100 Hari Pertama Menjadi Janda

100 Hari Pertama Menjadi Janda
Bagian 15 Bunuh Diri II


__ADS_3

Tiga hari sudah Rania berada di bangsal rumah sakit. Belakangan Rania mulai sadar bahwa itu merupakan bangsal Rumah Sakit Jiwa.


Rania masih enggan berbicara pada siapapun, begitu juga pada Jean yang selalu datang setiap pagi dan sore. Menyuapi bubur dengan sabar, meskipun Rania tak mengatakan satu patah katapun.


Sesi konseling dari Psikolog belum dapat dilakukan. Rania Belum mau merespon apapun. Dunia terasa selesai di mata Rania. Ia merasa tak ada guna ia berjuang hidup. Untuk siapa dia hidup. Anak-anak yang menjadi satu-satunya nafas dan jiwa, tiba-tiba berubah, menjauh, sama seperti Dani, ayahnya.


Rania menatap jendela kamar. Melihat keluar. Dedaunan yang jatuh seperti waham bagi Rania. Ia menuruni ranjang tempat tidurnya. berjalan menuju pintu. Membuka pintu kamar, dan berjalan sendirian di lorong bangsal Rumah Sakit. Rumah Sakit Jiwa itu tidak sepi. Ada suara tangisan pilu, ada teriakan-teriakan amarah dan beberapa orang yang berusaha menenangkan. Tapi, Rania bersikap dingin tak peduli. Ia tetap sendiri, tak ada yang mengawasi, berjalan menuju pohon yang tadi ia lihat. Melihat keatas pohon yang cukup kuat dan kokoh.


Pohon itu amatlah tinggi, namun memiliki ranting-ranting yang menjuntai ke bawah. Ia mengedarkan netra ke sekeliling. Ada kain Jarit dan seprai yang dijemur di pekarangan bangsal. Ia menghampiri kain itu, menariknya dan membawa ke pohon itu lagi.


Antara sadar atau waham


Rania mengikatkan kain yang telah disatukan itu di salah satu ranting pohon. Kemudian mengikatkan pada lehernya. Nafasnya perlahan tersengal, tertahan oleh kain yang mencekik lehernya. Tak lama kemudian, Rania kembali kehilangan kesadaran.


Mata Rania terbuka kembali. Ia berharap sudah ada didalam gundukan tanah. Namun cahaya yang menyorot masuk melalui jendela kamar menyadarkan Rania. Bahwa ia masih di dunia. Masih dengan keadaannya. Ia menangis sejadi-jadinya. Mengapa ia tak pernah mendapatkan yang ia mau. Ia dipaksa menerima keadaan. Keadaan hidup yang memilukan.


"Rania...!" sapa seseorang yang tak lain adalah Jean.


"Rania, cukup, sampai kapan kamu dalam kondisi seperti ini?!"


Jean memegang kedua bahu Rania, menepuk pipi Rania, berharap Rania segera sadar.


"Kamu tak boleh seperti ini Rania. Kamu harus bangkit. Bicaralah...bicaralah Rania!"


"untuk apa aku bangkit Jean. Untuk siapa aku hidup?!" Ucap Rania lirih. Ia tak memiliki kekuatan untuk bicara. Jiwanya kosong, pikirannya kosong.


"Untuk diri kamu sendiri, dan untuk orang tuamu, Rania". Bisik Jean lirih di telinga Rania.

__ADS_1


Seketika Rania mengingat sosok ayahnya. Sosok ibunya dan adik-adik di kampung yang nyaris selama ini ia lupakan.


Ia menangis memanggil ayahnya.


Jean adalah sahabat terbaik Rania saat itu. Ia berusaha mencari nomer telpon ayah Rania yang tinggal di sebuah kota kecil di Banda Aceh.


Jean berhasil mendapatkan nomer telpon itu dari kontak yang ada di ponsel Rania.


Ayah Rania syok mendengar putri sulungnya mengalami keadaan yang begitu tragis. Diceraikan dan saat ini kondisinya tengah berada di bangsal Rumah Sakit Jiwa.


Sepekan sudah Rania berada di bangsal Rumah sakit Jiwa. kondisinya mulai membaik. Rania sudah mendapat terapi konseling dari seorang psikolog. Kondisi Rania berlangsung membaik. Jean berencana mengajak Rania pulang. Ayah Rania juga dijadwalkan akan sampai di Jakarta esok pagi.


