100 Hari Pertama Menjadi Janda

100 Hari Pertama Menjadi Janda
66 Karma level 3


__ADS_3

Rania terduduk di sebuah bangku kayu yang melintang di sebuah koridor panti asuhan milik pak Sujiwo. Ia menatap dingin pada Riandani Abizar Mahendra, anak madunya, Delita. Ia tak habis pikir mengapa Delita tega menelantarkan darah dagingnya sendiri. Perempuan cantik dan berpendidikan tinggi itu tak punya hati.


Nyi Kasem, istri pak Sujiwo terlihat sangat menyayangi Abizar, panggilan kesayangan untuk bayi itu. Usut punya usut, Rania mendengar bahwa Dani telah membayar sejumlah uang agar anaknya mendapatkan perawatan terbaik di panti asuhan ini. Dunia begitu sempit bagi Rania. Mengapa ia tak bisa 100 persen menghindar dari masa lalunya?!


***


"Rania, kau sedang apa disini?"


Jean menyadarkan Rania dari sebuah lamunan tentang Abizar.


Rania terhenyak. Tak terasa ia menitikkan air mata. Ia mengingat bahwa ia harus berjuang untuk hidup bersama anak-anaknya. namun mengapa Delita malah meninggalkan anaknya begitu saja di sebuah panti asuhan.


"Jean, aku ...em...sedang mengantuk?"


Ucap Rania asal berbicara.


"Kalau Kamu mengantuk kamu bisa tidur di rumah Pak Sujiwo nanti jika urusan telah selesai aku akan membangunkanmu dan kita akan segera pulang ke Lumajang".


Ucap Jean yang sedang mengandeng seekor anak kambing .


Rania mengangguk tanda setuju.


***


Sehari semalam berada di panti asuhan itu. Tak terasa urusan Jean telah selesai. Rania dan Jean akan kembali ke Lumajang. Namun, hati Rania masih terikat di panti asuhan ini. Ia masih ingin melihat Abizar, anak itu harus berjuang hidup sendiri.


"Jean, aku ingin minta pendapatmu"


Ucap Rania sedikit takut dengan keinginannya.


"Ya Rania, katakanlah"


Ucap Jean yang sedang sibuk membenahi mobil yang digunakan untuk mengangkut kambing.


"Aku ingin menemui Bu Yayu. Ibu Delita"


Ucap Rania.


Jean sedikit terkejut dengan permintaan Rania. Namun tetap berusaha menghargai keinginan istrinya itu.


"Apa yang ingin kamu lakukan Rania?".


Jean menghampiri Rania. Ia tau bahwa ia tidak akan mampu mengobati luka hati Rania di masa yang lalu. Jean hanya berharap bisa memberikan pengalaman rumah tangga yang indah, tanpa ada kebencian.


"Jean, mungkin aku belum mengatakan padamu. Tapi, aku rasa kamu pun harus tau!"


Ucap Rania sambil menggandeng tangan Jean menuju sebuah kamar .


Abizar menempati sebuah ruangan khusus untuknya. Kamar yang dipesan langsung oleh sang ayah tentunya.


"Kamu lihat anak itu?!"


Ucap Rania sambil menunjukkan seorang anak yang berada dalam kurungan yang dikelilingi kaca. Ank itu tidak tidur. Ia hanya sedang asik main sendiri. Sesekali ia merengek karena Mainannya jatuh, namun tak lama ia menangis. Mungkin ia tau, sekeras apapun tangisannya tak akan ada yang peduli padanya .


"Siap itu, Ran?!"


Tanya Jean merasa keheranan.


Rania Menghela nafas.

__ADS_1


"Itu anak Delita dan Dani!"


Ucap Rania dengan nada berat .


Jean diam.


"aku mengetahuinya dari identitas yang menempel di ranjangnya".


Ucap Rania.


"Anak itu prematur dengan kelainan jantung dan pertumbuhan upnormal!"


Suara Rania mulai terdengar berat.


"Mereka telah menyakitiku, melukai hati anak-anakku!, Wajar, karena Delita saja berani menelantarkan dan melukai anaknya sendiri!"


Jean memeluk Rania .


"Maafkan aku telah membawamu ke tempat yang salah. Aku berjanji tidak akan membawamu kesini lagi. Ku lihat Semarang adalah tempat Delita tinggal. Aku benar-benar menyesal".


Jean melihat Rania seperti orang kelelahan. Bukan fisik tapi mental.


"Aku ingin bertemu Bu Yayu!"


