
Aku tiba di sebuah Kabupaten bernama Lumajang. Tempat yang masih sangat asri karena dikelilingi oleh bukit dan gunung. Aku menaiki kereta dan berhenti di sebuah stasiun bernama Stasiun Klakah. Kemudian melanjutkan perjalanan menuju lokasi LSM Sehati.
Aku memasuki gedung bercat putih dengan ornamen serba orange. Ada beberapa bangku di bagian halaman. Hari menjelang siang, ada beberapa orang yang seperti tengah berbincang di bawah sebuah pohon beringin besar.
Dibibir pintu gedung itu, aku sudah disambut hangat oleh seorang perempuan yang ku kenali dari profil WhatsApp-nya, dialah Rania. Penulis artikel di sebuah buletin kesehatan mental.
Rania terlihat anggun dengan sebuah blazer berwarna hijau pupus dengan rok warna senada. Ia mengenakan kacamata dan hils 5cm. Ia menyambutku dengan senyum sumringah.
"Selamat datang di Lumajang, Tari"
Sapa Rania dengan ramah.
"Iya terimakasih".
Jawabku sambil berjabat tangan dengannya.
"Mari masuk. Ini dia LSM Sehati yang pernah saya ceritakan kemarin"
Kami telah berbincang sebelumnya melalui pesan singkat. Rania menjelaskan mengenai LSM Sehati yang didirikan oleh Bu Martha.
Aku masuk kedalam ruang asrama. Asrama ini layaknya kamar kos yang berisi 3-4 ranjang dengan desain yang sangat nyaman. Kami hanya perlu membayar Rp.50.000 rupiah untuk paket 3x makan, mendapatkan pelatihan kerja, juga trauma healing.
Bagaimana untuk yang tidak mampu?
Tenang, di LSM ini telah ada dana bantuan khusus, sehingga bagi para korban yang tidak mampu membayar, maka akan gratis. Untuk yang memiliki anak? tentu bisa mengikuti program reguler, sehingga bisa pulang pergi.
Aktivitas disini sangat padat, semua telah terjadwal, mulai dari bangun tidur, hingga malam nanti. Juga dengan sesi konseling klasikal, sehingga kita bisa saling curhat dan menyemangati sesama korban perceraian.
Baru satu hari disini, aku merasa betah. Karena aku punya kesempatan bertemu teman seperjuangan. Ya, sama-sama berjuang melewati masa-masa krisis setelah perceraian. Sama-sama menangis, sama-sama rindu keutuhan keluarga. Ada merindukan anak yang direnggut oleh mantan suami. Ada yang masih mengikuti sidang perceraian dan banyak kasus lainnya.
Aku merasakan tidak sendiri. Bisa tegar karena mereka.
Aku sengaja mematikan handphone. Jarang membukanya, agar terbebas dari berita toxic yang disebarkan orang tentangku. Menutup rapat akses dari tangan-tangan jahil yang mengabarkan tentang bahagianya mantan menyambut kelahiran anaknya.
Aku tetap fokus. Belajar fokus. Tugasku di LSM Sehati, bukan hanya sebagai peserta. Namun juga volunteer. Kemampuanku dalam mengolah makanan bayi, bekal dari ilmu kedokteran, aku aplikasikan pada para peserta lain disini. Mereka aku ajarkan bisnis bubur bayi siap saji dan ilmu marketing, yang aku dapat dari beberapa pelatihan yang pernah aku ikuti di kampus.
Bersyukur. Itu yang aku ucapkan. Penting bagi korban perceraian menemukan lingkungan yang mendukung kita untuk pulih dari rasa trauma dan sakit hati. Penting bagi mereka juga memiliki skill agar bisa bangkit dari keterpurukan ekonomi, pasca tidak diberi nafkah oleh suami.
Sebulan telah ku lewati di LSM Sehati. Tepat 70 hari setelah perceraian. Aku merasa hidup lebih baik. Bisa tegar, bangkit berdiri. Aku juga tak bermimpi buruk lagi.
Bahagia dengan caraku sendiri...
Sepekan sebelum masa volunteer ku selesai. Aku membantu Rania untuk membukukan kisahku. Hampir semua peserta disini memiliki buku kisah perjalanan 100 hari melewati badai perceraian. Aku dengan senang hati menulisnya sendiri. Menyerahkan pada Rania dan ternyata Rania suka tulisanku.
"Kamu berbakat menulis, Tari. Menulis lah untuk menyebarkan kebaikan pada sesama. Setidaknya, kisah perjuangan mu melewati masa pasca perceraian, tak hanya milik mu seorang. Biarkan tulisanmu menjadi inspirasi bagi banyak orang". Ucap Rania padaku.
"aku setuju dengan idemu, Rania. Aku juga tidak mau ada jatuh korban lagi, perempuan yang bunuh diri karena diselingkuhi, dicerai ataupun korban KDRT. Perempuan harus mandiri dan berwibawa, agar bisa setara dengan laki-laki".
__ADS_1
Kataku bersemangat.
"Betul. Setuju!"
Ucap Rania.
Aku pun berjanji akan menambahkan kisah hingga 100 hari nanti.
