100 Hari Pertama Menjadi Janda

100 Hari Pertama Menjadi Janda
Tuntutan Seorang Pelakor Bagian 2 #Habis


__ADS_3

Rania mencoba menenangkan diri. Ia mengatur nafasnya agar tidak emosi. Agh baru kali ini ia merasa terancam dengan klien.


Rania meneguk air putih dan mulai mengatur nafasnya. Rania melirik ke arah Hesti yang duduk dengan anggun di sofa depan. Matanya menerawang ke ruangan yang terpajang figura foto keluarga dan juga pernikahan.


Rania yang telah merasa tenang, kemudian menghampiri Hesti.


"Ada yang bisa saya bantu, nona Hesti?"


Ucap Rania sambil menyodorkan segelas jus yang ada di kulkas. Jean sering membawa pulang jus buah untuk dinikmati keluarganya. Jus buah yang dibuat di restonya.


Hesti mengambil gelas jus dan meneguknya.


"Ini jus buah favorit saya, saya sering memesannya saat ke resto".


Ucap Hesti dengan senyum penuh misteri. Rania mencoba untuk tenang.


"Oh iya Bu. Saya menemui Bu Rania karena ingin curhat dan sekaligus meminta bantuan ibu".


Raut wajah yang centil dan ayu itu seketika berubah mendung. Senyum dibibir tipisnya mulai mengerut dan nyaris tak tampak lagi, yang terlihat hanya sesosok wanita yang sedang dilanda duka.


"Katakanlah Hesti, siapa tau saya bisa membantu masalah anda".


Ucap Rania.


"Saya tengah hamil 4 bulan. Namun pria yang menghamili saya menghilang begitu saja. Dia tidak pernah datang sekalipun menemui saya ketika saya mengabari bahwa saya ini hamil".


Rania masih terus memperhatikan Hesti, meski kini mata Hesti telah dipenuhi dengan air mata.


"Kemana suami anda?"


Hesti terdiam, kemudian kembali berbicara.


"Dia tinggal di kota Malang".


"Mengapa Hesti tidak ikut dengan suami?"


Hesti terdiam.


"Dia janji akan menikahi ku sepekan setelah mengetahui saya hamil. Namun, dia tidak kunjung menemui saya lagi".


Ucap Hesti sambil tertunduk dan sesenggukan.


"Jadi kalian belum menikah?!"


Mata Rania bulat membelalak. Ia kaget karena rupanya Hesti tengah berbadan dua dan dalam keadaan hamil diluar nikah.


Hesti mengangguk.


"Apakah orang tua kamu tau bahwa kamu tengah hamil?"


Hesti kembali menggeleng.


Masalah yang cukup berat!


gumam Rania.


"Oke. Menurut kamu, apa yang bisa aku lakukan untuk membantumu saat ini, Nona Hesti?!"


Rania seperti biasa, memberi stimulus klien untuk bisa menyelesaikan masalah ya sendiri.


"Bantu saya mencari Martin. Ayah dari anak ini".


Ucap Hesti lirih.


Rania mengusap kasar wajahnya. Ia mencoba berpikir jernih. Bisa saja wanita ini adalah korban kegombalan pria hidung belang seperti Martin.


"Oke. Bisa kamu ceritakan siapa Martin itu dan awal perkenalan kalian hingga ia menghilang?"


Hesti mengangguk.


"Saya dan Martin itu rekan kerja. Martin adalah atasan saya di kantor. Ia mandor di pabrik kayu dan saya bekerja sebagai staf administrasi di kantor yang sama. Kami berkenalan sudah lama. Namun, baru dekat sekitar setahun lamanya. Martin orang asli Malang, ia akan pulang ke Malang setiap akhir pekan. Disini ia tinggal di kos-kosan yang sama denganku. Semenjak kami dekat, aku selalu tidur di kamarnya, atau sebaliknya Martin akan tidur di kamar saya".


Hesti terdiam.


"Kamu pernah bertemu keluarga Martin di Malang?"


Hesti menggeleng. Ia terima Martin secara mentah sebagai kekasihnya, dan tak pernah mengetahui kehidupan Martin di Malang.


Rania meminta Hesti menunggu, hingga ia memiliki waktu untuk membawa Hesti mencari alamat rumah Martin di Malang.


Rania segera mengirimkan tim investigasi ke kota Malang. Mengidentifikasi alamat rumah yang dimaksud.


