100 Hari Pertama Menjadi Janda

100 Hari Pertama Menjadi Janda
Sahabatku, Maduku : Pernikahan Kedua


__ADS_3

Agam terbangun di tidur malamnya. Mengambil wudhu dan melaksanakan sholat tahajud. Ada do'a-do'a panjang yang ia panjatkan. Tak lupa ia menambah sujudnya dengan istikharah. Memohon petunjuk, apakah ia harus menikah dengan seorang perempuan yang diklaim mandul, atau ia harus siap melepaskan Lestari, sama seperti yang Lesmana lakukan.


Malam berganti malam. Agam terus melaksanakan istikharahnya. Hingga ia benar-benar yakin dengan petunjuk Tuhannya.


***


Pagi di alam Enarotali. Ada buliran embun dari pegunungan yang menjulang membatasi setiap kabupaten di Papua.


Puskesmas pembantu di Enarotali berada di bibir pantai. Agam memperhatikan Lestari yang tengah membimbing senam lansia ditemani salah seorang stafnya.


Lestari terlalu sempurna dan begitu mengagumkan. Secara karir dan kepribadian hampir tak ada cela padanya. Sungguh Allah mengujinya dengan ditakdirkan untuk tidak mendapatkan keturunan.


Agam mengambil botol minumnya, memberikannya pada Lestari yang penuh dengan peluh.


"Terimakasih mas".


Ucap Lestari sambil meraih botol milik Agam. Perempuan bertubuh berisi dan tak begitu tinggi itu meneguk air dalam botol itu.


"Tari..."


"Ya mas..."


"Nanti sore mas boleh ngajak kamu jalan?"


Tari diam sesaat.


"kemana mas?"


"Ke sesuatu tempat. Pengen ngobrol".


Ucap Agam.


"Kenapa gak disini saja mas. Sekarang mungkin. Mumpung hari Sabtu. Pasien sedikit".


Agam menggeleng.


"Ga enak. Nanti sore saja. Mas jemput jam3 sore ya"


Lestari mengangguk.


***


"Mas, kita naik ini?"


"iya. yuk!"


Agam mengajak Lestari menaiki motor Supra antiknya. Lestari kegirangan menaikinya. Ia kali pertama menaiki motor antik Agam yang sering ia pajang di sosial media miliknya. Agam mengajak Lestari mengitari wilayah Enarotali yang tidak begitu jauh. Pemandangan yang indah mampu menghipnotis mereka. Tanpa sadar Agam dan Lestari layaknya sepasang kekasih yang tengah dimabuk asmara.


"Tari..."


"Hemmm"


Tari asyik dengan camera-nya dan mengabadikan setiap bagian bukit dan gunung Enarotali.


"Aku ingin bicara soal yang tadi pagi".


Ucap Agam sambil dengan seksama menatap setiap inci wajah Lestari.


"Oh iya mas. Kamu mau ngomong apa mas?"


Tari baru menyadari bahwa Agam tengah memandangnya dengan cara yang tak biasa. Ia segera menghentikan aktivitasnya.

__ADS_1


"Bolehkah aku melamar kamu setelah masa Iddah nanti?"


Tanya Agam dengan suara lirih. Nyari s tak terdengar oleh Tari. Tenggorokan Tari seakan tiba-tiba sakit.


"Apakah aku tidak salah mendengarnya, mas?"


Tanya Tari dengan suara gugup.


Agam menggeleng.


"Aku serius!"


Jawab Agam tegas.


Diam seketika. Tari melempar pandangan ke sembarang arah.


"Apakah kamu sudah tau kisahku?, apakah Rahma telah menceritakan kisahku?"


Tanya Lestari yang masih meragukan niat Agam.


"Ya. Sudah. Bahkan aku telah memutuskan lewat istikharah ku untuk meminang mu!"


Tari terdiam. Hanya Isak tangis yang terdengar. Langit seakan mendung tiba-tiba.


"Apakah kamu tidak merasa rugi menikahi wanita mandul?"


Tari kembali melempar pertanyaan yang seolah menikam hatinya sendiri.


"Aku telah memikirkannya. Mandul adalah konsep kedokteran. Ilmu itu adalah penemuan manusia, Tar. Bukankah kita juga sering menemukan kasus perempuan yang di diagnosa mandul, namun 2 tahun kemudian datang dalam kondisi hamil besar?!"


Agam menantang Tari untuk saling menatap. Menantang untuk yakin pada Tuhan bukan diagnosa dokter.


"Kamu bukan perempuan mandul, Tari. Itu yang harus kamu ingat. Mungkin itu cara Allah untuk menunjukkan bahwa Lesmana memang bukan jodohmu. Sehingga Allah pisahkan dengan cara apapun!"


"Aku taku, gam, Aku trauma dengan cacian yang mereka ucapkan tentang ku. Kata-kata itu seperti pisau yang ditancapkan sehingga membuat aku bukan hanya terluka. Tapi juga trauma berkepanjangan. Aku kehilangan harapan untuk menjalin rumah tangga yang baru. Siapa yang mau dengan wanita yang tidak bisa memberikan anak?"


Agam mendekat, memeluk Tari dengan erat. Tari menumpahkan segara bebannya disana, dipelukan Agam.


"Berikan aku kesempatan. Aku berjanji, tidak akan mengharapkan keturunan darimu. Aku menikahi mu, karena aku mencintaimu. Bukan karena ingin punya keturunan darimu".


****


"Serius...? kalian mau nikah?!"