****
Setelah hari ke-70. Aku mulai berani membuka sosial media. Melihat postingan berjejer di beranda. Aku melihat postingan itu satu persatu. Sepertinya sikap cuek ku cukup mujarab untuk membungkam mulut-mulut nyinyir dan para netizen yang pro terhadap Lesmana yang berjuang mendapatkan anak.
Well...sakit?
Tentu masih. Tapi sudahlah.
Tiba-tiba aku melihat postingan sahabatku, Rahma, yang memosting dirinya berada di Pantai Paniai. Aku tergelitik untuk menghubunginya.
Ia ternyata diterima CPNS di Dinas Kesehatan Kabupaten Nabire dan tengah dinas ke Paniai.
Rahma adalah sahabat dekatku di Kampus. Ia anak kembar. Kakaknya bernama Agam. Tapi tak terlihat wajah Agam di postingan Rahma. Kami sama-sama berjuang Koas di Enarotali. Aku memutuskan untuk pulang, sedangkan Rahma memutuskan untuk tetap lanjut mengabdikan dirinya di sebuah Rumah Sakit Daerah Nabire.
Setelah bersua kabar. Aku tertarik untuk berlibur ke Enarotali. Aku ingat masih memiliki tabungan yang diberikan oleh ibuku. Hemmm cukup menyenangkan liburan ini. Aku membutuhkannya agar otakku bisa fresh dan menemukan jiwa ku yang baru.
...Janda rasa gadis!!!...
Dunia terlalu kejam untuk kau nikmati
Mari bersuka cita...
Tiket telah ku kantongi. Tanpa pikir panjang, setelah berpamitan pada semua teman-teman di LSM Sehati, aku langsung terbang menuju Nabire, Papua, melalui Bandar Udara Juanda, Surabaya.
Baru menaiki pesawat saja, pikiranku sudah berkelana mengingat keindahan Enarotali. Cintaku terbagi disana. Cinta pada keindahan alamnya. Jujur kalau bukan karena Lesmana, tentu aku lebih memilih berkarir disana.
...it's my life...
...It's now or never...
...But I ain't gonna live forever...
...I just want to live while I'm alive...
...(It's my life)...
...My heart is like an open highway...
...Like Frankie said, "I did it my way"...
__ADS_1
...I just want to live while I'm alive...
...It's my life...
Lagu milik Bon Jovi sangat mewakili perasaanku saat ini. It's my life, yang aku punya. Bukan tentang seberapa aku bahagia, namun bagaimana aku menikmati semua. Semua perjalanan dalam hidupku, yang tak akan semua orang menikmatinya.
...Aku bahagia dengan caraku!...
***
Di Nabire, Papua. Aku disambut hangat oleh sahabatku, Rahma. Rupanya Rahma telah menetap disini, menikah dengan seorang prajurit TNI, dan memiliki seorang anak berusia dua tahun. Kehidupan mereka terlihat sangat bahagia, meskipun penuh dengan keterbatasan akses, dan fasilitas.
Aku menjadi gadis kembali. Berjalan-jalan sesuka hati. Sang suami Rahma dengan sangat ramah mengajak aku berjalan-jalan melewati gunung dan bukit, menuju Enarotali melewati jalur darat. Dikawal prajurit TNI, terasa lebih aman. Perjalanan darat selama 7 jam tak terasa berat. Justru penuh keseruan. Bahkan Rahma sesekali turun untuk berfoto di beberapa spot yang dinilainya bagus. Sang dokter cantik itu memang terkenal hobi fotografi.
****
Di Enarotali. Semua masih sama. Nyaris tak ada yang berubah. Kami bernostalgia di pinggir pantai sambil menikmati sunrise di pasir putih. Suami Rahma mengajak anaknya ber-snorkling, sehingga kami bebas berbincang berdua.
"Jadi, kamu telah bercerai dengan Lesmana?"
Tanya Rahma setelah aku bercerita tentang kisahku.
"Terlalu naif jika alasannya hanya ingin seorang keturunan!"
Ucap Rahma..
"Lepaskanlah bebanmu, Tari. Ada kalanya kita tak bisa mendapatkan apa yang kita inginkan. Perjalanan hidupku juga penuh liku. Aku tak ku Jung mendapatkan pekerjaan di pulau Jawa, akhirnya memberanikan diri mengambil kesempatan mengabdi di Rumah Sakit di Nabire. Untunglah aku bertemu suamiku ini. Sehingga, hidupku lebih aman hahaha..."
Ucap Rahma dengan gelak tawa...
Aku pun memutuskan hal yang sama. Surat permohonan mutasi segera aku kirimkan pada Dinas Kesehatan. Karena mutasi dilakukan ke daerah yang banyak kekosongan tenaga medis, maka tak butuh waktu lama, berkas mutasi ku di terima dengan mulus.
Memulai hidup baru...
Begitulah kisahku...
Menjadi Tari yang baru. Lestari yang mampu menyembuhkan lukanya.
Ikhlas menerima takdirnya...
Kisahku, tertuang dalam sebuah cerita bersambung yang dituang dalam aplikasi noveltoon milik Rania dengan judul "Sahabatku, Maduku", 100 hari perjalanan panjang menuju kata ikhlas.
****
Bersambung...
Next cerita POV Laila
__ADS_1