100 Hari Pertama Menjadi Janda

100 Hari Pertama Menjadi Janda
Episode Rahma


__ADS_3

Rania tertegun melihat Kedinding tembok. Bukan kearah coretan mural seorang balita. Namun, pada foto-foto yang terpajang rapi di figura. Foto pernikahan adat Jawa, foto saat liburan keluarga, saat aqiqah putra pertama mereka.


Rahma duduk dengan anggun. Pakaiannya yang panjang menutupi hampir seluruh kulitnya. Rahma terlihat siap untuk mendengarkan maksud dari kedatangan Rania dan Azka. Namun, betapa berat Rania untuk berbicara. Ia tau betapa sakitnya nanti saat harus mengetahui bahwa laki-laki yang selama ini sangat bertanggung jawab pada keluarganya, sayang terhadap anak dan istrinya, memenuhi kebutuhan lahiriah maupun batiniah, memberikan cinta, dan dianggap setia, ternyata adalah seekor musang pencari cinta dan kepuasan birahi diluar sana. Ternyata Wisnu adalah lelaki petualangan yang mendamba cinta liar dari perempuan mana saja, seorang yang menghalalkan haram hanya untuk pemuas napsu duniawinya.


Ada sakit menyeruak dibelahan hati. Rania tengah melihat dirinya sendiri. Dirinya yang tersakiti, di khianati, dan kemudian dibuang. Tentu Rania bingung harus di pihak yang mana, satu sisi Fika adalah wanita yang harus diselamatkan masa depannya, jiwanya, nyawanya. Namun, disisi lainnya, harus ada hati yang dijaga. Dia juga ingin baik-baik saja.


Rania tertahan suaranya. Baru kali ini ia tidak mudah untuk menjadi jembatan komunikasi.


Azka memperhatikan Rania. Dia tau bahwa kali ini, dialah yang harus memulai dan menyelesaikan.


"Pak Wisnu biasa pulang jam berapa ya Bu?".


Rahma terdiam sejenak.


"Bapak kadang-kadang pulang, kadang juga bermalam di kantor kalau ada target penjualan yang belum tercapai. Begitu kata beliau". Ucap Rahma dengan lembut.


Azka jadi berpikir, apakah Rahma benar-benar tidak mengetahui kelakuan suaminya diluar sana?


"Tapi, bapak pulang kan Bu?"


Tanya Azka menegaskan. Rahma terlihat terpojok, air wajahnya berubah seketika.


"mas dan ibu ini siapa?"


Tanya Rahma dengan suara mulai terdeteksi berat.


"Kami dari LBH Perempuan dan anak Jakarta, kak!" Ucap Azka menjelaskan.


Rahma terdiam menatap Azka. Ia seperti menerka-nerka untuk apa Rania dan Azka berkunjung ke rumahnya.


" lalu ada kepentingan apa anda datang kemari?".

__ADS_1


Rania bertatapan dengan Azka.


"Kami membutuhkan informasi tentang Wisnu. Informasi mengenai status pernikahannya. Mohon maaf, Bu, dengan berat hati kami harus menceritakan ini. Sebab , pak Wisnu telah berbuat asusila dengan adik saya, dan kondisinya, adik saya saat ini tengah hamil anak bapak Wisnu".


Rahma terdiam seribu bahasa. Hanya wajah dan matanya yang memancarkan raut kesedihan mendalam. Anehnya, ia seperti tidak terkejut dengan apa yang baru saja Azka jelaskan.


"Lalu, apa mau anda saat ini?!"


Tanya Rahma berusaha tegar. Meski suaranya terdengar berat dan air mata mulai membasahi pipi perempuan berjubah besar ini..


"Kamu hanya ingin pertanggung jawaban Wisnu. Kami ingin Wisnu yang memberikan keputusan". Ucap Azka.


Sejenak Rahma masuk kedalam kamar dan keluar dengan membawa map besar berwarna coklat. Dibukanya map itu. Sebuah surat dengan kop dari Pengadilan Agama.


Surat panggilan sidang perceraian yang tertanggal pekan lalu. Wisnu sepertinya tau bahwa Fika tengah hamil. Sehingga ia bersiap untuk menceraikan perempuan yang telah memberinya dua orang anak.


"Mas Wisnu memberikan ini pada saya. Surat perceraian. Dia sangat ngotot ingin berpisah dengan saya, sejak saya mengandung anak kedua saya!".