Dari tim investigasi itu, Rania mendapatkan laporan bahwa Martin yang dimaksud adalah pria keturunan Thionghoa, usianya 45 tahun. 23 tahun lebih tua dari Hesti!


Rania berpikir keras. Ada yang tidak beres dengan hubungan mereka!


Rania tidak mau mengambil sikap gegabah. Ia tetap melayani kliennya. Namun, hanya menjadi perantara mediasi. Ia tak mau memberikan advokasi langsung pada Hesti, sebab ia melihat ada kejanggalan dalam hubungan mereka.


Sepekan setelah curhatan Hesti. Rania mengajak Hesti ke alamat Martin. Mereka berangkat dengan menggunakan fasilitas Hesti pribadi. Rania tidak sendiri, ia ditemani oleh 2 orang timnya dari kota Lumajang, dan 2 orang tim lainnya dari kota Malang yang telah menunggu tak jauh dari lokasi.


Butuh waktu 3 jam sebelum akhirnya mereka sampai ke titik lokasi yang dimaksud. Sebuah rumah mewah yang bernuansa klasik. Ada beberapa lampu dengan model khas Tionghoa.


Rania mengetuk pintu yang dapat ia gapai dari pintu pagar.


Setelah diketuk berulang kali, barulah dibuka oleh seorang wanita berusia 35 tahunan. Wanita itu tengah menggendong anak berusia kurang dari satu tahun.


"Ko...Koko...ada tamu, dari Lumajang!"


Wanita itu memanggil Martin setelah Rania menjelaskan siapa yang sedang ia cari.


Martin tak kunjung keluar. Rania dan Hesti masih setia menunggu di depan pintu pagar. Rania sesekali memperhatikan perut Hesti yang mulai terlihat membuncit.


Sepertinya sudah masuk usia 4 bulan. Gumam Rania yang tentu tidak terdengar oleh Hesti.


Hesti berdiri dengan cemas.


Wanita tadi kembali keluar dan membiarkan Rania dan Hesti masuk.


"Martiiiiinn...!"


Teriak Hesti saat melihat sosok Martin yang berdiri diantara perempuan itu dan anaknya.


"Mau apa kamu kesini?!"


Ucap Martin dengan nada membentak.


"Jadi kamu yang bernama Hesti itu. Aku sampaikan ya sama kamu, jangan harap suamiku akan mengakui anak dalam perutmu itu, sudah aku bilang, jauhi suamiku, kau malah tak tau malu tetap mendekatinya!"


Ucap perempuan itu yang kemudian mulai menyerang Hesti. Rania mencoba melerai, namun kesulitan. Martin menyeret Hesti keluar rumah.


"Jangan pernah kamu berharap bahwa kamu akan saya nikahi. Sejak awal sudah aku katakan bahwa aku tidak akan pernah menceraikan istriku untuk menikahi kamu!"


Hesti yang sedari tadi sesenggukan, akhirnya buka suara.


"Tapi kamu janji akan tanggung jawab, Martin!".


Ucap Hesti sambil memegang pipinya yang kesakitan akibat ditampar berkali-kali oleh Istri Martin.


"Bertanggungjawab bukan berarti menikahi!, aku sudah memintamu untuk menggugurkan kandungan itu!"

__ADS_1


Bentak Martin.


"Aku cukup untuk diam saja saat melihat kenyataan perselingkuhan kalian, bukan?!"


Ucap Istri Martin yang mulai bengis.


"Aku bersabar karena aku yakin Tuhan akan membalas perempuan seperti kamu!, Saat aku tengah hamil, kau malah mendekati suamiku, merayu, hingga menghabiskan banyak uang suamiku untuk memenuhi gaya hidupmu!"


Sambung Istri Martin.


"Inilah saat yang aku tunggu-tunggu, saat kamu bersujud pada Martin untuk bertanggungjawab atas isi perutmu itu!, jangan harap Hesti!"


Ucapnya istri Martin berapi-api.


"Pabrik itu milik keluargaku, dan telah ku perintahkan pamanku untuk memecat kamu, dan Martin aku pastikan tak akan pernah bisa kembali kepadamu!"


Hesti tertunduk dan tak mampu berkata apa-apa. Ia baru menerima surat pemecatan dirinya sepekan lalu.


"Pria yang menidurinya bukan cuma saya. Dia bekerja sampingan di sebuah tempat karaoke saat malam hari. Bisa jadi pria yang menghamilinya adalah pria yang memberinya mobil itu!"


Ucap Martin dengan bringas.