Jean sangat bahagia, Rania diperbolehkan untuk pulang. Ia menyuruh beberapa asistennya untuk menyiapkan sebuah paviliun di area toko. ya...di area toko Latifaa Bakery memang ada beberapa paviliun yang disediakan untuk tempat tinggal karyawan dengan jabatan tertentu.


Sebenarnya, Rania mendapatkan promosi kenaikan jabatan sebelum kejadian petang itu.


Jean membantu Rania menuruni mobil Alphard Vellfire nya. Dengan sabar menuntun Rania masuk menuju kamar di paviliun itu. Rania direbahkan di sebuah ranjang. Jean menyibakkan tirai jendela agar Rania bisa menghirup udara segar.


Rania tertegun dengan keindahan taman tersebut.


"Jean, siapa yang merawat bunga-bunga itu?"


"Mantan istriku Rania..."


Rania terhenyak.


"Sebelum ia pergi meninggalkan aku setahun yang lalu, dia menanam aster-aster itu, merawatnya, sampai akhirnya ia lelah". Jean terdiam sejenak.

__ADS_1


"lelah...?" Rania lirih bertanya.


"Ya. Ia lelah karena menemukan keindahan yang baru. Lalu pergi mengikuti kata hatinya".


Jean tersenyum menatap Rania.


"Lalu...?" Tanya Rania mulai penasaran.


"Aku yang melanjutkan menanam bunga Aster itu. Setiap hari tak aku lewatkan untuk menyiram, memupuk, dan membersihkannya dari rumput pengganggu. Aku yakin, Istriku akan menyukainya saat ia kembali ke tempat ini". lanjut Jean.


Rumah yang Rania tempat saat ini dulunya adalah tempat dinas Jean, saat tahun-tahun pertama menikah. Latifaa Bakery mengalami krisis ekonomi. Jean memilih untuk tinggal di paviliun ini agar bisa 24 jam memantau perkembangan penjualan dan cash flow perusahaan. Sayang, tahun itu merupakan tahun ujian untuk Latifaa bakery. Perusahaan beberapa kali merugi. Karyawan banyak yang di PHK, dan yang bertahan harus rela menunggu gaji ditunda pembayarannya selama tiga bulan berturut-turut. Hal itu membuat Syela, istri Jean meninggalkan Jean. Syela yang terbiasa hidup serba berkecukupan dan mewah, tak kuasa hidup prihatin dengan Jean yang saat itu tengah berjuang untuk perusahaannya. Namun karena kesabaran Jean, akhirnya Syela kembali ke pelukan Jean, meskipun akhir tahun lalu, Syela menghembuskan nafas terakhirnya ketika berjuang melahirkan Shena.


"Belajarlah dari kesabaranmu, Rania".


"Jika memang Dani adalah jodohmu. Tentu berapa ribu wanita yang ia singgahi, ia akan tetap kembali padamu, bersabarlah". Ucap Jean sambil mengusap kepala Rania.


Rania kembali tertegun. Tapi, ia tak tau bagaimana caranya ia harus bersabar. Pikirannya kosong. Bahkan ia tak punya rencana apa yang harus ia lakukan esok.


Ayah Rania tiba di Jakarta. Salah satu karyawan Jean menjemput di Bandara. Pak Malik, nama ayah Rania.


"Ayah...."


Rania menghambur ke pelukan sang ayah. Lebih dari enam tahun Rania tak bertemu dengan ayahnya. Ya, Sejak menikah, Rania tak pernah sekalipun diajak bersilaturahmi dengan keluarganya. Setiap lebaran tiba, selalu dirayakan di rumah Dani. Beberapa kali Rania meminta agar keluarga kecil itu mudik saat lebaran ke Banda Aceh, namun selalu di tolak oleh Dani.


Perempuan adalah milik suaminya ketika. Sudah menikah. Perempuan harus patuh pada suaminya. Bahkan jika ayahnya meninggal sekalipun, dan suami tak meridhoi nya untuk menjenguk, maka haram bagi perempuan untuk menjenguk keluarganya.


Doktrin itu terjadi enam tahun lamanya, dan menjadi siksaan psikologis yang merenggut keceriaan Rania. Ia lebih banyak murung dari pada tersenyum. Terutama saat ia merindukan orang tuanya. Merindukan tempat dimana ia dilahirkan.

__ADS_1


Nah, pembaca setia...next Rania akan bagaimana ya setelah bertemu ayahnya?


ikuti terus ya 🤗❤️jangan lupa like sebanyak-banyaknya dan jadikan novel 100 Hari Pertama Menjadi Janda menjadi novel favorit mu😎❤️


__ADS_2