
Gosip mengenai konflik rumah tangga Rania dan Dani telah menyebar di kompleks perumahan, ya sebagian ibu-ibu di komplek perumahan ini berprofesi sebagai ibu rumah tangga, sehingga sangat sangat mudah gosip menyebar di warung dan tukang sayur keliling komplek.
Seperti sudah dimaklumi belahan dunia manapun jika kiblat para emak-emak tukang gosip itu kalau gak di tempat arisan ya di tukang sayur keliling.
Bu Nani seperti sengaja memanfaatkan momentum belanjanya untuk menyebarkan gosip perpecahan rumah tangga anaknya sendiri, dia berusaha menjelek-jelek kan Rania agar terlihat bahwa Rania lah yang ingin keluar dari rumah, buka di usir oleh dirinya.
Disisi lain, Rania harus fokus untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sejak malam itu, Dani sangat jarang menjenguk Rania dan anak-anaknya. Hanya sesekali mampir untuk memberikan jajanan kesukaan Azka dan susu untuk Zidan. Bahkan Dani tak lagi memberikan uang belanja!
Sebenarnya Rania ingin meminta uang pada Dani. Tapi sepertinya Dani sengaja membuat jarak dengan Rania. Ia ingat kata-kata Dani, dikasih tempat tinggal saja sudah seharusnya bersyukur, jangan menuntut lebih. Tapi, bukankah anak-anak ini adalah tanggung jawab seorang ayah?
Rania terpaksa menjual perhiasan mahar pernikahannya. Emas tua kadar 75% , hasilnya cukup banyak mengingat harga emas yang sedang tinggi saat itu. Hasil dari penjualan emas ia gunakan untuk membela beberapa peralatan dapur dan beberapa bahan untuk dasar membuat catering bento. Rania juga membuat brosur kecil, "menerima laundry, antar jemput" . Ya sebuah usaha tanpa modal besar. Rania hanya membeli sebuah mesin cuci bekas. Dan beberapa gantungan baju dan keranjang.
Rania mulai menyebarkan brosur laundry dan cateringnya melalui pesan WhatsApp, Facebook, maupun secara langsung. Responnya cukup baik. Rania mendapatkan beberapa orang yang berlangganan cuci dan setrika, serta bento harian.
Karena telah terbiasa mengerjakan semuanya sendiri, Rania tidak merasakan kesulitan mengerjakan semua pekerjaannya sekaligus. Mulai jam tida pagi Rania mulai mencuci pakaian dan memasak bento pesanan. Sambil menunggu Azka di sekolah, Rania akan singgah di pasar pagi untuk berbelanja kebutuhan untuk keesokan harinya. Setelah pulang mengantarkan Azka sekolah, barulah Rania berjibaku dengan setrikaan dan begitu seterusnya. Meskipun hasilnya tak banyak, tapi cukup untuk menyambung kehidupan mereka bertiga.
Suatu malam, Zidan tiba-tiba terlihat menggigil. Tubuhnya demam tinggi, dan terlihat tak merespon ketika dipanggil olehnya. Beberapa hari ini memang Zidan terlihat kurang sehat. Rania menyelimuti Zidan dengan selimut. Namun tak berhasil. Sebuah kompres air hangat juga tak banyak membantu. Rania panik. Malam telah menunjukkan pukul 22.10 menit. Rania mencoba menghubungi Dani, sayang tak juga direspon. Dalam keadaan panik, Rania bergegas berlari menuju rumah mertuanya. Berharap Dani mau membantunya.
"Assalamualaikum…. assalamualaikum...mas Dani...mas...mas…." Rania mencoba memanggil suaminya. Ia tidak dapat masuk ke rumah itu. Gerbang pagar digembok dari dalam. Suasana dari luar rumah sepi. Tapi cahaya lampu menyala dari arah kamar mertuanya. Karena tak ada sahutan, Rania kembali memanggil Dani. Kali ini suaranya lebih keras.
" Mas….mas Dani… assalamualaikum, mas….".
__ADS_1
"Rania…!!! Sedang apa kamu teriak-teriak, apa kamu gak tau ini sudah malam?!" Ibu Nani keluar dari arah pintu depan rumah. Tak ada sapaan, tak ada belas kasihan. Nadanya lantang.
"Maaf Bu… Zidan demam tinggi, saya minta tolong mas Dani untuk mengantar kami ke rumah sakit, Bu" jawab Rania, kali ini nadanya merendah. Berharap ibu mertuanya ini mau mengerti.
"Dani gak ada. Dia keluar kota sejak tiga hari yang lalu!" Ucap mama ketus. Sambil tetap membiarkan Rania dan anak-anaknya berada di luar pagar.
"Kamu kan bisa pesan Taxi!, Jangan cuma mengandalkan orang!" Ucap mama sambil dengan sigap menutup pintu dengan keras.
