100 Hari Pertama Menjadi Janda

100 Hari Pertama Menjadi Janda
Adik tak Dianggap!


__ADS_3

Azka menarik lengan Fika dengan keras. Ia tidak memperdulikan banyak mata yang mengotori mereka. Berlari menuju sebuah lorong toilet. Meremas lengan dengan sekuat tenaga.


Sebuah hentakan membuat tubuh Fika terbanting ke tembok sudut toilet. Suasana saat itu sepi pengunjung. Azka membanting tubuhnya sendiri, hingga tubuh keduanya bertumbukan. Wajah mereka saling bertatapan. Mata Azka membulat. Deru nafas bersautan. Fika tak bisa menahan sakit dipergelangan tangan.


"Untuk apa kamu disini?!"


Pekik Azka ditelinga Fika.


Fika tak menjawab, ia masih fokus pada rasa sakit dipergelangan tangan.


"Fika jawab!!!" Pekik Azka sambil mendekatkan wajahnya ke arah Fika. Mereka tak pernah berada pada jarak sedekat ini. Bahkan ketika mereka masih menjalin hubungan sekalipun. Saat ini kedua wajah beradu.


"Azka, aku adalah adikmu!!!"


Ucap Fika saat sebuah kecupan nyaris mendarat dibibir. Azka seperti tak memperdulikannya.


Rindu, cemburu. Begitu bahasa tubuh seorang Azka. Bagaimanapun cinta itu tak diinginkan oleh keduanya. Andai mereka bisa memilih, agar takdir tak mengikat keduanya dengan perasaan yang sama. Saling mencintai.


###


Azka kembali menarik lengan Fika. Kali ini menuju tempat parkir roda empat. Sebuah mobil Honda jazz silver terparkir disana.


"Masuk!" ucap Azka sambil membuka pintu mobil.


"ka, aku sedang bekerja!"


Jawab Fika sambil melihat ke sekitar.


"Masuk, Fika!" bentakan Azka membuat Fika takut dan akhirnya ia masuk kedalam mobil. Ia takut akan terjadi sesuatu yang lebih kacau jika ia menolak Azka.


Mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Mata Azka fokus pada kemudi. Ingin rasanya Fika lompat dari mobil tersebut. Namun rasanya nihil. Lompat sama dengan bunuh diri.


Fika tak tau kemana Azka akan membawanya pergi. Sepanjang perjalanan hanya disuguhi wajah dingin tanpa ekspresi. Tak berselang lama, Fika sampai disebuah apartemen mewah di Jakarta. Ada rasa takut dihati Fika. Ia takut Azka berbuat nekat padanya.


Azka kembali menarik lengan Fika. Memaksa menaiki lift. Lantai 12.


Didalam lift ...


"Azka...Ka...!!! dengarkan. Aku ini adikmu, ka!!!"


ucap Fika mulai berontak. Ia tak ingin mereka melakukan lebih dari apa yang terjadi tadi.


"Aku tidak akan pernah menganggap kami sebagai adik?, adikku hanya Zidan!".

__ADS_1


Ucap Azka dengan dingin dan angkuh.


"Kamu tidak perlu menganggap ku sebagai adik, ka. Sebab, takdirku menjadi adik kandungmu bukan dari diterima atau tidaknya aku dalam hidupmu. Melainkan dari darah yang sama mengalir ditubuh kita!".


Jawab Fika dengan tegas.


"Aku tak membutuhkan pengakuan dari kamu, ka. Sebab bagiku, cukup aku tau bahwa kamu adalah mahramku. Sehingga tak patut bagiku untuk menjadikanmu suamiku, apalagi sampai bersetubuh denganmu!".


Ucap Fika tegas. Lift berhenti dilantai 15. Azka melangkahkan kakinya keluar lift. Sedangkan Fika diam ditempat. Ia menutup pintu lift tepat sesaat Azka keluar dari lift.


Lift itu membawa Fika kembali turun ke basemen dan berhasil keluar dari tempat itu.


Langkah beriring tangis membawanya kembali ke tempat ia bekerja.


###


"Fika, kamu sudah membuat kegaduhan dihari pertama kamu bekerja!" tegur supervisor di restoran tempat Fika bekerja.


Fika tertunduk dengan mata sembab..Ia tau bahwa ini kejadian fatal untuk kesan pertama bekerja.


"Saya bahkan belum sempat menilai kinerja kamu, malah kamu sudah membuat drama ditempat ini!" gerutu atasannya itu.


"Fika maaf. Hari ini adalah hari pertama sekaligus hari terakhir kamu bekerja disini!"


