
Rania tertegun dengan apa yang dikatakan Bu Nani. Terkadang ia merasa bimbang, mengapa semua terlihat baik ketika telah kehilangan? tidakkah bisa kita menjadi manusia baik sejak awal hingga akhir? sebab pada akhirnya kebaikan itu menimbulkan penyesalan, namun tidak mungkin dapat diulang meski hanya 1 detik saja.
Rania telah menahan dirinya. Sepekan tinggal satu atap kembali bersama Dani, tak membuatnya ingin sekalipun memperhatikan Dani. Bukannya ia tak tau, bahwa Dani sering kali mencuri pandang padanya. Bahkan saat Rania bersama Jean, Dani terkadang tidak bisa menyembunyikan perasaan cemburunya, terkadang menjadi salah tingkah.
Kedewasaan Jean lah yang menengahi segalanya. Dimana Jean sangat memahami perasaan Rania dan Dani. Mereka bukan mantan kekasih, melainkan mantan teman satu ranjang!
Jean membiarkan Dani memuaskan matanya menatap Rania. Toh Rania tetap menutup auratnya meskipun berada di dalam rumah. Ia yakin dan percaya akan kesetiaan Rania. Jean juga telah percaya bahwa Dani yang ada di hadapannya saat ini, bukanlah Dani yang dulu. Meskipun bertahap proses berubahnya.
...Bagiku, kau takkan pernah bisa memuaskan nafsumu...
...sebab ia akan terus memburu...
...hingga kau terjerumus cinta yang semu...
...Cobalah bertahan dengan ikrar mu...
...Dengan janji terdahulu dengan Tuhan...
...Bahwa kau akan berubah, berusaha untukmu...
...Buka menantang syahwat yang mengikat!...
...Jangan coba untuk menantang langit...
...Sebab kau tak akan bisa bangkit...
...Tetaplah dibumi dan berpijak...
...Biar napsu hanya sebatas karena masih manusia......
Jean menulis sebuah puisi di dalam kandang kambingnya. Ia memperhatikan Dani yang tengah menemani anak-anak. Sambil sesekali ia temukan bahwa Dani memandang Rania terlalu lama. Meskipun Rania mencoba untuk berpura-pura tidak memperhatikan.
Tak mudah bagi Jean menaklukkan hati Rania. Tak mudah baginya mendapatkan semua tentang Rania. Bahkan dalam tidurnya, ia masih saja mengigau tentang masa lalunya. Rania kadang menangis dalam tidurnya, padahal mereka sedang tidak ada masalah. Jean telah mengira bahwa trauma yang di torehkan dari kisah masa lalunya itu teramat dalam.
Rania pernah bercerita, bahwa ia tak ingin mencintai seseorang seperti dulu. Sebab, ketika mencintai terlalu, maka kecewa dan penantian yang didapat.
Entah mengapa, Jean telah menginvestasikan kesabarannya pada Rania. Sehingga apapun yang Rania lakukan, selalu saja baik dimata Jean. Bukankah mimpi itu bunga tidur?
Jean menyimpan puisi itu didalam nakas dekat kandang kambing. Jean meletakkan sebuah nakas dan bangku didalam kandang tersebut. Sengaja, jika ada yang memiliki tugas menjaga malam, maka bisa duduk dan bersantai di meja tersebut.
Jean kemudian menghampiri Rania yang tengah memasak menyiapkan makan malam di dapur. Jean mendekati Rania dan mendekapnya. Jean tau disana dada Bu Nani, dari kaca dapur juga terlihat Dani yang tengah asik bermain dengan anak-anak.
Jean tak peduli. Ia tetap mendekap Rania dari belakang.
Rania tertawa geli. Namun diluar dugaan, malah membalas dengan pelukan.
"Masak apa mama Rania..."
Sapa Jean sambil melingkarkan tangannya di pinggang Rania. Sontak penghuni rumah lainnya terfokus pada mereka berdua.
__ADS_1
Rania tertawa geli.
"masak ayah...bukan nyuci ..!"
Jawab Rania sambil meledek Jean.
Namun, sedetik itu, Rania berputar badan dan melingkarkan tangannya di leher Jean.
Membalas pelukan tanpa ragu. Ada binar cinta tak tertolak dari Jean untuk Rania. Ini memang bukan cinta pertama untuk Rania, namun ia mampu memastikan, bahwa Jean lah cinta terakhirnya.
Sorot mata penghuni ruangan itu tertuju pada mereka. Sorot mata yang ikut merasakan kebahagiaan Rania dan Jean.
