100 Hari Pertama Menjadi Janda

100 Hari Pertama Menjadi Janda
Bagian 36 Perpisahan yang nyata


__ADS_3

Dani kembali terhenyak dengan suara ketukan pintu dan bel yang berbunyi berulang kali. Segera Dani menuruni tangga rumah, menuju pintu dan membukanya.


"Pak Hasan..."


Gumam Dani.


Pak Hasan adalah ayah Delita. Dada Dani bergemuruh. Apakah ia lupa akan janji akan menikahi Delita?


"Assalamualaikum nak Dani..."


Dani terdiam. Terpaku tak percaya. Ia merasa bahwa dirinya amnesia. Melupakan kehadiran Delita. Melupakan janjinya yang baru ia berikan beberapa waktu yang lalu. Kali ini, sosok pria pemilik Delita, hadir di depan mata.


"Silahkan masuk Pak..."


Ucap Dani pelan dan lemah. Ia sadar bahwa di kamar atas, ada Rania dan anak yang juga ia janjikan untuk kembali bersama. Pilihan yang sulit. Ingin rasanya ia menghilang dari sana. Kabur bersama mimpi tentang kehidupan rumah tangga bersama Rania. Memulai semuanya dengan yang baru. Tapi...


"Nak Dani. Delita hamil...,"


Ada emosi yang ditahan keduanya. Emosi Pak Hasan yang nyaris saja meluap dan memaki Dani. Namun, penjelasan Delita telah cukup untuk meredam amarah. Ia tau, bahwa semua tak akan terjadi jika Delita menolak, jika Delita tak mudah dibujuk rayu oleh Dani dan mampu menjaga diri.


"Maaf...."


"Cukup nak Dani. Kata maaf terlalu sering saya dengar dari Delita, dan kini saya tak ingin mendengar penjelasan yang sama dari anda!"


Nafas Pak Hasan tersengal-sengal. Lelah perjalanan Semarang-Bogor tak ia rasakan lagi. Penjelasan dari Dani mungkin hanya berbeda sedikit saja dari apa yang telah ia dengar dari Delita, putrinya.


"Bukankah, kalian sepakat untuk menikah?"


Dani mengangkat dagunya. Seperti terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan pak Hasan.


"Tapi...sa...saya..."


Dani gugup dan gemetar. Batu kali ini nyalinya hilang.


"Mas Dani sudah bercerai bukan?"


Hening sesaat.


"Mas Dani, tolong jawab...anda sudah bercerai dengan istri anda kan?"


Suara Pak Hasan terdengar gemetar. Ia kemudian menangis. Ia bimbang dengan kondisi anaknya. Apa kata orang tentang Delita yang menikah dengan laki-laki beristri.


"Ya. Dani telah bercerai. Tepatnya menceraikan saya untuk anak anda".


Semua terhenyak. Rania hadir diruang tamu dengan dua cangkir kopi manis buatannya. Rupanya sedari tadi ia menguping pembicaraan Dani dan Pak Hasan.


"Rania...tolong..."


(kata-kata terputus oleh Rania)


"Mas...mas jangan khawatir. Aku memang sudah berstatus janda sejak 70 hari yang lalu, bahkan aku akan segera melewati masa Iddah ku".


Rania menyajikan hidangan kopi itu. Duduk di samping Dani. Menghapus air mata yang mulai membanjiri Dani.


"Bapak tidak perlu khawatir. Dani akan segera menikahi putri anda".

__ADS_1


Dani memeluk tubuh Rania dari samping. Seakan ia tak mampu mengambil sikap saat itu dan membiarkan Rania menghadapi pak Hasan sendirian.


"Keterlaluan. Kalau memang sudah bercerai mengapa masih hidup satu atap!"


Pak Hasan naik pitam. Ia terlihat emosi dan tak percaya dengan apa yang terjadi didepannya. Calon menantu yang ia harapkan, malah terlihat lemah memeluk perempuan lain.


Rania menyadari hal itu. Perlahan ia melepaskan pelukannya dari Dani. Sakit. Baru saja mimpi indah tentang bersatunya sebuah keluarga. Kini seakan sirna oleh sebuah janji yang harus ditunaikan.


"Bapak jangan salah paham. Saya telah memiliki hunian sendiri. Kami hanya bersatu untuk anak-anak. Hanya malam ini saja untuk merayakan ulang tahun putra kami".


Rania menjelaskan dengan suara tegas. Seakan tak ingin air mata yang telah ia tahan sedari tadi tumpah begitu saja.


Tak ada yang perlu ditangisi lagi. Ia merasa telah melewati hari yang lebih sulit dari ini. Lebih baik ia kehilangan Dani sekarang, daripada nanti ketika telah rujuk.


Baginya, sakit perasaan diceraikan, dipisahkan dari anak-anak daripada merelakan Dani dimiliki orang lain saat ini.


"Papa...mama..."


Azka telah terbangun dari tidurnya. Menuruni tangga mencari kedua orang tuanya.


