
Rania mengemasi pakaian dan beberapa perabotan ringan. Ia tak memiliki banyak perabotan rumah tangga. Hidup terombang-ambing membuatnya tak fokus untuk menjadi kolektor perabotan, seperti perempuan yang sudah menikah pada umumnya.
Malam itu juga, Rania dijemput oleh pak Tino, orang suruhan Bu Latifaa. Pak Tino mengangkat barang Rania dan memasukkannya kedalam mobil. Mobil melaju pelan, karena jarak menuju paviliun Anggrek tempat tinggal karyawan Latifaa Bakery tidaklah jauh dari lokasi Paviliun Aster, tempat semula.
Barang-barang diturunkan disebuah paviliun berukuran 4x3 meter. Ada sebuah kamar mandi dalam dan sebuah dapur umum. Paviliun ini memiliki 24 kamar dengan dua lantai. Hanya karyawan yang bertugas sebagai baker dan packaging yang mendapatkan fasilitas ini. Sebab, mereka terkadang harus bekerja tiga sift.
Rania menempati lantai dua Paviliun. Pemandangan dari lantai dua cukup menarik. Langit nampak indah di malam hari. Rania menata pakaiannya di lemari. barang lainnya ditata ketika akan dipakai saja. Rania mencoba memejamkan mata. Lelah dan penat tubuhnya telah menguasai. Bagaimanapun ia ingin kuat. Ia tak ingin jatuh kedalam situasi yang sama, dimana stres hampir saja merenggut kewarasannya.
Tapi, udara malam terasa panas. Ia membuka jendela kamar. Ia terkejut ketika jendela kamar dibuka, dari arah yang tak terlalu jauh, ia melihat sebuah rumah berdiri cukup megah. Itu seperti sebuah istana. Tapi...tunggu, Astaga ada Meta berdiri dan sedang memandang Rania puas. Apakah Meta sengaja menempatkan Rania di paviliun ini agar gerak geriknya mudah diawasi?!
Suara pintu diketuk beberapa kali...
Rania menutup jendela kamarnya dan menuju arah pintu yang diketuk.
"Jean...."
"Rania....kamu...."
"Sudahlah Jean tak apa.."
"Maaf aku terlambat, Rania...."
Jean baru saja tiba dari kantor cabang yang ada di Bandung. Begitu sampai di Jakarta, ia berniat singgah ke paviliun Rania, namun ia tak mendapati Rania disana. Ia mendapat info dari bagian keamanan bahwa Rania dipindahkan atas perintah Bu Latifaa.
Rania tersenyum menatap Jean. Banyak menghadapi masalah membuat Rania menjadi begitu siap menghadapi banyak masalah.
"Jangan mengatakan apapun sekarang Jean. Biarkan aku menenangkan diriku sendiri, dan kamu pun bersiap untuk menghadapi ibumu dan Meta" Ucap Rania.
Senyum tipis mengembang di bibirnya. Sepertinya Rania tak ingin banyak berharap dari sebuah belas kasihan.
__ADS_1
"Tapi, Rania...."
"Aku baik-baik saja Jean. pulanglah"
Dengan perasaan kecewa, Jean berbalik arah. Ia pulang dengan perasaan sedih dan kecewa pada dirinya sendiri. Ia merasa hanya menumpang memiliki harta ibunya. Ia baru tersadar bahwa bagaimanapun besar andilnya dalam perusahaan, ia tetaplah seorang karyawan di perusahaan milik ibunya.
Sebenarnya masalah internal Latifaa Group bukan hanya tentang Rania. Jean yang sedari awal mengembangkan bisnis perusahaan, mulai merasakan konflik dengan saudara kandungnya Mayang yang ingin menguasai seluruh aset Bu Latifaa. Padahal, selepas SMA, Jean memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliah. Ia membantu ibunya mengembangkan bisnis kue dan roti.
Dulu Latifaa Group hanya fokus pada toko roti yang hanya memiliki satu outlet. Jean yang seorang lulusan SMK Pariwisata, mengimplementasikan ilmu pada Latifaa Bakery. Ia menjalin kerjasama dengan beberapa hotel untuk suplai Roti dan kue. Hasilnya, beberapa hotel berbintang menggunakan jasa Latifaa bakery untuk suplai Roti. Latifaa bakery juga akhirnya bisa membuka outlet di sebuah hotel bintang lima.
Jean benar-benar mendedikasikan dirinya untuk Latifaa group. Dari ketiga anak Bu Latifaa, hanya Jean yang menempuh pendidikan sampai SMK saja. Sedangkan Bagas, kakak Jean, dan Mayang adik Jean, berhasil menyelesaikan pendidikan hingga S2 di Universitas ternama di Jogja dan Bandung.
