
Rania menyalakan lampu tidur bernuansa warm di kamar tidurnya. Ia menyiapkan semua ketika Jean masih berada di pabriknya. Rania sangat berharap bahwa jean akan kembali seperti dulu lagi. iya telah menyadari kesalahannya dan ingin memperbaiki nya.
hati Rania berdegup kencang ketika Jane mengucapkan salam, tanda bahwa pria itu telah pulang.
Jean adalah suami yang sangat teladan bagi istri dan anak-anaknya. Dalam keadaan marah sekalipun, tata Krama tetap ia terapkan. Marahnya Jean adalah marah yang dewasa, tanpa membentak, tanpa pertengkaran. Apalagi semenjak tinggal di Lumajang, Jean banyak mendekatkan diri kepada ilmu agama. Ia tetap menjadi imam bagi Rania dan anak-anaknya. Kekecewaan pada Rania, tak membuatnya serta merta meninggalkan Rania.
Jean masuk kedalam kamar. Ia tertegun melihat nuansa kamar. Aroma lavender memenuhi ruang kamar. Jean berusaha tetap tenang, meski ia tau, istrinya sedang akan merayu.
"Jean..."
Rania menghampiri Jean. Seribu bujuk rayu ia tampilkan. Jean terhenyak melihat Rania menggunakan lingerie berwarna merah menantang. Rambut yang biasa ia ikat, malam ini tergerai. Jean bahkan nyaris tak mengenali Rania, sebab perempuan yang ada dihadapannya, malam ini dandan begitu cantik.
Rania memberi sentuhan rangsangan pada jemari Jean. Terlihat laki-laki itu terbawa nafsu. Rania terus melancarkan aksinya. Ia menarik Jean menuju meja yang telah ia siapkan tadi. Rania menyuapi Jean dengan menu stik dan jus, namun isi kepala Jean bukan makanan, melainkan perempuan yang ada dihadapannya, penampilan **** dan aroma wangi yang merangsang kejantanannya.
Rania tak banyak berkata. Ia kemudian melancarkan aksi berikutnya.
"Jean, maukah kamu menyentuhku malam ini...?"
Rania kemudian duduk dipangkuan Jean. Membidikkan kata-kata rayuan yang membuat Jean tak lagi bisa membendung hasratnya. Rania diangkat menuju ranjang. Ciuman mendarat di bibir dan leher Jean.
Hubungan suami-istri menjadi obat bagi banyak masalah rumah tangga. Rania telah mempelajarinya dari sebuah kajian rumah tangga yang diadakan komunitas Istri Pencari Syurga yang ia ikuti beberapa waktu terakhir. Di depan suami, seorang istri harus bersikap layaknya perempuan penggoda, yang digoda adalah suaminya sendiri. Salah satu sahabat komunitas nya itu juga memberikan hadiah lingerie kepada Rania, serta memberikan trik untuk merangsang suami.
Ya, urusan pelakor saat ini telah darurat. Istri-istri harus pandai memermak diri agar memuaskan mata suami. Sebab diluar sana, perempuan penggoda makin mengkhawatirkan. Begitu ucap seorang sahabat komunitas nya.
Saran dan nasehat dari sahabatnya itu kemudian Rania terapkan. Ia bersyukur sejauh ini tak pernah melihat Jean bersama dengan perempuan lain. Aktivitas Jean lebih banyak di rumah, pabrik, dan sesekali membantunya di restoran.
Malam ini, Jean dan Rania telah menuntaskan batas antara mereka yang terdekat masa lalu. Rania melayani suaminya dengan tidak biasa. Full service, begitu yang ia pelajari.
Selepas berhubungan intim, Rania mendekap erat tubuh Jean.
"Jangan pergi dulu..."
Jean melirik Rania yang enggan lepas dari dekapan Jean.
"Aku masih ingin di pelukanmu, Jean!"
Ucap Rania dengan suara menggoda.
Jean yang memang sangat mencintai Rania tidak bisa menyembunyikan perasaannya. Didekapnya istrinya itu, dan kecupan pun kembali mendarat di bibir Rania.
"Aku ingin menjadi istrimu dengan utuh. Berikan aku kesempatan untuk mendapatkan kasih sayang seperti dulu lagi"
Ucap Rania, masih dalam pelukan Jean.
Jean menghela nafas.
"Saya sangat mencintai mu Rania. Bahkan tanpa alasan apapun. Selama waktu ini, saya hanya mencoba untuk tidak terlalu terfokus padamu yang masih saja memikirkan masa lalu. saya tidak ingin kecewa terlalu dalam". Ucap Jean sambil mengusap kepala Rania.