Rania berlari menuju Azka. Memeluk dan menciumnya. Dan....lagi. Rasa bersalah yang begitu besar baru saja ia rasakan. Nyatanya apa yang ia ucapkan adalah bentuk defense egonya yang seketika bisa luluh lantak karena melihat kebutuhan peran ayah dari anak-anaknya.


Tapi, kali ini tidak. Saatnya membentuk karakter anak-anak. Bahwa mereka harus mampu bertahan hidup menghadapi takdir. Bahwa tak semua harapan bisa tercapai.


***


Terkadang, kita harus mengajarkan anak-anak kita tentang hidup. Mengajarkan sejak dini tentang apa itu takdir. Ya... Takdir yang terkadang terjadi tak sesuai ekspektasi.


Anak-anak harus diajarkan mengenal arti kata sabar, dengan melihat mimpinya tertinggal di tidur malamnya. Tak sampai terbawa di alam yang nyata.


Ya, nak...kamu bangkit. Harus bangkit. Kenyataan jangan ditinggal lari. Lalu kamu hidup untuk menyesali sepanjang hari.


Lihat kenyataan dan hadapi


Seperti aku yang telah menyadari diri


Kemudian menjadikan hidupku berarti.


Sekarang tinggal kamu nak,


Azka dan Zidan


Lihatlah, kenyataan didepan mata


Dia (papa), bukan milik kita lagi


Dia telah punya janji!


Apa yang ku ajarkan tentang janji, nak.


Bahwa janji harus ditepati


Kau tak boleh ingkari janji


Sebab itu dibawa mati.

__ADS_1


***


Sinar mentari memudar diantara awan berwarna kelabu.


Jingga itu hilang warna


Ditelan marah dan lara


Sudah cukup, Rania mengijinkan mimpinya digantikan oleh sosok yang lain. Ia hanya meminta anak-anaknya, agar ia bisa menjalani kehidupan baru.


To be singgle mom...


menjadi mama seutuhnya untuk kedua buah hatinya. Rania yakin, kehadiran anak-anak akan menguapkan lara dihati. Lara karena hati benar-benar terbagi


Sebuah kenyataan, bahwa Delita hamil buah hati Dani. Pernikahan mereka didepan mata, tak berarti kehidupan Rania hancur seketika.


"Mas Dani aku pergi... Aku bawa Azka dan Zidan. Aku tak akan membatasi pertemuan kamu dengan anak-anak. Datanglah kapan kau suka"


Ucap Rania berpamitan pada Dani.


"Rania, aku harap kita bisa mencari titik tengah agar kita tetap bisa bersama"


Ucap Dani menghalangi Rania pergi. Bagi Rania, Dani tak pernah terlihat kacau seperti hari ini.


Rania tersenyum kecut. Ia baru saja mengubur sekecil apapun harapan untuk bersatu kembali.


"Maaf mas. Aku baru saja menyudahi harapan-harapan ku. Mimpiku semalam. Kakiku masih berpijak dirumah ini. Tapi lentera ku telah redup. Jiwaku telah melangkah ditempat yang berbeda".


"Rania tapi..."


(tertahan oleh Rania...)


" Tunaikan janjimu segera mas. Jangan sampai Delita dan keluarganya menanggung beban malu. Biarlah, aku dan keluargaku telah menerima takdirku. Mungkin inilah takdirku, menjadi seorang janda..."


Rania, Azka dan kini membawa Zidan


keluar dari rumah Dani.


Dani mengantar ketiganya menuju paviliun. Namun Rania tak mengijinkan Dani berlama-lama disana. Semakin lama Dani berada didekatnya, semakin lama Rania bangkit dari kenyataan hidupnya.


Dani berpamitan pada kedua buah hatinya. Kedua jagoannya terlihat lebih tegar daripada Rania. Mereka langsung larut dalam kegiatan bermain. Sedangkan Rania memuaskan batinnya untuk melihat Dani, mungkin untuk terakhir kalinya dengan puas. Karena jika bertemu kembali, bisa jadi tak akan sama, bisa jadi berbeda. Ada yang akan mengawasi tatapannya. Rania haram untuknya.


Dani melangkah keluar dari paviliun sederhana itu. Melepas anak-anak bersama Rania. Perempuan yang dicintainya, namun tak menjadi jodohnya. Sebuah kecupan mendarat di kening Rania. Ia tak bisa menolak. Anggap saja ini kecupan terakhir. Tentu ini menjadi kecupan terakhir untuknya, sebab setelah itu ....


Rania,


Hidup baru,


Menjadi peran baru.


Selamat tinggal kisah sejati ku, Dani...


***


Bersambung ....

__ADS_1


Part yang juga sangat berat untuk ku tulis. Butuh keberanian menulis part ini. Cinta sejati tak harus memiliki...


Terimakasih untuk pembaca setiaku, terimakasih untuk like dan comment nya. Sampai jumpa di part selanjutnya❤️


__ADS_2