
Fika menyusun pakaiannya kedalam koper. Beberapa stel baju renang bahkan telah ia siapkan. Hobi renangnya telah lama ia tinggalkan. Di Bali, ia kan kembali melakukan hobinya itu kembali.
"Hari pertama emmm renang, pakai baju ini. Hari kedua snorkeling, pakai ini. Hari ketiga banana boat, hari keempat pantai Pandawa. Ah...seru juga berjemur ala bule. Tapi...ah...!"
Pikiran Fika asyik berpetualang. Tentu ia telah menyiapkan strategi untuk menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan dateline-nya. Sepekan di Bali, tak akan pernah ia sia-siakan. Maklum ini kali pertama ia bisa ke Bali dengan biaya gratis!
Satu koper besar telah penuh. Ia siap untuk berangkat besok pagi. Sebelum berangkat, ia menyempatkan diri untuk berkunjung menemui ibunya. Biasanya Wisnu akan ia hubungi untuk mengantarnya ke RSJ. Tapi, hari ini, Wisnu agak sulit untuk dihubungi. Pesan lewat aplikasi hijau yang ia kirim sejak tadi pagi, belum juga dibaca.
"Mungkin ia sibuk!" Gumam Fika.
###
Sesampainya di rumah sakit. Ia segera menemui dokter spesialis kejiwaan yang menangani ibunya. Ia berharap ada kabar baik pekan ini. Ia telah berencana akan membawa ibunya pulang. Saat ini, dengan penghasilannya, ia berhasil merenovasi rumah, sehingga warna rumah lebih segar. Beberapa bagian dirubah, agar kenangan pahit masa lalu terlupakan.
"Bu, ada kabar gembira untuk kita. Pekan depan ibu sudah boleh pulang ke rumah. Tadi, dokter Yudi bilang, ibu sudah sehat".
Ucap Fika sambil menatap lekat wajah ibunya. Ucapan syukur tak lepas dari bibirnya, sebab pekan depan mereka sudah bisa berkumpul kembali. Fika tidak akan merasa kesepian lagi di rumah.
Pina menatap lekat anak semata wayangnya itu. Ada guratan senyum diwajahnya. Kesadarannya mulai membaik. Ia juga telah menyadari bahwa dirinya memiliki anak. Fika adalah anaknya.
"Besok Fika ke Bali, Bu. Ibu tau kan, Fika sangat ingin ke Bali dari dulu. Ibu ingat gak, waktu Fika SMP. Di sekolah mengadakan studi tour ke Bali. Biayanya satu juta. Tapi, kita gak mampu bayar. Rasanya, Fika sedih sekali. Mengapa tidak bisa merasakan seperti teman-teman lainnya. Syukurlah, Tuhan mengijinkan Fika ke Bali saat telah bekerja, dan itu gratis Bu!" Ucap Fika dengan binar bahagia.
Sang Ibu hanya merespon dengan senyuman yang mengembang diwajahnya.
###
Hari masih gelap. Suara klakson mobil berbunyi berkali-kali.
"Fik...Fika...!!!" Beberapa kali Wisnu memanggil Fika. Namun Fika tak muncul juga.
Dor... dor....dor... Pintu digedor beberapa kali.
"Apaan sih mas, kok kayak dept kolektor aja kamu ini". Tiba-tiba Fika muncul membawa koper berukuran besar.
"Astaga Fika...kita ini cuma seminggu aja kok di Bali. Lagian disana juga ada tempat laundry" . Gerutu Wisnu yang keheranan, Fika terlihat rempong membawa koper besar dan tas ransel yang terlihat penuh berat.
"Ih...udah, bantuin aja masukin ke mobil!" Ucap Fika.
Wisnu masih geleng-geleng kepala.
__ADS_1
Tak berselang lama, mobil pun melaju menuju bandar Udara internasional Soekarno-Hatta.
Setelah melakukan check in, Fika dan Wisnu duduk di ruang tunggu VIP bandara.
"kamu kelihatan excited banget Fik. Padahal kita cuma ke Bali loh!" ledek Wisnu yang keheranan dengan tingkah Fika beberapa hari ini.
Fika yang tadinya asyik membaca sebuah novel online di Handphone nya, melirik Wisnu dengan tatapan jengkel.
"Cuma Bali katamu, mas. Itu karena kamu punya banyak kesempatan untuk ke Bali. Sedangkan untukku, aku pernah gagal berangkat ke Bali ketika SMP dulu, karena aku tak punya uang untuk kesana. Apa yang menurut kamu biasa saja. Bisa jadi menurut orang lain merupakan kesempatan luar biasa. Coba saling memahami posisi orang lain, mas!". Ucap Fika kesal. Fika pun memutuskan untuk pindah kursi.
Wisnu melongo melihat tingkah Fika ini. Tak biasanya ia bersikap sensitif seperti ini.
"Lagi mau PMS kali ya...?" Gumam Wisnu keheranan.