Sebuah surat pemecatan kembali ia terima. Fika lunglai hingga ia tak memiliki tenaga untuk membela dirinya. Baginya, hari ini adalah sebuah penguatan bahwa hidupnya terlalu berantakan untuk ditata!


###


Fika merasa hidupnya terlalu keras. Semua tempat hampir menolak dirinya.


Fika menyandarkan kepalanya di sebuah halte bus. Ia seperti tak memiliki daya untuk pulang. Bagaimanapun baiknya Nadia, dia tetap harus tau diri. Sudah dua pekan ia menumpang hidup pada Nadia. Uang tabungannya sudah terlalu tipis. Berat rasanya ia pulang dan memberitahu Nadia, bahwa dirinya telah dipecat dari pekerjaannya.


Fika memutuskan tidak pulang malam ini. Ia masih duduk di halte bus ketika hari telah menggelap.


"tidak pulang nona?" Seorang pria paruh baya yang tengah berdiri menunggu bus menyapanya. Fika melirik dan hanya menggelengkan kepalanya.


"Sedang ada masalah?".


Fika mengangguk berat.


"masalah apa yang bisa membuat seorang anak gadis duduk di halte bus sendirian?" Tanya pria itu dengan lembut.


Fika merasa pria ini tidak jahat. Dengan mudah ia berbincang dengannya.

__ADS_1


"saya baru saja dipecat dari perusahaan!" Ucap Fika dengan suara berat. Ia kembali menangis.


Tangan pria itu membelai bahu Fika.


"sabar. Mungkin itu bukan rejeki kamu. Kalau kamu mau bekerja, datang besok pagi ke kantorku. Kebetulan disana sedang membutuhkan karyawan untuk posisi sale promotion". Ucap pria itu mencoba menenangkan Fika.


Ucapan pria itu seperti membawa angin segar bagi Fika. Bahkan posisi yang ditawarkan sesuai dengan bidangnya selama ini.


Setelah memberikan kartu nama. Pria itu mengajak Fika menaiki bus untuk pulang. Ia juga membayarkan tiket bus untuk Fika. Setidaknya, hari ini ada sedikit keberuntungan untuknya.


###


Keesokan harinya Fika menuju perusahaan yang dimaksud. Kantor yang cukup megah dengan banyak ornamen girly. Ia sangat hafal dengan Brand yang terpajang di gedung itu. Sebuah brand kosmetik lokal yang cukup ternama.


Fika menjadi sangat bersemangat, karena kali ini ia tidak dibohongi. Pria yang kemarin memberikan kartu nama itu muncul kembali di kantor. Ternyata dia seorang kepala pasaran di perusahaan itu.


Namanya pak Wisnu. Perawakannya tinggi tegap, berkulit putih bersih. Kemarin tanpa sengaja harus pulang menaiki bus. Karena mobil yang biasa ia kendarai terjebak banjir yang terjadi di sekitaran kantornya.


"Akhirnya kamu datang Fika!"


Sapa pak Wisnu dengan ramah.


"Ia pak Wisnu, terimakasih telah memberikan saya kesempatan ini!"


Jawab Fika dengan tersipu malu.


"Oh ya tentu. Mungkin takdir Tuhan, kemarin mobil saya terjebak banjir. Dan mempertemukan saya dengan kamu. Entah kenapa, saya sangat bersimpati padamu!"


Ucap Pak Wisnu dengan nada lembut. Suaranya amat lembut membuat Fika nyaman ketika menjalani interview.


"Jadi, saya sedang membutuhkan Sales Promotion Girl (SPG) untuk saya tempatkan di sebuah mall di Jakarta. Kamu akan mendapatkan fasilitas kamar kos yang lokasinya berdekatan dengan mall, gaji pokok sebesar UMR Jakarta, tunjangan kesehatan dan bonus penjualan. Bagaimana kamu siap bekerja?".


Mata Fika berbinar mendengarkan apa yang Pak Wisnu sampaikan. Ini pekerjaan dambaannya, menjadi Sales Promotion Girl pada produk kosmetik.


Dengan mantap Fika menjawab,


"Ya Pak. Saya siap!"


" Kalau begitu, kamu bisa mulai bekerja hari ini juga!" Ucap pak Wisnu sambil menyalami tangan Fika.


Fika diantar pak Wisnu menuju lokasi penempatan kerja. Sebuah mobil Fortuner hitam mengantarnya.


Fika amat berbinar melihat both tempat ia nantinya bekerja. Ia tak ingin mengulangi kesalahannya. Semoga ia tidak lagi bertemu dengan Azka!

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2