100 Hari Pertama Menjadi Janda

100 Hari Pertama Menjadi Janda
Bagian 34 Curahan Hati Mertua Jahat


__ADS_3

Rania membuka bungkusan nasi goreng. Melahapnya dengan suka cita. Seolah nasi goreng itu adalah nasi goreng terenak di kota Bogor. Rania larut dalam perasaannya. Tentu ia merindukan sosok Dani seperti yang ia lihat malam ini. Penuh kehangatan, perhatian dan nada suara yang lembut.


Rania baru saja menghabiskan makannya, ketika Dani kembali masuk kedalam ruang kamar rawat inap VVIP. Zidan siuman.


"Mama...mama..."


Zidan berusaha memanggil Rania. Rania segera menggenggam tangan Zidan.


"Zidan mama disini sayang"


Senyum Zidan mengembang.


"Papa..."


Rania baru menyadari bahwa ada Dani di sampingnya.


Rania tertegun. Namun ia sadar bahwa ia tak boleh larut dalam perasaannya. Bagaimanapun mereka bukan lagi sepasang suami istri.


"Papa dan mama disini, nak..."


Rania tak bisa menahan perasaannya. Buliran air mulai membasahi pipinya. Andai apa yang Dani katakan bisa mengembalikan keadaan seperti saat awal mereka menjadi suami istri yang utuh, tentu perasaan Rania akan sempurna bahagia.


Rania dan Dani saling menguatkan Zidan. Rania bahkan baru pertama kali melihat Zidan sebahagia ini. Dani menceritakan tentang pertemanan Lebah dan Bunga, mengantarkan Zidan tidur malam ini.


"sudah lama aku tidak membacakan cerita, sangat kaku".


Celetuk Dani ketika telah berhasil menuntaskan ceritanya, dan Zidan berhasil tidur.


"Hemmm...ceritanya aneh ya mas..."


Rania tertawa kecil. Diikuti Dani.


"Kamu tidak pulang untuk Azka, Rania?"


"Azka bersama Bu Saripah, mas".


"Rania aku ingin berbicara tentang Zidan"


Dani kemudian berjongkok menghadap Rania. Seperti orang yang hendak meminta maaf. Rania kebingungan memposisikan dirinya. Baginya jika Dani hanya ingin mengajaknya diskusi, mengapa ia harus menghadap Rania seperti ini. Seperti orang yang hendak menyembah.


Sorot mata Dani menghipnotis Rania. Mengunci kedua bola mata hingga tak bisa lari dari tatapan itu. Tatapan yang pernah berhasil menjatuhkan hati Rania, kemudian menjadikan Rania tawanan cinta.


"Rania, aku sudah lelah dengan perselisihan ini. Tapi, aku juga tidak bisa melepaskan anak-anak untukmu. Entah mengapa Ibuku tidak rela anak-anak kamu bawa"


"Tidak rela atau takut mas?"


Dani terdiam


"Ibu takut uangmu habis untuk menafkahi anak-anak jika dalam asuhan ku?!"


ucap Rania ketus.


"Mas. Sejak Ayahmu meninggal dunia. Ibu selalu mengeluh tak memiliki pemasukan. Hingga ia meminta uang belanja padaku. Aku menurutinya. Lalu, ibu mengeluh jatah uang itu kurang, kemudian aku yang belanja dan masak menggunakan uang hasil dari usaha catering yang aku jalani. Ibu mengeluhkan uang, warisan dan harta yang kamu dapatkan berulang-ulang. Seolah ia tidak rela anak laki-lakinya membahagiakan istri. Jika ibu sakit hati denganku karena pernah menggagalkan pertunangan kita dulu, lalu mengapa harta yang menjadi topiknya?!"

__ADS_1


"Rania, aku..."


"dan kamu mas Dani. Kamu memanfaatkan situasi. Kamu mendua dengan alasan aku bukan menantu idaman ibumu. Tapi sebenarnya, jika kamu laki-laki yang bertanggung jawab, kamu akan tetap mempertahankan aku dan anak-anak. Kamu akan berusaha agar aku diterima ibumu. Sejatinya, hati ibumu bergantung pada sikapmu pada aku mas!"