"Aku janji untuk melepaskan diriku dari masa lalu"
Ucap Rania.
__ADS_1
"Saya hanya ingin kamu melepaskan kebencian mu, benci artinya kamu masih sangat terikat dengan masa lalu. Maafkan mereka, lepaskan. Sebab tanpa kamu harus membenci, mereka akan menerima karmanya sendiri!"
Rania merasa teduh mendengar nasehat Jean. Betapa laki-laki yang menjadi suaminya ini memiliki pemikiran bijaksana dan dewasa. Rania baru menyadari bahwa Jean begitu sempurna.
Rania memeluk Jean. Selama semalaman ia tak ingin lepas dari pelukan Jean.
***
"Rania, bangunlah. Kita sholat jama'ah"
Bisik Jean ditelinga Rania.
Waktu menunjukkan pukul 03.30 pagi.
"Aku masih mengantuk, Jean..."
Gumam Rania.
"Bangunlah, kita tahajud berjamaah. Kita minta Allah menjaga rumah tangga kita, sayang..."
Rania tertegun mendengar ucapan Jean. Ia kemudian bangkit dari tidurnya. Mandi junub bersama, kemudian menggelar sajadah. Dua rakaat shalat tahajud mereka laksanakan.
Ya Rabb...
Begitu sempurnanya hidup ini
Engkau memberiku pelangi setelah hujan
Itulah pelajaran yang mampu ku petik
Kau titipkan hidayah mu pada imam yang menjadi suamiku saat ini
Jujur ku akui
Bahwa aku bisa melupakan masa laluku dengan mudah
Seperti aku telah melewatinya begitu saja
Karena dia
Laki-laki yang tengah duduk di hadapanku
Laki-laki yang mengenakan kopiah di kepala dan tasbih ditangannya.
Laki-laki yang membangunkan ku untuk menghadap-Mu
Meminta hanya pada-Mu
Laki-laki itu ada di hadapanku
kalimat yang terucap bukan rayuan
__ADS_1
Melainkan asma-Mu
Jaga dia ya Allah
Jadikan dia sahabatku
Saat ini, hingga diakhirat nanti.
***
Adzan subuh berkumandang. Jean kemudian berpamitan untuk menuju masjid. Rania tersenyum melepas suaminya.
Saat ini, Rania merasa definisi bahagia dalam hidupnya telah berubah. Bahagia bukanlah tentang materi yang kamu punya, melainkan bagaimana kau bisa menikmati apa yang kamu punya. Ia telah merasakan, memiliki suami tapi tak diakui sebagai istri. Ia memiliki rumah, namun hanya menjadi ilalang didalamnya. Ia memiliki harta, namun hanya diperbudak olehnya.
Tirai rumah dibuka, matahari mulai terbit di ufuk timur. Cahayanya menyelinap dari kaca dan celah-celah rumah. Rumah yang hari ini berganti suasana. Rania merasa menjadi seperti baru saja menikah. Begitu ia bersemangat menjadi istri seorang Jeandra. Selama beberapa bulan setelah pernikahan, ini kali pertama Rania merasakan apa itu cinta yang dibangun setelah pernikahan.
Jeandra, bagiku kau adalah cahaya.
Menyinari siang ku
Menyinari malam ku
Semenjak hari itu, Jean kembali sehangat dulu. Bahkan lebih romantis. Jean sering membantu Rania di dapur, bahkan mengerjakan pekerjaan rumah lainnya disela kesibukannya di pabrik.
Suatu hari, Jean yang baru tiba dari Pasar, setelah menjual hasil kebun, menghampiri Rania. Ia menenteng setangkai buah yang mirip anggur hijau.
"Ini...anggur...?"
Tanya Rania ragu.
"emmm...bukan. Ini bukan anggur, sayang!"
Ucap Jean sambil meledek.
"jadi ini ...?"
Rania kebingungan.
"Ini buah kurma muda. Aku beli satu karton khusus untukmu!"
Ucap Jean sambil menunjukkan karton yang baru saja ia bawa dari pasar.
"Hah ...?" Rania bingung.
"Semangat program hamil ya istriku. Segera berikan aku Jean Junior atau Rania junior hehehe".
...Bersambung.....
...Hello readers...yuks follow Ig @bungakering1986 dan sharing pengalaman rumah tangga atau yg mau sekedar curhat dan berbagi cerita disana. Bisa di DM atau kolom cerita ya ..author akan balas langsung atau saat live nanti dibahas...yuk...yuk merapat!...
See you at the next part 😍🙏
__ADS_1
jangan lupa like dan fav nya