Terimakasih telah menjadi lelaki terbaikku
Terimakasih telah mengajariku cinta
Tuhan tak memberikan yang kita mau,
Namun memberikan yang kita butuhkan.
Ternyata, perempuan akan menjadi ratu di tangan lelaki yang tepat.
Dan akan menjadi sampah di tangan lelaki yang tidak tepat!
Bagaimanapun kapal itu butuh nahkoda.
Dan nahkoda yang baik, adalah yang memprioritaskan keselamatan dan kenyamanan penumpangnya.
Bisik Jean pada Rania.
"Terimakasih telah menuntunku. Terimakasih karena membuatku yakin, bahwa kamulah cinta terbaikku..."
Rania memeluk Jean dengan erat. Hampir tidak peduli bahwa di ruangan itu bukan hanya ada mereka saja. Ada Bu Nani dan mbok Siti juga. Sedangkan Dani, masih menemani anak-anak bermain di teras luar.
"Lanjutkan masaknya, kami lapar..."
Celetukan Jean disambut tawa oleh Rania.
"pikir romantis, eh...tetep aja...nge prank!"
Celetuk Rania sambil melepaskan pelukannya.
"Karena mencintaimu juga butuh tenaga, sayang!"
Goda Jean.
"gomballllll".
Balas Rania sambil kembali melanjutkan aktivitasnya.
__ADS_1
Ada perasaan cemburu di hati Bu Nani, namun masih terkendalikan.
"andai saja aku bisa bersikap realistis saat itu, mungkin Rania masih menjadi menantuku. Satu-satunya menantu yang mau merawat ku. Menjadi menantu yang paling tulus menyayangi ku. Kematian adalah suatu yang pasti. Seharusnya aku belajar mengikhlaskan kepergian suamiku , bukan terus memupuk kebencian pada Rania. Andai kau bisa ku bawa pulang saat ini, Rania ku!"
Gumam bu Nani.
Ada rasa penyesalan yang tidak mampu terobati lagi. Selama ini, Bu Nani hanya mengandalkan uang untuk membayar suster. Anak dan menantunya sibuk dengan pekerjaannya. Hanya Dani yang selalu menemani ibunya, sedangkan dua lainnya, hanya sibuk dengan keluarganya masing-masing. Bu Nani selalu berangan-angan, andai Rania bisa kembali ke pelukan Dani. Tentu semua akan bahagia. Termasuk dirinya.
***
Makan malam telah siap. Rania meminta Jean untuk memanggil anak-anak. Namun Jean masih menerima telpon dari pelanggan.
Rania berinisiatif untuk memanggilnya sendiri. Ia mencari anak-anaknya dihalaman depan rumah, namun tak ditemukan. Rania kembali berjalan menuju taman, ternyata mereka berada disana.
Rania berjalan menghampiri anak-anak.
"Ayo anak-anak kita makan!"
Seru Rania pada Azka dan Zidan.
Tanpa ia sadari, disana ada Dani yang tengah membuatkan anak-anak perahu dari bambu.
Sorot mata Dani tertuju pada Rania. Seolah Rania benda mati yang tidak bisa merasakan bahwa dirinya tengah diperhatikan.
"Rania..."
Dani tiba-tiba memanggil Rania. Jantung Rania berdegup sangat kencang. Tiba-tiba ia merasa pusing. Entah mengapa baru namanya dipanggil saja, Rania sudah sangat merasa gugup. Sepekan berada di atap yang sama, namun tak pernah berbincang satu sama lainnya.
Namun, mengapa malam ini Dani terlihat seperti ingin menyampaikan sesuatu.
Rania berdiri mematung.
"Aku ingin meminta maaf padamu, Rania"
Dani berbicara sembari tetap berada di posisinya. Ia berada di sebuah dipan yang ada dibawah pohon jambu. Sedangkan Rania, berdiri membelakangi.
"Bukan saat yang tepat untuk meminta maaf, mas...kamu bisa memilih waktu yang tepat untuk benar-benar meminta maaf".
"Tapi kami selalu menghindar dariku!"
"Itu karena kamu bukan siapa-siapa ku lagi!" celetuk Rania.
"Aku ayah dari anak-anak mu. Sampai kapanpun Rania. Hargai aku!"
Ucap Dani dengan suara yang semakin berat.
"Aku bahkan tak tau cara untuk menghargai kamu, mas!"
.....
__ADS_1
Bersambung.
Maaf baru update karena sedang sangat sibuk menjelang hari raya๐๐