100 Hari Pertama Menjadi Janda

100 Hari Pertama Menjadi Janda
Bagian ke 22 SETELAH HARI KE 45


__ADS_3

Kepergian Jean yang tiba-tiba pergi, membuat Rania seperti meja yang kehilangan satu kakinya. Jean telah menjadi bagian dari hidupnya. Circle pertemanan yang menyempit karena pernikahan, ketika bersama Jean menjadi luas kembali. Rania dikenalkan pada banyak sosok orang-orang yang jadi panutan untuk sukses.


Pernah satu kali Rania di bawa ke sebuah rumah makan khas Padang. Ibu penjual adalah janda anak empat yang berusaha bertahan hidup di Jakarta saat suaminya memutuskan untuk berpoligami ketika anak-anak nya masih kecil. Ibu itu berjualan tanpa kenal waktu sambil menyekolahkan anak-anaknya. Hingga si sulung sarjana, si sulung membantu adik nomer dua, adik nomer dua membantu nomer tiga dan begitu seterusnya, hingga anak-anaknya sukses.


Jean yang memotivasi Rania agar Rania mengambil kesempatan ketika anak-anak dalam pengasuhan Dani, Rania harus bisa memperbaiki diri dan ekonominya. Apa yang menjadi kekurangannya harus berhasil ditutup, dijadikan kelebihan. Rania harus berusaha keras untuk menjadi wanita karir, ia harus menjadi sosok kuat, ceria dan mandiri, agar kelak Azka dan Zidan akan menjadi anak yang kuat secara mental, bahagia jiwanya, dan mandiri seperti ibunya. Hanya ibu yang kuat yang akan melahirkan jiwa-jiwa yang kuat juga. Apa jadinya jika Rania mengasuh anak dalam kondisi jiwa yang tidak stabil?


Sebuah buku diary selalu menjadi sahabat Rania untuk mencurahkan perasaan dan ide-ide. Ia akan membuka jendela kamar setiap malam. Memandang istana Latifaa group dari kejauhan. Ia membiarkan Meta memandangnya dengan tajam dan ia tau akan ucapan sumpah serapah padanya yang dianggap pelakor. Ah...seperti sudah biasa. Selama Meta hanya mengucapkan dengan lisan, Rania akan diam. Tapi jika Meta berani dengan kekerasan fisik, Rania tak ingin tinggal diam.


Dear Diary


Dimana aku harus mencari Jean?


Akankah aku mendapatkan sahabat seperti Jean?


Ingin rasanya aku pergi dari tempat ini.


Tapi mau kemana?


Aku ingat pesan Jean agar aku membersihkan nama baikku disini. Bekerja sebaik mungkin agar dapat promosi jabatan. Jean juga berkata bahwa aku harus membuktikan bahwa aku layak mendapatkan yang seharusnya aku dapatkan.


Empat Puluh Lima Hari menjadi janda


Rania membuat target rencana hidup kedepan. " Aku harus membuatnya sendiri, akan ku lakukan sendiri, dan aku yakin ini baik untuk perusahaan dan juga aku".


Kesempatan bekerja di Latifaa group adalah kesempatan karir yang sangat baik. Rania memutuskan untuk membersihkan nama baiknya, bekerja untuk pengembangan perusahaan, naik jabatan dan mendapatkan penghasilan lebih. Ia tidak akan tinggal diam jika ada yang berani memfitnahnya, ingin menjatuhkannya. Ia akan lebih speak up, mengambil hati Bu Latifaa.


Setiap hari Rania datang ke tempat produksi lebih awal. Ia meminta tim nya untuk bekerja lebih awal. Ia membuat breafing sebelum bekerja, mengenai apa yang harus diperbaiki dari hari kemarin dan apa yang harus dipersiapkan agar hari ini lebih baik dari hari kemarin. Sikap ini berhasil menumbuhkan semangat baru bagi tim baker untuk selalu bekerja lebih baik dari hari kemarin. Hasilnya, kesalahan kerja bisa lebih banyak diminimalisir, tim baker mampu membuat perencanaan produksi setiap hari.


Rania pulang kerja lebih lambat dari tim nya. Ia mengajak salah satu tim di bagian baker. Mereka membuat list inovasi kue baru, rasa baru dan segmentasi pasar yang baru. Rania membuat inovasi aneka cemilan untuk orang diet. Ia menciptakan aneka kue rendah protein dan bebas gluten. Ia juga mencampurkan bahan gula rendah kalori dan gula alami pada kue-kue hasil karyanya.


Hasilnya, kepuasan konsumen meningkat, daya beli konsumen pada produk rendah kalori ini berhasil membawa Latifaa Bakery pada rating bintang lima versi sebuah majalah kesehatan, hal ini juga diketahui oleh Bu Latifaa.

__ADS_1


Suatu pagi ...


