan tertatih. Ia terluka, luka itu tepat di hatinya.


Malam pekat menyelimuti. Dinda mengadu pada orang tuanya mengenai Hadi yang ternyata sudah berada di kampung. Semula, orang tua Dinda menyangka Ahwa anaknya itu mungkin salah orang . Terlalu rindu Mungin menyebabkan anaknya tak bisa membedakan antara mirip dengan aslinya. Namun, Jarak rumah Hadi dan Dinda amatlah dekat. Hanya tetangga dusun. Tentu berita kepulangan Hadis segera menyebar ke telinga banyak tetangga. Hingga orang tua di Dinda sendiri mendengarnya.


Suara pintu diketuk beberapa kali. Ibu Dinda membukakan pintu. Ternyata yang datang adalah Hadi. Mata Dinda berbinar.


Syukurlah akhirnya Hadi mau menemui ku. Gumam Dinda.


Sayangnya kedatangan Hadi bukanlah untuk melepas rindu pada Dinda. Melainkan melepas ikatan pernikahan diantara mereka. Hadi merasa bahwa ia tidak lagi bisa bersama Dinda. Ia ingin mengembalikan Dinda secara baik-baik pada orang tuanya. Tak ada alasan pasti mengapa ia begitu saja mencampakkan Dinda. Namun, dua pekan kemudian Dinda mengetahui alasannya.


Sebuah tenda terpasang di depan rumah Hadi. Perasaan tidak nyaman mulai dirasakan oleh Dinda yang secara kebetulan melewati rumah Hadi. Hadi adalah anak satu-satunya di rumah itu. Kelas dengan mata kepalanya sendiri Dinda melihat sebuah banner yang bertuliskan pernikahan Hadi Riyadi dan Malikha.


Malikha adalah wanita yang ia temui di pasar sedang bersama Hadi. Malikha gadis yang berasal dari Malaysia. Ia keturunan Melayu. Gadis itu terlihat cantik memang. Paras khas Melayu asli.


Dinda pingsan ditempat sesaat telah membaca banner tersebut. Ia tak sadarkan diri untuk beberapa saat. Hingga ketika Dinda tersadar. Ia berubah total. Dinda yang biasanya terlihat ceria. Semangat bekerja. Kini lebih banyak miring dan mengurung diri. Bahkan Ia tak lagi berbicara pada siapapun. Meskipun pada orang tuanya sekalipun.

__ADS_1


Bersambung....


Dear readers...Selamat Hari Raya idul Fitri ya...Mohon mAaf lahir dan batin. Terimakasih untuk yang menyempatkan waktu membaca novel saya ditengah silaturahmi 🤗 see you at the next part ya...masih dengan kelanjutan kisah Dinda.


__ADS_2