100 Hari Pertama Menjadi Janda

100 Hari Pertama Menjadi Janda
Bagian 7 Disingkirkan


__ADS_3

Hawa dingin menusuk tubuh Rania yang hanya dibalut daster tipis dan lusuh. Enam hari berada di rumah sakit untuk menjaga Zidan membuatnya kehilangan daya. Uang di saku bajunya hanya tersisa lima puluh ribu. Besok Zidan sudah diperbolehkan pulang. Sedangkan untuk biaya administrasi, Rania sangat mengandalkan asuransi dari perusahaan Dani. Ia telah beberapa kali menghubungi sekretaris Dani, Sinta namanya, dan Sinta berjanji akan mengajukan klaim hari ini. Namun, sampai malam menjelang, tak ada kabar dari Sinta. 


Rania mencoba menghubungi Sinta bebebrapa kali melalui ponselnya. Tapi tak kunjung mendapat jawaban. Rania seperti orang putus asa. Ia setengah linglung menghadapi semua cobaan ini sendiri. Ingin rasanya ia menghubungi orang tuanya dan menceritakan semua beban ekonominya. Tapi, urung ia lakukan. Bukankah ayah Rania, Pak Rido, juga sangat tidak menyetujui pernikahan Rania. 


Disaat terberat seperti ini. Rania mengambil wudhu dan membentangkan sajadah. Ia melaksanakan sholat tahajud dan sholat hajat. Rania benar-benar tak memiliki jalan keluar untuk masalahnya. Ia hanya memiliki do'a yang menjadi satu-satunya harapan yang bisa menyelamatkan nya esok hari. Zidan harus pulang, Rania harus kembali mencari nafkah, Azka juga sudah sangat merindukannya.


Esok harinya…


"Rania… ayo aku antar pulang".


Rania terperanjat mendengar seseorang menyapanya. Adzan subuh baru saja berkumandang. Rania yang tertidur diatas sajadah dibangunkan oleh suara seseorang.


"Mas Dani…." Ucap Rania sambil menyeka wajahnya.


"Bersiaplah...aku akan menyelesaikan administrasi" ucap Dani dingin. Namun, bagi Rania ini ucapan Dani lebih ini yang lebih ia butuhkan saat ini dari pada rayuan. 


Alhamdulillah ya Allah, yang telah melunakkan hati mas Dani. 


Dani mengantar Rania menuju rumah, tepatnya gudang. Tak lupa Dani menjemput Azka di rumah Rangga. Ia juga membelikan beberapa stok makanan dan mainan untuk anak-anaknya. Tapi kali ini, Dani tak ikut masuk kedalam rumah. Ia hanya mengantar Rania dan anak-anak sampai gerbang depan rumah. 


"Maaf aku ada urusan pekerjaan, turun dan istirahat lah". Ucap Dani setelah membantu menurunkan barang-barang bawaan dari rumah sakit. 


"Tidakkah mas ingin menemani anak-anak sebentar saja. Mereka merindukanmu mas". 


"Aku akan menjemput anak-anak sore ini". Ucap Dani dingin sambil melaju kendaraannya. 


Rania tak sempat memikirkan apapun. Ia kembali fokus pada anak-anak. Ia larut dalam kegiatan membersihkan rumah dan menyiapkan makanan untuk Azka dan Zidan. 


Sore hari 


Dani menepati janjinya untuk menjemput Azka dan Zidan. Tapi tidak dengan Rania. Tujuan mereka ke rumah lama. Tak mungkin Rania turut serta. Demi anak-anak Rania mengalah. Mungkin ini kesempatan Rania untuk menyiapkan bahan keperluan usahanya. Bagaimanapun ia harus kembali mencari nafkah. Meski belum berpisah secara hukum, namun nyatanya Dani telah abai terhadap nafkah lahir maupun batin. 


Ia kembali memposting dagangannya, bento dan laundry antar jemput. Alhamdulillah, respon nya masih sangat baik. Ada yang benar-benar menggunakan jasa Rania karena butuh. Namun banyak pula yang menggunakan jasa Rania karena merasa kasihan. 


Ia larut dalam kesibukan, hingga tak sadar bahwa hari telah larut malam. Tapi Dani tak kunjung mengantarkan anak-anak pulang. Ia mencoba mengecek ponsel. Ternyata ada pesan dari mas Dani. 


"Anak-anak malam ini tidur denganku" perasaan Rania campur aduk saat itu. Antara bahagia bahwa anak-anak masih mendapatkan tempat di hati ayahnya, atau perasaan cemburu bahwa ia pun masih sangat menginginkan Dani. 


Rania mencoba mengabaikan perasaannya. Entah untuk kesekian kali ia selalu mengalahkan perasaannya. 

