
Setalah akad nikah digelar, Rania dan Jean melanjutkan ke acara resepsi pernikahan. Resepsi dilaksanakan secara sederhana, hanya mengundang saudara, tetangga dekat, dan beberapa rekan kerja ayahnya.
Rania berganti busana menjadi busana adat Aceh. Begitu juga dengan Jean, yang terlihat tampan mengenakan topi Tengku, topi khas Aceh yang di gunakan oleh pengantin laki-laki. Sedangkan Rania tampil anggun dengan mahkota kepala rumbai khas pengantin perempuan Aceh. Hari itu menjadi momentum Rania untuk berbahagia, tanpa ada celah masa lalu untuk membayanginya.
***
Resepsi pernikahan telah usai. Para tamu undangan telah pulang dan saudara-saudara yang membantu jalannya acara pun telah kembali ke rumahnya masing-masing. Rania melepas satu persatu aksesoris pernikahan dibantu oleh MUA yang tadi membantunya untuk berias. Ia juga membersihkan wajahnya dari make up yang tadi melekat di wajahnya. Rania tidak ingat kapan terakhir kali ia make up agar terlihat cantik. Seingatnya, setelah memiliki anak, ia tak pernah lagi berias. Apalagi berias tebal.
"Ah...tidak boleh terjadi lagi. Pemburu suami idaman bertebaran dimana-mana. Mereka siap mengambil kesempatan lengahnya para istri dan ibu-ibu rumah tangga yang repot dengan anaknya. Bagaimanapun reportnya ia nanti, penampilan itu nomer 1. Toh diniatkan untuk suami. hemmm setidaknya, ikhtiar agar tidak ditikung, disalip oleh gadis-gadis belia yang haus kasih sayang dan juga cuan". Gumam Rania sambil terkekeh dengan pemikiran sendiri. Tanpa sadar, Jean sedari tadi telah memperhatikannya. Setelah MUA yang membantu Rania tadi keluar, Jean menutup pintu kamar. Ia keheranan istrinya tersenyum sendiri di depan cermin.
"kode!" gumam Jean.
Jean mendekati Rania yang terlihat canggung saat sadar Jean memergokinya cekikikan sendiri.
"Ada yang bahagianya overload nih...sampai ketawa sendiri".
Ledek Jean yang kini sudah berada di posisi belakang Rania.
"Apaan sih, aku kan lagi membayangkan imajinasi ku sendiri!"
Jawab Rania sekenanya.
"imajinasi tentang malam pertama ya ckckck?"
Ledek Jean membuat Rania salah tingkah.
Rania diam mematung. Jean memeluknya dari belakang. Kemudian menciumi rambut Rania yang terurai.
"bau asem...!"
Ucapan Jean membuat Rania terperanjat dan menjauh.
"Jahil...!"
Gumam Rania yang mengundang gelak tawa Jean. Rania yang ngambek lalu mengambil handuk dan bergegas menuju kamar mandi.
Jean masih tertawa-tawa sendiri menyaksikan tingkah Rania. Ia kemudian menghamparkan dua sajadah, dan menuju kran air yang ada di halaman depan untuk ber wudhu. Terlihat dari depan, ayah Malik masih bercengkrama dengan beberapa rekannya. Ada juga Azka dan Zidan yang bergelayut di pangkuan kakeknya itu. Jika sudah bertemu ayah Malik, Azka dan Zidan bisa lupa dengan mamanya. Jean tertegun melihat kehangatan yang ad di rumah ini.
Ia kembali memasuki kamar. Rania telah selesai mandi.
"Yuk...sayang"
Ucap Jean
Rania pura-pura tidak melihat.
"Rania istriku...ayok..."
"Apa sih?!"
Ucap Rania pura-pura tidak tahu.
Jean melihat tingkah Rania seperti kucing yang minta kawin. Mau tapi malu-malu.
__ADS_1
Jean menggeleng. Membuat Rani semakin salah tingkah.
"Kita sholat jama'ah dulu sayang..."
"oh...eh..."
Rania merasa malu karena ia salah tanggap.
"Sebentar aku wudhu dulu ya Jean"
Ucap Rania terburu-buru menuju kamar mandi. Jean kembali terkekeh.
Setelah Sholah berjamaah, Jean menghampiri Rania. Menggenggam tangan Rania, mengecup keningnya dan membuka mukena perempuan yang telah dinikahinya itu.
"Ini saatnya Rania. Berikanlah untukku ragamu, sebagai pengobat nafsuku. Berikanlah seutuhnya untukku. Beserta hati yang kamu miliki. Jangan ada lagi sisa untuk raga yang lain".
Kemudian Jean kembali mencium kening Rania.
Rania terdiam.
"Kini, berikan juga hati mu, cinta dan jua rindu itu. Jangan sisakan untuk masa laluku yang tak perlu aku tau. Jangan biarkan aku hanya mendapat ragamu saja. Jangan sisakan seporsi pun untuk jiwa yang lain. Aku ingin utuh!"