Tanya Rahma yang terkejut dengan kedatangan Agam dan Lestari. Mereka telah siap untuk menikah. Agam dan Lestari segera mengunjungi Rahma untuk membantu mereka menyiapkan acara pernikahannya.


"iya. Serius. Lestari sudah menerima lamaran ku. Insyaallah pernikahan akan dilangsungkan di Papua, dek!"


Ucap Agam sambil menatap Lestari yang tersipu malu.


"Iya. Orang tuaku akan terbang ke Papua. Aku minta tolong bantu aku mempersiapkan semua ya, Rahma".


Ucap Tari dengan nada malu-malu.


"Sip. Serahkan sama aku. Aku punya kenalan wedding organizer di Nabire dan dia siap terbang ke Enarotali!"


***


Tak butuh waktu lama. Tari dan Agam merencanakan sebuah pernikahan yang sederhana. Rencananya hanya dihadiri orang tua dan sahabat se-kantor saja. Orang tua Agam maupun Lestari akan datang ke Enarotali.


Acara yang digelar di Enarotali ini disepakati, mengingat Lestari yang masih trauma dengan kampung halamannya. Ia tak siap untuk mendengar hujatan dari orang sekampung yang tau bahwa ada wanita mandul yang memaksakan diri untuk menikah.

__ADS_1


Tepat 100 hari sejak menyandang status janda. Sebuah ijab Kabul diucapkan oleh Agam didepan penghulu dan saksi-saksi. Acara yang rencananya dibuat sesederhana mungkin, rupanya disebut meriah oleh para masyarakat yang merasa terbantu oleh pengabdian yang dilakukan dr. Agam Syahrial dan dr.Lestari Cahayani.


Pernikahan mereka berlangsung di pinggir pantai, dengan dihadiri hampir 1000 tamu dari masyarakat yang ada di pulau Enarotali. Mereka dengan suka rela menyedekahkan kerbau, sapi dan ayam mereka untuk dijadikan hidangan para tamu.


" Asalkan tidak babi, tidak apa Kaka, bawa sudah!"


Ucap salah satu panitia kepada relawan yang ingin menyumbangkan hewan ternaknya untuk memeriahkan acara pernikahan Agam dan Lestari.


Masyarakat dan tetua adat berjoget riang ketika resepsi berlangsung.


Tari seketika melupakan kekhawatirannya. Ia larut dalam pesta pernikahan yang serupa pesta adat ataupun pesta rakyat. Masyarakat Enarotali sangat guyub dan gotong royong. Tari dan Agam tak dianggap sebagai tamu.


***


"Yuk kita mulai sayang!"


Ledek Agam sambil menarik-narik tali lingerie milik Lestari.


"Ih...tunggu dulu. Cek Katong punya air apa masih cukup untuk kita mandi hahahaha!!!"


Jawab Lestari meledek Agam. Maklum di Enarotali memang susah air. Karena daerah perbukitan yang tidak dijangkau PDAM, sulit mengebor sumur dan lokasi jauh dari sumber air menjadi penyebab sulitnya air. Sehingga mereka harus membeli dari tangki-tangki penjual air.


"Hemmm...tenang, Abang cek air su ada tiga tandon. Adek mau berenang kah?"


(Tenang, Abang cek air sudah ada tiga tandon).


Hahaha mereka tertawa bersama.


Malam pertama dilangsungkan di rumah dinas Agam. Rumah ini sudah dilengkapi dengan perabotan dan tandon air sebanyak 3 buah. Sehingga persediaan air untuk mandi junub telah tersedia.


Agam menarik tubuh Lestari dan menciumi wajahnya dengan lembut.


"Butuh waktu 7 tahun lamanya untuk bisa mendapatkan mu, Tari!"


Ucap Agam sambil terus mengecup Lestari tanpa henti. Ia melepas dahaga yang lama ia abaikan.


Tari tak menjawab. Hanya desahannya saja yang terdengar semakin kuat. Hingga Agam melepaskan keperjakaannya. Lestari bahkan tak mampu mengucapkan satu kalimat pun.


Agam adalah tipikal pria romantis, berbeda dengan Lesmana yang memiliki tipe dingin, sehingga kurang dalam permainan ranjang.


Tunai sudah malam pertama mereka. Pengalaman pertama Agam merenggut cinta dan tubuh seorang wanita, membuatnya nyaris mengulangi kenikmatan itu hingga berkali-kali.


***


Lima bulan berlalu semenjak pernikahan mereka dilangsungkan. Agam masih sangat romantis. Mereka yang tak pernah pacaran sebelumnya, membuat hubungan mereka layaknya pasangan muda-mudi yang sedang berpacaran. Bahkan Agam sering dianggap norak karena selalu menampilkan kemesraan di depan publik.


"Abang Agam aku hamil!"


Tiba-tiba Agam menerima sebuah pesan singkat dari adiknya, Rahma.


"Lah terus apa hubungannya denganku dek. Kan kamu sudah punya suami?!"


Ledek Agam pada adik kembarnya itu.


"Masalahnya anakku kembar 3 bang...!"


Balas Rahma agak kesal dengan jawaban dari abangnya itu.


Agam dan Lestari, memutuskan untuk membantu merawat anak kembar tiga milik Rahma. Karena jarak usia dengan anak pertama dan keduanya masih sangat dekat. Mengurus 5 anak sekaligus tentu akan sangat repot. Sehingga Lestari dan Agam mengambil 1 putri Rahma untuk diadopsi menjadi anak semenjak bayi.


Bersambung....

__ADS_1


Masih ada 1 part lagi ya😘 happy reading


__ADS_2