100 Hari Pertama Menjadi Janda

100 Hari Pertama Menjadi Janda
77 Rumah Tangga Itu...


__ADS_3

Dani menatap tajam ke arah Rania. Membuat Rania merasa tidak nyaman berlama-lama berhadapan dengan mantan suaminya itu.


"Mas, kamu memang ayah biologis dari anak-anak ku. Sampai kapanpun. Namun, bukan berarti kita bisa merenggut masa depanku selamanya. Cukup dengan aku memaafkan mu. Jangan terlalu banyak menuntut hak mu untuk dihargai. Aku merasa telah banyak menghargai kamu. jika kamu merasa tidak dihargai. Maka cobalah memahami, mungkin Tuhan ingin kamu merasakan, apa yang dulu aku rasakan. Mengemis sujud di kakimu. Tapi, kamu tak ada rasa iba!"


Rania membalikkan tubuhnya. Berlalu dari Dani yang terus memandang Rania. Ia bahkan tak tau cara untuk pergi dari kehidupan Rania, dan mencoba untuk mencari kembali keberadaan Delita.


***


Coba tanya pada hatimu


Dimana letak rasa itu


Rasa yang pernah ada namun dipaksa berhenti begitu saja.


Aku telah melewati semua siksa rasa.


Yang akhirnya membentuk aku menjadi apatis terhadap rasa iba.


Aku bahkan tak lagi mengenal tangisan kesedihan.


Sudah biasa


Sebab setiap hari saat itu menyedihkan.


Kamu hadir menuntut ku rasa menghargai


Aku mesti belajar lagi soal itu.


Sebab kamu telah mengajariku untuk tak peduli padamu.


Betapa sakitnya melihat orang yang kita cintai, dicintai oleh orang lain.


Kamu mengeluh padaku.


Jangan menipu hati.


Bukankah dulu kau memberiku rasa itu?


Bagaimana aku harus bersikap di hadapanmu,


Saat kamu bersamanya. Berulang kali,


Aku nyaris mati karenanya.


Kini, aku memilih untuk menjalani hidup baruku.


Oh ya...ingin ku katakan sebuah kabar bahagia,

__ADS_1


Bahwa aku telah berhasil mencintai Jean, suamiku.


Dari pahitnya hidup aku belajar,


Bahwa untuk menikah, tak selalu butuh cinta


Kita hanya butuh orang yang mau berkomitmen dengan sebuah pernikahan


Dan menyadari bahwa pasangan adalah amanah


Sehingga, kita wajib menjaganya,


Membimbingnya,


Lembut


dan cinta akan tumbuh bersama dengan waktu ...


Aku bersyukur,


Tuhan memberiku kesempatan untuk itu.


Rania menulis sebuah surat yang ia selipkan di kotak oleh-oleh yang akan ia berikan pada Dani dan ibunya.


***


Rania masih berjuang untuk memejamkan matanya.


Dalam pelukan Jean,


Rania masih saja gusar.


Ada rasa menyesal ia telah terlalu kasar pada Dani.


Bukankah Jean telah mengajarinya untuk bersikap baik terhadap semua orang. Tak peduli bahwa orang tersebut telah menyakiti hati kita. Namun, realitanya, belajar memaafkan itu mahal, melupakan itu tak mungkin, menerima itu bersyarat.


Ya, faktanya, luka yang diberikan oleh orang lain itu seperti retakan kaca. Sesempurna apapun lem yang merekatkannya kembali, tetap akan menjadi bekas yang tak mungkin hilang dalam sekejap mata.


Rania telah menerima takdirnya.


Dani bukanlah jodohnya.


Tiga tahun berlalu, membuatnya banyak fokus pada keluarga barunya.


Namun, kehadiran Dani, mampu ia terima, karena anak-anak nya.


"Yah...ayah..."

__ADS_1


Rania mencoba untuk membangunkan Jean. Namun tidak berhasil. Jean terlihat sangat lelap. Rania sangat mengerti.


Ia memutuskan untuk bangun malam itu. Menikmati secangkir kopi yang ia buat sendiri.


Malam itu, ia memutuskan untuk mulai menuliskan perasaan dan pengalaman hidup yang ia alami dalam sebuah laptop milik Jean. Jean memiliki ruang kerja khusus di kamarnya. Namun Jean tak pernah membatasi siapa saja yang ingin masuk ke ruangannya, bahkan anak-anak sering kali menjadikannya tempat untuk mengerjakan tugas sekolah. Biasanya Rania hanya akan masuk ketika bersih-bersih ruangan, namun kali ini, ia masuk untuk menuangkan beban pikirannya. Ia berharap dengan cara itu ia bisa meluapkan segala emosi jiwanya. Meredam marahnya. Melihat masalahnya dari sisi yang berbeda.