Rahma terdiam sejenak. Melihat anak laki-laki nya yang terlihat tenang dengan mainan mobil-mobilannya.


Azka memperhatikan dengan seksama. Rahma sepertinya telah biasa menghadapi situasi ini.


"Saya telah siap menghadapi perceraian didepan mata. Meskipun hari saya sangat sakit. Namun, bertahan dengan laki-laki yang tidak memilih kita tentu sakit!".


Suara Rahma berat tertahan. Tak bisa berkata-kata lagi.


"saya pernah di posisi anda, Bu Rahma. Dan saya setuju dengan apa yang anda sampaikan. Namun, apakah anda telah siap dengan konsekuensi bahwa anak-anak juga membutuhkan kehadiran ayahnya?"


Tanya Rania, setelah menata hati dan perasaannya.


"Apa bedanya dengan saat ini. mereka memiliki ayah, namun sosoknya tak hadir dalam jiwa anak-anak?. Selama ini mereka hanya mendapatkan pendidikan dari saya. Lalu apa beda dengan nanti saat saya menjadi tulang punggung sendiri?, tentu tidak ada bukan?!" Ucap Rahma dengan tegas.

__ADS_1


Perbincangan selesai saat anak bungsu Rahma bangun dan menangis.


Rahma terlihat cekatan dalam mengurus dua anak yang jaraknya tidak terlalu jauh.


Sebelum Azka dan Rania pulang, Rahma hanya berpesan agar Azka segera mencari Wisnu, Rahma telah kebal dengan aduan seperti ini. Sebab sebelumnya, ada perempuan yang mengaku-ngaku sebagai kekasih Wisnu dan mengatakan akan segera menikah dengan Wisnu juga. Lima tahun pernikahan mereka dan warnanya hampir selalu tidak berubah. Petualangan Wisnu ke berbagai perempuan tidak pernah usai.


###


Rahma mengecek handphone nya, menuju nama Wisnu dan mengirimkan sebuah pesan.


"sampai kapan papa akan berubah?"


"keluarga Fika datang padaku, pa!"


Pesan tersebut hanya ditanggapi baca oleh Wisnu. Tak ada balasan. Seperti biasanya, Rahma tau akan ada alibi baru yang akan dibuat untuk mengurai cerita versi dirinya.


###


Hari masih pagi buta, ketika Wisnu pulang dalam keadaan kacau. Dilihatnya Rahma dengan mata seperti musuh.


Secangkir kopi Rahma suguhkan kehadapan suaminya yang memilih masuk kedalam selimut. Entah baru pulang dari mana, semalam ia tidak pulang. Rahma tak menanggapi kelakuan suaminya dengan emosi. Anak-anak masih terlelap dalam tidurnya. Ia tidak ingin anak-anak bangun karena pertengkaran mereka.


Wisnu bangun ketika hari menjelang siang, ini hari Minggu. Kakek dan nenek dari pihak Wisnu, selalu datang menjemput anak-anak Rahma, bermain seharian dengan kakek dan neneknya. Lumayan, Rahma bisa meluangkan waktunya untuk berbelanja ke pasar, membeli kebutuhan untuk membuat keripik kentang balado, di kemas dan dijual secara online. Setidaknya, dari keripik inilah Rahma bisa menutupi kebutuhan sehari-harinya. Sebab uang yang Wisnu berikan sangatlah minim. Hanya cukup untuk makan. Wisnu tak berniat mengantar Rahma ke pasar atau sekedar dating berdua dengan Rahma. Wisnu memilih asik dengan gawainya.


Rahma tengah memotong kentang, ketika Wisnu menonton televisi diruang tengah yang tidak bersekat dengan dapur. Rahma berinisiatif menanyakan apa yang terjadi kemarin padanya. Diam, hanya membuatnya semakin merasakan luka batin. Mumpung tidak ada anak-anak.


Rahma duduk disamping suaminya dan kembali memberikan kopi panas dan cemilan kentang goreng untuk suaminya. Wisnu memang pecandu kopi, sehari dia bisa menghabiskan 3 cangkir kopi.


Kopi kemudian diseruput oleh Wisnu.


"Mas, kemarin ada dua orang datang mencari mu. Mereka keluarga Fika". Ucap Rahma hati-hati.

__ADS_1


Wisnu meletakkan cangkir kopi dengan kasar.


Bersambung ....


__ADS_2