Dani terdiam kehabisan kalimat.


"Sekarang tolong menyingkir dari hadapanku mas. Aku bukan muhrim mu lagi!"


Dani terhenyak mendengar ucapan Rania. Tak menyangka Rania yang dulu lebih banyak diam, sekarang pandai melawan.


"Rania. Kamu sekarang sombong. Ingat kamu baru bekerja menjadi tukang roti. Penghasilan kamu tidak akan cukup untuk menafkahi anak-anak kita. Aku pastikan kamu mengemis padaku Rania!"


"Sesulit apapun kehidupanku, aku tak akan ingin mengulangi sejarah hidup bersamamu Dani!"


"oh tentu Rania. Lebih mudah bagiku membangun rumah tangga baru dengan perempuan lain, dibanding memperbaiki keadaan rumah tangga kita!"


Dani beranjak pergi dalam keadaan emosi. Harga dirinya jatuh. Ia pikir akan merayu Rania dan bisa mengendalikan Rania. Nyatanya, Rania mawas diri. Ia tak ingin larut dalam suasana. Ia mengendalikan perasaan dan pikirannya. Beruntung, ia mampu bersikap tegas pada Dani.


***


POV Bu Nani


Malam sudah larut. Dani belum juga pulang. Aku sangat mengkhawatirkan keadaannya. Tepatnya, pertemuan dengan Rania sangat ku takutkan. Aku sudah sangat bersusah payah memisahkan mereka. Aku tidak mau misi ku gagal.


Bagaimanapun Dani tidak boleh kembali ke pelukan perempuan yang telah membuat suamiku meninggal dunia dan dengan leluasa kembali ke pelukan anakku, mengambil hatinya dan dengan mudah mendapatkan harta dari anakku. Dani itu tidak boleh terlalu cinta pada istrinya. Jika Dani menikah lagi nanti, akan ku buat si istri barunya tunduk kepadaku. Sama seperti Rania. Tak boleh menguasai Dani, apalagi isi dompet Dani.


Aku bersusah payah membesarkan Dani dan adik-adiknya. Dari empat anakku, hanya Dani yang terbilang sukses, memiliki perusahaan dan membeli rumah dan mobil mewah. Sedangkan adik-adiknya, masih harus berjuang untuk sesuap nasi. Itu sebabnya aku memilih tinggal bersama Dani. Aku juga menekankan Dani untuk membantu ekonomi adik-adiknya. Jadi, Dani tak boleh menjadi sepenuhnya milik istri.


Aku akui, Rania memang baik. Dia menafkahi aku. Diapun tak pernah protes jika aku meminta uang Dani. Tapi, aku cemburu pada Rania. Ia begitu mudah mendapatkan nafkah dan kebahagiaan dari Dani. Sedangkan aku ingin merasakan kebahagiaan yang lebih sempurna. Bukankah aku yang melahirkan Dani, membesarkannya, bekerja sampai usia pensiun. Sedangkan ayah Dani hobi selingkuh.


Aku juga yang mengusulkan agar Dani pelit pada Rania. Aku tak ingin harta anakku dipakai untuk foya-foya. Aku tak rela Rania ke salon, meski hanya untuk memotong rambut. Selama pernikahan, aku menekankan Rania agar aku saja yang mencukur rambutnya. Hemat!


Ketika Rania keluar dari rumah, aku bahagia. Semua telah selesai. Namun, Dani masih menyediakan tempat untuk Rania. Ia tidak tega kalau anak-anak tak punya tempat tinggal.


Rupanya, Azka dan Zidan adalah pemberat perpisahan Dani dan Rania. Karena itu, aku menyusun siasat memisahkan mereka. Anak-anak harus dalam asuhan Dani, agar Dani segera melepaskan Rania. Meski pada akhirnya, anak-anak Dani sangat merepotkan ku . Ada saja tingkah mereka yang membuatku jengkel. Itu sebab aku menyarankan Pina untuk tinggal bersamaku. Meski belum resmi menjadi suami istri, namun Pina aku tugaskan untuk mengasuh Azka dan Zidan. Tapi, Sekarang Pina juga tak pernah kelihatan batang hidungnya. Ah..merepotkan!


