
Penyelidikan terus dilakukan. Polisi terus mencari bukti-bukti baru yang mengarah kepada pelaku utama. Tak ada jejak Hardi disana. Kemungkinan Hardi menyewa pembunuh bayaran dalam misi ini.
Namun Hardi berkilah, jika ia menyewa pembunuh bayaran, tentulah ia harus memiliki banyak uang. Sedangkan, sejak ia pergi meninggalkan rumah itu, ia memutuskan untuk pulang kampung dan bertani bersama ayah mertuanya. Ia fokus untuk membesarkan buah hatinya sendiri.
Jika polisi menuduh bahwa ia membayar pembunuh bayaran, tentulah Hardi harus mencari cara untuk membayarnya. Seharunya Hardi menyuruh para pembunuh bayaran untuk menguras harta dan benda berharga milik Aldo dan Maya. Namun, kenyataannya tidak ditemukan adanya penjarahan ataupun pencurian barang berharga. Tentulah pelakunya merupakan orang yang mampu membayar pembunuh profesional, sebab kematian mereka nyaris tak terendus warga sekitar, rapih dan tanpa meninggalkan jejak.
Hardi menghubungi Rania untuk meminta bantuan pada LSM yang menyediakan bantuan hukum. Hardi tentu tak memiliki cukup uang untuk menyewa seorang pengacara untuk membelanya.
Rania terketuk hatinya, Meskipun belum lama saling mengenal, namun Rania yakin bahwa Hardi bukanlah tersangka dalam kasus ini.
"Hardi, apakah kau mencurigai seseorang dalam kasus ini?!"
Tanya Rania saat menjenguk Hardi di penjara.
"Sangat tidak mungkin jika Bu Nadin melakukannya. Karena aku tau sifat Bu Nadin yang pemaaf dan sangat sabar dalam menghadapi sikap Aldo".
Hardi diam sesaat.
"Sebentar. Aku mengingat sesuatu!"
Aldo tiba-tiba teringat sesuatu. Ia ingat bahwa Aldo pernah melakukan perselingkuhan sebanyak 2 kali, dan selingkuhan Aldo nasibnya tidak diketahui hingga saat ini. Sari dan Diana gadis dibawah umur. Keduanya hilang bak ditelan bumi.
"Aku mencurigai Bu Nadin memiliki kaki tangan yang tidak aku ketahui. Namun, aku beberapa kali melihat Bu Nadin tengah berbicara rahasia dengan seorang bertubuh tegap dan bertato naga di lengannya. Ia memanggil orang itu sebutan Om!"
Terdiam sesaat sambil terus mencoba mengingat-ingat. Sedangkan Rania sangat berharap mendapatkan titik terang dalam kasus ini.
"Rania, ya ... aku ingat, setelah perbincangan itu, aku mendapati kabar bahwa Bu Nadin menjemput Sari dan menjanjikannya pekerjaan di Jakarta. Namun, Sari menghilang 2 hari sebelum ia benar-benar berangkat ke Jakarta. Hanya itu!"
Ucap Hardi.
Rania merasa memiliki titik terang dalam kasus ini. Ia kemudian menurunkan tim untuk mencari tau keseharian Nadin.
***
Nadin duduk diatas kursi rodanya. Menjauh dari pemakaman. Menjauh dari kesedihannya, kemarahannya juga sakitnya.
Ia berlalu dari suasana kuburan yang masih dipenuhi oleh sanak saudara dan pelayat. Ia telah menaburkan kembang. Kembang yang wanginya mampu menutupi segala aroma yang membuatnya sakit.
__ADS_1
Dendamnya tunai sudah. Tak boleh sakit lagi hatinya. Tak boleh lagi ia ingat apa yang telah terjadi kemarin malam. Itu sudah selesai. Semua sudah diatur.
"Nadin, kamu harus melangkah maju. Kau harus pulih seperti yang ku lihat kemarin. Tak akan aku biarkan orang menyakiti perasaanmu, aku janji!"
Suara ia berbisik ditelinga Nadin. Suara seseorang yang selalu melindunginya selama ini. Sosok itu tak akan pernah membiarkan Nadin kesakitan, sedih ataupun teraniaya.
Selama ini, sosok itu yang selalu membantu Nadin keluar dari persoalannya.
***
"Kerja bagus. Kalian akan mendapatkan bonus karena berhasil dalam misi kita!"
Ucap Frans Kakak Nadin. Ia adalah seorang pengusaha yang menjalankan bisnisnya dalam bidang jasa colector atau jasa penagihan hutan.
Sebagai penyedia jasa penagihan, tentu Frans memiliki banyak rekanan preman dan body guard yang selalu mengawalnya dan mensupport segala kepentingan Frans.
Frans terkenal sadis pada siapa saja. Termasuk pada Aldo. Frans dan Aldo adalah sahabat ketika mereka sekolah di STM. Mereka sama-sama tawuran dan membandel. Namun, ketika Aldo menyukai Nadin, Frans mengancam Aldo agar dia bisa membahagiakan Nadin dan tidak menyakitinya. Karena menyakiti Nadin sama saja dengan mencari masalah dengan Frans.
