100 Hari Pertama Menjadi Janda

100 Hari Pertama Menjadi Janda
BAB 14 Hasil Banding


__ADS_3

Pak Jean masuk ke ruang kerjanya dan mendapati Rania tengah tertidur lelap disana. Ia membiarkan Rania tertidur.


Satu jam berlalu...


Rania terbangun dari tidurnya. Ia terkejut mendapati dirinya berada di ruangan pak Jean. Ia melihat ke sekeliling ruang, Pak Jean sedang mengobrol dengan salah seorang staf di ruang keuangan. Semua dinding ruangan terbuat dari kaca. Ia dengan mudah melihat aktivitas diluar ruangan.


Tak lama, Pak Jean masuk.


"Rania, kami sudah bangun...?"


"Maaf pak, saya ketiduran"


"Tak apa. Saya lihat kamu seperti kelelahan. Jadi saya biarkan kamu tertidur.


Rania tersipu malu. Pak Jean adalah pimpinan di Latifaa Group. Tapi, ia sangat sederhana dan menghargai setiap karyawannya. Tak heran, jarang yang dipecat atau mengundurkan diri dari perusahaan ini. Mulai Direktur hingga Office boy di sini semuanya betah bekerja dengan Pak Jean.


Mereka memperbincangkan mengenai kesiapan Rania bergabung menjadi baker di Latifaa Bakery. Rania akan ditempatkan di kantor pusat.


"Begini Rania, meskipun kamu sarjana, tapi karena posisi yang kamu lamar adalah baker, maka kamu tetap harus bekerja dari level bawah ya...nanti jika pekerjaanmu bagus, maka saya akan mengajukan promosi untuk kenaikan jabatan. Bagaimana?"


Rania berkaca-kaca mendengar penuturan Pak Jean.


"Iya pak. saya siap"


"Baiklah kalau begitu, silahkan dibaca kontrak kerjanya, kamu bisa tanda tangan diatas materai itu, dan kalau kamu merasa sudah siap, kamu bisa mulai bekerja besok".


Rania langsung melakukan sujud syukur.


"Oh ya kamu juga bisa menempati ruang mes malam ini juga. Nanti Pak Sukri akan menjemputmu jam delapan malam" ucap Pak Jean.

__ADS_1


"baik terimakasih pak. Ini sudah saya tanda tangan kontrak kerjanya".


Ucap Rania sambil menyerahkan berkas kontrak kerja .


"Oke. emmm...oh ya. Kamu nanti pulang sekalian di antar Pak Sukri saja ya. Di luar hujan". Ucap Pak Jean yang terus menerus memberi perhatian pada Rania.


"oh...tidak usah pak. Merepotkan nanti" ucap Rania menolak tawaran Pak Jean. Bagaimanapun Rania adalah karyawan baru di sana. Ia tak ingin diistimewakan.


Pengadilan menerima pengajuan banding Rania. Persidangan akan dibuka kembali awal bulan depan. Rania mengisi hari-hari dengan bekerja.


Saat ini Rania tinggal di mes milik Latifaa bakery. Mes ini disediakan bagi karyawan Latifa a bakery. Lumayan untuk menghemat biaya sewa kontrakan.


03 September 2017


Hari dimana Rania harus bersiap menghadapi sidang banding atas tuntutannya. Rania mengambil libur kerja selama dua hari. Sengaja dalam sebulan kebelakang ia tidak mengambil jatah liburnya.


Pada sidang kali ini Rania telah siap menghadapi pihak kuasa hukum Dani. Pada sidang kali ini sama, Dani tak ikut hadir dalam persidangan. Ia hanya melihat kuasa hukum Dani. Kali ini bukan hanya Erwin, melainkan tim sebanyak tiga orang.


Meskipun demikian, Rania berhasil memenangkan hak asuh anak. Beberapa perjanjian mengenai pengasuhan anak dikaji ulang dan di revisi. Setidaknya, tujuan utama Rania mendapatkan hak asuh anak telah ia dapatkan.


Petang itu, usai persidangan, segera ia ingin menemui kedua putranya. Ia membawa beberapa bingkisan makanan kesukaan Azka dan Zidan.