Perjalanan sepuluh tahun bisnis Roti Latifaa bakery. Jean berhasil mendirikan beberapa cabang baru di Jakarta dan Depok. Awalnya Jean yang mengurusi aset properti dan dana
Namun belakangan, Adik dan kakaknya turut andil dalam bisnis. Pengaturan cash flow menjadi tidak transparan karena cabang dikuasai adik dan kakak Jean.
Jean pun tidak lagi leluasa menerima pendapatan tetap. Meskipun keuangan telah menggunakan jasa akuntan khusus yang bekerja sama dengan management keuangan perusahaan, nyatanya Jean tetap dianggap banyak makan hasil.
****
Pagi hari itu. Jean mengajak Rania sarapan bersama. Rania menuruti kemauan Jean. mereka sarapan di kantin kantor. Jean masih sama, memberikan motivasi agar Rania tetap bersemangat meskipun banyak orang yang tak suka padanya.
"Kamu harus menunjukkan pada orang yang menyakitimu, bahwa kamu tak seburuk yang orang lain pikirkan" Ucap Jean di pagi itu
Rania seperti mendapatkan energi untuk terus melanjutkan hidupnya, menggapai karirnya. Sukses dan kelak ia yakin akan bisa membawa anak-anaknya, Zidan dan Azka, untuk menikmati kesuksesan mamanya.
***hidup memang tak mudah
Di kantor Latifaa group berkembang gosip bahwa Rania adalah seorang perebut suami orang atau pelakor. Karena sejak mengenal Rania, Jean banyak berubah. Ia menjauh dari Meta dan mengabaikan rencana perjodohan dirinya dan Jean.
__ADS_1
Sebenarnya, sedari awal, Jean hanya menganggap Meta sebagai adik iparnya dan tak bisa menganggap lebih. Namun, Meta sangat berharap dirinya bisa menggantikan posisi Syela kakaknya. Mengingat Meta berstatus tidak perawan meskipun ia masih gadis.
****
Malam itu, diadakan makan malam keluarga besar Latifaa group. Mayang, adik Jean, yang ingin menyingkirkan Jean dari Latifaa group, membuat fitnah besar.
Ia memfitnah Jean menggunakan banyak anggaran dan aset perusahaan untuk memfasilitasi Rania. Seperti paviliun, dan fasilitas kewenangan jabatan. Meskipun Jean telah menunjukkan bukti-bukti bahwa Rania diangkat berdasarkan hasil fit and properties yang dilakukan Bagian Human Resource. sedangkan fasilitas paviliun yang di klaim milik Latifaa group, sebenarnya adalah milik Jean pribadi. Letak tanah berada di paling ujung karena memang tanah itu tidak termasuk dalam tanah aset perusahaan. Namun, Mayang menghasut beberapa karyawan yang iri pada Rania untuk membela kepentingan Mayang.
Desakan keluarga dan fitnah yang bertubi-tubi, membuat Jean jengah dengan perseteruan. Akhirnya Jean memutuskan untuk mengundurkan diri dari perusahaan malam itu juga.
****
Sejak malam itu, Rania tak melihat lagi Jean berada di toko ataupun diruangnya. Nomer handphone nya pun tak aktif lagi.
Dari beberapa karyawan kantor mengabarkan bahwa Jean mengundurkan diri dari Latifaa group dan pergi untuk bekerja di sebuah hotel di Singapura.
Rania kehilangan sosok sahabat yang selalu ada untuknya. Ia juga sangat kecewa mengapa Jean tidak berpamitan padanya.
Rania dalam waktu beberapa bulan saja harus kehilangan sosok orang-orang yang dicintainya.
Dear Diary
ternyata. Tuhan memintaku untuk benar-benar hidup sendiri. Benar-benar sendiri. Setelah suami dan anak-anak ku. Ternyata aku juga harus kehilangan Jean sahabatku. Aku harus melanjutkan hidup ini sendiri. Semoga Allah menguatkan aku.
Hari-hari Rania lalui dengan penuh perjuangan. Hari ke 40. Rania hadapi dengan banyak godaan dan fitnah. Hanya karena ia janda. banyak mata yang mencurigainya. Setelah dianggap pelakor oleh Meta. Rania juga dianggap centil dan cari muka. Jika salah sedikit saja dalam penampilan, ia akan dianggap menggoda kaum Adam. Jika ia pulang larut malam karena lembur pesanan, maka akan banyak yang berkomentar bahwa ia baru pulang kencan dengan laki-laki.
Kadang batinnya berontak dan mengadu Menjadi janda itu berat... tak setiap orang mampu menjalaninya. Rania hanya berusaha menjadi sosok yang baik dan sederhana. Namun gelombang fitnah terasa enggan melepaskannya.
...Rania kehilangan Jean sosok yang memotivasinya. Bagaimana perjalanan hidup Rania selanjutnya???...
__ADS_1
...dukung saya terus ya teman-teman dengan cara klik like and comment ...see you❤️😘...