"Tidak, Martin. Kamulah pria satu-satunya yang meniduri aku. Kamu salah bapak biologis anak ini. Mobil itu aku dapatkan dari hasil kerjaku sendiri. Ya, aku memegang memiliki pekerjaan lain dibidang karaoke. Aku bernyanyi, bukan menjadi *****!"


Ucap Hesti membela diri.


"Cukup Hesti. Jangan kira aku membiarkanmu terus mencoba merebut suamiku. Kamu ingat, saat aku tengah hamil anak terakhirku, aku memang dalam keadaan buruk, wajahku terkena flek dan jelek. Aku menerima makian mu itu. Aku diam, karena tidak ingin mengganggu janinku, bukan karena aku bodoh!"


***


...Flashback...


Hesti terdiam. Ia mengingat kembali saat untuk kedua kalinya Mia, istri Martin, memergokinya bersama saat Martin merayakan ulang tahun Hesti. Saat itu Martin tengah dimabuk asmara dengan Hesti. Ia lupa dengan istrinya yang tengah mengandung anak bungsunya. Wajahnya istrinya terkena flek karena pengaruh hormonal, Mia juga sakit-sakitan. Namun, bukannya mendampingi sang istri, Martin justru kepergok habis nge-mall bersama Hesti.


Mia mengejar mereka yang hendak kabur hingga ke parkir kendaraan. Mia tidak peduli banyak mata menyaksikan. Ia ditemani pamannya yang juga pimpinan perusahaan tempat Martin bekerja. Pamannya ini yang pertama kali curiga dengan status WhatsApp Hesti yang hendak jalan-jalan Ke Malang, sedangkan Martin pun sama, pulang ke Malang. Sang paman berinisiatif untuk mengikuti mereka hingga kedalam mall yang tak jauh dari rumah Mia.


Mia menarik paksa pintu mobil Martin yang hendak ditutup oleh Hesti. Keributan pun tak terhindarkan. Mia mencoba menarik Hesti keluar.


"Keluar dari mobil saya!"


Teriak Mia yang saat itu diliputi emosi. Ia nyaris tak memperdulikan kondisi kandungannya yang telah mencapai usia 9 bulan dan tengah menunggu saat-saat kelahiran.


"Gak akan. Ini mobil Martin!"


Jawab Hesti dengan terus mencoba menutup pintu mobil, namun gagal. Paman Mia menarik pintunya dan membiarkan Mia berusaha menarik perempuan bernama Hesti itu.


"Ini juga mobil saya, anak-anak saya!"


Ucap Mia yang terus berusaha mencakar Hesti.


"Awas kamu, beraninya kamu mencakar wajah saya. Dasar kamu perempuan jelek!!!"


Ucap Hesti. Lengannya ia kaitkan pada lengan Martin, seolah ia mencari perlindungan dari pria berkulit putih itu.


"Kita selesaikan baik-baik di rumah, mam!!!!"


Teriak Martin yang seolah kebingungan.


"Gak. Kita selesaikan disini saja, ko. Biar semua orang tau kalau Koko sudah mengkhianati aku!"


cecar Mia.


Keributan pun terus berlangsung. Mia berhasil menarik paksa Hesti keluar dari mobil. Ini kali kedua keributan terjadi, setelah sebelumnya mereka ribut melalui online setelah Hesti mengirim foto bugilnya pada Martin saat Martin berada di rumah.


Mia berhasil mencakar punggung dan wajah Hesti. Perempuan itu tidak bisa bebas bergerak lantaran menggunakan hils dengan tinggi 1pcm dan rok mini. Mia dengan leluasa membuat perempuan itu seolah telanjang dimuka umum. Sedangkan, Paman dan Martin terjadi keributan hebat.


Sang paman mengancam akan melengserkan Martin dari perusahaan. Martin mulai merasa takut akan kehilangan jabatannya itu. Maklum, ia memiliki hutang judi yang sangat besar dan harus segera ia lunasi.


Sebab, jika hutang judi tidak segera dilunasi. Martin akan diburu oleh gengster yang dibayar oleh pemilik dana.


Martin pun mengalah. Ia memulangkan Hesti dengan menggunakan Taxi online. Martin pun pulang bersama Mia.