Namun sepanjang perjalanan pernikahan Aldo dan Nadin, rupanya Aldo melanggar perjanjian. Aldo yang terkenal hobi bermain cinta itu kerap bergonta ganti selingkuhan. Mulai dari janda hingga mereka yang usianya masih di bawah umur. Meskipun sudah diperingatkan, namun, tabiat Aldo tak pernah ada selesainya. Selalu diulang dan diulang lagi.
Hingga puncaknya. Saat Nadin diusir oleh Aldo dengan alasan bahwa Aldo tidak sanggup lagi berumah tangga dengan Nadin. Aldo boleh jadi suami Nadin secara sah, namun, segala permasalahan rumah tangga dan bahkan keuangan selalu dimonopoli oleh Frans.
Nadin kemudian mencoba untuk diam. Tak pernah menceritakan bagian kehidupan rumah tangganya. Namun, nyatanya Frans selalu hadir menemui Nadin, jika Nadin terlihat tidak seceria biasanya, maka Frans pun akan bertanya pada Nadin, sampai Nadin bersikap jujur kepadanya. Dan jika hal ini sudah terjadi, maka, sudah dapat dipastikan Aldo menjadi sasaran kemarahan Frans..
"Menikahi mu seperti meminjam sebuah gelas kaca. Aku boleh minum digelas itu, tapi tidak bisa memilikinya. Aku boleh menuangkan anggur digelas itu, tapi tak boleh meninggalkan rasa mabuknya. aku harus hati-hati menjagamu, sebab aku tidak memilikimu seutuhnya!"
Begitulah sebuah surat yang pernah Aldo tulis untuk Nadin. Ia merasa Nadin tidak bisa dimiliki sepenuhnya, karena orang tua Nadin terlalu banyak ikut campur dalam urusan rumah tangga mereka.
***
Polisi memeriksa CCTV yang terpasang di beberapa titik pemukiman Grand City Indah, pemukiman disekitar rumah Aldo.
Dari sana terlihat bahwa saat malam kejadian, dua orang mengendarai sebuah mobil Xenia hitam menuju arah rumah Aldo. Ada sekitar 6 orang didalam mobil itu, satu orang mengendalikan mobil, satu melihat-lihat suasana dan yang lainnya meringsek kedalam rumah itu melalui pintu sepertinya mereka memiliki kunci cadangan rumah itu. Tak terdengar keributan apapun. Mereka seperti layaknya tamu yang bertamu malam-malam.
Mereka keluar dengan tergesa. Sambil berusaha menyapu telapak tangan dengan tanah dan membungkusnya dengan plastik, kemudian menutup pagar dan baru masuk ke mobil, kemudian tancap gas. ..
***
__ADS_1
Polisi segera melacak plat nomer kendaraan yang digunakan untuk kejahatan.
Sebuah nama telah dikantongi.
Polisi segera melacak alamat yang dimaksud. Namun rupanya, mobil itu merupakan mobil hasil lelang pegadaian. Sang pemilik sebelumnya tidak mampu menebus dan akhirnya dilelang Bank.
Polisi sampai harus melacak tempat pelelangan dan mencari tau pembeli setelah lelang, kemudian didapat bahwa yang membeli adalah seorang pengusaha dari sewa kendaraan bermotor. Sepertinya, sang pelaku telah merencanakan betul aksinya dan memperhitungkan semuanya.
Polisi melacak data penyewa yang menggunakan jasanya saat hari kejadian.
Nama dalam KTP "Frans Libero!!!"
Jelas nama itu adalah nama kakak Nadin.
***
Nadin duduk di sebuah meja panjang coklat. Matanya menatap nanar ke penjuru ruang.
Ia didapuk menjadi saksi dalam kasus pembunuhan atas Aldo, Maya dan anaknya.
sedangkan, Frans duduk dengan kepala tegak, tanpa rasa beban yang berat. Semua telah ia perhitungkan sebelumnya.
Nadin ingin menyewa pengacara bandar dan hebat. Namun Frans menasehati agar Nadin tidak mengeluarkan uang banyak lagi.
Frans memang masuk BUI. Namun yang didalam BUI adalah teman-temannya. Ia memang masuk bui, namun ia bahagia,
"Tidak akan ada yang menyakitimu lagi, adikku!!!
Janji Frans pada Nadin..
***
Hardi menyambut Nadin yang keluar dari ruang persidangan. Memeluknya dengan erat dan berusaha menguatkannya.
Frans di vonis 12 tahun penjara. Nadin tak kuasa menahan tangisnya. Lebih sendu terdengar dari pada saat kematian suaminya.
Selesai .....
__ADS_1
Hai ini kisah tentang Pembinor selesai. Nantikan kisah berikutnya ya...😘 see you at the next part😘dengan kisah yang gak kalah menarik😘