100 Hari Pertama Menjadi Janda

100 Hari Pertama Menjadi Janda
Tuntutan Seorang Pelakor


__ADS_3

...Hai dearest part kali ini masih setia mengikuti request pembaca ya ...terimakasih @fitria Arifianto yang sudah support inspirasi novel ini terus. Yuks dari pembaca lainnya ikutan request 😍! bisa di comment ataupun DM di @bungakering86...


Dua berlalu semenjak Rania diangkat menjadi pimpinan di LSM Sehati. Karirnya cukup gemilang. Banyak klien yang puas konsultasi pada Rania.


Mereka para janda, calon canda, bahkan yang tengah menghadapi prahara rumah tangga, mampu bangkit dan menjadi wanita mandiri. Tak jarang mereka mampu bertahan tanpa harus mengalami gejolak batin di 100 hari pertamanya.


Rania tak hanya membantu para janda di wilayahnya. Ia giat menulis, memberikan webinar dan terjun langsung ke lapangan untuk menemui mereka yang membutuhkan bantuannya.


Ia bekerja sama dengan para kader di desa-desa, memberikan edukasi bagi para ibu rumah tangga, bagi para keluarga dan calon pengantin dalam membina rumah tangga tanpa perselingkuhan, management keuangan rumah tangga, dan bahkan penghasilan hanya dari rumah saja.


Rania sangat giat. Tak heran menjadi sangat terkenal di kota Lumajang.


Siang itu, ketika Rania baru saja kembali dari lapangan, ada seorang wanita yang berparas sangat cantik tengah menantinya. Rania melirik dari atas hingga bawah, semua yang dikenakannya adalah barang branded!


Bulu mata lentik dan alis hitam cetar hasil sulaman, rambut panjang yang ia uraikan begitu saja, lurus nyaris tanpa lekukan dan bibir yang mengkilap pertanda lipstik yang digunakan dari merek ternama. Ada sebuah mobil bermerk yang parkir di halaman kantor, tentu bukan milik karyawan LSM. Pengunjung hari itu pun sepi, karena memang biasanya hanya ramai saat pagi dan sore hari saja.


"Bu Rania..."


Perempuan itu menyapa Rania saat Rania lewat didepannya.


Rania menoleh kearah wanita itu.


"Ya. Saya"


Jawab Rania.


Wanita itu memberikan tangan kanannya dan menjabat tangan Rania.


"Perkenalkan Bu, saya Hesti"


Rania pun menyambut jabatan tangan wanita yang mengenakan kutek putih. Tampak sebuah jam dengan merek terkenal dengan harga diatas 40juta melekat ditangannya.


Rania menelan ludah. Baru kali pertama semenjak ia bekerja, ada perempuan yang ingin konsultasi dengan penampilan bak sultan.


"Ya. Saya Rania. Ada kepentingan apa?"


"Ya Bu".


"Sudah membuat janji dengan asisten saya sebelumnya?"


Perempuan itu menggeleng.


"Belum, Bu"


Rania menghela nafas. Jika jadwalnya sangat padat, mana mungkin ia bisa berkonsultasi langsung bersama kliennya di hari yang sama sejak kedatangannya?!

__ADS_1


"Begini saja. Mba Hesti membuat janji dulu dengan asisten saya. Besok jam 1 siang, mba kesini lagi. Kita konsultasi ya? bagaimana?"


Bujuk Rania yang telah memiliki janji lain untuk mengisi webinar "Kesehatan Mental Ibu Pasca Perceraian".


"Apakah tidak bisa hari ini juga, Bu Rania. sebentar saja!"


Pinta Hesti memelas namun dengan nada sedikit memaksa.


"Hari ini saya ada webinar. Mungkin selesai sekitar 1 jam kedepan. Setelah itu, say baru free!"


Balas Rania.


"Kalau begitu, saya tunggu sampai Bu Rania selesai webinar".


Paksa Hesti dengan senyum yang seperti tak biasa ia berikan.


"Baiklah". Ucap Rania yang kemudian masuk ke studio yang ada di kantor tersebut.


Sedikit kesal. Karena meskipun 1 jam saja webinar berlangsung, namun bukan berarti Rania tidak lelah!


Itu sebab ia meminta asistennya untuk mengatur jadwal agar Rania tidak kelelahan dan bisa mengatur waktu bersama keluarga.


Laptop dinyalakan. Microphone dipasang dan webinar pun berlangsung selama kurang lebih 1 jam.


Setelah 1 jam, Rania baru menyudahi sesi tanya jawab diantara pemateri dan peserta. Pertanyaan sangat banyak. Peserta sangat antusias dengan materi dan sesi tanya jawab. Namun, waktu habis dan Rania tidak memberikan jam tambahan. Namun, kegiatan ini akan tetap ada kelanjutan di sesi yang ke-2.