Ucap Jean sambil mengecup bibir Rania. Bibir berpagut dan saling membalas. Rania kembali pada fitrahnya sebagai perempuan yang haus kasih sayang. Perempuan yang dinamakan sebagai istri, yang padanya ada rasa manja dan butuh belaian. Rania melepaskan hasratnya, dilayaninya Jean sebagai suaminya. Mulai malam ini, dialah pemilik rindu dan cinta. Padanya Allah halalkan segala bentuk pemuas nafsu.
Kecupan demi kecupan membuat mereka melupakan dunia sementara waktu. Surga seakan telah dimiliki. Milik mereka. Sepasang pengantin baru yang berbahagia.
Malam yang syahdu terlewati. Rania dan Jean mendapatkan kebahagiaan duniawi.
Rania terhenyak mendengarkan penuturan Jean. Rania masih dalam pelukan Jean, setelah mereka melaksanakan ibadah ter-nikmatnya.
"Jadi kamu telah menyukaiku dari awal?, bukan karena belas kasihan kepadaku?"
Gumam Rania yang masih terdengar oleh Jean.
"Awalnya aku kasihan padamu. Lalu aku kagum dengan ketegaran mu. Aku berpikir keras untuk mendapatkan calon istri sepertimu. Hingga aku sadar, bahwa sulit untuk mendapatkan sepertimu jika tidak diuji terlebih dahulu. Hehehe..."
Jean terkekeh dan membuat Rania mencubit perut laki-laki berbulu dada tipis itu.
"Aw..AW...aaaah...." Jean berteriak kesakitan.
"Kamu ini tetap Jahil, Jean!"
"Eit...sekarang jangan panggil Jean lagi!"
Ucap Jean sambil menarik hidung Rania.
"Em...Ayah Jean..."
Ucap Rania yang disambut pelukan hangat dari Jean.
Malam pertama yang begitu sempurna. Malam yang menjadi awal menyatunya dua insan yang saling mencintai.
***
__ADS_1
Keesokan harinya. Rania bangun sebelum adzan subuh. Ia bergegas menuju dapur dan menyiapkan bahan menu sarapan pagi. Telah ada ibu Murti yang sedang mengupas bawang. Rania menghampiri dan membantu Bu Murti.
"Rania, anakku. Semalam aku tak tidur sama sekali"
Ucap Bu Murti dengan mata berkaca-kaca. Bukan karena kupasan bawang, sepertinya karena perasaannya.
"Kenapa Bu, apa yang ibu pikirkan?"
Tanya Rania.
"Aku bermunajat pada Rabb ku untuk kebahagiaanmu. Semenjak kau pulang pertama kali usai perceraian. Aku jarang tidur kecuali kelelahan berlebih. Aku menghabiskan waktuku untuk memohon pada Rabb ku untuk kebahagiaanmu. Aku menuntut pada Allah untuk Rania ku. aku sakit karena memikirkan mu yang menghadapi semua ujian hidupmu sendirian. Aku sangat mengkhawatirkan mu, nak!"
Jawab Bu Murti, pada akhirnya tangis itu pecah. Rania merasa iba. Ia memeluk tubuh ibunya.
"Bu, Rania sudah bahagia. Rania telah menemukan laki-laki tepat yang akan membahagiakan Rania dan anak-anak".
"Syukurlah, nak. Ibu sangat lega mendengarnya. Ibu sangat bahagia melihatmu bahagia".
Ucap Bu Murti menghela nafas panjang.
"Mulai nanti, ibu harus tidur nyenyak ya Bu. Ibu harus yakin bahwa Rania adalah anak yang mampu melewati tiap ujian dalam hidup. Lihatlah Bu, tak ada kesedihan di wajah Rania, ibu lihatkan?"
Bu Murti memandangi wajah putri sulungnya itu. Kemudian mencium kening Rania, memeluknya lagi, dan tiba-tiba tubuh Bu Murti lemas. Tidak ada tenaga lagi. Rania panik dan berusaha mengangkat tubuh ibunya.
"Bu....ibu...ibu...!!!"
Teriakan Rania didengar oleh Ayah Malik dan Jean dan bergegas membawa Bu Murti ke Rumah Sakit.
***
Rania duduk di samping ranjang ibunya. Ayah Malik baru saja bercerita, bahwa sejak perceraian Rania, Bu Murti mengalami serangan jantung. Ia terlalu memikirkan Rania. Meskipun ayah Malik telah mewanti-wanti bahwa Rania adalah anak yang kuat, namun hati seorang ibu mana yang bisa tenang memikirkan anak perempuannya di rantau orang, dibuang dan harus berjuang membesarkan anaknya.
"Ibu, maafkan Rania..."
Rencana bulan madu ke Pulau Sabang terpaksa ditunda. Rania ingin merawat ibunya. Jean pun setuju untuk menunda bulan madunya, sampai kondisi kesehatan ibunya pulih.
Bersambung...
Ibu,
Hatimu luas bagai samudera
Bagimu, anakmu tak ada dua
Sejauh apapun mata tak melihat
Tetapi do'a mu tetap terpanjat
Ibu, mungkin tanganmu tak lagi menggenggam
namun do'a mu adalah penolong saat ujian menghujam
Dan syafaat dunia kala anakmu terajam duka.
__ADS_1