***


Sore tadi. Rania datang dan membuat kegaduhan. Selalu saja begitu. Padahal kami sudah pindah rumah. Tapi tetap saja perempuan ****** itu mengganggu. Ku kira sudah jadi menantu keluarga Latifaa, tapi masih saja mengemis pada Dani. Alasan saja ingin mengambil hak asuh anak, pastinya anak-anak akan dibuat jadi alasan agar nanti menuntut nafkah!


***


Suara mobil...Dani sudah pulang.


"Bagaimana keadaan Zidan?"


Ku coba berpura-pura perhatian pada Zidan.


"Masih belum pulih Bu. harus rawat inap"


Jawab Dani lesu.


"Lalu, siapa yang menjaga di rumah sakit?"

__ADS_1


"Sepertinya ibu sudah tau jawabannya!"


Dani sangat ketus akhir-akhir ini. Sejak Azka kabur dan jatuh ke tangan Rania. Zidan yang semakin tak bisa dikendalikan, sering tantrum dan rewel, membuat Dani tertekan.


"Dani, sepertinya kamu harus benar-benar menyingkirkan Rania!"


Langkah Dani terhenti. Berbalik melihat Bu Nani.


"Menyingkirkan?!. "


Terdiam sejenak.


"Bu. Aku sudah mengikuti semua perintah ibu. Selingkuhan, mengusir Rania, Mengambil anak-anak, sekarang apalagi Bu?!"


Aku diam. Mencoba mencari kata yang tepat.


"Ibu mau aku menyingkirkan Rania. Ibu mau aku dipenjara?!!"


Dani bersujud dan menangis. Baru aku lihat anak laki-laki ku ini menangis, setelah kematian ayahnya.


"Bukan begitu Dani, maksud ibu...."


"Aku tau ibu membenci Rania. Tapi jangan biarkan aku menyakitinya terlalu berlebihan. Aku akan berusaha memilih menantu sesuai keinginan ibu. Tapi, aku juga seorang ayah yang tidak mampu melihat anak-anak ku tersiksa, Bu!"


"Jadi kamu menyalahkan ibumu ini atas penderitaan Azka dan Zidan?!"


"Ya. Aku menyalahkan mu Bu!"


Sorot mata Dani menghujam jantungku. Baru kali ini aku melihat mata anak kesayanganku se keji ini.


"Dani, ibu mau kamu bahagia!"


"Bahagia dengan cara apa Bu?!"


"Dengan car...."


Kata-kata ku terputus oleh pertanyaan yang juga berasal dari hatiku. Selama ini, aku tak pernah melihat segala yang terjadi dari sudut pandang Dani. Semua selalu ku pikirkan dari sudut pandang kepentinganku.


"Bu...Andai aku boleh memilih. Aku tak ingin menjadi seperti ayah yang selalu ibu maki si tukang selingkuh. Tapi, ibu menjadikan aku si tukang selingkuh itu!"


"Dani.....!"


"Kenapa Bu...betul kan Bu. Aku jelmaan ayah. Tapi karena didikan ibuku sendiri. Dan aku pun tau, ayah selingkuh karena ibu sendiri yang selalu menuntut nafkah lebih dari kemampuan ayah!"


"Keterlaluan kamu Dani ....!!"


Aku terdiam tak.melanjutkan kata-kata. Anak ku Dani yang penurut kini mulai membangkang.


Dadaku terasa sakit. Nafasku terasa berhenti. Sakit sekali seorang anak yang selalu ku bela, kini seolah membela orang lain.


Dunia seakan hilang dalam sekejap. Aku mulai hilang kesadaran.


***

__ADS_1


Bersambung...


Terimakasih untuk yang sudah mampir baca, jangan lupa like dan comment ya🤗❤️


__ADS_2