100 Hari Pertama Menjadi Janda

100 Hari Pertama Menjadi Janda
46 Lamaran Jean Part 2


__ADS_3

Rania salah tingkah. Ia pura-pura tidak mengerti dengan ucapan Jean barusan.


"Jean, sepulang dari Singapura ternyata selera humor kamu makin tinggi!"


Ucap Rania mencoba mencairkan suasana yang begitu kaku setelah Jean mengungkapkan niatnya untuk melamar Rania setelah masa Iddah nya selesai.


"Aku tidak sedang bercanda. Aku serius, Rania".


Ucap Jean sambil menancapkan pandangannya pada bola mata Rania. Rania semakin salah tingkah. Ia tak bisa berkata apa-apa.


"Ini bukan saatnya merayuku, Jean!"


Jean tersenyum dan menghempaskan nafasnya.


"Oke.Maaf Rania"


Ucap Jean menjauhkan diri dari Rania.


"Jean, katakan sekarang aku harus apa?"


"bantu aku, Rania. Kita akan memulai sesuatu yang baru. Kita mulai dari nol. Jadi, aku mau kamu buat beberapa resep produk unik untuk produk kita nanti. Sedangkan aku akan membuat konsep pemasaran yang sesuai dengan kondisi pasar saat ini".


Rania seperti sudah mengerti tentang apa yang harus ia lakukan. Sepulangnya dari tempat bekerja, seperti biasa ia akan mengurus kedua anaknya, merapikan rumah, mencuci pakaian selagi anak-anaknya belajar atau mengerjakan PR. Anak-anak Rania sudah terbiasa belajar sendiri. Setelah memastikan rumahnya bersih dan rapi, anak-anaknya terlelap tidur, Rania akan bergegas membuka laptop yang dipinjamkan oleh Jean. Sebagai lulusan sarjana, Rania lihai dalam mengoperasikan laptop.


Ia membuat peta konsep produksi. Membuat beberapa menu dan resep yang belum pernah ada sebelumnya. Ia melakukannya setiap hari. Hingga dalam hitungan sepekan, telah terkumpul hampir lima puluh menu roti dan modifikasi dari jajanan tradisional. Ia melihat peluang pasar dari menu jajanan tradisional ini. Sudah sangat jarang yang membuat jajanan tradisional, mengapa tidak mencoba membuat dengan modifikasi baru. Seperti yang ia lakukan pada resep minuman Dawet Bumiayu yang terkenal dengan gula Jawa dan aroma nangkanya, ia padukan dengan konsep boba yang kekinian. Maka ia membuat Dawet menyerupai Boba. Dari segi bahan memang berbeda, Boba terbuat dari tepung kanji, namun Rania membuatnya dari tepung beras ketan. Bentuknya di cetak menyerupai bentuk Boba asli. Selain lebih mudah di cerna, Boba dari tepung beras ketan juga terasa lebih legit. Ia juga menambahkan warna pada Boba sehingga terlihat cantik dan menarik. Kuah santan yang gurih dan aroma buah nangka yang dipotong dadu, menambah estetik tampilan Boba ala Rania. Semua resep ia uji coba di rumah, kemudian ia foto. Ia belajar fotografi secara otodidak melalui YouTube. hasilnya tidak kalah dengan fotografer profesional.


***


"Jean aku mau kita meeting diluar"


Rania mengirimkan sebuah pesan singkat kepada Jean.


"Oke. di Cafe Dearsea ya, biar bisa di meeting room"


"Baiklah. Tapi aku bawa anak-anak ya"


"siap. nanti biar pak Dodo supirku yang menjaga anak-anak bermain di kolam"


***


Hanya butuh waktu setengah jam untuk menuju cafe Dearsea. Anak-anak Rania sangat antusias karena mereka bisa melihat ratusan spesies ikan di aquascepe raksasa ditemani Pak Dodo, supir Jean. Sedangkan Rania berada di meeting room berkonsep restoran.


Rania mengeluarkan laptopnya dan mulai menjelaskan konsep dari toko roti yang akan ia rintis. Mirip dengan Latifaa Group dimana ada toko roti dan juga restoran besar. Namun, disini konsepnya lebih minimalis, kekinian dan instagramable . Rania juga membuat paket-paket birtday party, engagement, dan mini party lainnya. Ia juga menunjukkan foto-foto makanan dan minuman yang telah ia uji di dapurnya dan di foto menggunakan kamera ponsel.


Jean melihat potensi besar pada konsep yang telah dibuat oleh Rania. Setelah makan bersama dengan anak-anaknya, Jean kemudian mengajak Rania ke sebuah mall besar. Rania kembali teringat pada saat ia diajak Jean untuk membeli ponsel untuk mengganti ponselnya yang rusak.


