
Dua bola mata yang melepas Sarah, tak pernah bisa dilupakan. Pedih rasanya, ketika masih menikmati melepas rindu bersama anak, namun harus terpisah hanya karena materi.
Sarah terbang dengan pesawat secara legal. Pengalaman menjadi TKI ilegal mengajarkan ia agar ia tak mengulangi kebodohannya lagi. Ia nyaris menjadi korban human travicking bekerja lebih dari 18 jam sehari tanpa makan yang cukup dan tanpa bayaran.
Sebelum ia terbang kembali ke negeri Jiran Malaysia, terlebih dahulu ia menyiapkan dokumen resmi yang dibantu oleh PJTKI resmi, yaitu :
Ijazah pendidikan terakhir
KTP (Kartu Tanda Penduduk) atau e-KTP
Akta kelahiran
Sertifikat kompetensi kerja
Visa kerja
Paspor yang diterbitkan resmi dari Kantor Imigrasi tempat domisili
Perjanjian kerja
Perjanjian penempatan
Surat keterangan izin wali, orang tua, istri atau suami
Fotokopi buku nikah atau keterangan status perkawinan
Kali ini, berbekal pengalaman sebagai koki di sebuah rumah makan khas Melayu, Sarah mendapatkan tawaran untuk menjadi juru masak di sebuah hotel ternama di Malaysia. Untung saja ia pernah mengikuti pelatihan bersertifikat memasak dari Chef ternama saat menjadi juru masak di restoran Melayu. Sehingga, ia bisa dengan mudah mengikuti tes untuk bekerja di hotel tersebut.
Untuk keberangkatan kali ini, ia memilih PJTKI yang resmi dikelola oleh Dinas Tenaga Kerja Kabupaten, Sarah merasa terbantu, karena ia mendapatkan gratis biaya registrasi dan bisa mengikuti bursa kerja luar negeri. Sehingga, ia bisa mendapatkan posisi juru masak ini.
***
Sarah mencoba fokus pada apa yang harus ia kerjakan. Fokus pada mimpi dan cita-cita untuk membahagiakan putri semata wayangnya.
Namun, ia mulai berpikir ulang tentang suaminya. Pria itu tidak pernah memikirkannya. Ia tidak merasakan bagaimana banyak waktu yang terlewati bagi Sarah untuk melihat tumbuh kembang anak mereka. Kadang, jika mengingat itu, rasanya Sarah ingin mengajukan cerai saja. Toh rasanya sama saja, punya atau tidak punya suami.
***
Hanya butuh waktu dua pekan Sarah tinggal di penampungan PJTKI resmi, kemudian akhirnya ia ditempatkan di sebuah hotel bintang lima dan menyewa sebuah kamar kos yang jaraknya tidak jauh dari tempat Sarah bekerja.
Sarah sudah terbiasa disiplin dan pekerja keras. Meskipun minim pendidikan dan berasal dari kampung. Namun, berkat banyaknya pelatihan skill yang ia ikuti, menjadikan Sarah mahir menggunakan alat-alat masak perhotelan.
"Untung dulu setiap libur kerja, selalu mengikuti pelatihan dari chef Gunawan, seorang chef profesional dari hotel terbesar di Malaysia. Alhasil, manager puas dengan kinerja ku!"
Gumam Sarah. Begitulah hasil yang tidak pernah mengkhianati usaha!
Waktu berjalan begitu saja. Anjar semakin berani meminta uang kiriman pada Sarah. Awalnya meminta uang karena Aisyah sakit. Kemudian berlanjut meminta dana untuk membangun rumah masa depan. Meskipun. hati Sarah sudah tidak mencintai Anjar lagi, namun, jika Anjar sudah menyinggung masa depan untuk Aisyah, maka hati Sarah akan melunak. Dengan mudah Sarah akan mentransfer sejumlah uang hingga puluhan juta rupiah.
Tak dapat dielakkan, bahwa rumah itu benar-benar dibangun. Rumah reot yang lebih layak disebut gubuk itu kini berubah menjadi istana megah. Sarah membagi penghasilnya menjadi 2 bagian. 30% untuk ia kirimkan ke kampung dan sisanya untuk dirinya sendiri dan tabungan.
***
Di hotel tempatnya bekerja, Sarah terkenal dengan banyak prestasi. Yaitu sangat cekatan menerima tantangan pasar. Ia hobi memodifikasi menu lama dengan menu baru dengan rasa yang lebih unik.
Contohnya saja, ia membuat menu salad Asia dipadukan dengan rujak asal Indonesia lengkap dengan toping kacang gorengnya. Tak disangka, rupanya menu ini mengantarkan Sarah menuju promosi jabatan.
Hanya dalam waktu dua tahun, Sarah telah naik jabatan menjadi manager bagian dapur. Sarah memimpin 35 juru masak yang ada di hotel tersebut. Kesibukannya ini membuat Sarah jarang punya waktu luang, bahkan hanya untuk bersua kabar dengan suaminya. Ia hanya bisa bersua kabar dengan putrinya yang kini duduk di bangku sekolah dasar.