***


Namun, seolah telah hilang akal, Martin masih sering diam-diam menemui Hesti yang belum juga dipecat dari perusahaan tempatnya bekerja. Bukan tanpa alasan, tak semua tau kepicikan Hesti. Ia juga dekat dengan Ramon, pemilik salah satu saham di perusahaan itu. Pada Ramon Hesti berlindung. Ia berhasil menghasut Ramon agar ia tetap dipekerjakan di staf office. Maka, Hesti masih bisa bertahan sampai beberapa bulan, hingga kebusukannya tercium oleh Ramon. Ia tak bisa menutupi kehamilannya, sedangkan Hesti tak berhasil membuat Ramon takluk untuk ikut ambil bagian dari tubuhnya.


Ramon segera memecat Hesti, tanpa ampun!


Tak hanya itu. Martin juga ikut dilengserkan. Disaat itu, Mia yang dengan setia tetap mendampingi Martin, demi anak-anak mereka yang usianya masih balita.


Mia menjual banyak aset untuk menutupi hutang sang suami. Sedangkan Martin, untuk menebus rasa bersalahnya pada Mia, memutuskan untuk membuka usaha di kota apel itu. Ia membuka toko mebel di sebuah toko di Pasar yang tak jauh dari rumahnya.


Martin tak bisa berkutik. Sebab jika ia mengulangi hal yang sama, maka tak segan Mia yang akan membayar preman untuk menghabisi Martin.


****


Kembali ke kejadian...


Keadaan semakin tidak terkendali.


Rania merasa tak memiliki kesempatan untuk berbicara. Tidak ada titik temu jika kondisinya seperti ini. Rania menarik paksa Hesti dari sana. Menariknya hingga kedalam mobil, dan menyuruhnya untuk tenang.


Sejam kemudian.


"Kamu tak pernah jujur bahwa Martin adalah lelaki yang telah memiliki istri, Hes!"


Ucap Rania dengan dingin. Ia sebenarnya merasa bersalah telah berada di posisi membela seorang yang diduga sebagai pelakor.


Hesti menatap kosong pada bidang sembarang.


"Martin pernah mengatakan mencintaiku, dan aku mencintainya!"


Ucap Hesti masih tetap membela diri.


"Cinta atau nafsu, Hes, bukankah kamu tau bahwa Martin telah memiliki keluarga?!"


Hesti diam sesaat.


"Aku siap dimadu!"


Ucap Hesti mantap.


Rania merasa geram dengan pernyataan Hesti. Ia jadi teringat pernyataan Delita yang juga siap menjadi istri kedua Dani. Ingin rasanya Rania memberikan bonus tamparan pada perempuan yang telah putus urat malunya ini. Namun, ia tetap ingin profesional.


"Hesti, aku katakan bahwa untuk menjadikan Martin bertanggungjawab untuk menikahi kamu adalah sesuatu yang mustahil!, ia telah memiliki keluarga, dan mereka tak mengenal istilah poligami, paham?!!!"


Hesti masih tertunduk lesu.


"Lalu menurut Bu Rania, apakah aku harus menggugurkan kandungan ini, seperti yang Martin minta?!"


Rania diam. Hatinya memanas. Ia berada diantara pilihan yang sulit.


"Kamu besarkan anak itu sendirian!"


Rania memberikan pernyataan yang membuat Hesti terperanjat tak percaya. Bagaimana mungkin ia membesarkan anak itu sendirian. Apa yang akan orang lain katakan padanya, bahwa ia hamil tanpa seorang suami?!


"Kamu tidak punya pilihan lain, Hes. Persiapkan dirimu untuk menjadi seorang ibu. Menuntut tanggung jawab Martin, hanya akan menguras waktumu, sedangkan kamu harus menyiapkan banyak materi untuk menyambut kelahiran bayimu, jika kamu ingin mempertahankan bayi yang kamu kandung!"


Hesti terdiam tanpa bahasa. Mobil dikendarai oleh Ibnu, tim LSM menuju rumah Hesti. sepanjang perjalanan tak ada lagi kata-kata pembelaan dari mulut Hesti.

__ADS_1


Mobil telah terparkir di rumah Hesti. Ada beberapa orang yang menyambut kedatangan Hesti. Rekannya, bukan saudara Hesti. Rania telah menyarankan agar Hesti jujur pada orang tuanya tentang kehamilannya. Namun, hal itu diabaikan Hesti.


"Aku akan datang kembali pada Martin!"


Ucap Hesti dengan emosi.


"Terserah kamu, Hes. Hanya saja, urusanku dengan mu cukup sampai disini jika kau masih mau bersikeras menuntut tanggung jawab Martin!"


Ucap Rania dengan tegas.


"Kamu tidak tau rasanya menanggung kehamilan tanpa kehadiran seorang suami, Rania!"


