100 Hari Pertama Menjadi Janda

100 Hari Pertama Menjadi Janda
Bagian 89 : Dinda : Bukan Wanita Bekas Pakai!


__ADS_3

Waktu bergulir begitu saja. Dinda tak lagi sama. Ia berjalan melewati takdirnya. Apapun itu. Rasa sakit yang terbiasa ia rasa tak bisa membuatnya berhenti melangkah untuk menggapai masa depan.


Dinda tetap melanjutkan studinya. Karirnya dan bisnis semakin pesat. Ekonomi bukan lagi menjadi masalah dalam hidupnya. Laki-laki yang datang dan pergi begitu saja. Berkenalan, menabur perhatian, kemudian hilang tanpa pamitan. Dinda pun tak ingin ambil pusing soal itu. Ia memilih fokus pada masa depannya. Akan ada masa dimana ia akan bertemu jodohnya, atau mati sebagai bidadari surga.


"Din, besok aku ada acara ulang tahun. Kamu datang ya, sekalian bantu aku rias. Aku ga bisa dandan".


Ucap Sekar, sahabatnya.


"Siap deh. Tapi aku gak ngasih kado ya, kan udah barter sama rias, hahaha"


"hahaha...kamu itu perhitungan banget, pantes aja cepat kaya!"


Ledek Sekar. Persahabatan mereka terjalin sejak Dinda sering sendiri tanpa Pras. Hikmahnya, ia bisa memiliki banyak teman. Sebab saat bersama Pras, dunia seakan miliki mereka berdua. Kemanapun ada Dinda, disitu ada Pras. Kini, Dinda layaknya sosialita kaum urban. Ia memiliki banyak teman, bahkan ia memiliki 3 komunitas yang semakin menyita waktu dan pikirannya.


Dinda akrab dikenal sebagai young preaneur di kampusnya. Diusia yang baru menginjak 24 tahun, ia telah memiliki banyak bisnis dan relasi.


Dinda bahkan sering menjadi sponsor utama dalam banyak kegiatan kampus. Seperti biasa, wajah glowing nya juga mengundang perhatian banyak mata yang memandang.


***


Laki-laki Berikutnya


Dinda berkenalan dengan seorang pria bernama Haris. Haris adalah seorang pemilik konter handphone di sebuah mall yang ada di kota Bandung. Mereka berkenalan saat Dinda di dapur menjadi makeup artis untuk acara launching sebuah handphone merek ternama di mall tersebut.


Pertemuan singkat itu berlanjut sampai chatting. Haris adalah seorang duda beranak 1. Anaknya masih berusia empat tahun. Haris bercerai karena istrinya selingkuh dengan bos nya. Itu cerita menurut versi Aris.


Tidak butuh waktu lama untuk menjalin keakraban keduanya. Dinda yang juga sangat menyukai nak kecil, dan pernah berharap menjadi seorang ibu, dengan mudah mengambil hati Marsya, anak Haris. Hampir setiap akhir pekan, Dinda selalu meluangkan waktu untuk jalan-jalan bersama Haris dan Marsya.


Meski Haris belum menyatakan perasaannya pada Dinda, namun keakraban yang terjalin telah menunjukkan bah


Tak ada keraguan di hati Dinda pada hubungan kali ini. Tentu, status mereka sama. Janda dan duda. Akan mudah bagi Dinda jika suatu hari Haris melamarnya.


Haris tipikal yang romantis. Kemapanan ekonomi membuatnya mudah memanjakan Dinda dengan banyak hadiah. Seperti saat ulang tahun Dinda tahun ini, Haris memberikan sebuah mobil Honda jazz berwarna silver. Warna kesukaan Dinda. Meskipun Dinda sempat menolaknya, namun Haris tetap memberikannya.


Di momen itu, Haris menyatakan perasaannya pada Dinda, meminta Dinda untuk menikah dengannya dan menjadi ibu dari Marsya. Tanpa banyak pertimbangan, Dinda menerima cinta Haris dengan bahagia. Sebagai bukti kesungguhannya, Haris bahkan telah menyiapkan sebuah rumah untuk Dinda. Sungguh Dinda merasa istimewa Dimata Haris.


***


Hari lamaran secara resmi telah Haris tentukan. Dia akan segera melamar Dinda pada orang tuanya. Ini saat bagi Dinda untuk berterus terang pada Haris. Bagaimanapun ia harus tau status Dinda sebenarnya. Ia tak ingin kejadian yang lalu kembali terulang.


"Mas, bisa ketemuan hari ini?"


Dinda memberikan sebuah pesan singkat pada Haris. Ini masih hari Rabu. Tak biasa bagi Dinda menemui Haris dihari kerja. Selain sama-sama sibuk, Dinda juga tak ingin mengganggu Haris saat bekerja.


"hemmm oke. Dimana?"


Balas Haris.


"Di rumah kak Niken saja. Jalanan macet, males keluar".


Balas Dinda...


"Oke. Mau dibawakan apa?"


Tanya Haris yang tak pernah datang dengan tangan kosong.

__ADS_1


"Kak Niken minta mie ayam Bangka, mas hehehee"


"Oke sayang siap angkut!"


Balas Haris.


***


Satu jam kemudian, Honda CBR merah telah parkir didepan rumah Niken. Dengan cerianya Niken menyambut kedatangan Haris.


"Hai mas...wah terimakasih ya sudah membawakan aku mie ayam Bangka!"


Ucap Niken bahagia. Niken memang selalu akrab dengan sahabat-sahabat Dinda. Begitu juga dengan Haris.


