100 Hari Pertama Menjadi Janda

100 Hari Pertama Menjadi Janda
Bukan pelayanan Biasa!


__ADS_3

Hari itu menjadi hari yang sangat lama bagi Fika dan Wisnu. Mereka ingin cepat pulang ke hotel dan menghabiskan hari berdua saja. Cinta telah membutakan mata hati. Mereka lupa bahwa belum ada ikatan apapun antara keduanya.


Siang itu Fika akan melakukan meeting bersama seorang bos properti. Bos itu bernama Hendri. Tak ubahnya Wisnu, Hendri pun merasa tertarik dengan Fika.


Jobdesk yang berbeda membuat Fika terpisah dari Wisnu. Fika bertugas untuk mengurus surat dan perijinan tanah dan usaha, sedangkan Wisnu fokus pada desain bangunan dan penataan tempat. Untuk itu, Fika pergi hanya ditemani Hendri.


"Nona Fika, mari kita jalan sekarang!" Ucap Hendri dengan nada lembut. Tangannya membuka pintu mobil BMW Silver untuk Fika.


Wisnu memperhatikan dengan geram tingkah pria yang memiliki brewok dan tubuh tidak terlalu tinggi itu.


Sebelum Fika masuk kedalam mobil. Wisnu menarik lengan Fika. Isyarat bahasa tubuh Wisnu mengatakan bahwa ia tidak suka kalau Fika jalan dengan Hendri.


"Mas..." Fika mengisyaratkan agar Wisnu melepaskan lengannya.


"Jangan macam-macam!" Ucap Wisnu geram.


Fika mengangguk mengiyakan.


Wisnu melepas Fika dengan tatapan sinis. Persis melihat musuh dan ingin berperang.


Fika masuk kedalam mobil dan menatap Wisnu dari balik jendela. Fika dan Hendri akan menemui notaris yang akan mengurus surat perijinan properti. Sepanjang perjalanan menuju kantor notaris PPAT, Wisnu terus menghubungi Fika melalui pesan singkat maupun telpon. Membuat Fika tidak nyaman, karena harus beralasan pada Hendri.


Dalam satu jam pertama saja, sudah dada 10 pesan yang masuk. Pesan dari Wisnu. Bahkan belakangan Wisnu berani melakukan ancaman pada Fika.


"Jangan dekat-dekat dengan Hendri".


Sebuah pesan masuk pertama dari Wisnu.


"Oke!"

__ADS_1


Jawab Fika singkat.


"Jangan cuma oke dimulut saja. tapi, lakukan!".


"Jarak kami satu meter, mas. Gak bisa lebih jauh dari itu. Kita masih perjalanan di mobil!" Ucap Fika masih berusaha untuk menanggapi Wisnu.


"Awas kamu kalau kegatelan!" Balas Wisnu yang membuat Fika merasa tak nyaman..


Setelah itu, Fika menyalakan mode silent di handphone nya. Ia ingin tetap terlihat profesional di depan Hendri. Fika tau, ada lebih dari 10 pesan masuk dari orang yang sama dan panggilan tak terjawab, ia tak lagi menghitung getarannya.


"Fika, kamu sudah lama bekerja sebagai produk Spesialis di Perubahan Ayu Indonesia?" Tanya Haris membuyarkan lamunan Fika yang sedang khawatir pada ancaman Wisnu.


"Eh...iya mas. Aku masih baru sebenarnya. Baru saja menyelesaikan masa probition beberapa bulan lalu?" Ucap Fika yang berusaha menanggapi ucapan Hendri.


Fika juga baru menyadari bahwa sedari tadi Hendri melirik kearah rok Fika yang mini. Fika merasa salah kostum. Sebab ia akan banyak kegiatan diluar ruangan.


Fika mencoba menutupi bagian tubuhnya dengan tas ransel. Untung saja ia membawa tas ransel besar untuk membawa dokumen-dokumen perusahaan.


"Pak Hendri apakah kita bisa selesai sebelum malam?"


Tanya Fika ketika jam menunjukkan pukul 16.00 WITA.


"Sepertinya kita akan lembur disini, Fik. Bukankah kita harus menunggu notaris memberikan akta jual beli. Kita harus menunggu, notaris sedang menyiapkan itu!"


Ucap Haris sambil mengutak atik laptopnya.


"Apa bisa kita kembali besok pagi saja. Hari sudah mulai malam!" Bujuk Fika.