__ADS_1


Kesepian...itu yang Rania rasakan malam ini. Ketakutan yang berhasil ia abaikan, namun tergantikan dengan perasaan sepi dan tidak berdaya. Kadang ia ingin kembali ke masa mudanya. Mengejar karir dan membahagiakan orang tuanya. Menjadi seorang guru seperti yang di cita-citakan ayahnya, dan membuka usaha di bidang bimbingan belajar. Ah...mengapa penyesalan selalu datang terlambat. 


Waktu berjalan sangat lambat malam itu. Perasaan Rania tak kunjung reda. Tubuh yang lelah tak mempu membawanya terlelap tidur. Ia masih terjaga. Pikirannya masih terus beredar. Hingga ia benar-benar tertidur saat menjelang subuh. 


Pagi hari itu, untuk pertama kali Rania kembali berjualan bento. Pukul tujuh pagi, ia mengantarkan bento ke sekolah Azka. Ia sangat berharap bertemu Azka di sekolahnya. 


"Ustadzah, saya ingin bertemu Azka sebentar…" ucap Rania pada Ustadzah Yuni, guru Azka.


"Oh maaf, Bu. Azka tidak masuk hari ini. Katanya keluar kota". 


Rania terhenyak. Bagaimana mungkin ia tidak tak kalau Azka keluar kota. Apakah Dani membawanya keluar kota?!.


"Mas, Azka kenapa gak sekolah?" Rania mencoba menghubungi Dani melalui selulernya.


"Oh iya maaf baru mengabari. Aku ajak anak-anak ke acara akikahan anak-anak Bimo" jawab Dani melalui pesan singkat juga.


Hati Rania kembali sakit. Bimo adalah adik iparnya. Apakah begini. Ia mulai tidak diikut sertakan dalam acara-acara keluarga. Semua seperti menjauh. Sedangkan Rania sendiri di Jakarta. Tanpa sanak keluarga. Berjuang sendiri menghadapi pahitnya perceraian. Lagi..ia tak mampu berbagi kehancuran hidupnya pada siapapun.


"Berapa hari di rumah Bimo?" Rania mencoba mencari kepastian. Ia sangat kuatir saat berada jauh dari anaknya. Terutama Zidan yang baru saja sembuh dari sakit. Dan Azka yang hampir seminggu tak bertemu. Rania masih rindu. Andai Dani meminta ijin terlebih dahulu padanya. Tentu Rania tak akan mengijinkan Dani membawa anak-anak.


" Mungkin 4 sampai 7 hari" . Dani membalas setiap pesan Rania dengan singkat.


"Mas...kamu bawa anak-anak kenapa ga ijin dulu, mas…." Hati Rania mulai memanas. Bagaimana mungkin ia tidak bertemu anak-anak dalam jangka waktu yang cukup lama. 


Rania lunglai...ia sangat merasa Dani tidak menghargai nya sebagai seorang ibu. Perjuangannya selama di rumah sakit, dan usaha yang selalu Rania lakukan untuk mencukupi kebutuhan anak-anak sepertinya hanya dilihat sebagai usaha biasa dari ibu pada anaknya oleh Dani.  


"Bunda Azka. Ibu baik-baik saja?"


Bunda Rangga melihat Rania tertududk berurai air mata di taman sekolah. Pertemanan bunda Rangga dan Rania bukan sekedar pertemanan antar anak. Lebih dari itu. Bunda Rangga seperti menjadi malaikat Rania. Ia membantu baik secara ekonomi maupun psikologis.


Bahkan orderan bento dan laundry yang diterima Rania, banyak yang berasal dari bunda Rangga. Status Rania selalu di capture screen olehnya dan dibuat status di wa story bunda Rangga. Bunda Rangga yang merupakan istri seorang anggota dewan, tentu memiliki banyak pertemanan. 


"Bunda Azka, saya sangat mengkhawatirkan kamu. Saya melihat penderitaanmu sejak berada di rumah lama hingga berlanjut sampai hari ini" ucap bunda Rangga sambil mengusap punggung Rania.


"Saya tidak bisa memahami jalan nasib saya Bun. Kalau hanya permasalahan ekonomi, saya sanggup terus berjuang. Tapi sekarang, mas Dani seperti mencoba menjauhkan saya dengan anak-anak. Menekan secara ekonomi dan psikologis" Rania mencoba mengungkapkan perasaannya. Ia tak sanggup menanggung beban masalahnya sendiri. 


"Bun. Saya menyarankan agar bunda Azka memikirkan diri bunda sendiri dulu sebelum memikirkan anak-anak. Andaikan anak-anak diambil oleh ayahnya, biarkan saja Bun, bunda mulai berkarir lagi. Saya tau bunda seorang sarjana. Pasti memiliki skil untum bekerja". Bunda Rangga mencoba menasehati Rania. Ia sangat peduli dengan Rania, karena ia sendiri dibesarkan oleh orang tua yang singgle parent. 