Air mata tak sanggup lagi Rania bendung. Mengapa ibu mertuanya ini seperti tak punya sedikit pun perasaan kasihan, setidaknya pada cucunya.
Ia berjalan menuju depan gerbang perumahan. Berharap ada tukang ojek. Sudah seminggu Rania tak mengisi kuota internet. Ia sedang berhemat untuk ujian kelulusan TK Azka. Sampai di depan gerbang, seorang security yang merasa ibu menawarkan jasanya untuk mengantar Rania ke rumah sakit. Alhamdulillah digratiskan ongkos ojeknya.
Azka masuk ke ruang IGD setelah mendapatkan sebuah infusan. Pengecekan laboratorium belum dapat dilakukan karena menunggu laboratorium Rumah Sakit dibuka besok pagi. Rania membentangkan sebuah tikar plastik yang ia beli di koperasi Rumah sakit. Membiarkan Azka tidur disana berselimutkan jaket tipis.
Namun sayang, ia memutuskan menikah dengan Dani. Laki-laki yang sudah menjalin hubungan long distance relationship selama tiga tahun lamanya. Hubungan yang berlangsung selama tiga tahun itu diwarnai drama putus nyambung. Rania yang berada di Jakarta dan Dani yang saat itu masih bekerja sebagai IT support di Pemerintahan Provinsi Papua. Dani sering kedapatan selingkuh. Sering kali yang mengangkat ponsel Dani adalah perempuan. Dan drama perempuan menghubungi Rania sebenarnya sudah ada sejak pacaran. Hanya saja, Dani berjanji akan berubah ketika menikah nanti.
Di awal-awal pernikahan, Dani memang membuktikan kesungguhannya. Dani berubah menjadi sosok yang perhatian dan peduli pada Rania. Namun semua berubah sejak Rania melahirkan anak pertama dan memutuskan untuk berkarir sebagai ibu rumah tangga. Rania yang tak bisa lagi membantu Dani mencari nafkah, sering menjadi bulan bulanan jika ada pertengkaran diantara mereka. Terutama jika Rania meminta uang lebih dari jatah bulanan. Rania dianggap boros dan tak bisa mengatur keuangan. Padahal Rania hanya dijatah satu juta lima ratus ribu rupiah untuk dia dan kedua anaknya. Ketika ibu mertua ikut tinggal dirumahnya, jatah belanja Rania memang ditambah lima ratus ribu rupiah. Hanya saja jatah tersebut Rania berikan pada ibu mertuanya tersebut, karena memang diminta.
"Bu...Bu Rania" seorang suster mengejutkan Rania yang tak sengaja tertidur di kursi rumah sakit.
"Ya suster"
__ADS_1
"Bisa ke ruang administrasi sekarang?"
Jawab suster tersebut.
Di ruang administrasi
Rania tertegun melihat deretan angka, nominal yang harus Rania bayar untuk biaya Down Payment kamar, pemeriksaan laboratorium dan obat. Dari mana Rania bisa memperoleh uang tiga juta rupiah dalam waktu satu hari?
Rania mencoba menghubungi suaminya lagi. Ia yakin Dani akan membantunya. Bagaimanapun Zidan dan Azka anak kandung Dani!
Tapi, sampai sore, tak ada jawaban dari Dani. Nomer handphone nya tak aktif.
Ditengah kebingungan, Rania teringat akan Bu Sari, dia biasa meminjamkan uang kepada ibu-ibu di perumahan. Dari pinjaman 1 juta maka bunga pada bulan berikutnya adalah dua ratus ribu rupiah. Bunga yang cukup tinggi. Tapi tak ada jalan keluar lagi. Rania sangat membutuhkannya.
"Oke Bu Rania, berarti bulan depan bayar bunganya enam ratus ribu rupiah ya!" Ucap Bu Sari sambil menyodorkan uang sebanyak tiga juta rupiah, yang masih dipotong biaya admin seratus ribu rupiah.
"Do'akan saya bisa membayar tepat waktu Bu" ucap Rania.
Rania pun beranjak kembali ke rumah sakit. Azka terpaksa ia titipkan di rumah Rangga. Alhamdulillah bunda Rangga menawarkan diri untuk membantu merawat Azka selama Rania di rumah sakit.
Administrasi rumah sakit Rania bayar. Zidan pun akhirnya mendapatkan kamar inap dan penanganan dokter. Zidan mengalami infeksi saluran cerna. Agh...betapa hati Rania terluka. Sejak pisah rumah dengan Dani. Ekonomi Rania sangat terpuruk. Bisa makan sehari tiga kali saja sudah sangat beruntung. Karena ini, membuat Rania kurang memperhatikan asupan gizi Zidan yang masih berusia tiga tahun.
__ADS_1
"Maafkan mama, Zidan…"