"Sebaiknya kita selesaikan hari ini juga. Karena besok kita harus sudah ke kantor desain interior untuk membuat deal harga kan, tenang saja, aku akan mengantarkan kamu pulang!"

__ADS_1


Ucapan Hendri bukan membuat lega Fika, melainkan ia sangat khawatir, sebab tidak mengenali Hendri sebelumnya.


Jam menunjukkan pukul 21.00 WITA. Wisnu telah beberapa kali melakukan panggilan tak terjawab.


Fika segera memberi pesan pada Wisnu untuk menjemputnya pulang. Ia sangat tidak nyam dengan Hendri.


Hendri memaksa untuk mengantar Fika pulang ke hotel. Pesan terlanjur masuk. Namun belum terbaca oleh Wisnu. Ia sangat khawatir, padahal beberapa menit yang lalu Wisnu baru saja menelponnya untuk memastikan keadaan.


Fika tak bisa menolak meskipun ia telah mengatakan bahwa ia akan dijemput oleh Wisnu. Karena tak ingin ribut ditempat umum, akhirnya Fika menyetujui untuk diantar ke hotel tempat dia menginap.


Sepanjang perjalanan Fika terus berharap Wisnu membaca pesan darinya. Bahwa ia kan menuju hotel. Hari sudah mulai gelap. Fika tidak mengenali arah jalan pulang. Ini Bali bukan Jakarta!


Jalan pulang terasa asing baginya. Ia mencoba mengingat jalan yang tadi siang dilaluinya. Tapi, karena tadi siang dia sibuk menanggapi pesan dari Wisnu, hingga ia tak sempat menghafalkan jalan pulang.


Mobil berhenti di pengisian BBM, Fika keluar dari mobil, menjauh dari mobil dan mencoba menelpon Wisnu. Kali ini berhasil. Rupanya Wisnu malah telah tiba di tempat notaris yang tadi. butuh empat puluh menit untuk mengejar kendaraan Hendri.


Pengisian BBM telah selesai. Fika berharap Wisnu segera menyusulnya, dan menyelamatkan dari pria hidung belang ini.


Beberapa kali Hendri mengajaknya untuk mampir ke cafe yang berjejeran di sepanjang perjalanan. namun, Fika menolak dengan alasan lelah karena seharian penuh dengan pekerjaan. Ia ingin segera sampai di hotel dan beristirahat.


Mobil tidak berhenti di depan mobil melainkan di lokasi parkiran. Hendri meminta ijin untuk mengantar Fika sampai di kamar. Fika menolak namun Hendri memaksa. Fika sempat mengecek ponselnya, namun Wisnu belum juga memberi kabar dimana posisi dirinya saat ini.


Hendri adalah klien perusahaan. Ia telah lama bekerjasama dengan perusahaan tempat dia bekerja. Dari cerita Hendri sedari tadi, bahwa rata-rata yang dikirim perusahaan untuk mengurus MOU penjualan adalah perempuan. Hendri kemudian menyebutkan nama-nama rekan kerja Fika yang dulu pernah bekerjasama dengannya. Bahkan salah satunya pernah berkencan dengannya!


Begitu fulgar cerita Hendri, hingga terpikir oleh Fika bahwa ia juga bisa memberikan hal yang sama seperti rekan kerja yang lainnya. Tentu saja Fika tidak menginginkan itu. Baginya, bisa jadi apa yang terjadi tadi pagi itu bukan karena sebuah kesengajaan, melainkan karen Fika dan Wisnu terbawa perasaan. Karena mereka sama-sama saling mencintai dan ingin memiliki, meskipun ia sadar bahwa itu salah dan nyaris fatal!


Hendri dengan berani berjalan mengikuti Fika. Fika sengaja memperlambat kecepatan jalannya. Ia tentu ingin Wisnu tiba sebelum dirinya sampai di kamar.


Fika beralasan bahwa kunci kamarnya hilang, sehingga harus menghubungi pihak hotel. Sialnya ia berada di hotel bintang lima, sehingga pelayanannya super cepat. Receptions telah memberikan kunci kamar Fika. Hendri telah terlihat seperti serigala yang siap memangsa. Fika dalam tekanan, berjalan lambat kearah lift.

__ADS_1


Lift terbuka, ia dan Hendri pun masuk bersama. Hanya mereka berdua saja!


Bersambung ...


__ADS_2