Ucap Hesti sambil berteriak menunjuk Rania.


"Sebab itu pilihanmu, kamu yang memilih dihamili pria beristri!"


Jawab Rania sambil beranjak pergi meninggalkan Hesti yang masih dalam keadaan emosi. Orang yang ada disana berusaha menenangkan Hesti.


Rania pergi dengan hati yang sakit.


Kamu juga tidak tau rasanya, saat suami memiliki wanita idaman lain, Hes!


Gumam Rania.


***


Lima bulan setelah kejadian itu, Hesti tak kunjung mengabari Rania. Namun, Rania berhasil mendapatkan kabar dari rekan yang menemani Hesti.


Hesti adalah sosok perempuan yang mandiri. Sejak ibu kandungnya meninggal dunia, Hesti harus tinggal bersama ayah dan ibu tiri yang telah memiliki 3 anak sebelumnya. Kekurangan perhatian dan kasih sayang telah lama ia rasakan.


Setelah menyelesaikan pendidikan jenjang SMK, Hesti kemudian bekerja di sebuah pabrik kayu, bertemu dengan Martin, dan sosok Martin lah yang banyak memberinya kasih sayang dan perhatian.


Martin memang sosok yang sangat lembut pada siapapun, bahkan pada seorang kuli angkut kayu saja, Martin menunjukkan kepeduliannya.


Sayang, Hesti menyalah artikan sikap Martin. Hesti mencintai Martin yang usianya jauh lebih dewasa. Martin sudah berulang kali mengatakan, bahwa hubungan mereka hanya sebatas teman biasa saja. Namun, tidak begitu dengan Hesti yang terus memaksa masuk ke kehidupan Martin.


Martin yang jauh dari istri dan keluarga besarnya, kehilangan kendali. Hubungan terlarang itu menghasilkan sebuah janin di rahim Hesti.


Keadaan Hesti saat ini. Ia berjuang mempertahankan kehamilannya. Ia memutuskan untuk pindah ke Surabaya, demi untuk menutupi aibnya dari keluarga.


***


Menjelang hari kelahiran anaknya. Hesti berusaha menghubungi Rania. Ia merasa lemah dan tak berdaya. Selama di Surabaya dan mejalani kehamilannya, Hesti merasa stres dan tertekan. Tabungannya banyak terkuras habis, sedangkan ia tak bisa bekerja lagi.


Ia meminta pada Rania untuk menyerahkan anak yang ia lahirkan pada Martin. Rania tentu keberatan, ia bukanlah perantara dibidang ini. Namun, stelah berdiskusi panjang, akhirnya ia menyetujuinya atas nama kemanusiaan.


Rania didampingi Jean menuju Surabaya, tempat Hesti akan melahirkan bayinya.


Terlihat Hesti tetap cantik meskipun tengah hamil tua.


Hesti akan melahirkan secara normal. Ia melihat ke arah Rania dan Jean sebelum masuk kedalam ruang persalinan. Kucuran keringat memenuhi wajahnya.


Sakit. Tentu saja. Apalagi ia dalam keadaan sendiri. Tanpa didampingi oleh sanak saudara apalagi suami.


Hesti kemudian menggenggam tangan Rania. Berusaha berbicara ditengah kontraksi yang begitu hebat dan dalam durasi yang pendek.


"aku titip anakku, Rania"


Ucapannya terkesan karena kontraksi itu berlangsung, kali ini hanya jarak beberapa menit saja.


Hesti berusaha menarik nafas panjang.


"Tolong berusaha titipkan anak ini pada Martin. Aku telah menanggung beban ini hingga sampai melahirkannya. Aku berharap Martin mau menanggung setelahnya. Aku lelah Rania. Aku telah lemah. Aku menyerah".


Ucap Hesti dengan suara hampir tidak terdengar lagi.


Belum sempat Rania menjawab, Ranjang besi yang Hesti tempati telah ditarik oleh dua orang suster ke ruang persalinan. Hampir 1 jam lamanya baru terdengar suara teriakan bayi.


"Keluarga Nyonya Hesti!"


Terdengar seseorang memanggil dari arah ruang persalinan. Rania yang duduk di depan ruangan itu langsung bangkit dari tempat duduknya.


"Ya. Saya!"


Jawab Rania.


"Bayi nyonya Hesti telah lahir dengan selamat. Jenis kelaminnya laki-laki. Namun, sayang, Bu Hesti tidak bisa kami selamatkan. Ia mengalami pendarahan hebat setelah melahirkan".