Rania juga berharap, bisa membagikan pengalaman hidupnya pada perempuan diluar sana, untuk bangkit dan berjuang untuk hidupnya. Belajar menghargai dirinya dan bertindak sesuai dorongan hati nuraninya, tentu tanpa harus berbuat jahat terhadap orang lain.


Awalnya tulisan itu hanya ia buat dua paragraf, kemudian berlanjut terus hingga beberapa paragraf. Malam meninggalkan jangkarnya, adzan subuh segera berkumandang. Jean yang terbangun dari tidurnya, mendapati Rania yang tertidur disamping meja kerja Jean, dengan kondisi laptop yang menyala. Jean yang hendak ke masjid, tiba-tiba tertarik untuk membaca tulisan istrinya itu.


Jean sangat tertegun membacanya. Ia sadar bahwa tulisan itu menggambarkan perasaannya yang terdalam, yang mungkin selama ini ia pendam dalam-dalam, hanya untuk terlihat bahagia. Jean sadar bahwa tulisan ini akan menjadi media katarsis bagi Rania. Ia memiliki ide agar tulisan Rania tidak hanya berhenti di laptop saja, melainkan bisa dibaca banyak orang sebagai inspirasi.


Setelah membaca, Jean sedikit merasa cemburu. Sebegitu besarnya perasaan Rania pada Dani, sehingga perpisahannya memberi impact yang luar biasa, yang mampu memporak-porandakan jiwa Rania.


Rania masih saja tertidur di kursi kerja. Jean merasa iba ketika harus membangunkannya, namun, ia akan lebih iba jika istrinya tak melaksanakan kewajibannya terhadap agama. Bukankah, Allah sang Maha pemberi ujian dan pada ujian itu sudah disediakan penawarnya, serta hikmah yang bisa kita ambil setelah masalah tersebut clear.


"Rania...Rania bangunlah, subuh nya sudah hampir lewat..."


Jean mencoba membangunkan Rania beberapa kali baru istrinya itu bangun.


"Yah...maaf aku baru bisa tidur".


"Bangunlah, sholat dulu. Nanti boleh lanjut tidurnya".


Jawab Jean sambil menyeka wajah Rania dengan telapak tangannya.


Jean bukanlah pria romantis pembawa bunga.


Ia bukan seorang pujangga yang selalu bisa merayu Rania. Bahkan puisi yang pernah ia buat, hanya ia tinggal di kandang kambingnya. Ia tak sanggup memberikannya pada Rania, dan begitulah ia.


Namun ditangan Jean, Rania menjelma menjadi istri Shalihah. Ia juga menjadi perempuan yang memiliki kepribadian matang. Dalam bertindak Rania menjadi tidak gegabah dan mampu mengungkapkan apa yang ia mau. Apa yang terbaik untuknya. Jean tak pernah memaksanya menjadi ibu yang sempurna, istri yang istimewa. Jean hanya ingin Rania menjalankan kewajiban sebagai ibu dan istri, sesuai dengan ilmu agama, dan itu cukup bagi Jean.


Bagi Jean, rumah tangga butuh iman. Iman adalah tiang dari sebuah bangunan rumah tangga. Cinta adalah pondasi yang mengikat, dan ketaatan kita pada sang pencipta adalah tembok-tembok yang membuat bangunan itu kokoh.


Ujian hidup yang datang silih berganti, anggap saja sebuah renovasi, bahwa kita harus selalu berubah. Berubah menjadi yang lebih baik.


Setelah Rania Sholah, Jean memberikan sebuah Al-Qur'an pada Rania.


"Bacalah istriku. Hatimu yang gundah itu karena kau sedang dikuasai hawa nafsumu. Kau begitu berambisi untuk bahagia dengan sempurna. Tak akan bisa Rania. Anggap saja masalah adalah warna dari hidup kita. Ingat selalu Allah dalam kuasa takdir yang menuntun!"


Ucap Jean sambil memberikan sebuah Al-Qur'an pada Rania yang masih mengenakan mukena.


Jean begitu sempurna 😘


Bersambung.


Dear readers maaf makin molor aja nulisnya dan beberapa kali harus absen. Karen menjelang hari raya dan pekerjaan kantor masih overload sehingga harus lembur sampai pagi terusπŸ™ see you at the next part πŸ˜πŸ™

__ADS_1


__ADS_2