Di Pesawat, meskipun duduk bersebelahan, Fika tak juga mengeluarkan suara. Sikapnya tetap dingin pada Wisnu. Ia amat kesal dengan celetukan Wisnu yang kali ini terdengar tidaklah lucu.
Sampai tiba di hotel tempat mereka akan menginap selama sepekan kedepan.
"Nih, kamu di kamar 504 dan aku kamar 505". Ucap Wisnu. Fika mengambil kunci kamar dan mereka pun menaiki lift bersama. Mereka baru berpisah saat telah sampai didepan kamar masing-masing.
Pintu dibuka. Fika terkejut karena kamar tempatnya memiliki connecting room dengan kamar disebelahnya. Fika berlari keluar dan masuk ke kamar Wisnu yang masih terbuka, karena Wisnu masih sibuk memasukkan barang-barang milik perusahaan.
"Mas, apa apaan ini. Kamar kita ada conecting roomnya!" Ucap Fika kesal. Bagaimana jika tengah malam Wisnu masuk kedalam kamarnya.
"kamu bukannya bantuin aku masuk masukin barang kantor, malah komentar kamar!" Gerutu Wisnu.
Akhirnya Fika pun mau membantu mengangkat barang-barang milik kantor yang nantinya akan diisi di klinik baru Dr. Eren.
Setelah selesai memasukkan barang-barang, Fika merasa kelelahan dan berbaring di kamar Wisnu.
"Kamu ga mau mandi dulu, Fik". Ucap Wisnu yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Fika terkejut karena dia nyaris tidur lelap diranjang Wisnu.
"Eh iya mas maaf aku ketiduran. Aku kembali ke kamarku dulu ya!".
"Oke!. Oh ya segera keluar jika selesai. Kita makan siang bersama di cafe bawah!" .
Fika mengangguk.
__ADS_1
Fika sungguh terpesona dengan keindahan pantai Bali. Kebetulan lokasi hotel dengan Ubud tidak terlalu jauh.
"Mas, hari pertama kan kita hanya bertugas cek lokasi. Apa boleh kita mampir untuk melihat Ubud. Aku gak mau menunggu sampai lusa!" Rengek Fika.
"Fik apa kamu gak lelah. Lebih baik setelah survei kita istirahat dulu, karena seharian besok kita akan mulai mengurus administrasi dan ijin usaha. Itu pasti memakan waktu full seharian!". Ucap Wisnu yang mulai jengkel dengan rengekan Fika.
Kalimat Ubud, Bali seperti terus diulang-ulang, membuat Wisnu yang di kepalanya dipenuhi tanggung jawab perusahaan menjadi kesal.
Fika menghentikan makan siangnya. Rasanya Wisnu tidak lagi menjadi orang yang menyenangkan, kali ini.
Wisnu terlihat abai dengan tingkah Fika. Ia menekankan Fika untuk profesional, karena sebentar lagi mereka akan bertemu dengan klien mereka. Seorang agen properti yang mengurus tempat untuk dijadikan klinik Dokter Eren nantinya.
Fika mencoba mengontrol emosinya. Dan berhasil.
Namun, ia dan Wisnu tak saling bertegur sapa.
Wisnu merental sebuah mobil untuk dijadikan kendaraan operasional. Mobil melaju menuju arah hotel. Pekerjaan hari ini selesai. Tepat jam3 sore.
Fika menatap kearah luar mobil. Melihat indahnya sunset dilangit Bali. Ia tiba-tiba terpana sebab ternyata Wisnu mengarahkan mobilnya masuk ke kawasan Ubud. Fika menatap Wisnu dengan binar mata bahagia.
"Mas, terimakasih!" Ucap Fika sambil menggenggam tangan Wisnu.
Wisnu mendekap tubuh Fika.
"Tak ada yang gratis Fika!". Ucap Wisnu sambil menarik tubuh Fika yang hanya sebahunya. Mengecup kening perempuan itu, mendekapnya erat. Suasana yang begitu romantis di Ubud, Bali.
"Fika, aku mencintaimu...!"
Ucap Wisnu lirih ditelinga Fika. Hampir saja membuat Fika jatuh pingsan. Rasanya jantungnya berhenti berdetak dan napasnya tersengal.
"Maukah kamu menjadi kekasihku?" Tanya Wisnu sambil lekat menatap mata Fika.
Fika salah tingkah, rasanya pemandangan Ubud kalah indah dibandingkan dengan apa yang ada didepan matanya saat ini. Tatapan Wisnu amat indah, lebih indah dari segala.
"Kamu serius, mas?"
Tanya Fika, yang sebenarnya hatinya telah mantap mengatakan "ya!".
"Iya sayang. Aku sangat menginginkan kamu!" Ucap Wisnu satu kali lagi.
__ADS_1
Fika pun mengangguk tanda setuju. Keduanya kembali berpelukan. Mengabaikan jutaan manusia yang ada disekitar.
Bersambung ...