Haris dan Dinda duduk di pinggir kolam. Ada sebuah gazebo disana. Dinda menyiapkan dua buah mangkok untuk mereka menikmati mie ayam bersama dipinggir kolam, tak lupa Dinda membuatkan secangkir kopi susu mocca kesukaan Haris.


"Tumben kamu ngajak ketemuan hari kerja, Din?"


Tanya Haris sambil menyeruput kopi buatan Dinda.


"Ada yang perlu aku bicarakan, dan gak bisa lewat telpon".


Jawab Dinda sambil menikmati mie ayam Bangka.


"Sepenting itukah sampai tidak bisa lewat telpon?"


Dinda mengangguk. Ia kemudian menghentikan makannya. Dinda kemudian menyodorkan secarik kertas pada Haris.


"Apa ini?"


"Bacalah, mas".


Ucap Dinda lirih. Entah mengapa ia tetap merasa takut untuk berkata jujur pada Haris.


"Surat talak atas nama Dinda dan Hadi?"


Bola mata Haris membulat.


"Iya mas, aku telah menikah sebelumnya. Menikah secara siri bersama laki-laki bernama Hadi".


Ucap Dinda lirih, kepalanya tertunduk. Ia tidak menyangka bahwa ekspresi Haris seserius itu.


"Mengapa kamu baru jujur, Din?"


Tanya Haris. Ekspresi wajahnya berubah dingin. Dinda tak menyangka ia akan menghadapi wajah Haris yang tidak bersahabat itu.


"A...aku... aku jujur saat ini karena kamu baru saja menyatakan perasaanmu padaku sepekan lalu kan mas. Jika kamu bukan siapa-siapa, tak mungkin aku menyatakan kejujuran ini".


Ucap Dinda berusaha menjelaskan.


Haris terdiam. Melanjutkan minum kopinya. Namun, suasana tak sehangat biasanya. Haris menjadi minim bicara.


***


Sejak malam itu, Dinda menjadi khawatir akan kehilangan Haris. Seharusnya Haris bisa menerima dirinya seperti dia menerima Haris dengan status dan anaknya.

__ADS_1


Dinda tak menghubungi Haris hingga akhir pekan pun tiba. Seperti biasa Haris menjemput Dinda untuk berjalan-jalan sesama Marsya. Kali ini, Marsya minta berenang. Haris pun mengajak Dinda berenang di kolam renang sebuah Hotel di puncak. Disana ada fasilitas kolam renang air panas dan private pool yang cukup bagus.


Dinda dan Marsya larut dalam suasana bahagia. Mereka berenang dan bermain sudah layaknya ibu dan anak.


Setelah berenang, mereka makan di dalam kamar hotel. Masya terlihat kelelahan dan tertidur setelah menghabiskan makanannya.


Dinda membaringkan Marsya di ranjang king size, kemudian kembali ke sofa yang berada di ruang yang tersekat di kamar hotel tersebut.


Haris menarik lengan Dinda dan mencoba mencumbu Dinda. Namun, Dinda mencoba untuk menepis ajakan untuk having *** secara baik-baik. Haris terus mencoba mencumbu Dinda, bahkan kali ini terkesan memaksa dengan kasar.


"Mas...stop!!!"


Dinda mendorong tubuh Haris hingga tersungkur di lantai.


"Dinda!!"


Teriak Haris.


"Maaf mas". Ucap Dinda.


"Kamu jangan sok suci. Kamu kan sudah janda, jadi gak apa kan kita ML sekarang. Toh sama saja, gak akan ketahuan!"


Ucap Haris dengan sinis. Ia terlihat kesal dengan apa yang dilakukan Dinda padanya.


"Maksud kamu apa mas?"


"Halah ...jangan bertingkah lugu, Din. Kamu itu sudah gak perawan kan, makanya beralibi telah menikah siri?!"


Ucap Haris. Kali ini benar-benar Dinda seperti tak mengenali Haris lagi.


"Astaghfirullah mas, aku seperti ini karena memang telah sah menjadi istri. Aku melayani suamiku dengan halal!"


Ucap Dinda.


"Aku tidak peduli, Din. aku telah lama menginginkan tubuhmu, toh sebentar lagi kita menikah kan!"


Ucap Haris tetap berusaha meraih tubuh Dinda.


"Justru karena sebentar lagi kita menikah, bersabarlah dulu. Nanti jika telah resmi. Maka semua yang ada padaku, kamu berhak mas!"


Ucap Dinda berusaha keluar dari apartemen itu.


"Munafik kamu, Din!"


Haris terus mencoba memaksa Dinda. Kali ini lengan Dinda hampir saja terpelintir oleh ulah Haris. Dinda berhasil meraih gagang pintu apartemen dan menarik kailnya. Kali ini ia berhasil keluar. Dinda berlari terburu-buru melewati koridor apartemen. Beberapa kali ia terjatuh karena hils yang ia kenakan.


Akhirnya Dinda mencapai lift dan berhasil masuk. Dinda terduduk disana, menangis dan menahan rasa kecewa yang menguasai pikirannya. Bagaimana bisa ia hampir saja diperkosa oleh Haris yang telah ia anggap sebagai pria baik-baik.


***


Niken mengoleskan balsem dilengan Dinda. Beberapa bagian tubuh Dinda lebam. Sepertinya Haris tak hanya menarik lengan Dinda, namun juga melakukan pemukulan dibeberapa bagian tubuhnya.


"Din, aku baru dapat informasi dari salah seorang rekan Haris. Rupanya Haris memang seorang yang ringan tangan. Ia bercerai dengan istrinya juga karena alasan kekerasan dalam rumah tangga".


Ucap Niken. Ia menyesal mengapa tak mencari tau dulu latar belakang Haris, si tipe romantis namun juga psikopat!

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2