"Jean...kita mau beli apalagi?"


Ucap Rania sedikit bingung. Karena setelah melihat foto-foto hasil jepretan Rania. Jean hanya mengatakan ini bagus. Kemudian makanan tersaji, dan Jean mengajak Rania dan anak-anaknya untuk makan.


Jean menuju sebuah konter Kamera Canon. Rania tau Jean akan membeli sebuah kamera.


"Rania"


Jean memanggil Rania yang tengah menemani putranya bermain di timezone. Jean melambaikan tangannya memberi isyarat agar Rania menuju padanya.


"Pak Dodo titip lagi ya..."

__ADS_1


"Siap neng"


Rania menghampiri Jean.


"Ya..."


Jean memberikan sebuah kamera merk Canon PIXMA iP2770 pada Rania.


"Jean ini mahal"


"Buat kualitas gambar yang bagus Rania. Mulai besok, jam kerjamu akan aku kurangi. Kamu bisa pulang lebih awal. Aku akan mengajarimu tentang fotografi"


Rania tertegun menatap Jean. Ia tak menyangka bisa bertemu pria sebaik Jean. Sungguh sosok suami idaman batin Rania. Tapi ah...terlalu banyak berharap itu, pikirnya.


***


Keesokan harinya Rania pulang lebih awal. Pukul tiga sore, dari yang sebelumnya pukul lima sore. Rania pulang bersama Jean.


"Jean, mereka siapa?"


Tanya Rania ketika Jean tidak sendiri.


"iya ini Mas Timo dan Yudi. Mereka saya minta untuk sedikit merenovasi dapur di paviliun kamu, Ran.


Renovasi gumam Rania.


***


Setibanya di Paviliun, Rania sibuk membantu Azka mengerjakan tugas membuat tugas meronce, sehingga tak memperhatikan ruang dapur yang sedang dibenahi oleh dua orang tukang dan Jean sebagai mandornya.


Zidan merengek minta diambilkan minum. Rania bangkit dan menuju dapur. Betapa terkejutnya ia ketika melihat ruangan dapur berubah menjadi dapur minimalis yang sangat rapi. Beberapa bagian ditata layaknya dapur seorang master chef.


Rania terkagum-kagum dan terharu...


"Jeandra, benarkah ini?"


Mata Rania berkaca-kaca menyaksikan dapurnya berubah sesuai mimpinya.


Jean mendekat ke arah Rania. Merangkul bahu Rania.


"Bagaimana, kamu suka?"


Ucap Jean dengan lembut.


Rania dibuat terharu, berbunga dan...jika sudah begini, siapa yang tidak jatuh hati pada seorang Jean.


"Jean, kamu berlebihan..."


"Biasa saja..."


jawabnya meledek.


"Aku tak pantas mendapatkan ini!"


Ucap Rania


"Calon CEO Rania Bakery sangat pantas"

__ADS_1


Balas Jean dengan wajah serius.


Rania terhenyak...


"Maksudnya, Jean?"


"mulai detik ini, berkarya lah Rania. Kamu memiliki potensi besar untuk berkembang. Sebentar lagi aku akan mengajarimu cara menggunakan kamera, dan teknik pengambilan gambar. Setting tempat dan plating makanan sudah oke. Apalagi teknik mengambil hatiku, kamu jagonya"


"Apaan sih Jean...."


Rania mencubit perut Jean. Kemudian mereka tertawa bersama.


***


"Mama...kok lama cih ambil minumnya...Zidan aus ma...."


Panggil Zidan dengan bahasa khas anak kecil yang belum bisa berbicara lengkap.


Panggilan dari Zidan mengejutkan Rania. Ia baru sadar bahwa maksud ia ke dapur adalah untuk mengambil segelas air untuk Zidan.


Ah...cinta memang begitu.


Hadirnya selalu tak menentu


Membuat pelangi, hingga lupa hujan disiang itu


Rania POV :


Jean, kamu sudah berani masuk kedalam hatiku. Tolong jangan berani pergi.


Jangan buat aku merindu


Hanya untuk mendapatkan kabar darimu.


Jean, aku bukan gadis lagi


Kamu harus selalu ingat itu


Saat kamu menerimaku


Terima pulalah anak-anak ku.


Cintai mereka selayak kau mencintaiku


Dan mulai memperjuangkan hatiku.


Aku, Rania, menerima lamaran mu


Tunggulah setalah 100 Hari berlalu


dan aku siap untuk memilikimu


Rania,


Bersambung


Dear readers, terimakasih untuk selalu mendukung tulisan saya🤗 jngan lupa like nya ya...see you at the next part ❤️

__ADS_1


__ADS_2