Suasana kantor Latifaa group semenjak kepergian Jean menjadi tidak tenang. para pemangku jabatan berlomba saling menjilat untuk mendapatkan kekuasaan lebih.


Bagas dan Mayang yang notabene lulusan S2, entah mengapa tidak menunjukkan attitude sebagai lulusan kelas tinggi. Justru mereka membuat kubu memperebutkan diri untuk menguasai Latifaa group sepenuhnya.


Bagas mempengaruhi manager keuangan. Bagas mengubah beberapa rekening sumber pemasukan Latifaa group, diantaranya outlet Depok dan Jakarta Timur.


Hari berganti hari... cash flow perusahaan semakin tak bisa dikendalikan. Beberapa karyawan yang bekerja pada Jean mulai disingkirkan. Rania nyaris menjadi korban. Untungnya, ia masih dipertahankan Bagas untuk membantunya.


Suatu hari, ia mendengar Bu Latifaa jatuh sakit akibat melihat neraca keuangan perusahaan yang tidak seimbang. Mayang banyak melakukan penyelewengan dana.


Beberapa karyawan level manager datang menjenguk Bu Latifaa di Rumah Sakit. Manager Produksi mengajak Rania turut serta. Prestasi, membuat Rania bisa bergaul dengan level manager dan direktur perusahaan itu, kecuali Meta dan Mayang, yang tak suka dengan keberadaan Rania.


Di Rumah Sakit


Semua manager hadir dari bagian yang berbeda, kecuali periklanan, menjenguk Bu Latifaa. Begitu juga Rania. Bu Latifaa terhenyak melihat kehadiran Rania disana.


"Iya Bu Latifaa, saya Rania Supervisor Bakery"


"Kamu tau dimana Jean berada?"


Bu Latifa memaksakan dirinya untuk bangun. Seolah ia sangat kehilangan Jean dan berharap Rania tau keberadaannya.


"Maaf Bu Latifaa, saya tak pernah lagi mendengar kabar Jean. Namun saya pernah mendengar bahwa Jean berada di Singapura bersama rekannya".


Bu Latifa tertunduk lemah.


"Aku salah menilai nya, dan juga menilai mu, Rania". Ucap Bu Latifaa menatap sayu Rania.


"Aku kira, Jean mengistimewakan kamu karena sebuah rasa. Ternyata, aku salah. Kamu memang pantas mendapatkan semua itu, bahkan lebih!"

__ADS_1


"Jangan bicara seperti itu Bu Latifaa, saya hanya mengerjakan apa yang menjadi tanggung jawab saya".


"Perusahaan diambang krisis. Penjualan tinggi, namun hutang tak terbayar, anak-anak ku lainnya hanya memikirkan kesenangan mereka sendiri. Aku lupa bahwa Jean lah yang memperjuangkan Latifaa bakery hingga di puncak kejayaan"


Bu Latifaa diam sejenak, mencoba mengusap tangisnya, Rania mampu merasakannya. Rania memeluk Bu Latifaa, Bu Latifaa menyambut pelukannya. Tangisnya pecah, pilu. Inilah tangis kerinduan seorang ibu pada anaknya.


****


Rania memutuskan untuk mencari keberadaan Jean. Tak ada cara lain, kondisi Bu Latifaa makin menurun. Perusahaan makin terlilit hutang. Hutang yang digunakan untuk kepentingan pribadi Bagas dan Mayang.


Rania mulai berselancar di Instagram. Mencari nama hotel milik sahabat Jean. Ia pernah mendengar dari salah satu staf yang kini telah dipecat Mayang, bahwa Jean bekerja pada rekannya, Stefan. Hotel Stefan bernama Savana Hotel and Resort. Sebuah penginapan di Sentosa Island.


Rania memberanikan diri mengirimkan sebuah DM di Instagram mereka. Beruntung Rania mampu berbahasa Inggris.


"Hello, my name is Rania, Jean is friends".


Tak lama sebuah balasan masuk yang ternyata dari rekan sekamar Jean yang bekerja untuk mengelola akun sosial media Savana.


"Hello Rania. What can i do for you?"


"i need phone number of Jean". balas Rania.


Tak berselang lama, ponsel Rania berdering...


dilayar monitor, Rania membaca sebuah panggilan masuk.


"Jean..." mata Rania membulat bahagia.


...Dear pembaca.......


...Perjalanan Rania menjalani masa janda dimulai dari hari ke hari. karena seperti itulah nyatanya. Untuk bisa menjadi tegar, dibutuhkan motivasi dari diri sendiri dan gak selalu ada orang yang mendampingi, dan seperti itulah kenyataannya. Ikuti terus perjalanan hidup Rania hingga nanti kembali pada perjuangan mendapatkan hak asuh anak ya 😅😍😘 jangan lupa like and comment untuk mendukung saya 😍🙏...

__ADS_1


__ADS_2