"Em...mba bagaimana ya...ini suami saya sudah meminta saya untuk pulang ke rumah segera, karena anak-anak tidak ada yang menjaga. Saya mohon maaf sekali".


Ucap Rania dengan sangat sopan karena ia tau pasti tidak enak rasanya menunggu selama 1 jam, dan ketika tiba saatnya malah ditolak mentah-mentah.


Hening sesaat.


"Kalau konsultasi nya di rumah Bu Rania bagaimana?, Saya hanya butuh meluapkan perasaan saya sekarang juga!"


Ucap Hesti yang mulai mengeluarkan nada memelas dan mata yang berkaca-kaca.


Rania yang dalam keadaan serba salah, akhirnya mengijinkan Hesti untuk ikut pulang dengannya. Bahkan Rania yang terbiasa menaiki ojek online, ditawari tumpangan oleh Hesti.


Rania duduk disamping Hesti. Ini merk mobil biasa, namun interior didalamnya sangat mewah dan girly..Semua aksesoris mulai dari jok, lampu, tempat sampah, tempat tisu, bantai dan hiasan yang digantung berwarna magenta. Hawa parfum semerbak, yang ditaksir berharga jutaan itu pun sangat kuat tercium saat AC mulai dinyalakan dan mobil mulai melaju, pelan dan terlihat santai.


Tak berselang lama, mereka pun sampai di rumah Rania. Tak disangka ternyata Hesti telah mengetahui dengan baik alamat Rania.


"Anda tau betul rumah saya?"


Tanya Rania penasaran ketika mobil mulai masuk ke halaman rumah Rania, tanpa sempat Rania memberikan arahan.

__ADS_1


"Tentu Bu Rania. Anda sangat terkenal disini dan saya juga pengunjung setia resto ini"


Ucap Hesti sambil menunjuk resto milik Rania dan Jean.


Rania menelan ludah. Semoga Jean tak sempat melihat perempuan secantik ini!


Mobil terparkir dengan sempurna. Masih ada mobil Jean disana.


^^^Ah...mengapa aku se-takut ini Jean akan tertarik pada wanita secantik ini. Mungkin calon janda juga. Karena yang datang padaku kan para calon janda, dan ini janmud alias janda muda...huaaaaa.... Rania menangis didalam hati. Jiwa istri-istri teraniaya meronta-ronta.^^^


Namun, ia berusaha positif thinking. Bukankah jika Jean mau selingkuh, tentu akan mudah ia lakukan, karena Rania jarang ke resto, sedangkan Jean banyak beraktivitas disana. Namun, nyatanya sepanjang perjalanan pernikahannya, Jean tak pernah sekalipun menunjukkan gelagat sebagai sugar Daddy bagi kaum pecinta pria beristri.


"Assalamualaikum..."


Rania memasuki rumahnya yang pintunya dalam keadaan terbuka.


"Mama....!!!"


Tiga bocah menyambutnya dengan suka cita. Chantika meminta sebuah ciuman. Gadis kecil yang baru masuk SD itu sekarang terlihat sangat centil, apalagi dengan dua kakak laki-lakinya, ia sangat manja dan sering berulah agar lebih dimanja.


"eh mama sudah pulang, ayah ke pabrik dulu ya ma. Harus segera packing susu, mau diantar malam ini juga!"


Ucap Jean sambil mengecup kening istrinya.


Jean terdiam sesaat saat mengetahui ada tamu yang datang bersama Rania.


"Oh...ada tamu. Silahkan. Maaf saya tinggal dulu ya!"


Ucap Jean sambil memberikan tangan ya pada anak-anaknya. Zidan, Azka dan Chantika saling berebut untuk bisa salim dengan ayahnya itu.


Sementara Hesti hanya tersenyum tipis. Namun matanya mengikuti arah Jean berjalan.


Rania yang terus mengawasi Hesti, memergoki Hesti mencuri pandang punggung Jean yang terlihat kekar dan kokoh karena sering mengangkat beban berat.


"huh awas kalau berani....!"


Gumam Rania yang tentu tak didengar oleh Hesti.


Rania mulai terlihat jutek ketika mempersilahkan Hesti untuk duduk. Mata Hesti menerawang ke segala penjuru rumah. Mata Rania pun tak henti memperhatikan tingkah Hesti yang mencurigakan.


"Jangan harap kamu akan menjadi nyonya baru rumah ini. Akan aku buat kamu menyesal jika berani!!!"


Gumam Rania, yang akhirnya merasa terancam dengan kehadiran Hesti untuk bertamu. Besok-besok ia akan berpikir ulang untuk konsultasi di rumah!


Bersambung...

__ADS_1


Hai Dear...yg cerita ustadnya saya pending dulu ya, Saya ganti dengan cerita ini yang gak kalah serunya...yuks jangan lupa like sebanyak-banyaknya supaya author tambah semangat up😘😘😘


__ADS_2