__ADS_1
Rumah mereka telah rampung dan menjadi rumah terbesar dan termegah yang ada di kampungnya.
Anjar juga berhasil menghasut Sarah untuk membeli sebuah unit mobil secara cash. Semua dengan alasan yang sama "demi anak!".
Memang Anjar sering mengantar jemput sekolah Aisyah, namun mobil itu lebih banyak digunakan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat.
Bahkan, lambat laun Aisyah sering menghindar jika ibunya bertanya mengenai keberadaan anaknya. Bocah itu seperti dalam tekanan, sehingga memilih untuk tidak menjawab apabila sang ibu menanyakan keberadaan ayahnya.
Beberapa kali, Sarah juga melihat melalui sambungan Vidio call, Aisyah yang tidak berada di rumah yang dibangun Anjar. Melainkan berada di rumah kakek dan neneknya dari pihak Sarah. Namun, Sarah masih menyimpan pikiran positif. Bisa jadi, memang anak itu lebih dekat dengan keluarga dari pihak ibu dari pada ayah. Sehingga Sarah lebih sering di rumah kakek dan neneknya dari pada rumahnya sendiri.
***
Suatu malam, Sarah memimpikan cincin pernikahan mereka digunakan oleh orang lain. Sarah kemudian segera bangun dari tidurnya dan mengucapkan istighfar.
Ia mengambil ponsel dan berusaha menghubungi suaminya. Namun tak kunjung berhasil, meskipun ia telah mencobanya sebanyak ratusan kali.
Menjelang subuh, Sarah menghubungi Aisyah, berusaha menanyakan keberadaan ayahnya. Namun, rupanya sang ayah tidak menjemput Aisyah di sekolah. Sudah hampir dua pekan anak itu pulang ke rumah kakek dari ibunya, Sarah.
Aisyah mengatakan bahwa ayahnya tengah ada pekerjaan luar kota, sehingga harus menitipkan dia ke rumah kakeknya.
Hati Sarah semakin gelisah. Sejak kapan Anjar memiliki pekerjaan yang sampai mengharuskannya dinas luar kota?
****
Di pagi yang masih buta, terdengar suara ketukan pintu sampai berkali-kali. Adzan Subuh masih berkumandang, si pemilik rumah masih terlelap tidur. Dalam balutan selimut, dua pasang suami istri tengah menikmati hari-hari pertama menjadi pasangan resmi. Mereka baru saja selesai bercinta dua jam lalu. Sepertinya kasur yang mereka tiduri memang mampu membuat telinga mereka tertutup dari suara ketukan pintu yang mampu membuat tetangga sebelah terjaga dari tidurnya. Tapi tidak dengan mereka!
Pintu kembali diketuk. Kali ini diketuk dibagian kaca. Tak berselang lama, pintu pun dibuka oleh seorang perempuan berbadan kurus dengan rambut sebahu. Ia masih mengenakan pakaian tidur model lingerie dengan kimono **** dibagian luarnya. Rambutnya berantakan dan disemir pirang. Ada bekas kecupan di beberapa bagian leher.
Sarah yakin betul bahwa rumah yang ia ketuk adalah rumah Anjar yang dulu merupakan gubuk reot. Anjar adalah anak satu-satunya di keluarga itu, mana mungkin ada perempuan lain yang pagi buta mengenakan lingerie dengan bekas ciuman di leher?!
"Maaf siapa?!"
"Seharusnya saya yang bertanya, siapa kamu disini?! Oh ya Saya Sarah, istrinya Anjar!"
Perempuan itu tampak syok. Ia berdiri kaku sebelum akhirnya suara Anjar yang begitu dikenali Sarah terdengar dari belakang.
"Siapa sih sayang, yang bertamu subuh-subuh kayak gak tau waktu saja!"
Ucap Anjar sambil mengucek matanya.
"Saya tidak bertamu di rumah sendiri!!!"
Suara Sarah mengagetkan Anjar yang tengah bertelanjang dada.
"Sarah...Ka...kamu.... pulang?!!!"
Ucap Anjar gelagapan saat mengetahui bahwa yang datang lagi itu adalah Sarah.
"Ya. Aku pulang karena merasa ada yang tidak beres dengan rumah tangga kita!, sepertinya ada yang hidup mewah dari hasil keringatku selama ini, dan menari diatas derita seorang ibu yang terpisah dari anaknya!"
Semua terdiam..Sarah mulai tersulut emosi.
"Katakan padaku...siapa perempuan ****** ini Anjar???!!!!"
Tak ada satupun yang menjawab. Perempuan itu dan Anjar hanya saling berpandangan. Perempuan itu kemudian mendekati Anjar dan berlindung di balik lengannya.
"Hehhhh ...apa yang kamu lakukan!, mengapa kamu mendekati suamiku!, keluar kami perempuan ******!!!"