Rania terduduk lesu. Ia belum sempat menjawab permintaan Hesti yang begitu berat baginya. Ada sisi hati untuk menolong manusia, meskipun manusia itu telah berbuat salah. Setidaknya, Hesti telah berjuang untuk bertanggungjawab terhadap putra semata wayangnya. Pesan yang disampaikan kepada Rania, bisa jadi adalah sebuah firasat dari seorang ibu, bahwa usianya tidak akan lama lagi.


***


Rania segera mencari dan menghubungi keluarga Hesti. Sedangkan Rania menggendong anak Hesti. Ia bersama Jean menuju Malang. Kembali ke rumah Martin, dan berharap Martin dan Mia mau mengasuh dan membesarkan anak ini. Entah apa jadinya jika Martin dan Mia sampai menolak anak ini.


Sebelum melahirkan, Hesti telah menyiapkan segala kebutuhan anak ini. Hingga namanya pun telah ia siapkan. Fajar Gumilang, nama anak ini. Sepertinya Hesti telah mengetahui jenis kelamin anak ini sebelumnya.


***


Rania tiba dirumah Martin saat malam hari. Martin dan Mia berada di rumah. Mereka terkejut saat melihat Rania kembali dengan membawa seorang bayi yang masih merah.


"Anak siapa ini?"


Tanya Mia dengan raut muka jutek. Wajar, ia tau bahwa Rania pernah datang bersama Hesti.


"Anak Hesti".


Jawab Rania.


"Apa kepentingannya sehingga anda membawanya ke sini?!"


Tanya Mia sama tidak ramahnya.


"Hesti telah meninggal dunia!"


Ucap Rania dengan menahan tangis, bukan karena kematian Hesti, tapi kepiluannya melihat nasib anak yang tengah ia gendong. Sesekali anak itu merengek lemah karena udara dingin yang menyelimutinya, mereka masih berada diluar rumah.


"Aku tidak mengakui anak itu sebagai anakku!"


Ucap Martin dengan dingin.


Rania mengangkat bayi itu, menunjukkan wajah bayi yang oriental itu. Usia bayi itu baru sepekan dilahirkan, namun terlah jelas terlihat bahwa genetiknya mengikuti sang ayah. bentuk wajah, mata, hidung, hingga bibirnya, membuat siapapun yang melihatnya akan mengatakan bahwa itu adlah bayi Martin.


"Apakah anda akan mengelak saat anda melihat ini, tuan Martin?. Tuhan memberikan anak ini wajah yang tak berbeda dengan anda, sebagai bukti bahwa Hesti berkata benar!"


Ucap Jean yang berusaha membantu sang istri.


"Hesti telah tiada. Jasadnya tak mungkin menuntut Anda untuk menikahinya. Sekarang anda tinggal menentukan ego anda, apakah akan mengasuh anak ini sebagai anak anda, ataukah akan membunuhnya agar ia bisa bersama ibunya. Sebab Hesti tak sanggup untuk membunuh anak ini, saat anak ini masih dalam wujud janin!"


Mia menatap pilu kearah bayi itu. Jiwa keibuannya muncul. Percuma dendam yang ia rawat selama ini. Hesti telah pergi. Hesti tak akan mengancamnya lagi, tak akan menuntutnya untuk membagi suami lagi.


Mia mengambil anak itu dari gendongan Rania. Tanpa sepatah katapun, ia menggendongnya dengan lembut. Bayi itu menangis keras. Rania terpaku dan tak tau harus berbuat apalagi. Mia membawa bayi itu masuk, Rania dan Jean mengejarnya. Hingga Rania menyaksikan dengan matanya sendiri, Mia memberikan selimut pada bayi itu, kemudian menyusuinya, layaknya anaknya sendiri.


Bayi itu menyusu dengan sempurna. Seperti ia telah mendapatkan ASI dari ibu kandungnya.


***


Waktu berlalu. Rania dikirimi sebuah foto melalui WhatsApp. Mia yang terlihat semakin cantik, terlihat tengah berfoto bersama Matin dan anak-anaknya. Mia menggendong bayi laki-laki yang terlihat bertubuh sehat dan berpenampilan menggemaskan layaknya bayi bahagia pada umumnya, bayi itu adalah Fajar, anak Hesti.


Selesai...

__ADS_1


Hai Dearest. Ikuti terus kisah 100 Hari pertama menjadi Janda, kisah berikutnya adalah Janda-janda Muda seorang Ustad.


__ADS_2