Jean sebenarnya ingin menahan Rania. Namun, tak bisa. Rania seperti ingin melepaskan isi hatinya. Jean mencoba mengerti. Bukankah untuk mengganti isi teko yang keruh maka air dalam teko harus dibuang terlebih dahulu?


Anggap saja memori Rania pun seperti itu. Untuk memberinya kehidupan yang baru, memori indah tentang hidup, maka ia harus selesai dulu dengan masa lalunya.


***


Matahari belum menunjukkan batang hidungnya, namun Jean dan Rania telah siap untuk kembali ke berpamitan pulang.


Ya, seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa Rania akan menemui Bu Yayu, untuk mempertanyakan sikap "tega" mereka terhadap cucunya sendiri.


Satu jam perjalanan dari rumah pak Sujiwo, kini mereka telah sampai didepan rumah bercat hijau, didepan rumah itu sebuah warung kelontong kecil, sepertinya yang berjualan adalah nenek dari Delita.


Rania turun dari kendaraannya. Jean sengaja mengikutinya. Berjalan disampingnya.


Bu Yayu ada saat itu. Memandang Rania dari balik tirai jendela rumahnya. Seperti ia tau bahwa Rania akan hadir menemuinya.


Sebuah pintu dibuka lebar oleh pemiliknya, dialah Bu Yayu,


"Aku tau kamu pasti datang kesini nak, Rania!"


Rania hanya membalas salam dengan senyum khas dinginnya.


Rania duduk di sebuah sofa. Pandangannya tertuju pada dinding rumah itu.


Foto Delita saat kecil hingga wisuda terpampang di tembok rumah. Anak kebanggan, gumam Rania.


Wajah Bu Yayu terlihat lebih menua dibandingkan dengan wajah yang dia lihat terakhir kali. Ia juga duduk dengan menggunakan kursi roda.


"Aku terkena stroke, Rania!"


Ucap Bu Yayu membuka pembicaraan.


"Aku kira anda sudah bahagia"


Jawab Rania datar.

__ADS_1


"Aku...A...aku ...aku gagal mendidik anakku, Rania".


Rania tersenyum kecut.


"Kau hampir saja sukses, Bu. Namun, kau membiarkan anakmu terburu-buru ingin sukses. Tanpa mau memulai dari nol"


Rania terkekeh dengan pernyataannya sendiri. Menertawakan keadaan, menertawakan penderitaan yang dialami Bu Yayu. Karena ia berhasil menyadari bahwa ia pernah mengijinkan anaknya menikah dengan suami orang dengan 1 alasan, kenikmatan harta!"


Rania seperti tidak peduli dengan keadaan Bu Yayu. Ia tetap mencecar


"Begitu beruntungnya Delita, ia masih memiliki ibu. Sedangkan aku, ibuku tak kuat melihat anaknya tersiksa, dan ibuku meninggal dalam perjuangannya mencari keadilan untuk anaknya!"


Pekik Rania dengan tatapan sinis.


Bu Yayu tertunduk lesu. Bagaimanapun ia berusaha membela diri, ia tetap diposisi salah dimata Rania.


"Ku kira kau datang untuk bersilaturahmi Rania"


Pekik Bu Yayu. Namun Rania tetap berusaha untuk tenang.


"Ya. Aku datang untuk bersilaturahmi, dan mengabarkan bahwa anak Dani dan Delita sangat membutuhkan perhatian dan kasih sayang!"


Ucap Rania dengan suara yang mulai berat.


****


"Aku tak perlu datang kesini untuk melihat apa yang menimpamu, Bu. Tapi aku mau melihat orang yang sangat tunduk pada keputusan anak, sekalipun anak dalam posisi salah".


Ucap Rania sambil tersenyum kecut.


sedangkan Bu Yayu masih setia menikmati tangisannya.


***


Dear diary


mengapa dunia begitu sempit bagi Rania


berlari kemana pun akan bertemu dengan sebuah takdir


takdir yang memutuskan sebuah pertemuan


takdir yang mengharuskan kita menerima kenyataan


Bahwa masa lalu tak begitu saja bisa dilepaskan


Kadang, kau harus berjuang melewati sakit,


Agar kau bisa menghargai bahagia mu


sekecil apapun itu.


Jangan berkecil hati. Bisa jadi hari ini kamu benci takdirmu


Yang membuat luka menganga di jiwamu


Namun yakin, semua terjadi atas kehendak-Nya


Semua terjadi karena Allah

__ADS_1


Maka mintalah pertolongan pada Allah.


__ADS_2