__ADS_1
Ucap Sarah tersulut emosi, ia kemudian berusaha menarik lengan perempuan itu untuk keluar dari rumah. Namun malah ditahan oleh Anjar.
"Jangan sentuh Lidya!, dia istriku!"
Ucap Anjar setengah berteriak.
Mata Sarah membulat, terasa panas dan tak terbendung lagi air matanya. Bahkan Sarah tidak mampu mengatakan sepatah katapun.
"Ya. Dia istriku sekarang Sarah. Namanya Lidya. Kami menikah secara siri sejak sebulan yang lalu. Dia berhak menempati rumah ini sekarang!"
Ucap Anjar dengan nada yang tidak tahu malu. Perempuan itu tersenyum sinis melihat dirinya mendapat pembelaan dari Anjar.
"Tapi ini kan rumah ku, mas!!! ini semua hasil kerjaku!!!!"
Ucap Sarah sambil berteriak, seperti orang kesetanan. Hatinya sudah terlalu sakit dan tak mampu bersikap biasa saja.
"Ya...rumah ini memang milikmu Sarah, tapi hanya bangunannya saja, tanahnya adalah milik keluargaku. Jadi kita punya hak yang sama untuk rumah ini!!!"
Ucap Anjar dengan sinis.
"Tidak! Aku tidak sudi serumah dengan perempuan lain, aku tidak sudi di poligami!!!!"
""Jika kau tidak mau di poligami. Maka silahkan kamu keluar dari rumah ini. Kalau perlu, silahkan kamu angkat rumah ini jika kau mampu!!!"
Ucap Anjar menantang Sarah.
Sarah yang tersulut emosi kemudian mendekati Anjar dan terjadi baku hantam diantara ketiganya, dan baru berakhir setelah dilerai warga.
***
Sarah pulang ke rumah orang tuanya yang hanya berjarak dua kilo dari rumah Anjar. Betapa sakit hatinya, apa yang ia perjuangkan selama ini dinikmati oleh madunya.
Belum lepas rasanya lelah saat Sarah mentransfer uang dolar yang jika di rupiahkan mencapai Rp.250.000.000; untuk membeli mobil. Belum lagi ratusan juta untuk pembanguan rumah. Bahkan ia harus menghemat pengeluarannya di negeri orang hanya untuk dikirim kepada suami yang tidak bertanggungjawab.
"Maafkan bapak yang tidak memberi tahu kelakuan suami kamu, nduk. Sudah lama...sudah lama dia begitu. Sakit hati bapakmu ini. Tapi, bapak tidak berani membuatmu sedih!"
Ucap ayah Sarah sambil menangis tersedu-sedu.
"Justru dengan bapak diam, akhirnya Sarah banyak kerugian. Sekarang bagaiman, rumah itu sudah jadi milik orang lain huhuhu..."
Ucap Sarah sambil menangis tersedu-sedu. Ia tidak menyangka, bahwa perasaan gelisah dan mimpi tentang cincin itu akhirnya menjadi kenyataan.
Perasaan gelisah itu yang mendorong Sarah untuk mengambil cuti beberapa pekan untuk pulang ke kampung halamannya. Ia ingin sekali membuktikan bahwa mimpi itu tidak benar adanya. Namun salah, nyatanya mimpi yang ia alami adalah tanda alam bahwa suaminya memang berselingkuh!
***
Sarah memilih menyendiri beberapa hari. Ia tak napsu makan dan melakukan aktivitas. Namun, disampingnya selalu ada Aisyah, gadis kecil yang selalu memberinya motivasi untuk bangkit. Ia tak ingin melihat ibunya menangis.
"Ibu la ninggalin Aisyah. Ingin rasanya Aisyah bisa bercanda sama ibu ketika ibu pulang. Tapi, ibu malah bersedih".
Ucapan Aisyah seperti menjadi bara api bagi Sarah untuk tetap bersemangat menjalani hidup. Ia telah melewatkan masa bayi Aisyah, apakah ia akan menyiakan masa kanak-kanak Aisyah untuk meratapi nasib malangnya?!
Namun, Sarah masih belum tau apa yang harus ia lakukan untuk menyembuhkan luka hatinya. Yang jelas, ia tak bisa tinggal diam menyaksikan mantan suaminya berfoya-foya dengan menggunakan fasilitas hasil keringatnya.
Sarah kemudian teringat bahwa Anjar mengatakan bahwa rumah itu memang milik Sarah, namun tanah itu milik Anjar. Sehingga Sarah boleh tinggal seatap dengan madu, ataupun memilih untuk angkat kaki, dan mengangkat rumahnya sekalian juga.
Kemudian, muncul sebuah ide untuk mengangkat rumah itu dari tanah milik Anjar.
__ADS_1
Sarah segera membicarakan niatnya itu kepada keluarga besar. Rupanya keluarga besar Sarah pun menyetujuinya. Maka mereka pun berkumpul untuk membuat sebuah strategi, cara mengangkat rumah itu dari tanah milik Anjar!!!!
bersambung ....