Di gerbang rumah Dani, dua pasang mata tengah berdiri di depan pintu. Rania sumringah melihat anak-anaknya. Empat bulan waktu yang cukup lama bagi Rania untuk tidak bertemu dengan anak-anak. Dulu, ia tak pernah sehari pun meninggalkan anak-anak. Kemanapun selalu bersama.


Anak-anak berdiri di dampingi seorang pengasuh. Ada yang tampak aneh pada ekspresi mereka. Rania mendekat, Azka mematung, Zidan mulai merengek menjauh dari Rania. Rania menghambur memeluk Zidan. Tapi...tapi anak itu malah menangis, berusaha melepaskan pelukan Rania. Azka berlari masuk ke dalam rumah, mengintip dari jendela seperti melihat orang asing. Pengasuh itu menarik Zidan dari pelukan Rania. Rania terhenyak tak percaya. Azka dan Zidan adalah tipikal anak yang manja, hanya dalam waktu tiga bulan, mengapa semua terasa berubah.


Rania menjadi asing bagi Azka dan Zidan. Ia tak melihat keceriaan di mata Azka. Tubuh Rania bergetar hebat. Emosinya menjadi tak stabil. Tiba-tiba tanpa kendali Rania mencoba menarik paksa anak-anaknya. Ia sudah berusaha sejauh ini untuk memperjuangkan hak asuh. Ia sudah berusaha memperbaiki ekonomi agar bisa menafkahi anak-anaknya. Tapi nyatanya... anak-anaknya lupa, atau sengaja dibuat lupa, atau dalam tekanan pihak lain. Rania kehilangan akal sehat, ia terus berusaha menarik lengan Azka dan Zidan, berteriak dengan kekuatannya, seperti singa yang memperebutkan wilayahnya. Azka dan Zidan meronta, menangis...


Dua orang security membawa paksa Rania keluar dari rumah Dani. Sekuat apapun, ia adalah seorang wanita lemah. Rania tak mampu melawan dua lengan kekar yang menghempaskan tubuhnya ke luar pagar. Diseret paksa dan dicampakkan begitu saja.

__ADS_1


Dan.... Rania hilang kesadaran.


Perlahan mata Rania terbuka. kesadarannya perlahan kembali. Tapi...ia tak lagi berada didepan rumah Dani. Netra mencoba menyisir ke sekeliling ruangan. Ia tak juga sedang berada di mes Latifaa Bakery. Rania mencoba bangkit. Tapi, ia tak bisa. kaki dan tangannya terikat pada ranjang.


"sakit...." ucap Rania lirih. Suaranya nyaris tak terdengar.


"Rania, kamu sudah sadar?""


Ada Jean disana. Setia menunggu di sisi ranjang.


"mengapa tanganku diikat?"


Rania tak mencoba mencari tau, siapa orang disebelahnya. Ia hanya memperdulikan tubuhnya yang terikat tali.


Merasa bahwa Rania telah sadar dan tak akan mengamuk, Jean kemudian memanggil perawat, dan membantu Jean membuka tali yang mengikat Rania. Jean membantu Rania duduk di ranjang, memberikan air minum dengan pipet, dan mengikat rambut Rania yang berantakan.


"bagaimana keadaanmu Rania?"


Jean bertanya perlahan. Jean takut pertanyaannya menyulut amarah Rania.


"aku...aku...aku..." Rania mencoba mengingat apa yang terjadi padanya.


Namun, semakin berusaha Rania mengingat, ia merasakan kesakitan di kepalanya.


"Rania, jangan bercerita sekarang. lebih baik kamu makan dulu ya. ini aku bawakan sup jamur".


Rania mengangguk. Ia makan suapan demi suapan sup jamur yang di bawa Jean. Melihat kondisi Rania, Jean merasa iba. Setidaknya, kali ini ia tak hadir sebagai pimpinan perusahaan, melainkan menjadi sahabat Rania.


...Yang protes Rania menderita terus sabar ya gaes......

__ADS_1


...ikuti aja terus ceritanya 100 hari pertama menjadi janda. jangan lupa comment and like nya ya untuk mendukung tulisan ini๐Ÿค—๐Ÿ˜...


__ADS_2