"Bagaimana pun dipisahkan, anak-anak akan tetap mengingat dan kembali pada bunda" ucapan bunda Azka seperti memberi secercah ketenangan dihati Rania. Setidaknya, ia masih memiliki harapan, bahwa selama apapun berpisah anak-anak tidak akan lupa padanya. 

__ADS_1


Setelah perbincangan dengan bunda Rangga, Rania kembali bersemangat. Nanti malam ia akan mencoba berbincang dengan anak-anak melalui telpon Dani. Ya Rania akan menghubungi Dani dan berbincang dengan anak-anak. 


Malam itu , Rania mencoba menghubungi Dani berkali-kali. Ia sudah sangat ingin mendengar celotehan anak-anaknya dan mengingatkan Dani untuk memberikan vitamin tambahan untuk Zidan yang masih dalam masa pemulihan pasca sakit. Namun, usahanya gagal. Handphone Dani tidak aktif. Ia mencoba menghubungi Bimo. Sayang ditanggapi dingin.


Rania kembali diselimuti rasa khawatir. Ia memutuskan untuk ke rumah Bimo besok pagi. Ia hanya ingin memberikan vitamin untuk Zidan dan memeluk anak-anaknya sebentar saja untuk melepas rindu. Ia cukup tau diri, tak mungkin ikut dalam acara keluarga. 


Esok paginya, Rania telah bersiap menuju Depok, rumah kediaman Bimo. Rania sempat beberapa kali berkunjung ke rumah itu untuk menghadiri acara selamatan rumah dan arisan keluarga. Untuk menuju ke rumah Bimo, Rania memesan sebuah ojek online. Biayanya tak begitu mahal, hanya dua puluh ribu rupiah untuk menuju kesana. 


Dalam waktu kurang dari satu jam, Rania telah sampai rumah Bimo. Ada beberapa kendaraan terparkir disana. Dari kejauhan ia telah melihat Azka yang bermain berlarian bersama dua sepupu lainnya, Chika dan Naura. Mereka terlihat sangat akrab. Azka terlihat ceria. 


"Azka….!" Rania memanggil dengan semangat. Rindu tak dapat lagi terbendung. 


"Mama…." Azka berlari memeluk Rania. Ibu dan anak berpelukan untuk waktu yang lama. 


"Mba...mba ngapain datang kesini sih. Aku lagi punya acara mba!" Tanpa basa basi, Kartika istri Bimo langsung melontarkan perkataan seolah kehadiran Rania akan menggangu acara mereka. 


" Aku hanya ingin ketemu anak-anak ku, Tika" jawab Rania. 


"Mereka itu senang diisni mba, mereka baik-baik saja, gak perlu kuatir!" Seru Kartika. 


"Ada apa Bun…?" Bimo muncul dari belakang.


"Ini nih, mba Riana datang, yah!" Ucap Kartika sambil menyipitkan sebelah matanya dan berlalu masuk.


Rania masih berdiri mematung di depan gerbang. Seperti tak ada niat sedikit pun mereka untuk mempersilahkan Rania masuk.


"Mba mau ketemua anak-anak?" Sapa Bimo ketus.


"Iya Bimo sebentar saja. Karena mas Dani gak pamitan ketika bawa anak-anak kesini" Rania mencoba memberi alibi mengapa ia nekat datang ke rumah Bimo.


"Gini ya mba... sebenarnya mas Dani melarangku untuk membolehkan Azka dan Zidan ketemu sama mba. Tapi aku juga masih punya hati. Okelah mba boleh ketemu anak-anak sebentar!" Ucap Bimo. 


Rania baru sadar bahwa kehadirannya tidak diinginkan. Bahw ia tetap tak akan diijinkan masuk. Rati Rania panas. Air mata tak bisa lagi dibendung. Dihalaman, Rania hanya bisa berbetu Azka. Menciumi dan memeluk Azka.


"Azka, jaga Zidan baik-baik ya. Ini vitamin Zidan. Ingatkan papa untuk memberi Zidan vitamin ya nak". Ucap Rania sambil terus memeluk Azka. Azka yang memang dewasa sebelum waktunya. Sangat memahami perasaan ibunya. 


"Iya, ma. Mama tenang saja. Azka akan jaga Zidan". Ucap Azka sambil mencium kening Rania. Kembali keduanya berpelukan.


Rania beranjak pulang. Ketika hujan mulai turun. Ia tak ingin Azka kehujanan dan menyuruh anak itu untuk masuk. Masih dari balik pagar, Rania melihat Bu Nani menyuruh cucu-cucunya untuk masuk ke rumah. Ia juga melihat mobil Dani terparkir di garasi rumah Bimo yang sengaja dibuka. 

__ADS_1


Rania terbuang ….


Rania disingkirkan ….


__ADS_2